
"Sayang..." Ibra mengguncang bahu istrinya yang tidak sengaja tertidur selama di perjalanan.
Wanita hamil ini terasa lelah, karena setelah ia selesai menghadiri rapat pemegang saham, Ibra kembali mengajaknya untuk menjenguk Ayu istrinya Damar, ke Rumah Sakit. Dan setelahnya, Fatih benar-benar lelah. Ia tertidur sampai mendengkur.
Ibra menutup mulut Fatih yang masih menganga. "Walau lagi kayak gini, tetap aja kelihatan cantik..." Ibra mencium pipi istrinya.
"Bangun dulu yuk sayang, nanti lanjut lagi tidur nya di kamar." Ibra tetap berusaha membangunkan Fatih.
Namun wanita itu sudah tidak sanggup membuka mata. Ia tetap terlelap dalam mimpinya. Beda hal dengan Fara, bayi yang masih dalam kandungan itu tidak berhenti bergerak, membuat Ibra menatap perut buncit itu dengan senyum dan mengusapnya dengan lantunan shalawat.
Tidak ada pilihan selain Ibra menggendong istrinya untuk masuk kedalam rumah. Karena tubuhnya juga sudah sangat letih dan lelah, ia ingin segera membersihkan dirinya.
Tak lama kemudian.
Brug.
Fatih di turunkan di ranjang dari gendongan Ibra.
"Hh..." desah napas Ibra yang terlihat sangat panjang terbuang dengan kasar.
"Berat banget Fatih, hampir aja tadi jatuh." ucapnya lagi sambil melepaskan dasi dari lehernya. Lalu mulai memutar langkah menuju kamar mandi.
"Ayah..." Ibra pun menoleh dan memundurkan langkah kakinya. Ia kembali mendekati Fatih yang sedang memegangi dahinya karena berdenyut nyeri.
"Pusing, Yah..." rintih Fatih.
"Pusing?" tanya Ibra lalu duduk ditepi ranjang. Ia memijit-mijit pelipis istrinya.
"Enak, Yah." Fatih tersenyum, kembali memejamkan kedua matanya untu menikmati pijitan dari tangan suaminya.
"Ayah..."
"Hemm?" tanya Ibra yang masih setia memberikan pijatan kecil di sana.
"Kenapa, Bun?" Ibra kembali bertanya ketika dirasa Fatih hanya diam tidak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Siapa wanita yang tadi duduk disebelah kamu?" tanya Fatih dengan tegas.
Seketika itu pula Ibra menghentikan sentuhannya, dia hening sebentar sebelum menjawab pertanyaan itu. Kedua matanya masih menatap jendela kamar yang kain hordengnya sedari tadi mengkibas-kibas karena, angin sore yang mulai berhembus masuk kedalam.
"Kalau saya jujur siapa dia, kamu pasti akan cemburu. Tapi jika tidak jujur, pasti akan jadi masalah dikemudian hari. saya harus bagaimana, Fat? Tentu menghadapi perubahan sifat kamu selama hamil, membuat saya kewalahan." desah Fahmi dalam batinnya.
"Mas?" sifat jelek Fatih selama hamil adalah tidak bisa menunggu. Ia akan selalu mendesak dan ingin mendapatkan apa yang ia mau dan ia tahu saat itu juga.
"Mas?" Fatih kembali merengek.
"Wanita itu siapa, Mas? Teman kamu? Teman kerja? Apakah pernah kenal sebelumnya?" Fatih bangkit untuk memutar posisi menjadi duduk menatap lekat wajah suaminya.
"Jelasin, Mas!"
Ibra mengangguk dan mulai menjelaskan siapa wanita itu, dan mengapa dia ada di sana dan bekerja untuk siapa.
"KASIH?" suara nyaring begitu saja mencuat dari bibirnya, ia mengulang ucapan Ibra ketika menyebutkan nama wanita itu.
"Kasih, Kakaknya Mba Jihan? Mamanya Iffat? Yang selama ini suka sama kamu?" Fatih membulatkan bola matanya dengan sempurna. Ia tertohok, tidak percaya. Benarkan apa kata terkaannya, Kasih pasti akan kembali lagi.
"Mengapa bisa ia bekerja dibawah naungan Fahmi, Mas?"
"Tenang sayang, jangan di fikirin, nanti kamu stress. Lagi pula mereka hanya orang lain dihidup kita!" Ibra menenangkan hati wanitanya yang sedang gundah.
"Kita memang mengganggap mereka orang lain, Mas. Tapi mereka enggak! Kasih masih menginginkan kamu dan Fahmi masih menginginkan aku!"
"Ya biar saja, Fat. Yang penting kita tetap bersatu dan saling mencintai. Bersama-sama menjaga diri untuk jauh dari mereka."
"Aku takut Kasih akan melakukan sesuatu untuk kembali merebut kamu, Mas!" Kedua kelopak mata Fatih sudah mulai tergenang air mata.
Ibra dengan cepat beringsut untuk memeluk istrinya. Membawa Fatih untuk masuk kedalam dekapannya.
"Itu tidak akan pernah terjadi sayang, mereka semua itu masa lalu kita. Dan sekarang kita sedang menjalani masa depan, jangan takut." Ibra mengusap-usap punggung Fatih dengan lembut.
"Aku hanya mencintai Fatih Medina, dari sekarang dan untuk selamanya. Tidak akan pernah berubah!" Ibra melepas pelukan itu dan menangkup wajah istrinya.
__ADS_1
"Ngerti kan maksud aku?" ia menatap bola mata Fatih dalam-dalam. Ada kecemasan dan kekhawatiran yang sedang membuih didalam sana.
"Hemmm...?" Ibra menunggu jawaban istrinya.
"Iya, Mas. Aku faham." Akhirnya Fatih menjawab, walau berat dan terpaksa serta dengan sejuta asa ketakutan yang masih menyelimuti batinnya. Entah bagaimana caranya ia berdamai, seperti akan halnya Ibra kepada Fahmi. Lelaki itu masih bisa tenang, walau ancaman Fahmi terus saja menyeruak untuk merebut Fatih darinya.
****
Kasih masih termenung di meja nya. Menatap foto lama yang sudah usang antara dirinya, Ibra dan Jihan.
"Kamu sudah bahagia lagi, Mas. Aku senang melihatnya. Walau jalan yang kamu pilih dengan menyakiti hati orang lain."
"Bisa-bisanya kamu merebut istri orang. Apa karena dia lebih muda dan banyak harta?" Kasih tertawa sarkas.
"Ya sudah lah, mungkin kita memang tidak akan pernah berjodoh. Memang hanya Tommi, lelaki yang dipilihkan Tuhan sebagai jodohku. Dia mau menungguku dengan setia sampai selama ini."
Kasih terus saja bergumam sendiri. Mengusap gambar Ibra dengan ulasan jari ditangannya.
"Kenangan ini sudah seharusnya aku tutup. Membuka lembaran baru bersama Tommi. Dulu tertutup cinta sampai lupa kalau ada cinta sejati selalu menunggu aku. Setidaknya Tommi lebih baik dari Mas Ibra yang hanya ingin hidup dengan wanita mapan dan banyak harta."
Kasih pun merobek foto Ibrahim yang sedang tersenyum di sana, tanpa ada rasa kesal atau ingin merebut lelaki itu kembali.
"Selamat tinggal, Mas. Semoga kamu bahagia, tapi maaf rasa simpati ku ke kamu sudah sirna. Aku tetap mengecam perbuatan kamu yang telah menjadi orang ketiga dalam pernikahan Pak Fahmi dan mantan istrinya."
Kasih masih terbawa dalam kebencian yang ditularkan oleh Fahmi. Di satu sisi hal ini merupakan cara terbaik untuk membuat Kasih mantap melupakan Ibra dan meneruskan hidupnya bersama Tommi walau ia harus tersandung dalam fitnahan Fahmi yang tidak benar.
"Kasian ya Bu Fatih, di nikahi Mas Ibra hanya karena harta. Mas Ibra tidak akan pernah bisa melupakan Mba Jihan sampai kapanpun, kasian sekali wanita itu. Ditipu mentah-mentah oleh Mas Ibra."
Kasih terus saja bergumam sendiri, ia menumpahkan segala unek-unek kekecewaannya kepada Ibrahim sampai ia tidak ngeh kalau ada sepasang mata yang tengah memperhatikan dan mendengarkan ucapannya sedari tadi.
Senyuman licik keluar dari lelaki itu, hatinya semakin menggebu untuk menghancurkan Ibrahim Attar.
****
Like dan Komennya untuk Ibra dan Fatih ya, sebelum menuju episode-episode terakhirnya.❤️
__ADS_1