Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Benarkah, Bapak Suaminya?


__ADS_3

Minggu pagi yang cerah, sesuai janjinya, Ibra akan datang lagi untuk menjemput Fara. Ia ingin membawa anaknya bermain ke kota Banten, sebelum ia pulang menuju Jakarta sore ini.


Terlihat mobil Ibra akan masuk ke pekarangan rumah bertepatan dengan langkah kaki Bik Mirna pun sama ingin keluar dari pekarangan rumah, wanita paru baya itu terlihat buru-buru pergi sambil membawa dompet. Ia hanya menundukkan kepala sebagai isyarat pamit kepada Ibra yang ada di stir kemudi.


Deru mesin mobil sudah dimatikan. Seperti biasa ia akan mengirim pesan kepada Fatih, kalau dirinya sudah sampai, dan setelahnya Fara akan keluar dari rumah untuk menyambut kedatangan Ayahnya.


Sudah 15 menit Ibra menunggu balasan, dan anehnya tidak ada tanda-tanda Fara keluar dari rumah. Ibra memandang lurus rumah mereka, selayak menanyakan ada apakah gerangan didalam? Lelaki itu pun memutuskan untuk turun dari mobil, ia melangkah menuju rumah.


Ingin memastikan apakah betul masih ada Fara dan Fatih didalam, sepeninggal Bik Mirna tadi. Rumah yang berasitektur kuno, seperti rumah peninggalan jaman penjajahan, pintu terbuat dari kaca yang dapat tembus pandang sampai kedalam ruang tamu, hanya saja dilapisi dengan tirai putih yang berenda.


Lalu


Kornea gelap milik Ibra begitu saja membulat, ketika ia mendengar sayup-sayup ada suara isak tangis Faradisa, putrinya dari salah satu kamar.


"Ya Allah ..." desahnya. Ia pun mencoba mengetuk-ngetuk pintu. Namun Fatih tidak kunjung keluar, dan tangisan Fara semakin terdengar membuat Ibra penasaran untuk masuk ke dalam.


Dan


Volaa!


Handle pintu yang tidak sengaja ia gerakan, membuat pintu terdorong kedalam dan terbuka. Wajahnya berbinar ketika ia tahu pintu itu tidak terkunci. Tapi, ia termenung sebentar sebelum melangkahkan kaki kedalam, ia tahu masuk tanpa ijin adalah perbuatan tidak baik dan Fatih tidak pernah mengizinkan ia masuk. Namun bagaimana lagi, ada tangisan Fara yang membuat sudut hatinya tidak enak. Ia akan terima jika setelah ini Fatih akan memakinya, yang penting ia tahu kalau putrinya dalam keadaan baik-baik saja.


"Fara ... Fatih." tidak pernah berubah suara lembut dari seorang Ibrahim ketika memanggil istri atau anaknya. Selalu menenangkan jiwa siapapun yang mendengarnya.


"Bunda-----" ada suara tangis Fara yang semakin terdengar diselingi dengan memanggil-manggil nama Bundanya.


Ibra berjalan dengan hati gemetar, ia mempercepat langkah menuju pintu kamar yang dari jauh terlihat terbuka.


"Ayah!" seru Fara yang sedang duduk menyila di pertengah ranjang.


Ia sedang menangis menatap sang Bunda yang tengah meringkuk dengan bibir bergetar dibawah selimut. Wanita itu sakit sejak semalam, mendadak tubuhnya panas tinggi. Bik Mirna diamanatkan ke Apotik untuk membeli obat. Karena Fatih sangat lemas, tidak mampu berjalan kesana.


Fara yang masih memakai piyama tidur yang sama warnanya dengan sang Bunda pun bangkit untuk turun dari ranjang. Ia menyergap tubuh Ayahnya dan minta untuk digendong.


"Bunda cakit, Ayah..." Fara menunjuk salah satu jarinya ke arah Fatih yang masih memejam kedua matanya.

__ADS_1


Ada kain kompressan yang masih menempel di dahi mantan istrinya itu. Sambil menggendong Fara, Ibra pun mendekat untuk memastikan keadaan Fatih.


Ibra meletakan telapak tangannya di sekitar perpotongan leher Fatih dan merasakan suhunya di sana.


"Ya Allah, panas banget. Fara turun dulu ya, Nak." Ibra menurunkan Fara ke bawah. Ibra memegang lengan Fatih seraya membangunkan wanita itu agar membuka matanya.


"Fat ayo bangun, kita ke Dokter ya."


Fatih hanya diam, matanya belum mau terbuka. Bibirnya begitu pucat dan kering. Tanpa fikir panjang, Ibra menggendong Fatih untuk ia bawa ke dalam mobil. Sungguh seperti mimpi bisa memegang tubuh dan menatap wajah istrinya lagi selama empat tahun. Dengusan napas Fatih pun masih sama, Ibra selalu candu dengan itu.


"Ayo, Nak. Ikut Ayah keluar!" titah Ibra kepada Fara agar mengikutinya ke mobil.


Fatih seperti setengah sadar. Ingin marah tapi ia tidak ada kekuatan, ia membiarkan saja dirinya dibawa oleh Ibra tanpa perlawanan.


"Fatih, sabar ya. Aku akan bawa kamu ke Rumah Sakit." ucapnya ketika Fatih sudah di dudukan di samping kursi kemudi. Fatih hanya terdiam dan lemas untuk menjawab. kelopak matanya masih ia biarkan menutup.


"Ayo, Nak. Kita antar Bunda dulu." ucap Ibra menggendong Fara dilengan nya. Ia pun memutar langkah untuk masuk kedalam mobil bersama Fara.


"Bunda ..." Fara bergeliat ingin berpindah duduk di pangkuan Fatih. Namun Ibra melarang.


Ibra pun menggenggam tangan Fatih tanpa takut, sepertinya ia lupa jika wanita itu sudah menjadi mantan istrinya sejak empat tahun yang lalu. Namun ia pun tersadar dan sengaja melakukan ini. Lelaki itu rindu kepada Fatih, kepada cintanya yang sudah lama menghilang meninggalkan sejuta luka dan kenangan dalam waktu bersamaan.


"Apakah kita tidak bisa untuk kembali bersama, Fat? Aku masih mencintaimu." batin Ibra menggema. Suara hatinya mengiris kalbu, empat tahun lalu. Fatih masih bergeliat manja di dada nya jika sedang berada didalam mobil. Menanti kelahiran Fara yang sangat mereka dambakan.


"Dan ketika Fara sudah lahir, kita malah terpisah seperti ini." Ibra terus saja berujar dalam hatinya, memaki mengapa jalan rumah tangganya harus seperti ini.


"Ayah kenapa kok nanis ..." tanya Fara sambil mengelap air bening yang menetes dari sudut mata Ibrahim. Ibra hanya memberikan ciuman di pucuk rambut Fara sebagai tanda respon darinya.


*****


Setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai di sebuah Rumah Sakit yang tidak terlalu besar tapi ramai dengan pengunjung. Ibra terlebih dulu membawa Fatih ke Unit Gawat Darurat. Ia merasa Fatih harus segera mendapatkan pertolongan.


Tubuhnya panas, lemas dan sesekali ingin muntah. Terlihat Infus sudah terpasang ditangan Fatih, mengalirkan cairan elektrolit untuk menyokong tubuh Fatih agar tidak lemas dan membuat demam tingginya menjadi turun.


Wanita itu perlahan-lahan membuka matanya yang sedari tadi berat, menatap langit-langit UGD yang berwarna putih bersih. Cairan itu memang bekerja sangat cepat.

__ADS_1


"Sus, maaf. Saya sedang ada di Rumah Sakit?" tanya Fatih kepada suster yang sedang membetulkan cairan infus ditangannya.


"Iya, Bu, dan suami Ibu sedang berbicara dengan Dokter."


"Apa? Suami?" tanyanya, lalu ia menoleh ke arah empat meter di sudut UGD. Ada punggung tegap Ibra yang sedang menggendong Fara, menatap dan berbicara serius dengan Dokter.


"Jadi benar, yang membawaku tadi Mas Ibra?" Fatih fikir, sedari tadi ia hanya bermimpi, bermain dalam ilusi. Ketika dirinya digendong serta genggaman tangan yang erat tidak mau lepas disepanjang perjalanan.


Lalu stimulus otaknya berjalan, ia baru teringat sesuatu. Tiba-tiba kedua matanya terbelalak, ia merasa akan diketahui sebentar lagi.


"Ya Allah, apakah Mas Ibra akan tau hal ini?" desah Fatih takut. Dua manik matanya masih setia menatap Ibra dari jauh, air matanya menetes, ketika melihat Fara sebegitu dekatnya dengan sang Ayah. Anak perempuan cantik yang belum mandi itu, masih mendekap Ayahnya, meletakan kepalanya di bahu Ibrahim.


Dokter melihat rekam medis kepemilikan Fatih di Rumah Sakit ini. Ternyata Fatih sudah menjadi pasien tetap dengan Dokter spesialis Urologi.


"Istri saya mengalami gagal ginjal, Dok?" Ibra mengulangi ucapan yang baru saja dijelaskan oleh Dokter Umum di UGD.


Dokter mengangguk dengan mata yang masih menatap setiap lembar buku rekam medis Fatih. Bahkan nama yang tertera di sana adalah Fatih Attar. Wanita itu masih ingin memakai nama suami dibelakang namanya. Sungguh ironi yang menyayat hati untuk mereka berdua.


"Iya, Pak. Menurut catatan yang ditulis oleh Dokter Spesialis Urologi di sini, mengatakan kalau Ibu Fatih sudah lama mengidap penyakit ini, bahkan jika tidak diobati dengan serius. Disarankan untuk melakukan cuci darah, Pak."


"Ya Allah ...." desahnya frustasi. Ibra hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak percaya.


Lelaki tampan itu hanya menatap wajah Dokter dengan tatapan sendu dan nanar. Ibra tercengang, ia merasa sangat bodoh, mengapa selama ini tidak memaksa untuk mendekati Fatih. Ia terlalu naif untuk mempercayai bahwa wanita itu selalu dalam keadaan sehat. Mau bagaimana lagi, Fatih yang selalu menjauh setiap Ibra mendekatinya.


"Sejak kapan Dok istri saya seperti ini?"


Ada kerutan di kening Dokter yang sejak tadi tidak surut untuk menghilang. Dokter seperti bertanya-tanya, ada hal aneh yang dirasakan ketika berbicara dengan Ibrahim mengenai penyakit Fatih.


"Benarkah, Bapak suaminya?"


Ibra membeliakan bola matanya, menangkap lurus sinyal kecurigaan dari wajah Dokter yang sedang bertanya kepadanya.


"Ada apa memangnya, Dok?"


*****

__ADS_1


Segini dulu ya guys, kalau aku masih asa waktu kosong. Akan aku UP lagi. Like dan Komennya buat Ibra dan Fatih ya❤️


__ADS_2