
Tidak terasa sudah satu minggu Ibrahim memulai karir baru di Perusahaan Fatih. Dirinya menggantikan posisi Fatih di kursi kepemimpinan. Fatih beserta orang tuanya begitu senang, melihat Ibra mau membantu mereka membesarkan perusahaan.
"Assalammualaikum Ayah..."
Ibra yang masih berkutat di meja kerja dengan berbagai berkas langsung mendongak ketika ia mendengar suara bidadari hatinya muncul.
"Waalaikumsallam istriku, kenapa enggak telepon aku dulu, biar aku jemput kerumah kalau kamu mau ke kantor." tanya Ibra kaget dengan kedatangan istrinya yang tiba-tiba. lalu bangkit untuk meraih tentengan yang Fatih bawa dan membantunya untuk duduk di sofa.
Fatih hanya tersenyum dan mencium pipi suaminya.
"Kamu sama siapa kesini?"
"Aku sendiri, Mas."
"Nyetir sendiri? Kan aku udah bilang----"
"Aku pakai taxi sayang, kamu jangan khawatir. Aku enggak akan nyetir mobil lagi."
Ibra tersenyum lega, ia takut ada apa-apa dengan istrinya kalau terus mengemudikan mobil tanpa dirinya.
"Aku bawain kamu makan siang, kamu pasti udah lapar kan?" Fatih mulai membuka rantang susun yang berisikan makanan yang ia masak dirumah.
"Jangan capek-capek sayang, kamu sehari tiga kali masak, aku kasian lihat kamu!" Ibra beringsut mendekat untuk menggulung rambut Fatih agar wanita itu tidak kepanasan. Ia melihat tetesan keringat mengucur dileher istrinya.
"Aku hanya ingin kamu makan makanan sehat dan bergizi, Mas."
Ibra mengangguk bahagia. Sebegitu perhatian nya Fatih kepada dirinya, beda hal dengan sikap Jihan dulu.
"Ya Allah, keringetan begini kamu, Bun." Ibra mengelap keringat dileher Fatih dengan dasinya.
"Jangan pakai dasi dong, Yah. Nanti dasi kamu kotor." Ibra pun tertawa.
"Enggak apa-apa, dari pada baju kamu basah! Apa kita mau basah-basahan di sini?" Ibra kembali menggoda istrinya.
"Fara, marahin Ayah nih. Godain Bunda terus." Fatih menatap perutnya lalu ada gerakan tiba-tiba dari dalam.
"Tuh Yah, Fara nya nendang. Mau nendang kamu kayak nya nih." Fatih tertawa.
"Bisaan kamu, Bun. Lihat aja nanti kalau udah besar, pasti nempel banget sama aku." Ibra ikut tertawa dan mulai meraih sendok untuk menghabiskan makan siangnya.
"Wajahnya aja mirip kan sama aku?" sambung Ibra.
"Iya sih emang." Fatih mengingat foto usg terkahir, Fara sangat mirip dengan Ibrahim.
__ADS_1
"Oh iya, Mas. Bagaimana dengan perusahaan, apakah kamu ada kesusahan?"
"Enggak sayang, tenang aja. Lani juga banyak membantuku untuk merekap atau merevisi berbagai laporan." jawab Ibra disela-sela kunyahan nya.
"Tapi kamu jangan sampai jatuh hati sama Lani ya, Mas. Biasanya kan gitu, atasan jatuh cinta sama bawahan, atau bos jatuh cinta sama sekretaris. Apa perlu Lani aku ganti dengan sekretaris laki-laki ya?" Mendengar ucapan istrinya, membuat Ibra tersedak dan terbatuk-batuk. Membuat wajahnya memerah karena perihnya cabai malah masuk ke indera penciumannya.
"Ya Allah, Yah, nih minum dulu." Fatih menyodorkan air minum kepada suaminya.
Seperti sedang tenggelam didalam air membutuhkan oksigen di udara lepas begitu pun Ibra sekarang yang membutuhkan banyak air untuk mendorong keganjalan di kerongkongan karena ulah istrinya.
"Ngaco kamu tuh. Kalau ngomong sembarangan aja. Hampir aja nih suami kamu mati karena kecemburuan kamu yang enggak masuk akal."
"Kok gitu? Kenapa marah? Harusnya kamu bersikap tenang dong!" Fatih menyandarkan tubuhnya di sofa sambil melipat kedua tangannya, wanita hamil itu merajuk.
"Tuh kan ngambek lagi, cemburuan lagi. Ya aku marah lah, kamu tuduh gitu." Ibra kembali mendekati lekat istrinya membenamkan kepala istrinya kedalam bahu nya.
"Aku enggak tuduh, aku hanya antisipasi. Banyak kan diluaran seperti itu?"
Ibra menggelengkan kepalanya dan mulai mengatur suaranya untuk lebih lemah lembut agar Fatih bisa terbawa suasana.
"Asal kamu tau, Fat. Kalau udah ada satu wanita di hati aku, walau wanita itu mempunyai banyak kekurangan aku akan selalu setia. Apalagi kamu yang banyak kelebihannya buat aku!"
Fatih mendongakkan wajahnya untuk menepis rasa ketakutan yang sering muncul di hatinya. Ia begitu mencintai lelaki ini.
"Demi Allah, beneran sayang. Lagian juga Lani itu minggu depan mau nikah, baru kemarin dia kasih undangan pernikahannya sama aku. Aku nya aja lupa ngasih tau ke kamu."
"Wah, masa, Mas? Kok dia nggak cerita sih sama aku."
"Kamu kan udah dirumah, kapan ketemu sama dia?"
"Oh iya betul, Ya Allah, Lani akhirnya dia menikah juga. Aku senang banget." Wajah Fatih terlihat gembira.
"Makanya jangan sering berfikir negatif, Bun. Enggak baik untuk psikis kamu. Jangan terlalu cemburu sama aku. Aku janji enggak akan ninggalin kamu apapun yang terjadi."
Fatih mengelus lembut pipi suaminya. "Maafin Bunda ya, Yah. Selama hamil, bawaannya takut mulu. Sensitiv, cemburu dan takut Ayah direbut sama wanita lain. Bahkan kadang sama nyamuk aja aku cemburu, karena dia udah hisap sedikit darah kamu."
Ibra tertawa cekikan. "Sampai segitunya, cinta banget ya berarti?"
Fatih memutar bola matanya jenga, menahan malu. Entah bagaimana saat ini wajahnya tengah memerah seperti kepiting rebus.
****
"Saham anjlok?" desah Ibra, ketika dua bola matanya masih menatap layar komputer.
__ADS_1
"Kok bisa mendadak jatuh seperti ini?" rautnya terlihat panik dan cemas.
"Padahal penjualan kemarin masih di atas rata-rata, kenapa mendadak bisa turun?"
Ibra terus termenung, terus berfikir keras dan menerka apa yang terjadi di lapangan. Ia lupa jika waktu sudah menunjukan jam pulangannya kerumah.
Dalam lamunannya ia kembali dikagetkan dengan suara Lani yang tiba-tiba mengucap salam sebelum masuk menghampiri dirinya. Wanita itu terlihat gugup.
"Kamu kenapa, Lan?" tanya Ibra yang juga gugup melihat Lani seperti ini.
"Beberapa rekanan menarik sahamnya dari perusahaan kita, Pak."
"Apa?"
"Saya juga curiga ada yang menyabotase penjualan, sehingga jadi turun drastis dipasaran."
"Siapa saja yang menarik saham dari perusahaan kita?"
"Perusahaan Pak Bima dan Pak Fahmi."
Dua bola mata Ibra terbelalak. Ia begitu kaget ketika Lani menyebut nama Fahmi.
"Maksud kamu, Pak Fahmi itu mantan suami istri saya, Lan?"
Lani mengangguk. "Benar, Pak. Dan Pak Bima adalah pamannya Pak Fahmi. Selama ini mereka mempunyai saham di Facorp, membantu perusahaan kita agar bisa berkembang. Lalu tadi saya mendapat laporan, kalau mereka tiba-tiba menarik sahamnya nya, Pak."
"Astagfirullohaladzim..." Ibra mengusap wajahnya kasar dan menghembuskan nafasnya dengan kasar dengan kepala menunduk kebawah. Ia benar-benar tidak menyangka kalau kemunculan dirinya di perusahaan, bisa membawa masalah seperti itu. Fatih dan mertuanya pasti akan kecewa, mereka akan mengganggap bawah Ibra tidak becus menjalani perusahaan mereka.
"Saya yakin ini semua rencana Fahmi untuk menggertak saya. Dia sengaja ingin membuat saya untuk melepas Fatih dengan menukar saham di perusahaan! Keterlaluan, kamu Fahmi! Sampai kapanpun, saya tidak akan melepaskan istri dan anak saya, camkan itu!" sentak Ibra dalam batinnya.
"Pulang lah, Lan. Hari sudah mau sore. Saya juga mau pulang. Untuk masalah ini, besok kita adakan rapat dengan berbagai staf. Kamu siapkan sana dokumen untuk rapat besok. Kita bisa mencari beberapa rekanan lain untuk kita ajak bergabung."
Mendengar ucapan bos nya yang tidak gentar akan masalah membuat wajah Lani bahagia. Ia yakin Ibrahim bisa mengembalikan perusahaan untuk tetap utuh.
"Baik, Pak kalau begitu saya permisi."
Ibra tersenyum dan menganggukan kepalanya. Lani pun berlalu dari pandangannya.
Ibra kembali memejamkan kedua matanya sambil memijat pangkal dahinya. Membenamkan dirinya disandaran sofa sambil terus berfikir mencari cara agar Fatih dan orang tuanya tidak tahu dulu akan masalah ini.
"Awas kamu, Fahmi!"
****
__ADS_1
Kaya biasa, biar aku semangat. Like dan komen nya ya❤️❤️