
Selamat baca ya guyss
❤️❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
Sepertinya suasana hati Fatih berubah menjadi tidak enak saat ini. Pertemuan dengan Fahmi tentulah bukanlah keinginannya. Malah disamping itu ia selalu berdoa untuk selalu dijauhkan dari sosok mantan suaminya yang penuh dengan jiwa tempramental.
Tangan kanan Ibra terus saja menggenggam tangan Fatih. Ibra menoleh dan menatap dirinya dengan senyum.
"Sabar..sayang." Begitulah kalimat yang ia bisikan ditelinga sang istri. Membuat Fatih samar-samar menarik sudut bibirnya untuk membentuk huruf u, pelan-pelan ia tersenyum kembali.
"Apa kabar bu Fatih." Tanya Dr. Fera
"Baik Dok.." Jawab Fatih tersenyum.
"Sudah lama ya tidak kontrol? Kemana saja?" Begitulah Dr. Sp. Jiwa, mereka harus bisa membangun karakter dan pendekatan kepada seluruh pasiennya. Agar pasien bisa menjadi percaya, aman dan nyaman.
Dr Fera sangat hafal dengan Fatih. Salah satu pasien yang selalu ia ingat tentang jalan dan kisah rumah tangganya. Tapi lucunya ia tidak tahu jika lelaki yang ia rawat sebelum Fatih, yaitu Fahmi, suaminya.
"Ini yang berkonsultasi, atas nama Tn. Ibra?" Dokter melihat ke arah status yang bukan atas namanya.
"Ini suami saya Dok. Tapi saya juga ikut untuk konsultasi..." Ucap Fatih ketika melihat Dokter akan memulai terapi.
Perawat lalu mencari berkas status yang sedang menumpuk untuk memanggil pasien selanjutnya.
"Ny. Fatih Medina?" Tanya Perawat ketika mengambil berkas rekam medik atas namanya.
"Iya betul, Sus." Ibra menyahut.
Suster mengangguk dan memberikan berkas rekam medik Fatih kepada Dokter. "
"Masya Allah, sudah menikah lagi ternyata?" Ucap Dr. Fera senang. "Saya nggak nyangka Bu Fatih bisa secepat ini progresnya---"
"Bahkan sekarang, istri saya sedang hamil Dok..." Ibra kembali membuat Dokter Fera geger.
"Masya Allah Tabarakallah, saya senang banget dengarnya..."
__ADS_1
Ibra dan Fatih tersenyum bersamaan. Kedua tangan mereka saling menggenggam tidak mau terlepas.
Dokter Fera melihat catatannya yang ia tulis di berkas rekam medik milik Ibra beberapa tahun yang lalu.
"Bapak pernah datang konsultasi ke saya juga ya?" Dr. Fera kembali menatap Ibra.
"Tapi sudah lama sekali, sekitar 2 tahun yang lalu berkonsultasi kesini, Kenapa jarang kontrol Pak?" Tanya Dr. Fera kembali.
"I--ya Dok, maaf. Soalnya saya merasa sudah lebih membaik."
"Hem..." Dokter Fera mulai mengangguk. "Apakah selama ini betul-betul sudah lepas dari obat?"
"Belum Dok. Saya masih menebus obat-obatan yang pernah Dokter berikan. Saya mengaku salah Dok--"
Dokter Fera tersenyum. "Baiklah nggak apa-apa. Ayo Pak ceritakan saja apa yang saat ini tengah dirasakan."
Ibra pun mengangguk dan mulai menceritakan apa yang ia rasakan. Tatapan antusias pun datang dari dua bola mata Dokter Fera yang sedang mendengarkan apa yang menjadi ganjalan, tekanan dan ketakutan Ibra.
Ia menjawab dan menceritakan secara jujur. Hal ini berfungsi untuk membuat jiwa Ibra kembali bersemangat dan bisa percaya diri kembali. Ia membutuhkan orang yang tepat untuk selalu membimbing dirinya dan mencintainya apa adanya. Semua ketakutan ia tumpahkan begitu saja didepan Dokter Fera.
Fatih sempat terkejut ketika suaminya mengatakan kalau ia tersiksa dengan ultimatum Fahmi dan membuatnya selalu takut serta bayangan itu selalu muncul menerpanya. Fatih tidak bisa menanyakan hal ini secara intern dengan Ibra, karena Ibra masih berbicara dengan Dokter Fera.
Setengah jam berlalu, kini Dokter sudah selesai menghipnoterapi Ibra.
"Gantian ya sama istrinya..."
Ibra mengangguk. Lalu Dokter Fera beralih melakukan terapi untuk Fatih. Sama halnya dengan Ibra, Fatih harus bisa mengeluarkan isi hati, ganjalan serta apa yang membuatnya selalu resah.
"Penyakit jiwa Bapak dan Ibu bisa kita sebut dengan PTSD, post traumatic stress disorder yaitu gangguan stress pasca trauma. Ini merupakan gangguan mental yang cukup serius. Di akibatkan oleh kejadian fatal atau berdampak besar sehingga membuat trauma yang berkepanjangan."
Sungguh tidak bermoral perlakuan Fahmi dan Jihan dulu kepada Fatih dan Ibra. Membuat dua jiwa begitu saja hancur dan menghadapi trauma berat berkepanjangan. Syukurlah Ibra dan Fatih dapat dipertemukan dan cinta menjadi bonus diantara mereka.
"Jadi intinya untuk Ibu dan Bapak. Harus bisa saling melengkapi dan menemani dalam segi hal apapun. Lepaskan semua masalah dengan hati yang tenang dan rileks!"
"Membuang paksa jika trauma itu datang kembali dengan kepercayaan yang ada. Bapak dan Ibu harus bisa menerima segala kekurangan masing-masing. Jika kalian kuat dan kokoh, Insya Allah gangguan mental yang masih ada, bisa berangsur menghilang."
Wajah Ibra dan Fatih saling mengembang dengan senyuman. Sesekali mereka saling menatap dan kembali melihat ke arah Dokter. Tentu tidak pernah terfikir oleh mereka, bahwa perjodohan yang dilakukan oleh Ibu Hanum dan Mama Tari mempunyai banyak keberkahan.
"Rajin beribadah, olahraga Banyak pergi ke tempat-tempat yang membuat mood kalian baik dan minum obat secara teratur. Obat yang saya berikan juga boleh dikosumsi ketika sedang mengandung, tidak ada masalah.."
"Baik Dok, kami akan coba. Dan obat-obatan yang baru akan kami minum, makasi ya Dok."
***
Fatih dan Ibra terlihat duduk bersama di bangku antri depan Intalasi Farmasi Rumah Sakit. Menunggu nama mereka dipanggil untuk mendapatkan obat.
"Dam, gue ijin pulang cepat ya. Ngantri nih di..nggak tau kapan kelarnya. Takutnya ke sorean gue balik ke kantor..tenang cemilan lo besok gue bawain, gitu aja ya dam. Oke deh bye bro!"
Tut.
__ADS_1
Sambungan telepon antara Ibra dan Damar terputus. Ia kembali menoleh ke istrinya.
"Masya Allah, Mas. Anak kita..." Fatih terus mengusap-usap foto usg yang baru saja ia lakukan beberapa jam lalu di Dokter Spesialis Kandungan setelah berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Jiwa.
"Kamu harus sehat selalu ya, kalau mau apapun harus bilang ke aku. Jangan dipendam sendiri---" Ibra mengelus perut datar Fatih. "Iya sayang..aku faham." Jawabnya sambil mengusap pipi suaminya.
"Kira-kira nanti anaknya mirip siapa ya?"
"...Ya aku dong. Kan aku ayahnya!"
"Tapi kan aku bundanya..." Fatih menjawil pucuk hidung suaminya.
Begitulah rentetan banyolan mereka ketika mengandai-andai tentang si bayi yang baru memasuki usia 4 minggu. Membuat dunia Fatih dan Ibra seketika berubah lebih membahana dalam asa kebahagiaan.
"Mas, kenapa kamu nggak cerita soal Fahmi? Kenapa kamu tutupin ini semua dari aku? Dia itu udah kurang ajar sama kamu, Mas!" Fatih mendengus.
"Waktu itu aku takut cinta kamu belum penuh ke aku, Fat."
Kedua mata Fatih membulat dan melebar.
"Karena aku lagi salah sama kamu waktu itu. Aku fatal nyebut nama Jihan, ketika kita sedang ingin berhubungan."
Ibra terus menatap dua bola mata istrinya. "Tapi demi Allah, kamu yang aku cinta sekarang--"
Fatih mengangguk. "Iya Mas, aku percaya. Aku juga merasakannya."
"Kamu mulai cinta sama aku kapan Mas?"
"Hemm...." Ibra seraya berfikir, ia ingin mengerjai istrinya.
"Ya semenjak kamu cinta sama aku aja..." Ibra tertawa.
"Ih kamu tuh..." Wajah Fatih memerah seperti tomat. Digoda oleh suami sendiri, tentu rasanya sangat membahagiakan.
"Awalanya aku malah takut Mas sama kamu, kok bisa ya aku nikah sama Om-om.." Ledakan tawa begitu saja mencuat dari bibir ibu hamil ini. Membuat suaminya mendengus pelan lalu ikut tertawa.
"Tambahin dong, om-om ganteng gitu..."
Fatih kembali tertawa, Ibra terus tersenyum melihat istrinya bahagia seperti ini. "Aku janji akan buat kamu sembuh.."
"Aku dan kamu harus sembuh...buat dia!" Fatih mengusap kembali perutnya.
"Hemmm..anak ayah." Ibra ikut mengelus.
Lalu disaat mereka sedang asik melepas kasih dan sayang. Ada suara yang memanggil dan cukup menggetarkan hatinya.
"...Fatih!"
"Mama..?"
__ADS_1
*****
Like dan Komen ya guys.