Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Tersentak


__ADS_3

Hari semakin larut, bulan semakin terlihat jelas dipertengahan malam. Acara barbeque pun sudah selesai. Ibra tidak akan menyangka jika acara tersebut menjadi awal pertengkaran dirinya dengan Fatih.


Banyak dari Ibu-Ibu yang membicarakan sikap Fatih, mengapa tiba-tiba langsung berbeda dan meninggalkan acara begitu saja tanpa kata-kata. Bagaimana tidak? Kuping Fatih terasa pengang, ketika mereka dengan sengaja menceritakan masa lalu Ibra dengan wanita yang tidak pernah ia kenal. Apalagi disaat Fatih tengah hamil dengan mood yang sering berubah-ubah, wajar kan jika dia merajuk?


Sampai jam 01:00 malam, Ibra tidak berhasil membujuk sang istri untuk keluar dari kamar. Suara tangisan Fatih sepertinya sudah terganti dengan dengkuran halus. Ibra masih saja turun-naik ke kursi untuk mengawasi istrinya yang sudah pulas dari ventilasi kamar. Sesekali memanggil Fatih, namun wanita itu sudah terbang ke alam mimpi.


"Oh iya kenapa saya lupa." ide segar yang telat, sepertinya muncul di kepala Ibra. Ia pun berjalan menuju dapur untuk mengambil beberapa perkakas rumah tangga yang ia letakan disana.


"Nah dapat kan." Ibra tertawa ketika mendapatkan obeng dari sana. Tanpa berfikir panjang, ia melangkah keluar rumah untuk membuka jendela kamar dari luar yang berhadapan langsung dengan taman pekarangan. Mencoba membuka kaitan jendela dari luar agar bisa masuk kedalam kamar untuk memeluk istrinya lagi.


Namun sepertinya rencana ini gagal begitu saja, ia tertohok ketika mendengar ada suara teriakan dari luar pagar rumahnya.


"Eh, siapa lo? Maling ya?" teriak salah seorang bapak-bapak yang sedang melintas.


Ibra tersentak kaget. Ia menoleh dan kelabakan. Orang yang meneriakinya tidak jelas melihat bahwa itu adalah Ibra. Karena sosok tubuhnya sebagian tertutup dengan pepohonan dan lampu disekitar taman pun mati.


"Pak, pak tolong kesini! Ada maling dirumah Mas Ibra!" orang yang meneriaki itu memanggil banyak orang untuk mendekat ke arahnya. Timbul lah suara gaduh dari jalanan.


Plag.


Ada yang menyambit dan melempar batu. Sampai mengenai kepala belakang Ibrahim.


"Aduh, Ya Allah ..." desah Ibra, ketika menahan rasa sakit.


"Woy, maling! Pergi lo!" sorak-sorak dari mereka masih terdengar jelas.


"Mas Ibra bangun, Mas! Ada maling dirumah, Mas!" sambung salah satu dari mereka seraya membangunkan orang rumah yang mereka anggap masih tertidur pulas.


Ibra terus memegang kepalanya, ia semakin kaget ketika merasakan adanya tetesan darah segar dari yang mengalir di telapak tangannya. Ia merasa sedikit agak pusing.


"Woy, maling! Pergi lo, kalau nggak! Kita bakar ramai-ramai!!"


"SETUJU!!"


Bapak-bapak makin banyak yang berdatangan, ada juga pak hansip yang baru muncul membawa pentungan. Mereka ada yang berusaha naik ke pagar dan Ibra masih sekuat tenaga menahan pening dikepalanya. Ingin berteriak, namun ia tidak ada kekuatan. Lemparan batu yang ia rasakan begitu hebat menyiksa kepalanya.


Fatih yang sedang tertidur pun langsung mengerjap cepat. Ia shock ketika mendengar suara orang yang ramai-ramai didepan rumahnya.


"Ya Allah...Ada maling?" Fatih kaget ketika ia terus mendengar seruan itu dari mereka semua.


"Mas?" Fatih mulai mencari keberadaan suaminya didalam kamar ini.


"Astagfirullah! Aku lupa dari tadi mengunci pintu kamar! Jangan-jangan, Mas Ibra lagi ribut dengan maling diluar? Astagfirullahaladzim!!" Fatih segera bangkit dari ranjang lalu melangkah cepat untuk keluar dari kamar.


Ia pun menoleh ke pintu utama.


"Kok pintu nya terbuka ya?" Fatih sambil mengusap lembut perutnya terus saja memaksakan langkah untuk keluar dari rumah. Ia ingin tahu apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Lalu


Tap.


"Hah? Ya Allah, Mas!" seru Fatih ketika ia mendapati suaminya sudah terkulai diatas lantai dan beberapa warga sudah mengerubunginya.


"Maaf, Mba. Kami fikir ada maling yang sedang mencongkel kamar Mba Fatih dan Mas Ibra, tahunya setelah kita cek malingnya Mas Ibra sendiri!" ucap salah satu dari mereka.


"Kok bisa ya maling dirumah sendiri?" sambung dari mereka.


"Mungkin kalian semua salah faham Pak. Saya lupa kunci pintu kamar dan akhirnya tertidur. Mungkin suami saya mutusin bobol jendela supaya bisa masuk ke kamar."


"Oooooohhhh gitu, Mba!" jawab mereka bersamaan.


"Tapi kenapa kok bisa sampai pingsan begini ya?"


"Maaf Mba, tadi kami nggak sengaja lempar batu ke arah Mas Ibra. Kena kepala nya nih, Mba."


"Ya Allah, ayo Mas tolong bantu, bawa suami saya ke klinik!"


Mereka semua mengangguk dan membawa Ibra ke klinik terdekat untuk memeriksakan keadaanya. Misi Ibra kali ini benar-benar berantakan, bukan memeluk istri malah masuk ke klinik berkat luka dikepala yang ia derita sekarang dan disangka maling dirumah sendiri oleh para tetangga.


Memang betul kalau mulut tetangga itu lebih sadis dari sebilah golok!


****


Pagi-pagi buta ibu hamil itu masih saja diam terpaku di sofa. Mereka baru saja pulang dari klinik tentu dengan perban yang sudah menetap di belakang kepala Ibra.


"Kamu fikir lucu, bobol jendela kamar segala, Mas?" Fatih berdecak kesal. Ia masih saja menatap dinding ruang tamu.


"Hebohin warga? Disangka maling, hah??" volume suara Fatih makin meninggi.


"Ditambah segala ada luka, aku tuh khawatir lihat kamu sakit kayak gitu!"


Fatih terus saja bercuap-cuap. Ia masih marah tentang masalah Kasih, namun ia juga cemas dengan Ibra.


Ibrahim merentangkan kedua tangannya untum mengunci tubuh Fatih. Menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.


"Luka dikepala aku tuh nggak seberapa sakitnya, dibanding kamu diemin aku tanpa sebab kayak begini, sayang." cicitnya manja. Membuat hati Fatih ingin meleleh dan mengecup lelaki ini.


"Kenapa kamu tiba-tiba nangis? Aku ada salah?" tanya Ibra masih dalam suara lembut tanpa rasa penasaran yang menggebu-gebu. Ibra mendongakkan wajahnya untuk mencium pipi Fatih, namun Fatih bergerak untuk menjauhinya.


"Lepas ih, sesak dada aku dipeluk kayak gini!" Fatih mengeluarkan alasan.


Ibra menggelengkan kepala dan tetap mengunci tubuh Fatih. Ia tetap memeluk istrinya dengan erat.


"Enggak akan aku lepas, sampai kamu cerita sayang..."

__ADS_1


Fatih memutar bola matanya jenga. Memang begitulah cinta, sekuat apapun menolak jika hati bilang terimalah, lalu bibir bisa berbuat apa?


Fatih pun menjawab.


"Kamu masih enggak jujur, Mas. Sama aku!" ujar Fatih lalu mengeluarkan air matanya lagi. Ibra membelalakkan kedua bola matanya. Ia mendongak cepat.


"Maksudnya gimana, Bunda? Ayah salah apa?" Ibra si lelaki penyabar, tetap saja bertanya dengan bahasa lembut walau istrinya sedari tadi berdecak emosi. Ibra menyeka air mata Fatih.


"Kok Bunda nangis?"


"Siapa Kasih? Siapa wanita itu? Apa hubungan kamu dimasa lalu dengan dia? Kenapa dia bisa tinggal dirumah ini, sebelum kamu menikah sama aku??"


Mendengar serangkaian pertanyaan itu membuat dua bola mata Ibra membulat. Ia terperangah kaget tidak percaya.


"Ka--sih?" desahnya terbata-bata.


"Iya siapa dia, Mas?"


"Tenang dulu, Bun! Aku bisa jelasin ke kamu."


"Jadi benar kan apa kata tetangga, kalau wanita itu pernah tinggal disini?"


Baru saja Ibra mau mengelak dan mengeluarkan alasan, Fatih kembali menyerobot.


"Jadi benar, Mas? Wanita itu pernah ada disini?"


"Iya, tapi----"


"Jadi benar, Mas??" volume suara Fatih mulai meninggi. Tatapan mata ibu hamil itu seperti api yang tengah berkobar-kobar.


"Kamu berzinah dengan dia, Mas?"


"Hah?" dua bola mata Ibra membola hebat. Ia tertegun dengan ucapan Fatih yang asal bicara menuduhnya tanpa bukti. Ibra menggeleng cepat, ia masih saja mendekap istrinya walau wajah mereka saling bertatapan.


"Siapa dia? Kekasih kamu? Wanita pemuas hasrat kamu setelah istri kamu meninggal?"


"Lalu kamu campakkan begitu saja? Dan akhirnya kamu meninggalkan dia? Apa karena dia gak bisa memuaskan kamu? Atau mungkin aja kamu masih berhubungan sama dia dibelakang aku? Jawab, Mas!"


Kening Ibra berkerut-kerut dan timbul beberapa lipatan gelombang tidak beraturan. Kedua alisnya pun menukik tajam. Ia melepas dekapan itu, membuat Fatih kaget dengan perubahan sikap Ibra yang mulai tidak suka.


"Aku dari tadi udah sabar sama kamu, sampai aku mengalami musibah kayak gini. Hanya karena salah faham, membuat kamu menuduh aku yang tidak-tidak! Begitu mudahnya kamu menyimpulkan semua ini sendirian. Sekotor itu kah aku dimata kamu, Fat?"


Kedua mata Fatih membeliak, ia kaget dan masih tidak percaya jika Ibrahim Attar, bisa semarah ini dengannya. Siapa yang tidak marah? Jika dituduh menjijikan seperti itu? Jika saja Fatih sedang tidak hamil, mungkin ia akan bersikap sedikit tenang dan berfikir bijak, karena selama hamil, rasa cinta dan cemburu kepada suaminya begitu naik berkali-kali lipat.


Betul-betul Fatih tersentak malam ini.


****

__ADS_1


Komen dan like nya yang banyak, biar aku UP terus tiap hari❤️


__ADS_2