
Pintu kamar sudah terkunci dan tertutup rapat. Ada suara dua insan yang terdengar syahdu sedang mengerang nama satu sama lain. Terlihat seluruh pakaian sudah terlepas dari tubuh mereka, begitu saja tercecer di atas lantai.
"Mas ..." Fatih melenguhh, ketika Ibra sedang asyik menangkup kan kepalanya di pusat inti miliknya. Wanita itu terlihat terus begelinjang, meluruskan tangannya untuk mencengkram kedua bahu suaminya.
"Mas ..." seru Fatih lagi, namun kali ini lebih kencang. Sambil mengigit bibir bawahnya, memejam kedua mata lalu mendongakkan kepalanya ke belakang. Air keringat begitu membanjiri tubuhnya.
Ibra mendongak, menatap wajah istrinya yang sudah basah. Ia tersenyum, karena Fatih terus saja memanggil-manggil namanya.
"Euh ..." cengkraman tangan Fatih terasa lebih kuat, ketika Ibra kembali menginvasi pusat milik istrinya lagi.
Ibra beranjak embali menkungkung Fatih dibawah tubuhnya yang tegap. Dada yang begitu bidang disertai helaian bulu tipis di sana. Ibra terlihat sangat gagah.
"Kamu suka sayang?" tanya suaminya lembut. Dan Fatih tanpa rasa malu hanya mengangguk dan kembali menggigit bibir bawahnya tak kala Ibra kembali meraup tanpa ampun gundukan kembar yang menjuntai bebas dan terasa masih kencang seperti dulu. Menyesap rasa gurih di sana dan sesekali mengigit nya.
"Eum ..." kali ini Ibra yang merintih.
"A--yah ..." Fatih kembali mengeja namanya dengan dengusan napas yang berantakan. Mendengar Fatih seperti ini, tentu membuat hasrat Ibra terus terbakar. Lelaki itu amat merindu, rindu melepas cinta dengan wanita yang ia cintai.
Tubuh Fatih sedari tadi sudah meringkuk tidak tentu arah. Ia seperti ayam yang tengah dicabuti dari bulu-bulu indah, bedanya Fatih tidak merasakan kesakitan, justru ia kembali merasakan kenikmatan. Kenikmatan yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan. Dan kembali merasakan dengan lelaki yang selalu ia bayangi di setiap malam-malam kesendiriannya.
"Aku kangen sama kamu, Bun." ucap Ibra ketika pandangan mereka sudah bertemu. Sontak ucapan itu membuat Fatih mengerjap kedua mata, ia menatap lurus manik mata Ibra dengan wajah yang sudah haus. Tatapan mata Ibra begitu penuh rindu dan cinta.
Baru saja Fatih akan menjawab, Ibra kembali membungkam mulut wanita itu dengan indera pengecap nya dengan gerakan penuh gairah. Mereka kembali memejamkan kedua mata. Menikmati perpagutan labiaris mereka sampai bengkak. Fatih kembali meremas pangkal bahu suaminya. Ibra yang merasakan cengkraman Fatih lebih kuat dari sebelumnya, sepertinya sudah tahu kalau sebentar lagi istrinya akan merasakan pelepasan pertama.
Fatih kembali merasa menggila, ketika Ibra menurunkan salah satu jari untuk menyentuh pusat tubuh Fatih. Sontak tindakan itu membuat Fatih semakin tidak menentu. Fatih seketika limbung, ia menggeliat tidak karuan. Ibra berhasil bermain-main di tempat itu kembali.
"Mas--Ib---" suara Fatih terhenti, ketika Ibra sudah berhenti menginvasi rongga mulutnya.
"Ayo sayang, panggil namaku lagi. Aku ingin dengar!" bisik Ibra tepat di daun telinga Fatih sebelum ia melummat habis dibagian sana.
"Ayo sayang, panggil namaku!" bisik Ibra kembali. Jari-jari Ibra terus saja mempora-poranda kan pusat tubuh Fatih. Sudah lembab dan tidak terbentuk lagi.
"Mas---" Fatih tetap mengeja, ia kembali memejam mata untuk berkonsentrasi.
__ADS_1
"Ayo sebut namaku lagi, Bun! Aku rindu mendengarnya! Hal yang paling aku suka adalah ketika kamu merintih namaku seperti ini." Ibra kembali berbisik, ia terus membakar gairah istrinya agar bisa melakukan pelepasan berulang-ulang.
Tak berapa lama Fatih mencondongkan pangkal bahu nya ke atas, pinggangnya terasa bergoyang, perutnya terasa tegang.
Dan
Brr
Jari Ibra terasa begitu saja hangat. Ibra tersenyum puas ketika melihat istrinya berhasil dalam pelepasan pertama. Napas Fatih begitu menderu-deru. Keringatnya begitu banjir membasahi wajah dan tubuh bagian atasnya.
"Enak ... sayang?" tanya Ibra tersenyum nakal menatap istrinya yang masih memejam kedua matanya. Fatih mengangguk dengan semburat wajah yang memerah karena menahan malu. Tubuhnya seketika lemas. Ibra kembali tersenyum, ia merasa bangga, karena berhasil membuat Fatih bahagia.
"Sekarang giliran Ayah ya, Bun." ucap Ibra lalu mengecup kening istrinya.
Mendorong kedua paha Fatih agar sedikit terbuka, Ibra mencoba melesat masuk untuk menikmati liang keindahan. Erangan terdengar nyaring dari mulut Ibra. Ia terus menyentak milik istrinya dengan tenaganya yang begitu kuat.
Libido Fatih yang tadi sudah padam, kini kembali muncul. Begitu kagetnya ia ketika merasakan hentakan Ibra yang saat ini begitu berbeda dari yang sudah pernah ia rasakan.
Ritme yang cepat dengan hentakan yang sedikit kasar. Ibra menumpahkan segala kerinduannya selama empat tahun di hari ini.
"...Bun." bahkan untuk meneruskan nama istrinya saja ia tidak sanggup, karena terus berkonsentrasi untuk mencapai puncak kebahagiaan.
"Ay--yah."
Mendengar Fatih kembali melenguh, membuat Ibra semakin membara. Kini telapak tangan mereka saling mengunci.
Ibra membuka matanya kembali menatap Fatih. Ia begitu kaget ketika melihat wajah Fatih sudah memucat dan sedikit agak meringis.
"Bun...!" suara bariton Ibra membuat Fatih kembali mengerjap.
"Kok berhenti yah?" tanya Fatih kaget ketika Ibra begitu aja menghentikan hentakannya.
"Kamu sakit lagi?"
__ADS_1
Entah mengapa rasa sakit itu kembali datang dan membuat Fatih merasa tidak nyaman. Namun karena melihat suaminya sudah seperti ini, ia tidak mau menghancurkan kerinduan Ibra yang sebentar lagi akan bermuara.
Fatih menggelengkan kepala lalu meraup habis katupan bibir Ibra yang masih menganga. Merasakan sentuhan Fatih yang seperti ini membuat Ibra kembali tersulut akan kobaran api yang membahagiakan. Ibra memulai kembali hentakannya sampai dimana akhirnya, pusat intinya berdenyut kencang dan menumpahkan segala cairan yang ada didalam tubuhnya.
Ibra pun terjatuh kedalam dekapan Fatih. Begitu bahagianya ia, sampai air mata pun menetes kembali karena haru.
"Terimakasih, Bun. Karena sudah mengizinkan Ayah untuk kembali pulang kerumah Bunda."
"Bunda akan selalu siap membuka pintu rumah Bunda untuk Ayah." ucap Fatih, ia pun turut menangis. Tidak henti-henti telapak tangan halusnya mengusap lembut punggung sang suami. Mencium pangkal bahu Ibra yang masih basah karena leleran keringat.
Ibra bangkit dari dalam dekapan itu, untuk menatap bola mata istrinya dalam-dalam.
"Kamu mau janji sama aku, Bun?"
"Janji apa sayang?" tanya Fatih dengan rambut yang sudah berantakan namun ia semakin terlihat cantik dalam keadaan polos seperti ini.
"Janji Bunda mau sembuh! Bunda harus selalu semangat menjalani pengobatan. Ada Ayah dan Fara serta adik-adiknya Fara yang lain, menanti kesembuhanmu!"
Netra gelap Fatih menatap lurus bola mata hazel milik Ibra. Melihat pantulan bayangannya di sana. Mendengar irama jantung Ibra yang masih berdegup cepat. Aroma napas suaminya pun masih terasa kasar. Demi apapun saat ini, Ibra terlihat sangat tampan. Lebih tampan dari yang pernah ia temui dari empat tahun yang lalu.
Fatih mengelus lembut wajah Ibra dan memajukan wajahnya untuk mengecup dahi suaminya.
"Iya Ayah, Bunda berjanji. Akan sembuh untuk kalian berdua."
Mereka kembali bersitatap dalam senyuman cinta. Melepas hasrat yang sudah lama terpenjara dan terbelenggu tanpa bisa dikeluarkan. Begitu baiknya Semesta kembali mengizinkan mereka untuk berbagi ranjang, melepas asa dan menikmati keharmonisan kasih sayang setiap hari.
"Aku mencintaimu, Fatih Medina ...."
"...Aku pun sama, sangat mencintaimu Ibrahim Attar!"
Selamat berbahagia Fatih dan Ibra dimalam pengantin kedua untuk kalian❤️
*****
__ADS_1
Nah kan janji aku lunas buat bonus malam ini, hayoloh siapa yang merinding disko malam ini? hahahah, yang jomblo jangan salahin aku yah❤️❤️😘
Komen dan Like nya yang banyak ya🤗