Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Kerinduan Fatih


__ADS_3

Haiik aku balik lagii


Selamat baca yaa


🤗🤗


***


Sore hari, pukul 15:00 Wib.


Terlihat Fatih sudah tiba di lobby perusahaannya. Dengan menggunakan pakaian bebas, ia berjalan dengan langkah cepat menuju ruang kerja.


Semua mata karyawan memandang, memberikan senyum hangat dan sedikit menundukan kepala sebagai tanda hormat. Fatih pun membalas sikap hormat mereka dengan bijak.


Ting!


Pinti lift terbuka, terlihat sudah ada Lani yang menunggu diluar ruangannya.


"Ayo masuk!" ucapan Fatih agak sedikit meninggi ke arah Lani. Asisten pribadi ini terlihat gugup mengikuti langkahnya dari belakang.


Brug.


Fatih menjatuhkan dirinya di kursi kerja. Ia terlihat sangat letih, pulang mendadak dari Bali dan langsung kembali ke kantor. Fatih terus menatapi beberapa laporan yang sudah tersusun rapih disana.


"Kamu duduk!"


Lani pun akhirnya duduk, berhadapan langsung dengan bos nya.


"Jelaskan kepada saya.." Fatih menatap wajah Lani dalam-dalam yang masih terlihat kebingungan. Ia sulit untuk menatap wajah bos dan berkata-kata saat ini. Sekarang Lani mirip seperti pencuri yang sedang di introgasi oleh Polisi.


"Masa untuk merevisi laporan seperti ini saja, harus saya juga yang turun tangan? Kamu tau kan Lani, saya sedang menemani suami saya disana?"


Jag.


Seketika tatapan penuh amarah itu berubah menjadi tatapan datar. Kalimat diakhir ucapannya mengingatkannya pada seseorang.


Suami? Benarkah? Seorang suami yang belum ia penuhi hak nya.


Mendadak, Ia teringat dengan Ibra. Suaminya yang ia tinggal begitu saja tanpa bertatap muka dan ciuman hangat.


Ada rindu yang menerpa hatinya walau ada selingan sedikit rasa kesal namun menyesal. Semua rasa bercampur menjadi satu.


"Maaf Bu sebelumnya. Sebenarnya saya sudah merevisi laporan saham tersebut. Tetapi Bapak Bima tetap menolak. Beliau bilang, harus Ibu Fatih sendiri yang merevisi dan memberikan langsung kepadanya.."


"Memberikannya langsung--?" Kening Fatih berkerut-kerut.


"Iya Bu, laporan ditunggu besok siang oleh Bapak Bima di kantornya."


Fatih menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya lagi ke udara beberapa kali. Ia butuh kesegaran dalam menghilangkan penat yang makin membuat kepalanya semakin pusing.


"Baiklah, tolong buat kan saya teh hangat Lan!"


"Baik, Bu.." Lani pun bangkit untuk melangkah ke luar.


"Lan?"


Lani menoleh dengan cepat. "Iya bu?"

__ADS_1


"Maaf saya sedikit emosi tadi--"


"Nggak apa-apa Bu, saya mengerti." Lani pun kembali memutar langkahnya untuk berlalu dari ruangan ini.


Sungguh yang menganggu fikirannya saat ini bukanlah tentang revisi laporan itu, tapi yang mengganggu adalah bayangan Ibra. Hanya lelaki itu.


"Apakah Mas Ibra sudah membaca pesan ku? Apakah dia sudah pulang dari kantor? Apakah dia akan marah?"


Fatih terus duduk menyandar dan mengoyangkan-goyangkan kursi kerjanya sembari menatap sudut ruang kantor yang mewah.


"Kok aku jadi rindu sih? Bukannya aku lagi kesal sama dia?


Fatih terus melamun, ia terus memikirkan Ibra. Kenyataannya telepati mereka saling terpaut, sama-sama saling memikirkan keadaan masing-masing. Tak kalah galau nya Ibra disana, ia pun sedang menahan sesak karena merindu.


Jangan diragukan lagi, mereka memang sudah saling jatuh cinta.


"Bu, ini teh nya. Apa ibu mau makan?" Lani meletakan secangkir teh hangat, membangunkan Fatih yang masih melamuni wajah suaminya.


"Nggak usah Lan, minum teh saja sudah cukup. Ayo kita kerjakan kembali revisian laporan ini, bantu saya sampai selesai--"


"Baik, Bu. Saya siap." jawab Lani tersenyum.


Lani dan Fatih pun mulai bekerja sama untuk menyelesaikan laporan saham yang harus direvisi ulang. Sesekali mereka tertawa dan kembali fokus.


"Bagaimana kalau seperti ini, Bu?"


"Oh ya, bagus juga saran kamu. Baiklah kita ikuti saja yang ini--"


Namanya Melani. Sering di sapa Lani oleh karyawan lain. Dahulu Lani adalah seorang office girl di kantor ini. Namun karena kegigihan dan kerja keras, ia memutuskan untuk kuliah sehabis pulang bekerja.


Karena rasa percaya dirinya, ketika ia lulus kuliah. Ia kembali melamar bekerja di perusahaan Ayah Fatih. Semua karyawan banyak mencibir, namun itu bukan sebagai dinding pembatas. Keahlian dan kegesitannya dalam bekerja terdengar sampai ke telinga Papa Faris.


Akhirnya Lani dipilih untuk menjadi asisten pribadi Fatih saat ini.


***


"Assalammuaikum, Mah." seru Fatih ketika memasuki rumah orang tuanya. Ia melihat sang Mama tengah berdiri di meja makan.


"Waalaikumsallam, duh putri mama yang cantik akhirnya pulang kerumah juga." Ia mengelus rambut Fatih yang tengah menunduk mencium punggung tangannya. "Loh, kamu sendirian kesini? Ibra nya??" Mama Tari terus mencari-cari sosok Ibra.


"Masih di Bali, Mah. Aku pulang duluan karena ada masalah di kantor---" Fatih menuangkan air ke gelas untuk dirinya sendiri.


"Masalah apa, Nak? Perusahaan kita baik-baik saja kan?"


Fatih menghela nafas kembali, sepertinya ia malas mengulang masalah yang telah terjadi.


"Om Bima, tiba-tiba minta revisi laporan saham. Aku udah meminta Lani untuk mengerjakannya, tapi om bilang harus Fatih yang turun tangan, terpaksa Fatih pulang duluan ninggain Mas Ibra--"


Kedua matanya kembali sendu, hatinya merasa bersalah setiap menyebut nama suaminya. "Tapi bener kan masalahnya ini? Kamu lagi nggak alesan aja sama Mama?"


"Kok?"


"Iya bisa aja kan kamu alesan, padahal ngatanya lagi bertengkar sama suamimu." Mama Tari mencebik.


"Ih, Mama. Nggak kok---" Ada rasa sakit ketika berbohong. Fatih merasa, memang betul sedang ada masalah. Walau Ibra sudah menjelaskan, merayu dan meminta maaf tetap saja Fatih merasa hatinya belum tegar.


"Kok aku dari tadi mikirin Mas Ibra terus ya? Dia udah makan belum ya?

__ADS_1


Fatih terus melamun, sampai seruan dari Mamanya tidak ia gubris.


"FATIH!"


"Ehh, iya Mah. Maaf--"


"Itu Papa kamu manggil!" Mama menunjuk ke arah Papa Faris yang sedari tadi sudah memanggil namanya untuk menghampiri ia ke ruang televisi.


"Duh iya, Pah---"


Fatih bangkit dengan segera lalu berjalan menuju keberadaan sang Papa.


"Sehat, Nak?"


"Alhamdulillah, Pah. Tadi Papa dengar, kamu menyebut nama si Bima, kenapa dia?"


Lagi-lagi Fatih harus menjelaskan duduk perkara yang membuat ia harus tega meninggalkan suaminya.


"....Ya, gitu Pah ceritanya." Fatih mengakhiri penjelasannya.


"Kamu hati-hati ya, Nak. Takutnya itu cuman settingannya si Fahmi aja!"


"Setingan maksudnya gimana, Pah?"


"Iya, siapa tau dia yang hasut-hasut pamannya, buat ngerjain kamu. Ingin memisahkan kamu sama Ibra. Ya, walau sih sampai saat ini, Papa belum terlalu suka sama suamimu yang sekarang, tapi Papa lihat dia lebih baik dari Fahmi!"


Entah mengapa mendengar ucapan yang keluar dari mulut Papanya, membuat Fatih mengelak dan tidak suka.


"Jelas dong Pah, Mas Ibra sama Fahmi tuh kaya langit dan bumi, bedanya jauh banget. Untuk saat ini, dia adalah suami terbaik---"


Lalu ia menghentikan ucapannya seketika. Lagi-lagi masalah kemarin sebagai penghancur ketika Fatih memuji suaminya.


"Terbaik bagaimana? Kalau kemarin aja dia masih sebut nama istrinya, ketika kita ingin melakukan hal itu!"


"Kamu udah bisa membuka hatimu kepadanya, Nak?"


Fatih terus melihati layar televisi. Mendengar pertanyaan sang Papa jelas saja membuat ia tersentak karena kaget.


"Iya, Pah--" suara itu terdengar sangat pelan malah amat pelan. "Gimana?" Papa Faris mengulang kembali karena ia tidak terlalu jelas mendengar ucapan anaknya.


"Iya, Pah. Aku udah sayang sama Mas Ibra!" Seketika wajah Fatih memerah, ia malu. Bagaimana mungkin belum sebulan menikah sudah diliputi rasa cinta.


Ya, tapi itulah yang terjadi. Allah menghadiahkan suatu rasa untuk saling mencintai, ketika mereka memang ikhlas menerima pernikahan ki demi kebahagiaan orang tua mereka. Walau awalnya mereka mencoba memberi batas untuk mengenal satu sama lain.


***


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


Mantanku Presdirku Suamiku


2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


3.Jangan Berhenti Mencintaiku


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.


Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️

__ADS_1


__ADS_2