Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Demi Fatih dan Fara.


__ADS_3

"Aduh, duh." Fatih merintih sakit, perutnya tiba-tiba saja terasa keram pada saat ia sedang mengikuti rapat dengan para staf nya siang ini. Lani pun beringsut untuk mendekati Fatih. Semua mata memandang dengan tatapan cemas.


"Kenapa, Bu?" tanya Lani.


"Enggak tau Lan, tiba-tiba perut saya sakit. Kencang banget!" Fatih menghela napas nya yang mulai berat dan sesak.


"Di akhiri saja rapatnya ya Bu, lebih baik ibu rebahan di ruangan." Lani membujuk direkturnya. Para staf laki-laki pun bangkit untuk membantu memapah tubuh Fatih agar berlalu menuju ruang kerjanya.


Entah mengapa perutnya terasa sakit, kencang dan dadanya sedikit sesak.


"Apakah ada pengaruhnya karena semalam?" pertanyaan tabuh di dalam batin Fatih. Ia mengingat semalam habis bercinta dengan suaminya. Lalu ia menepis prasangka itu. "Tadi pagi biasa aja kok, enggak sakit kayak begini!" batinnya.


"Makasih banyak ya, kalian boleh kembali keruangan." ucap Fatih kepada para staf yang memapahnya untuk bersandar di sofa. Mereka pun berlalu kecuali Lani.


"Ibu mau saya buatkan teh hangat?"


"Boleh, Lan tapi jangan pakai gula ya."


"Baik, Bu. Saya akan segera kembali." Lani pun kemudian berlalu meninggalkan Fatih. Perutnya masih saja terasa sakit ditambah pergerakan Fara yang cukup hebat.


"Fara, anak bunda..." Fatih terus mengusap lembut perut buncitnya. Ia masih berbaring di sofa sambil memejamkan kedua mata, mencoba untuk menahan rasa sakit agar segera hilang.


"Ya Allah sayang...." ada suara yang terdengar khawatir dari balik pintu. Fatih membuka matanya dan mencoba untuk bangkit lalu duduk berselonjor diatas sofa.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Mama Tari yang baru sampai, diikuti langkah Papa Faris dari belakang.


"Kamu sakit katanya?" sambung Papa Faris.


"Kok Mama dan Papa bisa tau?" Fatih menatap wajah orang tuanya secara bergantian. Mama Tari lalu duduk diujung kaki Fatih sedangkan Papa Faris mengambil kursi yang lain untuk duduk.

__ADS_1


"Mama dan Papa memang mau kesini, mau ajak kamu makan siang. Tapi tadi pas lewat meja nya Lani, dia lagi buatin teh buat kamu, katanya kamu sakit..." ucap Mama Tari sambil memijit kaki Fatih.


"Kamu sakit apa, Nak?" Papa Faris ikut bertanya.


"Perutnya tiba-tiba sakit, Pah, Mah. Terus juga tendangan Fara dari tadi enggak mau berhenti."


"Ke Dokter aja ya? Nafas kamu sesak gitu, Fat." bujuk Mama Tari kepada Fatih. Dirinya khawatir melihat nafas Fatih yang tersengal-sengal dan berat.


Fatih mengangguk dan mengiyakan ajakan orang tuanya, karena dirinya memang merasa belum mendingan. Papa Faris pun memapah tubuh putrinya untuk berlalu menuju Rumah Sakit.


****


"Bra, lebih baik kamu mulai ambil ahli pekerjaan Fatih di perusahaan. Kamu tega lihat Fatih dengan perut besar seperti itu masih harus stres mikirin kerjaan?" tanya Mama Tari kepada menantunya. Ibra langsung melesat ke Rumah Sakit, ketika diberitahu kalau Fatih mendadak sesak dan masuk UGD.


Ibra yang masih duduk ditepian ranjang Fatih hanya diam sambil menatap wajah istrinya yang sedang menatapnya balik dengan selang oksigen yang tersemat di lubang hidungnya. Ibra menggenggam erat tangan Fatih yang berangsur hangat, tidak dingin seperti tadi. Rasa sakit di perutnya pun mulai menghilang.


"Lagian juga ada perusahaan sendiri, untuk apa kamu repot-repot mengembangkan perusahaan orang lain." sambung Papa Faris. Kedua mertuanya terus membujuk Ibra agar mau bergabung.


Ibra mengangguk dalam tatapan datar. Sesungguhnya ini adalah pilihan yang sulit. Di satu sisi ia sangat takut jika terjadi sesuatu dengan istrinya jika tetap bekerja, mengandalkan Papa Faris untuk memegang alih perusahaan sungguh tidak mungkin, ia mempunyai penyakit jantung dan Dokter sudah mengultimatum nya untuk sudah merehat kan diri dari pekerjaan.


Di sisi lain, Ibra sudah menganggap Suam, sebagai rumah keduanya. Tempat mencari nafkah selama belasan tahun. Banyak kenangan dalam mengukir perjalanan karirnya selama ini. Mencapai posisi di jabatan sekarang pun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ibra harus bisa melawan batu-batu kerikil dalam menghadapai keterjalan nya.


"Mas?" Fatih menggelengkan kepala, seraya kode kepada suaminya kalau dirinya tidak apa-apa. Ia tahu Ibra tidak akan semudah itu melepas Suam. Walau awalnya ia sempat merayu agar Ibra keluar dari sana. Namun melihat suaminya tampak murung, ia pun tidak jadi memaksakan kehendak itu.


"Jangan dipaksa, Mas. Aku masih kuat kok buat ngurus perusahaan." Fatih membuka suaranya.


Kini giliran Ibra yang menggeleng dan menolak. "Engga sayang, benar apa kata Mama dan Papa. Sudah saatnya kamu cuti, biar aku yang mengambil alih perusahaan. Besok aku akan mengajukan resign ke kantor. Kamu enggak usah banyak fikiran ya, fokus aja sama Fara." jawaban Ibra begitu saja membuat ulasan senyum di bibir kedua mertuanya.


"Alhamdulillah, gitu dong Ibra. Baru namanya sayang sama istri dan anak." puji Mama Tari diringi dengan senyuman hangat.

__ADS_1


"Tenang, Bra. Insya Allah kamu pasti bisa!" Papa Faris menepuk bahu menantunya untuk memberikan semangat.


"Makasih ya Mah, Pah." jawab Ibra menatap mereka secara bergantian. Lalu lelaki itu kembali menatap istrinya dengan senyuman menawan, ia mencium tangan Fatih beberapa kali. "Sehat terus ya sayang, sampai melahirkan Fara ke dunia."


"Beruntung sekali, aku mempunyai menantu seperti Ibra. Sudah penyayang, baik hati dan sangat perhatian kepada Fatih." ucap Papa Faris dalam batinnya.


****


"Resign?" seru Damar dan Aldi ketika Ibra menjelaskan keinginannya untuk resign dari Suam.


"Lo yakin, Bra?" tanya Damar.


Ibra kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerja. Menatap lurus sudut ruangan kerjanya yang akan ia tinggalkan sebentar lagi.


"Posisi lo di sini udah di puncak, Bra. Lo yakin?" Aldi kembali mengingatkan.


"Enggak ada pilihan lain, Dam, Al. Demi istri dan anak gue!" jawab Ibra sambil menghembuskan napasnya ke udara.


"Gue nggak mau Fatih kenapa-napa." Imbuhnya lagi. Mengingat kondisi Fatih masih belum membaik. Wanita hamil itu masih saja merasakan sesak di dadanya. Dan perutnya selalu keram secara mendadak.


Damar dan Aldi saling berpandangan setelah mengetahui kalau sahabatnya tetap kokoh dalam pilihannya. Bagaimanapun keluarga merupakan hal penting, Ibra pernah gagal dalam pernikahan pertamanya. Tentu teman-temannya tidak mau lagi melihat ia menderita untuk kedua kalinya.


"Apapun untuk kebahagiaan lo, kita akan dukung, Bra. Jaga istri dan anak lo, lo harus benar-benar bahagia." ucap Damar.


"...Jangan sampai seperti dulu ketika sama Jihan, kita berdua enggak akan tega lihat lo menderita lagi." sambung Aldi.


Dua sahabat karib itu saling menyemangati Ibrahim. Walau mereka akan kehilangan sosok Ibra yang baik, supel dan selalu membantu pekerjaan mereka tanpa pamrih. Semoga saja awal karir Ibrahim di perusahaan Fatih tidak akan menjadi malapetaka yang berkepanjangan untuk rumah tangganya nanti.


****

__ADS_1


Yang paling aku senang itu baca komenan kalian, makanya jangan lupa komen ya----komennya yang lain ya selain kata lanjut😀😂


__ADS_2