Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Tidak akan ada pengampunan.


__ADS_3

"Ni---ken?" desah Mama Tari, terbata-bata dalam hatinya. Ia menatap lurus dan fokus ke arah wanita yang ia curigai. Terlihat Niken dengan Kak Ira tengah bersama, yang ia yakini Kak Ira adalah anak dari sahabat baiknya, Ibu Hanum.


"Itu Ira kan? Anaknya Hanum, Kakaknya Ibra?" Mama Tari masih melolongkan kedua matanya untuk menatap jelas wanita yang tengah berbincang hangat dengan Niken di kursi tunggu depan Farmasi. Manik matanya tak urung terlepas menatap mereka berdua.


"Apa mereka saling mengenal?" pekiknya. Mama Tari terus saja menatap tajam ke arah Niken yang sesekali ikut tertawa ketika mendengar ucapan Kak Ira, ibunya.


"Dasar wanita ja**ng! Masih bisa kamu tertawa puas, setelah menghancurkan keluargaku? Merebut suamiku? Membuatku trauma dan membuat hidup anakku sempat sengsara!" urat-urat hijau tercetak jelas di sekitar pelipis Mama Tari, wanita itu menahan kekesalannya sampai ke dasar otak. Niken tidak akan pernah mendapatkan ampunan darinya.


"Kenapa, Mah?" tanya Papa Faris yang aneh melihat guratan tidak suka dari istrinya. Mama Tari terkesiap ketika suaminya membuncang bahunya untuk membawa ia kembali dalam mode sadar.


Mama Tari menggeleng dan kembali tersenyum. Sebisa mungkin ia ingin mengalihkan perhatian suaminya agar tidak dapat menemukan keberadaan Niken yang tidak jauh dari nya.


"Kita pulang yuk, Pah. Papa udah enakan, kan?"


Tanpa menjawab lama, Papa Faris pun mengiyakan. Dan Mama Tari membantu untuk memapah suaminya kembali berjalan menuju pintu utama Rumah Sakit. Wanita itu menoleh lagi untuk melihat Niken yang masih sibuk berbicara dengan Kak Ira, sang Ibu sesekali mengelus rambut putrinya.


"Saya yakin, mereka pasti ada hubungan. Saya akan tanyakan langsung dengan Hanum!"


"Mah, lihatin siapa sih?" Mama Tari segera menoleh ketika suaminya kembali bertanya. Papa Faris seperti ingin menoleh juga ke belakang untuk mencari sosok yang sedari tadi mengganggu pandangan istrinya, namun sebelum itu Mama Tari langsung menghentikan tatapan suaminya yang baru saja ingin berpendar.


"Udah ayo kita pulang, Pah!" Mama Tari membawa Papa Faris dengan langkah pelan menuju mobil. Jantung wanita paru bayah itu terasa bergemuruh, cukup berdetak hebat. Berbagai terkaan dan asumsi mengeliling hebat di kepalanya, terbayang lah wajah Fatih dan Ibra.


"Aku tidak akan memaafkan, jika Niken masih ada hubungan keluarga dengan Hanum maupun Ibra. Ya Allah, bagaimana dengan nasib anakku? Dia pasti akan terpukul!"


Sejatinya ia lah yang akan terpukul dengan berbagai jarum di tumpukan jerami. Ia tidak akan menyangka kalau Fatih sudah lebih dulu tahu dan malah sengaja untuk menutupinya dari sang Mama. Ia hanya ingin mempertahankan pernikahannya dengan Ibrahim Attar.


*****


Terlihat malam sudah menjamah. Fatih sudah membenamkan dirinya di ranjang sambil memeluk guling yang ia sematkan tepat didepan perut buncitnya. Ibra sesekali menoleh menatap istrinya yang sedang tertidur. Ia masih betah di kursi meja kerja sambil melipat kedua tangannya didada. Menatap cahaya putih dari layar laptop yang membuat ia belum mau memejam kedua matanya.

__ADS_1


"Jika saja, Fahmi dan Pamannya tidak begitu saja mengambil saham mereka kembali, mungkin keuangan perusahaan tidak akan jomplang seperti ini." Ibra mengusap wajahnya sampai ke rambut belakang.


"Ya Allah, mungkinkah saya harus mendatangi mereka untuk merayunya lagi?"


"Lalu bagaimana jika kekhawatiran saya itu terjadi? Saya nggak akan pernah bisa untuk pisah dari istri dan anak saya!" Ibra memejam kedua matanya dan menyandarkan kepalanya disandaran kursi.


"Walau masih ada saham di perusahaan lain, tapi tidak etis jika ditarik padahal perkembangannya sedang pesat di sana." Ibra terus mengerang dalam batinnya.


Lalu


Cup.


Ibra membuka kedua matanya cepat ketika ia merasakan kecupan hangat terasa mengalir di dahinya. Ia tersenyum dan menatap ke atas, tepat dimana sang istri tengah menatapnya kebawah. Fatih Medina tengah berdiri di belakang kursi Ibra.


"Kok kamu bangun sayang?" tanya Ibra sambil mengangkat satu tangannya keatas untuk mengelus pipi Fatih. Seraya mencubit pelan karena gemas.


"Kamu juga kenapa masih di sini, bukannya tidur!" Fatih mengerucutkan bibir tipisnya.


Fatih pun mengikuti kemauan suaminya yang sedang manja, mungkin dengan seperti ini membuat hati Ibra sedikit lega dan melupakan masalah di perusahaan.


Kecupan pelan dari Fatih membuat Ibra menutup mata, bibir mungil wanita itu mulai menyeruak untuk menghisap bibir lunak milik suaminya. Ibra yang hanya diam mengikuti, pun ikut tersulut dengan permainan bibir Fatih.


Ia melahap habis rongga mulut itu dengan desapan lidahnya, membuat Ibra terus mendongakkan wajah dengan kedua tangan di alungkan keatas, untuk menekan tengkuk Fatih agar terus menunduk dan membenamkan katupan bibirnya di sana.


Sesekali mereka melepaskan pagutan bibir yang basah dengan percikan saliva. Merasa pula oksigen diantara mereka mulai menipis. Fatih pun mengangkat wajahnya kembali dan berdiri tegap, ia sedikit meringis karena pinggangnya terasa pegal.


Ibra pun bangkit dari kursi dan berbalik menatap istrinya, kembali memagut bibir ranum itu yang semakin polos dan memucat. Erangan dari keduanya pun mencuat dan saling beradu, sampai dimana Ibra membawa istrinya untuk melangkah mundur menuju ranjang.


Brug.

__ADS_1


Ibra dengan hati-hati merentangkan tubuh istrinya di pertengahan ranjang. Ibra ikut merangkak untuk mengkungkung wanita hamil itu, untuk saat ini ia agak kesulitan untuk menindih, karena perut istrinya sudah semakin membesar.


"Ayah mau lagi, Bun..."


Fatih mengangguk pelan. "Iya Ayah, boleh."


Nafas Fatih semakin memburu, begitupun dengan Ibra yang sudah tersulut akan gairah yang membara dirinya. Melepaskan kancing-kancing piyama Fatih dengan pergerakan tangan yang cepat, Fatih semakin merintih kala suaminya sudah mengesap leher lalu merambat menuju tulang selangka dadanya.


"Ayah..." suara sexy itu akhirnya mencelos dari bibir Fatih, membuat Libido Ibra kembali memuncak.


Ibra kembali mendongakkan wajahnya, untuk menatap Fatih dengan sengalan nafas yang sudah tidak beraturan. Wanita itu masih memejam mata dan terus saja melenguh. Apalagi ketika kedua tangan kekar Ibra begitu saja masuk kedalam piyama untuk mengobrak-abrik bagian lunak yang ada menjuntai di dalamnya.


"Bunda..." Ibra ikut merintih, ketika dirasa pusat tubuhnya sudah menuntut untuk melakukan gerakan yang lain.


Lalu


Drrt drrt drrt


Ponsel Fatih begitu saja bergetar di sudut ranjang. Cahaya terang mengedip-ngedip dari layarnya.


"Hemmm...ada aja gangguannya." desah Ibra tertawa kepada Fatih. "Angkat dulu, Bun. Siapa malam-malam begini menelpon." Ibra bangkit dari atas tubuh istrinya yang belum sempurna polos.


"Aku ambil minum dulu ya."


Fatih pun mengangguk dan mulai beringsut untuk meraih ponselnya yang masih setia bergetar


"Mama?" sebuah nama yang ia keluar dari bibirnya, ketika menatap ponsel. "Ada apa malam-malam begini telepon?" Kening Fatih terlihat berkerut-kerut, lalu kedua matanya mengerjap.


"Apakah ada masalah dengan Papa?" desahnya takut lalu mengusap icon hijau untuk mendapatkan suara sang Mama dari seberang sana.

__ADS_1


"Hallo, sayang..."


*****


__ADS_2