
Ibra memutuskan untuk pulang kerumah dan tidak jadi datang ke kantor. Untung saja hari ini tidak ada rapat dengan klien penting, sehingga Tomi tidak lagi memarahinya. Memang selama menikah dan mengetahui penyakit Fatih, Ibra jadi tidak terlalu konsen dengan perusahaan. Bahkan kemarin saja ada beberapa kontrak kerja yang harus lepas dari tangannya.
Ibra turun dari dalam mobil dengan langkah gontai menuju pintu rumah. Melonggarkan dasi di kerah kemeja sambil berucap salam diambang pintu rumah. Kemejanya basah karena peluh keringat, wajahnya pun sembab. Rasanya lelaki itu ingin menenggelamkan dirinya di bath up.
"Ayah ..." teriak Fara, anak itu melepas boneka yang sedang ia mainkan, kemudian berlari menyergap sang Ayah. Begitu senangnya iya melihat Ayahnya sudah pulang sebelum sore.
Ibra pun meraih anak montok itu kedalam dekapannya. Memeluk Fara, seraya melepas beban yang masih bertahta di alam relung jiwanya.
"Kok Ayah udah pulang? Kata Bunda kan sole pulangnya." cicit Fara.
"Ayah ... Ayah!" serunya lagi sambil menepuk-nepuk bahu Ibra, dadanya terasa sesak karna sang Ayah terlalu menghimpit dadanya.
Ibra melepas pelukan itu dan mencium Fara. "Bundanya mana, Nak?"
"Di kamal, Ayah." Ibra pun mengangguk. "Ya udah sana main lagi." Ibra menunjuk ke arah mainan Fara yang berserakan diatas karpet.
Fara mengangguk dan kembali bermain. Ibra beranjak bangkit untuk menaiki anak tangga, menuju kamar tidurnya.
"Bun ...?" panggil Ibra sesampainya di sana. Namun panggilannya tidak dijawab, istrinya tidak terlihat di kamar ini.
Lalu
Ibra sedikit menjengit kaget, lantaran ada dua telapak tangan melolong dibawah lengannya. Mengunci perutnya, ada sang Istri yang memeluknya dari belakang. Fatih hening, merebahkan kepalanya di punggung Ibrahim sambil memejamkan kedua mata. Indera penciumannya terus mengendus aroma tubuh suaminya yang masih wangi.
"Kirain Bunda kemana, tadi Ayah panggil enggak ada jawaban."
"Tadi Bunda abis dari ruang kerja Ayah, bebenah di sana." jawab Fatih.
"Kan ada Bu Dasih, ngapain Bunda yang harus capek-capek beresin?"
"Enggak apa-apa bantuin kerjaan beliau dikit-dikit." jawab Fatih santai. "Oh iya, kok Ayah udah pulang jam segini?" Fatih balik bertanya.
__ADS_1
"Kangen sama Bunda, ya?" sambung Fatih manja.
Ibra mengangguk, tersenyum dalam isak tangis. Ia mengelus-elus tangan sang istri. Dilihatnya tangan putih dan mulus namun sangat kurus. Tulang-tulang jarinya pun terlihat walau samar. Membuat Ibra menatapnya nanar.
"Kamu hamil? Mau periksa?" tanya Ibra dengan nada biasa saja. Mengalihkan pertanyaan Fatih yang begitu manja dengan hal yang langsung to the point. Tidak terlihat gelak tawa bahagia seperti halnya dulu mengandung Fara.
Fatih mengerjap cepat, menarik tubuhnya untuk melepas pelukan itu. Ibra merasa istrinya menjauh langsung memutar tubuhnya untuk menatap Fatih yang sedikit mencebik.
"Kenap sayang?" tanya Ibra meraih dagu istrinya. Fatih tetap melihat ke arah lain dengan raut cemberut.
Melihat Fatih tidak menjawab pertanyaannya, Ibra kembali mengatakan hal yang diluar ekpektasi istrinya.
"Aku ngantuk, mau tidur dulu ya." ucap Ibra, lalu melepas jas kantor yang ia letakan di sofa begitu saja. Ia pun merangkak ke atas kasur dan menelungkup kan tubuhnya di sana.
Fatih yang kesal hanya bisa mengerutkan keningnya. Ia aneh melihat sikap suaminya. Hatinya pun geram, ia menghampiri Ibra.
"Aku tuh hamil, tapi kamu nya biasa aja!" decak Fatih.
"Biasanya juga langsung peluk, usap-usap perut. Kenapa sekarang dingin aja kaya orang mati!" jawab Fatih kesal, lalu merajuk seperti biasa. Ia pun keluar untuk berlalu dari kamar.
Ibra mulai merubah posisi tidurnya untuk berbaring. Menatap sudut kamarnya dengan tatapan kosong. Memijit-mijit pangkal dahi yang terasa pening tidak tertahan. Suami mana yang tidak bahagia mendengar kabar kalau istrinya tengah mengandung kembali. Namun jika keadaan Fatih saat ini dalam keadaan baik-baik saja, sudah pasti Ibra akan bersorak gembira, menerjang istrinya dengan berbagai kecupan bahagia.
"Saya harus mencari ginjal yang cocok untuk Fatih."
Ia pun bangkit untuk duduk berselonjor, meraih ponsel dan menghubungi Tomi.
"...Oke, setengah jam lagi gue sampai di kantor, Tom."
Tut.
Obrolan singkat antara dua sahabat itu disl sambungan telepon pun terputus. Ibra kembali beranjak dari ranjang untuk berangkat ke kantor menemui Tomi.
__ADS_1
Di ruang tv, ada Fatih tengah duduk di sofa sambil menemani Fara bermain di atas karpet. Dari raut wajahnya, Fatih terlihat masih merungut kesal. Ia merasa aneh dan bingung kenapa sikap suaminya berbeda sekarang
Ada masalah, Kah? Fikir, Fatih.
Cup.
Sebuah kecupan hangat mendarat di pipinya. Membuyarkan lamunan Fatih dan menyeretnya kembali untuk tersadar.
"Mas .." ucapnya, ketika menoleh ke kanan dan mendapatkan suaminya sudah duduk disebelah dirinya. Ibra membawa Fatih masuk kedalam dekapan nya. Mengunci tubuh kurus itu dengan pelukan hangat.
"Bunda ngambek ya?" tanya Ibra menggoda.
"Iya, kesal sama Ayah!" jawab Fatih dengan nada cengeng khas Fara. Ia sedikit mencubit perut suaminya pelan.
Ibra mencium rambut Fatih sekilas. Kembali merenung dan ingin menceritakan apa yang sudah dikatakan oleh Dokter kepada dirinya.
"Tuh kan, bengong lagi, ngelamun lagi, diem lagi, ada apa sih, Yah? Sebulan ini loh kamu tuh aneh banget!"
Ibra tersenyum. "Masa sih, Bun?"
"Iya, Ayah tuh aneh! Banyak berubah selama sebulan ini, tuh liat kantung mata kamu. Tebal banget! Kalau tengah malam aku bangun, kamu selalu aja belum tidur, terus lagi-lagi melamun sendirian. Ada apa sih, Yah?" Fatih terus memaksa.
"Ada masalah di kantor?" sambung Fatih lagi. Kemudian merubah nada suaranya menjadi pelan. "Atau tentang aku?"
Seteguk saliva terhempas jauh begitu saja ke dasar kerongkongan. Kulit tenggorokan Ibra naik turun, bola matanya berpendar kemana-mana. Memang itulah masalah utamanya. Hanya karena keadaan istrinya yang membuat ia menjadi linglung tidak bertuan.
Fatih melepas dekapannya dan menatap suaminya dalam-dalam.
"Kamu jangan terlalu keras mikirin aku, Mas. Aku janji akan teratur cuci darah. Aku pasti sembuh buat kamu, Fara dan dia." Fatih mengelus perutnya yang masih datar. Entah mengapa ia tahu sekali kalau suaminya pasti terbebani dengan keadaanya.
Ibra hanya tersenyum tipis, sambil menahan sesak nya dada. Ia usap perut Fatih dengan gerakan lembut dan pelan. Seraya mendoakan keselamatan bagi mereka berdua. Ibra tersiksa karena belum sanggup memberitahukan apa yang sudah dijelaskan oleh Dokter, walaupun kenyataanya Fatih sudah tahu hal itu sejak lama. Fatih dan Ibra sama-sama tengah memegang rahasianya masing-masing.
__ADS_1