Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Kita Akan Menikah Malam Ini!


__ADS_3

Semua mata berbinar ketika melihat wanita yang sudah lama mereka rindukan, kini hadir dan datang kembali. Malu-malu Fatih menegap kan wajahnya untuk memberikan senyuman yang masih terlihat kaku. Rasanya seperti baru keluar dari penjara dan kembali pulang kerumah, semua mata memandang lurus menatapnya dari atas kepala sampai ke telapak kaki. Fatih masih seperti dulu, wajahnya tetap cantik, walau tubuhnya terlihat lebih kurus.


"Ya Allah ... Fatih!" seru Kak Intan dan Kak Ira bersamaan. Mereka bersamaan menghampiri Fatih yang masih berdiri disamping Ibra. Memeluk adik mereka yang sudah lama pergi.


"Bagaimana kabar, Kakak?" tanya Fatih sambil mencium tangan Kak Intan dan Kak Ira bergantian. Ngomong-ngomong Kak Intan sudah menikah dan sekarang juga sedang mengandung.


"Kakak sedang hamil? Sudah menikah?" tanya Fatih takjub. Perpisahan dengan Ibra, betul-betul menutup dirinya dari informasi tentang keluarga itu.


"Iya, Fat. Insya Allah, anaknya Intan laki-laki." sahut Kak Ira sambil mengelus perut buncit Intan.


Fatih meluruskan pandangan ke belakang tubuh Kak Intan dan Kak Ira. Ada Ibu Hanum yang sedang melambaikan tangan dan menangis. Wanita tua itu seperti bermimpi melihat Fatih dan Fara ada dihadapannya sekarang. Tidak mampu untuk memanggil nama Fatih, karena wanita itu amat terharu.


Fatih pun menghampiri Ibu Hanum dan memeluknya. Fatih teringat dengan Mama Tari, wanita itu merindukan sang Ibu. Fatih menumpahkan air matanya berbutir-butir.


"Ini Fara ya ... Kenalin ini Tante Intan sama Tante Ira, Nak." ucap Kak Intan kepada Fara yang masih memeluk Ayahnya dalam gendongan.


"Gendut banget ya, cantiknya Masya Allah, kayak Bundanya." sambung Kak Ira.


Fara hanya menatap mereka dengan tatapan polos lalu menoleh ke arah Ibra, seraya menanyakan siapakah mereka.


"Ini Tantenya Fara, Kakaknya Ayah." jawab Ibra.


Fara pun kembali menatap dua wanita yang sedang ada dihadapannya, dan anak perempuan itu memberikan senyuman manis kepada mereka.


"Ntan, kita keluar dulu yuk. Biarin mereka dulu bersama Ibu." ajak Kak Ira sambil menggandeng Kak Intan untuk keluar dari kamar perawatan.


"Dek, kita keluar dulu ya..." ucap mereka bersamaan.


"Iya, Kak. Hati-hati ya." jawab Ibra. Lalu ia berjalan mendekati ranjang Ibunya. Masih menatap Fatih dan Ibunya dalam pelukan kerinduan.


Isak tangis saling bertubrukan diantara mereka. Berjuta-juta kali Fatih mengucap kata maaf yang begitu lirih. Ibu Hanum hanya bisa mengelus lembut punggung wanita itu, sesekali melepas kecupan di wajah Fatih yang sudah basah karena leleran air mata.


"Maafin Fatih, Bu. Maaf ..." suara Fatih berubah menjadi serak, bahkan untuk melanjutkan kalimat pun ia tidak berdaya. Ada rasa menyesal yang bertahta di jiwanya kepada wanita yang sudah melahirkan Ibra ke Dunia.

__ADS_1


Ibu Hanum hanya bisa mengangguk, karena ia pun sulit untuk bicara. Terlihat sungkup oksigen masih terpasang menutup hidung dan mulutnya.


Fatih melepas pelukan itu dan menoleh ke arah Fara yang masih terdiam di gendongan Ibra. Anak itu dengan setia menyeka air mata sang Ayah yang terus menetes membasahi permukaan pipi.


"Fara ... Ayo sini, Nak!" Fatih beringsut untuk meraih Fara dari gendongan Ibra. Ia mendekatkan anak itu untuk mencium Ibu Hanum.


"Ini Nenek Fara." Fatih menjelaskan kepada anak itu sambil menangis.


"Nenek ..." cicit Fara polos. Sejatinya ia belum faham siapa wanita tua ini.


"Mamahnya Ayah, Nak." sambung Fatih. Fara mengusap-usap rambut Ibu Hanum yang sebagian sudah putih.


Ibra yang masih berdiri menatap mereka, tak kunjung bisa menahan isak tangis yang membuncang jiwanya.


Dirinya sedih, mengapa disaat umurnya yabg sudah dewasa seperti ini, ia masih saja menjadi buah beban orang tua, dengan masalah pernikahan mereka yang seperti ini?


"Aku berharap, doa yang dipanjatkan Ibu selama ini, bisa menggetarkan hatimu, Fat. Kembali lah, Fat. Jadi istriku lagi." Ibra semakin meringis, ketika kalbunya berbicara.


Yang ia tahu, hanya pernikahannya kembali dengan Fatih yang membuat Ibu bisa semangat kembali menjalani hidup, setelah sepeninggalnya Bapak.


"Nenek, nanis, Bunda." Fara menunjuk sudut mata Ibu Hanum yang meneteskan lagi air mata.


Tidak ada lagi kata yang bisa melukiskan rasa dihati Ibu Hanum sekarang selain kata bahagia.


Ibu Hanum menjulurkan tangan kirinya ke arah Ibra. Anak lelakinya itu pun mendekat, menggenggam dan mencium kening Ibunya. Air mata semakin turun, tetesannya sampai terjatuh ke permukaan pipi Ibunya.


Ibu Hanum meraih telapak tangan sang anak dan dalam waktu bersamaan ia meraih juga telapak tangan Fatih. Kedua telapak tangan yang berbeda itu pun disatukan didepan pandanganya.


Ibu Hanum menatap Ibra lalu bergantian kepada Fatih. Ada senyuman sayang terpancar dari wajahnya.


"Me--ni--kah--lah!" suara yang terasa berat dan terbata-bata begitu saja terdengar dibalik sungkup oksigen yang masih membantu Ibu Hanum untuk bernapas.


Walau amat pelan, Ibra dan Fatih masih bisa mendengarnya. Ibra menatap wajah Fatih yang masih menatap lurus wajah Ibu Hanum.

__ADS_1


Seketika air mata yang sejak tadi keluar, begitu saja mengering. Fatih terdiam cukup lama, ia mulai menarik genggaman tangan itu tapi Ibra menahannya. Membuat Fatih memutar dua bola matanya untuk menatap Ibra. Lelaki itu pun menggelengkan kepalanya, seraya memaksa agar genggaman tangan mereka tidak boleh terlepas. Fatih melihat jelas kalau banyak sekali buliran kaca yang menutupi selaput mata Ibrahim.


"Fa---tih." Ibu Hanum kembali berseru.


"Iya, Bu." Fatih kembali menatap kedua mata Ibu Hanum yang terlihat sudah banyak kabut putih di sekitar kornea nya.


"Me-ni-kah-lah de-ngan Ibra." ucap Ibu Hanum diringi dengan dengusan napas yang sesak.


"Iya, Bu. Ibra akan secepatnya menikahi Fatih!" Ibra memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu, disaat Fatih hanya bisa diam dan belum mampu menjawab.


"De-mi anak ka-lian." ucap Ibu Hanum kembali. Ia menatap Fara dengan wajah bahagia.


"Fat, demi Ibuku ..." Ibra memaksa Fatih untuk menjawab permintaan Ibunya. Ibu Hanum tetap menunggu jawaban dari Fatih.


Fatih masih diam, mulutnya membeku. Ia terus menatap Fara dan mencium anak itu.


"Demi Fara, Fat. Demi anak kita!" Ibra terus saja memaksa. Sudah tidak kuat hatinya, melepas Fatih begitu saja. Jiwanya terus bergejolak, ia ingin memiliki wanita itu lagi untuk menjadi pendamping hidupnya.


Mulutnya ingin berkata tidak, tapi hatinya berkata Iya. Dan perlahan-lahan si wanita keras kepala itu pun mengangguk. Ia menyetujui permintaan Ibu Hanum dan Ibrahim.


Helaan napas kelegaan terlihat dari Ibra dan Ibu Hanum. Walau saat ini, Fatih masih menenggelamkan dirinya dalam keheningan panjang. Ia melamun tidak bisa memberikan sanggahan. Sedang mencari-cari kekuatan untuk menolak, namun begitu saja menghilang tanpa bekas.


"Makasih banyak atas doa Ibu selama ini." ucap Ibra lalu memeluk wanita paru baya itu. Ibu Hanum mengangguk dan tersenyum senang.


Ibra mendongak, lalu menatap wajah Fatih yang masih termangu diseberang nya.


"Kita akan menikah malam ini juga, Fat!"


Suara bariton Ibra terdengar begitu lantang dan tegas. Lelaki tampan itu sudah tidak bisa lagi untuk menunggu. Ia takut Fatih akan berubah fikiran jika sudah melangkahkan kakinya ketika keluar dari Rumah Sakit. Empat tahun Ibra menunggu, dan sekarang ia sudah tidak punya sisa kesabaran untuk menunggu lagi.


Seketika itu pula Fara berteriak dan Ibra memutar langkah dengan cepat untuk memapah tubuh Fatih yang akan terjerembab jatuh ke atas lantai. Wanita itu tidak percaya, kalau ia akan menikah lagi untuk kedua kalinya dengan Ibrahim Attar.


*****

__ADS_1


Ayo yang mau mereka nikah, mana suaranya?? kalau komennya banyak, malam aku akan UP lagi💛💛❤️


__ADS_2