
"Ada apa, Mah? Kenapa telepon Fatih malam-malam? Keadaan Papa sekarang bagaimana, Mah?" serentetan kalimat penuh kecemasan terdengar dari bibir Fatih disambungan telepon.
Mendengar anaknya khawatir, Mama Tari menjadi maju mundur untuk mengadukan apa yang ia lihat hari ini kepada sang anak. Apalagi ia belum tahu pasti hubungan apa yang terjadi antara Kak Ira dengan Niken.
"Mah?" Fatih kembali memanggil mamanya, yang dirasa hanya diam belum menjawab, tentu saja karena sang Mama sedang melamun.
"Siapa yang telepon sayang? Ayo kamu minum dulu."
Suara Ibra terdengar jelas di sana. Membuat Mama Tari seketika bungkam dulu sejenak untuk membicarakan masalah tentang Niken.
"Sepertinya aku harus mencari tau dulu tentang kedekatan Ira dan Niken. Lagi pula jika aku bicarakan masalah ini ditelepon, Ibra pasti dengar dan tau. Sudah dipastikan Ibra akan kaget dan kurang menghormati suamiku lagi, jika ia tau Papanya Fatih pernah berselingkuh dengan sahabatnya Fatih." batin Mama Tari menyeruak, kemudian ia menggelengkan kepalanya agar aib itu jangan sampai terdengar di telinga Ibra.
Karena ia sudah meminta Ibu Hanum untuk berjanji merahasiakan masalah pernikahannya dengan Papa Faris dulu. Walau Ibu Hanum tidak akan menyangka, jika perusak rumah tangga sahabatnya adalah cucunya sendiri, Niken.
"Mama?" Fatih kembali memanggil dengan suara penuh takut.
Ia menyodorkan kembali gelas kosong kepada Ibra. Lelaki itu kemudian meletakkannya di atas nakas, dan mulai berbaring miring dengan tangan terlipat dibawah pipinya. Ia setia mendengarkan Fatih berbicara ditelepon dengan ibu mertuanya. Membuat ia jadi rindu kepada Ibu Hanum.
"Eh iya sayang, nggak ada apa-apa kok, Nak. Papamu baik-baik aja, sudah tidur sekarang. Mama hanya ingin telepon Fatih aja, kali belum tidur."
"Ada hal apa, Mah?" bukan seorang anak namanya jika tidak tahu bagaimana perangai orang tua ketika sedang mendapatkan masalah. Walau saat ini ia tidak berhadapan langsung dengan sang Mama, tapi Fatih bisa cukup merasakan dengan telepati batin yang ada di antara mereka.
"Bener kok sayang, nggak ada apa-apa. Mama hanya kangen sama Fara. Oh iya jangan capek-capek ya, Nak. Nanti kalau mendekati kelahiran Fara, kamu sudah harus menginap dirumah ya."
Fatih bernafas lega, ia merasa dengan suara Mamanya yang terdengar biasa saja tanpa kelihatan tengah merungut. Sudah dipastikan sang Mama hanya rindu kepadanya.
"Fara katanya kangen banget sama Omanya. Iya, Mah nanti Fatih dan Mas Ibra akan menginap lama di sana."
"Iya, Nak. Ya udah kalau gitu sekarang kamu lanjut tidur lagi ya, dan salam untuk Ibra."
"Iya, Mah. Kata Ibra salam balik buat Mama dan Papa, mungkin besok malam kami akan kerumah menjenguk Papa."
"Ya baik, Nak. Mama dan Papa akan tunggu."
Tut, sambungan telepon mereka pun terputus.
__ADS_1
"Mama kenapa sayang?"
Fatih menggelengkan kepala. "Enggak apa-apa, hanya kangen sama Fara. Ayo tidur, Mas. Besok kan kamu harus ke kantor." ucap Fatih ikut berbaring disebelah suaminya. Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"Yang tadi belum kelar, enggak di lanjutin lagi?" tanya Ibra penuh harap kepada istrinya.
"Enggak ah, ngantuk." Fatih mulai mengerjai suaminya.
"Hemm..." Ibra sedikit mencebik. Ia pun mulai memejamkan kedua matanya untuk pasrah menekan hasrat yang masih berkobar-kobar.
"Tapi boong, hahhaha!" Fatih tertawa ketika melihat Ibra membuka matanya cepat. Lelaki itu tidak marah, ia malah ikut tertawa karena senang.
"Jadinya mau dilanjut, Bun?"
Dengan wajah malu-malu, Fatih mengangguk. "Iya mau lah, udah ditengah jalan begini."
"Yes, asik." seru Ibrahim lalu beringsut untuk menkungkung istrinya kembali. Lama-lama suara gelak tawa mereka berubah menjadi keheningan dan tergantikan dengan suara rintihan serta erangan yang dipenuhi rasa nikmat, dan malam cinta penuh gairahh kembali mereka rasakan.
****
"Siapa, Lan?" tanya Ibra sambil terus menatap berkas yang berserakan di meja kerjanya.
"Namanya Bapak Tommi, teman lama bapak." Ibra terdiam dengan kerutan yang tidak beraturan di sekitar keningnya. Seraya mengulang nama Tommi dengan nada pelan, lalu stimulus otaknya bekerja.
"Ya Allah, Tommi?" desah Ibra dengan wajah berbinar-binar. Ia seperti kembali mengingat sosok sahabat yang sudah lama ia rindukan. Ia begitu saja menghempaskan gagang telepon itu dan beranjak bangkit dari kursi untuk berjalan keluar ruangannya.
"Tommi..." seru Ibra, lelaki yang ia yakini adalah sahabatnya pun menoleh ke belakang.
"Ibra.." Tommi kembali berseru, mereka saling menerjang dalam pelukan kerinduan.
Dua lelaki yang bersahabat sejak dulu dan terpisah beberapa tahun kemudian, akhirnya kembali dipertemukan. Entah mengapa Tommi bisa kembali.
Ada apakah gerangan?
Lani yang masih setia berdiri dengan gagang telepon di telinganya memutuskan untuk meletakkannya kembali, inilah alasannya mengapa sedari tadi ia tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Ibrahim di sambungan telepon.
__ADS_1
"Lani, tidak ada janji kan dengan klien?" tanya Ibra setelah melepas rangkulan itu.
"Belum ada janji, Pak." jawabnya sopan.
"Baik, kalau begitu tolong kosongkan jam saya, ya." titah Ibra lalu merangkul kembali sahabatnya yang telah lama menghilang. Walau saat ini Ibra tengah pusing tujuh keliling karena permasalahan di Facorp yang belum menampakkan keredaan, Ibra sedikit melupakan karena hari ini hatinya begitu bahagia bertemu dengan Tomi.
****
Ibra masih menatap Tomi yang sedang menyesap kopi buatan Lani. Wajah lelaki itu masih saja terlihat senang. Beda hal dengan Tommi yang senang namun seperti pura-pura, ia tahu Ibra adalah lelaki baik yang selalu tulus bersahabat dengannya.
"Jadi begitulah, kenapa gue menghilang. Gue hanya ingin melepas Kasih untuk lo waktu itu, Bra!" ucap Tomi sambil meletakan cangkir kopi nya di meja. Ia kembali menatap Ibra yang mengangguk sebagai tanda respon untuk kalimat yang telah ia ucapkan.
"Dan gue baru tau kalo Jihan dan kedua anak-anak lo udah lama enggak ada, gue ikut berduka untuk itu." sambung Tomi, membuat Ibra hening dan sekilas mengingat kejadian itu lagi.
"Tapi kan lo sekarang udah nikah lagi, hidup lo juga sekarang udah enak." Tomi menghentak bahu Ibra, menyadarkan lelaki itu agar bangun dari lamunan yang menyakitkan. Ibra kembali tersadar dan tersenyum tipis.
"Lo bisa tau gue di sini dari mana, Tom?"
Tomi sedikit mengedik. Ia tersentak, ia lupa jika Ibra akan menanyakan hal ini.
"Kemarin gue liat di koran kalau ada perusahaan yang melepas saham dari perusahaan ini. Facorp kan perusahaan yang cukup bonavit, semua orang udah tau siapa pemiliknya. Dan setelah gue telusurin, gue kaget banget, ketika gue tau lo telah menjadi suami dari anak pemilik Facorp, hebat lo, Bra. lo emang selalu beruntung." Tomi menghentak bahu Ibra sekali lagi sebagai tanda salut.
Ada senyuman licik yang tertera diwajahnya. Namun Ibra yang berhati baik, tidak bisa mengenali perangai itu. Ia pun tidak menaruh curiga dengan jawaban Tomi yang terlihat dipaksakan.
Ibra hanya tersenyum dan sedikit menggelengkan kepala. "Lo terlalu berlebihan, Tom. Oh iya sekarang lo udah punya anak berapa?"
Lagi-lagi pertanyaan Ibra membuat ia tersentak, sebagai lelaki yang sudah berumur, Tomi pasti sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Walau kenyataannya ia lebih memilih menyendiri sambil menunggu Kasih kembali.
"Ada tiga, Bra." jawab Tomi berdalih, ia menelan air ludahnya begitu saja ketika harus berbohong sampai seperti ini. Ia melakukan semua ini hanya demi mempertahankan Kasih. Dia tidak ingin Ibra curiga jika dirinya sudah berhasil mendapatkan Kasih kembali.
Betul-betul Fahmi sudah berhasil menyetir otak Tomi dengan segala fitnah yang keji.
*****
Kalo komen dan Like nya banyak, aku akan Up lagi hari ini❤️
__ADS_1