Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Apa Mungkin Harus di Tiadakan?


__ADS_3

Semalam suntuk Ibra tidak bisa tidur. Ia kembali gelisah dan cemas. Pusat otaknya terus saja memikirkan yang macam-macam tentang istrinya. Ingin secepatnya pagi agar ia bisa langsung melesat untuk pergi menemui Dokter yang menangani Fatih selama sebulan ini.


Dan di sini lah ia berada. Berhadapan langsung dengan Dokter yang selama ini menangani Fatih. Tentu saja kedatangannya kesini sangat rahasia. Bahkan, ia hanya memberikan alasan klise kepada Tomi karena datang terlambat ke kantor.


"Maaf, Dok. Saya datang tanpa membawa istri." ucap Ibra dengan sopan.


Dokter tersenyum dan mengangguk. "Tidak masalah, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?" jawabnya.


"Saya merasa keadaan istri saya semakin drop, Dok. Padahal sudah rutin cuci darah setiap minggu, tapi kenapa kondisinya masih belum memperlihatkan perbaikan?" tanya Ibra. Lelaki berjas itu terus menatap Dokter, ada raut gelisah di wajahnya ketika melihat Dokter menghela napasnya perlahan. Melepas kaca mata dan sedikit memijit pangkal hidung. Dokter Arman, namanya. Beliau adalah Dokter Spesialis Urologi paru baya yang sudah kawakan di Rumah Sakit ini.


Ia memakai kembali kaca matanya dan menatap berkas rekam medis Fatih yang sudah terbuka di meja. Seraya mengumpulkan beberapa rangkuman dikepalanya agar bisa menjelaskan secara rinci kepada Ibrahim.


"Pak .."


"Iya, Dok."


"Ginjal istri bapak ini sudah masuk ke dalam kategori kronis tahap akhir. Terapi cuci darah hanya membantu untuk mengeluarkan zat-zat yang tidak baik dalam satu periode. Tetapi untuk memperbaiki fungsi ginjal istri anda sudah tidak bisa, Pak."


"Apa hal terburuknya, jika ginjal itu tidak bisa diperbaiki, Dok?" tanya Ibra dengan bibir bergetar.


Helaan napas mencuat kembali dari Dokter. "Mungkin saja akan kehilangan nyawa, Pak. Setiap tahun WHO mencatat, rata-rata pengidap penyakit ginjal kronis dalam tahap akhir, sulit untuk di ...." Dokter menghentikan ucapannya ketika melihat wajah Ibra sudah memucat.


"Ya Allah ..." desah Ibra. Jantungnya seketika ingin mencelos jatuh dan berserakan diatas lantai. Ia tersentak, begitu kagetnya ia jika posisi istrinya dalam ambang kematian. Terlihat kedua tangannya mengepal, tubuhnya terasa bergetar. Wajah yang sedari tadi gelisah kini sudah berganti menjadi tatapan sedih menahan pilu. Ia sudah tidak gelisah lagi, karena apa yang ia khawatirkan memang benar-benar terjadi. Fatih memang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.


"Apa tidak ada jalan lain, Dok? Saya tidak tega jika melihat istri terus menahan sakit seperti itu ... dan saya juga tidak mau kehilangan dia." ucapnya dengan suara penuh iba. Jika memungkinkan untuk menangis, maka ia akan menangis dan juga akan berteriak.


"Ada, Pak. Masih ada alternatif lain."


Seketika wajah Ibra berbinar. "Alhamdulillah, apa itu Dok? Rangkaian pengobatan apa lagi yang harus istri saya lakukan?" tanyanya penuh harap, air mata yang sedari tadi ingin turun, begitu saja tertarik masuk kedalam kelopak matanya lagi.


"Sebelum ginjal istri bapak semakin bermasalah, maka saya sarankan lebih baik melakukan transplantasi ginjal. Hanya itu satu-satunya jalan saat ini."


Manik mata gelap milik Ibra terlihat terbelalak.


"Donor ginjal, maksudnya, Dok?" jika ia fikir, setelah tadi akan senang. Ibra salah besar, kini ia kembali masuk kedalam jurang kenestapaan.


"Bapak harus secepatnya mencari donor ginjal untuk istri---"

__ADS_1


"Bagaimana dengan ginjal saya, Dok? Apakah saya bisa mendonorkannya?" tanya Ibra menyelak.


"Bapak yakin, akan mendonorkan ginjal bapak sendiri? Karena setelah itu, bapak harus terbiasa hidup dengan satu ginjal."


"Saya enggak masalah, Dok. Saya siap!" ujarnya mantap.


Dokter terlihat hening sebentar, menatap Ibra lalu menganggukan kepalanya. Ia pun mengerti bagaimana perasaan seorang suami ketika mengetahui istrinya dalam keadaan sakit dan sulit untuk disembuhkan.


"Baik kalau begitu, kapan Bapak siap untuk saya periksa? Karena ginjal Bapak harus saya sesuaikan dulu dengan ginjal sang istri."


"Kalau sekarang bagaimana, Dok? Apakah bisa? Saya tidak ingin membuang-buang banyak waktu."


Dokter mengangguk kembali. "Bisa, Pak. Baik, kalau begitu kami akan persiapkan terlebih dulu."


"Iya, Dok, baik." jawab Ibra, rasa cemas pun kembali datang.


Secepatnya ia beranjak keluar untuk menenggak obat penenang, ia harus bisa merelaksasi kan dirinya, menekan rasa ketakutannya untuk menghilang sebentar. Ia harus fokus dengan niatnya ingin menjadi pendonor ginjal untuk istrinya. Ia berfikir, siapa lagi kalau bukan dia yang berkorban.


****


Apalagi Ibra juga pernah dan sedang menkomsumsi obat-obatan dalam kurun waktu yang lama, namun bersyukurnya ginjal Ibra masih dikatakan bagus. Hanya saja, ginjal yang ia miliki tidak sesuai dengan ginjal Fatih.


Lalu bagaimana dengan Ibra sekarang?


Hancur hatinya


Sedih jiwanya


Sesak dadanya


Lelaki itu masih menangis terisak didalam mobil. Sesekali memukul-mukul stir kemudi. Melepaskan rasa kecewa di sana. Ibra kembali menangis, meraung, tidak tampak lagi wajah sabar dan bijak darinya. Ia terus menangis seperti anak kecil yang akan ditinggal pergi oleh sang Ibu.


"Harus kemana untuk mencari ginjal yang tepat untuk kamu, Bunda." lirihnya.


"Saya memang suami yang tidak berguna!" Ibra terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa ia tidak bisa menjadi superhero untuk istrinya.


"Mengapa saya diberikan cobaan seberat ini?" tanpa sadar Ibra pun mengeluh dengan sesuatu perkataan yang tidak pantas. Tentu saja segala cobaan dan ujian sudah diperhitungkan oleh si Pemilik Hidup. Ia akan memberikan kepada hambanya yang dirasa mampu untuk menjalani dan melewatinya. Mau berakhir senang atau pun duka, Jika Allah sudah berkehendak, berarti kita adalah hambanya yang terpilih.

__ADS_1


Ibra terus saja menangis, sampai kedua matanya sembab. Hidung bangir nya memerah dan sedikit sulit bernafas karena hidungnya yang terasa mulai tersumbat.


Drt drrt drrt


Ponselnya pun bergetar, Ibra merogoh kantung celananya dan meraih benda pipih berwarna hitam tersebut.


Istriku Incamming Call


Melihat istrinya yang menelpon. Ibra langsung membenahi wajahnya, ia minum sebentar untuk menghilangkan suaranya yang sudah serak sekarang.


"Assalammualaikum Ayah."


Sambil menarik cairan ingus kedalam hidung ia pun menjawab.


"Waalaikumsallam sayangku, ada apa?" jawab Ibra lembut.


Sebisa mungkin ia mengatur nada suaranya agar tidak dicurigai, dengan wajah yang masih meringis menahan tangis. Entah mengapa mendengar suara manja sang istri, membuat dadanya sakit. Ibra begitu terluka.


"Ayah, Bunda ada kejutan buat Ayah." suara bahagia tercetak jelas diseberang sana.


Ibra menautkan kedua alisnya. "Kejutan apa, Bunda?" tanyanya penasaran.


"Bunda Hamil, Ayah. Bunda Hamil !" terdengar pula suara Fara di sana sedang tertawa. Karena melihat Bundanya begitu senang bukan main.


"Ya Allah ... Kenapa harus hamil?" rintih Ibra dalam hatinya. Wajahnya seketika menegang, urat-urat hijau tercetak jelas disekitar pelipisnya. Menandakan lelaki itu tengah berfikir keras.


"Hallo? Ayah? Yah?"


"Ayah? Hallo??"


Fatih terus menunggu jawaban dari suaminya. Fatih yakin Ibra sedang shock karena kaget, lelaki itu begitu bahagia, sampai sulit untuk memberikan respon bahagia. Padahal kenyataannya berbeda, baru kali ini, kabar kehamilan sang istri tidak ia sukai sama sekali.


"Apa mungkin harus di gugurkan?"


*****


Like dan Komennya ya guyss❤️

__ADS_1


__ADS_2