
Haii selamat pagi❤️
Selamat membaca yaa
❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
"Kak, Ibra sudah di lobby..."
"Ya Baik, tunggu dulu disana!"
Tut sambungan telepon antara Intan dan Ibra terputus.
Sebelum mendatangi Kakaknya ke kantor. Ibra terlebih dahulu menelpon Intan untuk mengutarakan niatnya untuk meminjam uang lagi. Walaupun awalnya Intan sedikit merajuk, bukan karena tidak mau membantu, tapi ia kesal dengan sikap adiknya yang selalu menutupi masalah rumah tangganya. Ada apa dan mengapa?
Ting.
Lift terbuka, terlihat langkah kaki Intan sudah muncul dan menuju Ibra serta kedua keponakannya yang masih setia menunggu kedatangannya di bangku lobby.
"Ayo salim Nak sama Tante!" Ucap Ibra kepada Irsyad dan Iffat.
"Kalian semua sudah makan?" Intan menatap wajah keponakannya secara bergantian.
"Sudah Tante--" Jawab Irsyad dan Iffat bersamaan.
Intan pun duduk disamping Ibra. Ia terus melihati wajah sang adik yang terlihat letih dan tidak bertenaga. Ibra terlihat sedikit lemas karena ia belum makan sedari pagi.
"Kamu sudah makan, Dek?"
"...Sudah Kak." Jawab Ibra mantap sambil menahan rasa perih diperutnya.
"Kamu ada maag, jangan telat makan! Lihat badan kamu, kurus banget!" Imbuh Intan. Ibra hanya bisa mengangguk dan tersenyum menutup perihnya luka yang sedang bersarang.
Lalu ia meraih kantongnya dan memberikan sebuah amplop yang sudah ia isi dengan sejumlah uang yang ingin Ibra pinjam.
"Ini...." Intan menyerahkan amplop itu.
"Aku pinjam dulu Kak, nanti kalau gajian aku pasti ganti."
Intan menghela nafasnya.
__ADS_1
"Aku fikir dengan kamu sudah naik jabatan, keuangan keluargamu akan lebih baik. Ternyata sama aja? Anakmu juga masih SD, tentu keperluan belum banyak, Dek. Tapi kenapa kamu selalu saja kurang?"
"Harusnya Jihan bisa mengatur keuangan. Jangan terlalu di manja! Kamu itu suami, harus bisa bersikap tegas."
Ibra hanya diam. Dia tidak bisa menjawab apa-apa. Padahal Intan hanya menerka-nerka saja, ia merasa ini semua pasti kesalahan Jihan.
"Lalu sekarang kemana istrimu? Kenapa Irsyad dan Iffat kamu bawa-bawa? Bukannya sekarang masih jam kerja?"
Ibra kembali diam, ia tidak mungkin berkata jujur kalau Jihan sedang pergi arisan, berkumpul ria bersama teman sedangkan suami dan anak-anak terbengkalai. Jihan hanya memikirkan dirinya.
"Titip salam ku untuk Ibu dan Bapak ya, Kak. Maaf aku belum bisa jenguk!"
"Ibu juga bilang, sudah tiga bulan kamu tidak menjenguk mereka. Padahal Ibu sama Bapak selalu kangen sama kamu---"
Tatapan Ibra menjadi sendu dan nanar. Jika saja 8 tahun yang lalu Ibra tidak bersikeras untuk tetap menikahi Jihan, mungkin hidupnya tidak seperti ini. Ibu dan Bapak terlihat sedikit tidak suka dengan Jihan dari pertama kali mereka bertemu.
"Berikan maaf ku untuk Ibu dan Bapak, nanti kalau Ibra sudah gajian bulan depan. Aku akan datang kerumah. Ibra pamit dulu ya Kak!" Ibra mencium punggung tangan sang Kakak serta Irsyad dan Iffat pun melakukan hal yang sama.
"Ya baiklah, jaga dirimu dan kesehatanmu. Jangan terlalu letih, Dek!"
Ibra mengangguk bahagia, setidaknya ia masih mendapatkan perhatian dari keluarga intinya.
Intan pun mengantar mereka sampai ke mobil. Walau ia melihat Ibra masih mengembangkan senyum, tetapi ia tahu adiknya itu sedang berperang dengan batinnya.
Nanti sepulang kerja, aku akan mampir ke rumah Ibra. Aku ingin tahu secara pasti, apa sih yang terjadi dengan adikku dan istrinya...
Batin Intan menggema ketika melihat jejak bayangan mobil adiknya sudah pergi dari sana.
****
Terlihat Jihan meletakan beberapa tas belanjaan di sofa. Ia menggolerkan tubuhnya disana, Ia terlihat lelah sekali. Jihan terus memanggil nama kedua anaknya. Karena ia tahu Suami dan anak-anaknya sudah tiba lebih dulu darinya.
Ibra terlihat menghampiri istrinya dari arah dapur. Lelaki itu baru selesai memasak untuk makan malam.
"Kamu dari mana? Kenapa baru pulang jam segini? Tadi kamu bilang, kamu hanya sebentar kan?"
"Aduh Pah, udah ah! Mama nggak mau dengar celotehan Papa. Soalnya Mama tuh lagi capek banget---"
Benar-benar Jihan, istri macam apa dia!
"Kamu belanja lagi? Katanya uang kita sudah habis?"
"Temanku memberikan pinjaman Pah. Bayarnya bisa akhir bulan, pas Papa udah gajian--" Jihan bangkit dan bermanja ditubuh Ibra. Ia tahu suaminya tidak akan marah jika ia sudah seperti ini.
"Kenapa sih Mama selalu seperti ini? Papa sudah lelah bekerja, tapi sepertinya tidak ada penghargaan sama sekali dari kamu!"
Melihat Ibra yang sudah emosi membuat Jihan memundurkan langkahnya dari Ibra.
"Pah? Mama baru belanja kayak gini aja, Papa udah marah-marah?? Ini semua sudah kewajiban Papa untuk menanggung semua biaya hidupku dan anak-anak!"
"Iya aku faham, aku memang berkewajiban untuk membahagiakan kamu. Tapi kamu juga harus mengerti keadaanku, Mah! Selesaikan dulu kebutuhan primer baru setelah itu kamu mau membeli apapun terserah---"
"Iya memang sudah Pah, tapi mau gimana lagi. Uang Papa itu memang nggak cukup!"
__ADS_1
"Mau berapapun gajiku, pasti tidak akan cukup jika gaya hidup kamu terus seperti ini! Kamu itu udah buat aku malu, wali kelas Irsyad tadi siang telepon aku. Beliau bilang Irsyad belum bayar SPP. Gimana sih kamu??"
Ibra semakin kesal dan geram. Ia terus memuntahkan isi hati nya yang sangat kecewa untuk sang istri.
"Kalau uang SPP digunakan untuk hal yang lebih urgent, Papa akan terima! Tapi kalau hanya untuk berbelanja seperti itu, Papa kecewa sama Mama!" Ibra pun meraih semua belanjaan itu dan dilempar ke lantai. Terlihat beberapa kosmetik, farfum, baju dan aksesoris tumpah ruah diatas lantai.
"PAPA! Kurang ajar kamu!"
Jihan mengerang ia mendorong tubuh suaminya sampai terdorong sedikit jauh. Ia lebih memilih untuk mengambil semua barang-barang itu, memungutnya dan mengelus-elus barang yang harganya tidak ada yang murah sama sekali.
"Hanya untuk barang itu, kamu berani melawanku!" Ibra mencengkram lengan sang istri agar ia bangkit dan menatap suaminya.
"Aku mau cerai sama kamu, Pah!" Sebuah kalimat laknat akhirnya keluar dari mulut Jihan.
"Istri macam apa kamu?"
Ibra sudah tidak tahan, kedua tangannya mengepal hebat. Dadanya begitu linu dan sakit. Ia sudah mati-matian memberi kebahagiaan, kenyamanan dan selalu bersikap sabar untuk sang istri. Nyatanya hanya air tuba yang diberikan oleh Jihan kepadanya.
"Apa? Papa mau tampar Mama? Ayo tampar aja! Mama nggak takut sama Papa!"
"...DIAM!!"
Ibra membentak istrinya dengan kasar dan suara nyaring. Kedua mata nya terlihat menyala-nyala karena emosi yang tengah membara.
"Papa berani bentak Mama??"
Jihan tetap keras kepala, ia tidak ada takutnya sama sekali dengan Ibra. Karena selama ini ia merasa Ibra selalu bisa ia kendalikan.
Jihan pun mendorong tubuh Ibra, ia berjalan untuk meraih tubuh kedua anak mereka yang sedang tertidur di kamar.
"Mau ngapain kamu??"
"..Aku mau pergi dari sini! Aku mau bawa anak-anak!"
****
.
.
.
.
.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Mantanku Presdirku Suamiku
2.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
3.Gifali dan Maura
__ADS_1
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya.
Like dan komen ya guyss🖤🖤❤️