
Fatih sudah dilarikan ke Rumah Sakit. Selama dua jam di IGD, wanita itu tidak menunjukan tanda-tanda kesadaran. Akhirnya dengan berat hati Dokter memasukannya kedalam ruang ICU.
Air mata Ibra terus saja menetes, sambil menggendong Fara yang masih saja tertidur di pangkuannya. Walau sudah malam, Dokter yang selama ini merawat Fatih, akhirnya tetap datang untuk memeriksa keadaan pasiennya yang tiba-tiba drop.
"Tensi darahnya tinggi, Pak. Gula darahnya pun sama, ini yang menyebabkan istri anda mengalami koma diabetic."
Ibra hening sebentar, ia yakin Fatih shock dengan dirinya yang sudah berbohong.
"Pasien dengan penyakit gagal ginjal kronik, akan dengan mudah menyerap penyakit lainnya, sehingga racunnya lebih banyak dibanding ibu hamil yang ginjalnya sehat."
Raut wajah Ibra sudah tidak bisa digambarkan lagi sekarang.
Sedih? Iya
Hancur? Iya
Khawatir? Iya
Semua terkaan buruk sedang mengelilingi otaknya.
"Lalu bagaimana, Dok? Tolong istri saya, Dok." ucapnya penuh iba. Ia sampai tidak sadar memegang kepalan tangan Dokter untuk memohon. Sudah tidak tahu lagi harus merintih seperti apa sekarang.
"Saya selalu menjaganya sampai detik ini, sebisa dan semampu saya." sambung Ibra, air matanya kembali menetes lalu turun membasahi pipi dan juga leher.
Dokter menatap ketulusan yang kuat dari Ibra sebagai suami. Tidak kah harus Ibra bilang kepada Dokter, bahwa ia selalu menjaga Fatih, membiarkan matanya terjaga menatap cctv, sekalipun ia sedang duduk di closed kamar mandi. Setiap lima menit sekali, entah sedang dimanapun berada, Ibra akan mengecek keberadaan Fatih agar hal seperti sekarang tidak pernah terjadi.
Mungkinkah pemikiran Ibra sudah melewati batas nalar? Karena bisa mendahulukan keberadaan Allah? Tentu ia bukan Tuhan yang bisa menjaga Fatih setiap saat, buktinya hari ini pun terjadi. Padahal ia sedang ada dirumah, dan Fatih begitu saja tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Sebaiknya, istri Bapak harus segera melahirkan. Saya takut janin yang sedang dikandung akan mengalami penurunan fungsi. Selama proses Hemodialisa saja, saya sudah wanti-wanti kepada kalian berdua, kalau pasien hamil dengan proses cuci darah akan mengganggu keselamatan janin, karena 350-400 cc darah ditarik keluar, dan tidak bisa dialirkan lagi ke dalam tubuh, ini pasti mengganggu kelancaran darah menuju janin."
Ibra dan Fatih memang sudah tahu dari awal tentang permasalahan itu, dan Dokter kembali mengingatkan takut-takut mereka menuntut jika mungkin saja bayi itu tidak akan selamat setelah di lahirkan. Tapi mereka tidak mempunyai pilihan selain membesarkan bayi itu sampai dimana Fatih kuat mengandungnya.
"Dan saya takut, masalah ini tidak hanya akan merenggut nyawa bayi Bapak, tapi mungkin dengan nyawa Istri Bapak, itulah hal terburuk yang harus saya sampaikan, takut-takut jika usaha terakhir ini tidak membuahkan hasil."
Ibra menatap wajah Dokter dengan tatapan datar dan kosong. Hanya bisa mengucap asma Allah, memanggil nama Ibu dan Bapaknya sebagai penguat Ibra sekarang. Ia pun menoleh ke sebuah kaca transparan, ada sang istri yang tengah berbaring dengan perut membuncit. Selang pernafasan pun di pakai Fatih, sebagai alat bantu untuk tetap merasakan oksigen. Suara ventilator berbunyi nyaring, membuat bulu kuduk Ibra seketika meremang karena takut.
Apakah betul keberadaannya sekarang hanya untuk mengantarkan Fatih ke peristirahatan terakhirnya?
****
Semua keluarga sudah berkumpul di depan ruang operasi. Fara terlihat sedang duduk dipangkuan Kak Ira dengan wajah sedih, anak itu terus menangis menyebut nama Bundanya. Sudah satu jam Ibra berada didalam kamar operasi untuk menemani Fatih yang akan melahirkan anak kedua mereka.
Ibra sudah kacau, ia tidak bisa berfikir jernih lagi. Hanya menurut saja kepada mereka yang sudah ahli. Ibra hanya ingin mereka selamat, namun jika memang harus memilih. Ibra mengatakan.
Hati suami mana yang bisa dengan tegar, ketika diminta untuk memilih. Percuma saja mempunyai dua anak, namun istri meninggal dunia, itu fikir Ibra. Biarlah ia dianggap egois, dan mungkin Fatih akan membencinya seumur hidup karena lebih memilih nyawanya dibanding nyawa sang anak. Bayi itu memang darah dagingnya, tapi mungkin bukan rezekinya sekarang. Itu lagi yang ada didalam benak Ibra.
"Sayang ayo bangun, kamu kuat." bisik Ibra tepat di daun telinga Fatih. Wanita koma itu tetap diam, dan berbaring ketika perutnya sedang terkoyak untuk mengeluarkan seorang bayi.
Ibra terus mengecup wajah Fatih dengan leleran air matanya.
"Maafkan Ayah, Bunda. Maafkan Ayah." seru nya lagi.
Dokter dan para perawat pun ikut simpatik dengan keadaan Ibra sekarang. Bukti kasih kepada istri sungguh tercetak dengan jelas dari raut wajah Ibra. Kedua mata Ibra sudah memerah, sembab dan menyipit karena menahan perih untuk terus menangis.
"Ya Allah, Dok. Istri saya mengeluarkan air mata." seru Ibra kembali. Ia melihat ada air mata menggenang di kelopak mata istrinya yang masih tertutup rapat. Dokter Obgyn mengucap kata Alhamdulillah untuk merespon Ibra, sambil terus konsentrasi mengeluarkan bayi dari dalam perut Fatih.
__ADS_1
"Sayang, kamu dengar aku kan?" tanya Ibra kembali, ia memajukan bibirnya tepat di daun telinga istrinya lagi.
"Aku di sini nemenin kamu." ucap Ibra dengan suara serak menahan isak tangis. Kedua matanya seperti sudah tidak mampu untuk mengeluarkan air bening lagi, bola mata itu sudah lelah.
Hati Ibra seakan tertusuk, dulu disaat Fara lahir, dirinya tidak bisa menemani Fatih ketika sedang mengejan Fara. Namun sekarang, ketika ia diperbolehkan untuk menemani istrinya melahirkan, mengapa harus dalam kondisi seperti ini? Kondisi di antara ambang hidup atau mati.
"Bunda, tenang ya." Ibra kembali mengecup pipi Fatih. Air mata Fatih terus menggenang namun tidak bisa turun.
Lalu tak lama kemudian
Ada suara bayi terdengar nyaring dan kencang menggema di dalam ruangan. Ibra menoleh ketika Dokter menunjukan bayi yang masih berukuran kecil berhasil ia selamatkan.
"Laki-laki ya, Pak."
Ibra menoleh dan tersenyum bahagia. "Masya Allah Tabarakallah." ucapnya penuh syukur. Segera bayi mereka itu ditangani oleh Dokter anak dan perawat bayi yang bertugas, untuk dinilai keadaannya.
Namun baru saja Ibra tersenyum dengan dada penuh kelegaan karena anaknya lahir dengan selamat, dadanya kembali menegang ketika melihat Dokter anestesi dan asistennya terlihat panik. Mereka terlihat menyuntikan beberapa cairan lagi ke dalam selang yang akan mengalirkannya ke tubuh Fatih.
"Ada apa, Dok? Bagaimana dengan keadaan istri saya?"
Jantung Ibra kembali berdegup, seperti ingin mencelos dan jatuh berserakan. Manik matanya terus memandang lurus tanpa kedipan, menatap mereka yang terus berjuang untuk menolong istrinya.
"Bunda ..." seru Ibra ketika tidak lagi melihat ada cairan bening disekitar kelopak mata Fatih.
"Bunda jangan tinggalkan Ayah!"
****
__ADS_1