
Fatih, tolong jaga Mamamu. Buat Mamamu bahagia. Salam cinta untuk cucuku, Fara.
Fatih masih termenung dibelakang rumah. Memeluk tubuh dengan kedua lengannya. Suasana dingin di pantai Sawarna membuat bulu-bulu ditubuhnya meremang. Ia terus terbayang ucapan Papa Faris sebelum berpulang ke pangkuan Maha Pencipta.
Empat tahun sudah Papa Faris berpulang meninggalkan dirinya, sang Mama dan Faradisa Salsabila Attar, serta empat tahun sudah Fatih memilih untuk mengakhiri pernikahannya bersama Ibrahim Attar.
Perusahaan Fatih semakin anjlok, penjualan semakin di sabotase oleh Fahmi. Apalagi penyakit Papa Faris membutuhkan banyak biaya, Fatih dengan sukarela menggadaikan perusahaannya ke Bank, ia menggunakan segala cara agar Papanya bisa sembuh. Ditambah lagi Mama Tari yang selalu memaksa Fatih untuk memilih. Memilih orang tua atau suami yang sudah menghancurkan keluarga mereka, fikir Mama Tari kala itu.
Dia berfikir dengan membawa Papanya operasi di Singapura, akan membuat lelaki paru bayah itu kembali sehat, nyatanya sang Papa memilih pergi untuk selama-lamanya.
Fahmi kembali datang untuk memberikan bantuan serta penawaran, ia akan membuat Fatih kaya seperti dulu asal menikah dengannya, tentunya Fatih menolak. Ia berusaha untuk kembali merintis perusahaan, namun keberuntungan lagi dan lagi belum berpihak.
Keadaan yang seperti ini tentu membuat psikis Mama Tari terguncang, wanita itu terpuruk. Kehilangan suami membuat hidupnya tidak bergairah, sampai di ujung ajalnya pun belum terucap kata untuk memaafkan Ibrahim, mantan menantunya.
Ya, Mama Tari ikut menghembuskan napas terakhir dua tahun setelah kepergian Papa Faris. Fatih amat shock saat itu, ujian dan cobaan terus saja datang dan menerpa. Belum lagi ia memilih untuk membesarkan Fara seorang diri. Ia selalu menolak jika Ibra memohon untuk menikahinya kembali. Karena ia tahu, orang tuanya pasti tidak mau hal itu terjadi lagi.
Maka Fatih memutuskan untuk pindah ke rumah neneknya, orang tua dari Mama Tari di Banten, tepatnya di pinggir Pantai Sawarna. Ada usaha perkebunan kecil di sana yang sudah lama ditinggalkan oleh orang tua mereka, maka Fatih merintis kembali dengan modal yang pas-pasan.
"Bik ..."
Bik Mirna yang baru keluar dari kamar Fara pun menoleh ke arah pintu belakang, dimana majikannya memanggil.
"Ambil Fara, Bik. Ini sudah sore. Suruh Ayahnya pulang dari sekarang." titah Fatih kepada Bik Mirna.
Bik Mirna pun menoleh ke arah mobil sedan hitam yang terparkir dihalaman rumahnya.
"Baik, Bunda." jawabnya, lalu berlalu untuk mengikuti perintah dari majikannya. Fatih pun mengekor dari belakang, kakinya terhenti di balik tirai yang ia seka sedikit. Mengintip ke arah luar seperti biasa. Ia selalu menghindari wajah lelaki yang masih ia cintai sampai saat ini. Ia masih merindukan Ibrahim Attar.
Tok tok tok
Lelaki itu pun terkesiap, karena kaget mendengar suara ketukan tiba-tiba terdengar dari luar kaca mobilnya. Walau umur Ibra semakin bertambah, tapi ketampanan dan kegagahannya masih saja terjaga. Seperti biasa, Ibra sudah tahu jika Bik Mirna datang, pasti waktu pertemuan antara dirinya dengan Fara sudah berakhir.
__ADS_1
"Fara, ayo bangun, Nak." Ibra mengusap punggung Fara yang masih terlelap memeluk dadanya. Fara hanya bergumam tidak jelas. Malah ia semakin memeluk Ibra dengan erat. Fara tumbuh menjadi anak perempuan yang cantik. Tubuhnya putih, wajahnya mirip sekali dengan Ibrahim. Rambutnya cokelat dan agak sedikit ikal.
Fatih memang menceraikan Ibra, memutuskan hubungan diantara mereka. Tapi Fatih tidak pernah memutus atau memisahkan Fara dari Ayahnya. Karena ia tahu darah itu lebih kental dari air, dan Fara mengandung darah Ibra. Selama berpisah Fatih tidak mau memunculkan wajahnya dihadapan Ibra. Wanita itu belum siap, ia tidak ingin luluh atau terayu. Ibra dan Fatih saling merindukan.
Ibra menurunkan kaca mobil lalu menatap Bik Mirna. "Apakah saya boleh minta satu jam lagi bersama Fara, Bik?" pintanya.
Bik Mirna sedikit menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Ia menoleh ke arah rumah yang tidak memperlihatkan kehadiran siapa-siapa di sana, tapi sesungguhnya ia tahu kalau majikannya tengah berdiri di dalam untuk memantau mereka diluar.
"Hemm, sebentar ya Pak, saya tanyakan Bunda nya dulu."
Ibra mengangguk dan membiarkan Bik Mirna berlalu untuk masuk kedalam rumah.
"Kenapa, Bik?" tanya Fatih yang masih berdiri di sekitar tirai.
"Itu Bun, kata Ayahnya mau minta waktu satu jam lagi sama Neng."
Fatih mendengus napasnya pelan. Ia kembali menoleh ke arah mobil mewah milik Ibra. Fatih pun mengangguk. "Tapi hanya satu jam tidak boleh lebih ya, Bik!" perintah Fatih.
Bik Mirna pun mengangguk, ia beranjak keluar menuju mobil Ibra. Fatih kembali memperhatikan Ibra yang masih bersandar di kursi kemudi sambil mendekap Fara. Walau memang pandangan itu tidak terlalu jelas.
Perceraian membuat Ibra kembali down, ia bersusah payah menolak dan terus mengejar Fatih. Namun hanya kesia-siaan yang ia dapat. Ia melepas perusahaan Fatih dan kembali luntang-lantung tidak jelas. Ia sudah memilih keluar dari SUAM, meninggalkan karir yang sudah cemerlang di sana. Mau kembali pun sudah tidak bisa, tahun-tahun pertama setelah bercerai dengan Fatih ia begitu sengsara, hampir saja ingin mengakhiri hidupnya. Maka melihat kejadian itu, para keluarga Ibra memohon kepada Fatih untuk memperbolehkan Ibra melihat dan ikut merawat sang Anak walau dalam keadaan yang berbeda.
Jika Fatih jatuh miskin, berbeda hal dengan Ibra yang saat itu kembali merintis karir dari awal. Ia tahu, dirinya punya tanggungan yaitu Faradisa, putri sematawayangnya. Sebagai bapak ia tidak boleh cengeng dan terus meratapi hidup yang menyakitkan.
Ada Fara yang harus ia biayai. Bermodalkan pinjaman kepada Bank, ia merintis usaha property. Namun tidak disangka, keberuntungan berpihak pada lelaki sabar itu. Usahanya sukses, banyak perusahaan yang berdatangan untuk bekerja sama dengannya. Bahkan ia baru saja mendapatkan kontrak kerja dengan salah satu perusahaan terbesar di Malaysia.
Selama empat tahun ini Ibra sibuk dalam karirnya, tapi ia tidak lupa untuk mengirimkan uang kepada Fatih untuk Fara. Bahkan ia pernah memberikan uang penggantian saham yang tidak sengaja disabotase oleh Fahmi, namun Fatih menolak. Ia merasa tidak pantas, suaminya itu tidak bersalah.
"Bik ... Bik." panggil Fatih lagi kepada Bik Mirna yang sedang di dapur.
"Iya, Bunda?"
__ADS_1
"Ayo sudah satu jam, cepat jemput Fara, masih ada besok kan, bisa diajak main lagi. Kasian kalau tidur di mobil, nanti tubuhnya pegal-pegal."
Bik Mirna dengan langkah seribu, akhirnya kembali keluar bertepatan dengan Ibra yang mulai turun dari dalam mobil sambil menggendong Fara yang sudah terbangun tapi masih memeluk Ayahnya. Anak itu rindu, karena sudah dua minggu belakangan ini, Ibra tidak datang. Lelaki itu harus terbang ke Tokyo untuk mengurus saham yang ada di sana.
"Ayah ..." Fara bergeliat tidak mau disentuh oleh Bik Mirna. Anak itu masih betah memeluk dada tegap sang Ayah.
"Aneh, biasanya Fara enggak kayak gitu." desah Fatih masih memperhatikan mantan suami dan anaknya dari tirai rumah.
"Sudah mau malam, Nak. Fara harus istirahat bersama Bunda didalam. Besok pagi Ayah akan kesini lagi. Kita jalan-jalan, bagaimana?" bujuk Ibra kepada putrinya.
"Benelan, Yah?" suara cadel Fara mencuat dari bibirnya yang mungil.
"Iya, Nak. Benar, sekarang Fara sama Bibik dulu ya." Ibra membiarkan Bik Mirna meraih tubuh Fara dan menggendongnya.
"Sebentar, Bik." Ibra menahan ketika Bik Mirna ingin mengucap pamit dan berlalu dari sana. Langkahnya tertahan ketika Ibra membuka pintu penumpang dan mengambil beberapa godie bag dari dalam sana. Ada tiga bungkusan yang ia berikan kepada Bik Mirna.
"Yang ini untuk Bibik." Ibra menunjuk godie bag berwarna merah.
"Yang ini untuk Fara." ia menunjuk godie bag berwarna pink.
"Dan yang ini ... untuk Bundanya Fara." Ia menunjuk godie bag berwarna kuning. Ibra masih saja ingat warna favorit mantan istrinya.
Sudah banyak yang dibelikan Ibra untuk Fatih, namun wanita itu memilih hanya menatap dan menyimpannya dilemari. Rasanya lemari pakaian dan lemari tasnya sudah sesak, karena setiap minggu Ibra pasti banyak membawakan barang-barang untuk mereka.
"Baik, Pak. Terimakasih banyak." ucap Bik Mirna yang akhirnya pamit berlalu dari hadapannya. Suara tangis Fara pun masih terdengar sambil menjulurkan tangan ke arah Ayahnya yang masih berdiri menatapinya. Anak itu meminta Ibra untuk kembali memeluknya lagi.
"Mengapa kamu masih saja tega seperti ini kepadaku, Fat?" Ibra lirih, ia menatap lama rumah yang sudah ia datangi sejak kepergian Papa Faris.
Dulu sekali ketika Mama Tari masih hidup, Ia malah hanya diberikan waktu 10 menit untuk melihat Fara yang masih bayi itu pun berjarak, tidak boleh dekat apalagi menggendong. Kepergian Mama Tari mungkin membuat napas lega bagi Ibra, walau terdengar jahat. Setidaknya ia bisa memeluk putrinya yang akan semakin tumbuh dewasa. Dan tetap saja, Fatih masih tidak mau bertemu dengan Ibrahim.
****
__ADS_1
Dukung Ibrahim buat dapetin cintanya Fatih lagi ya❤️