Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Kekuatan Cinta Ibra


__ADS_3

Haiii kesayangan, aku kembali


Selamat baca ya


🖤🖤🖤


.


.


.


.


Sehabis shalat berjamaah Fatih mengajak Ibra untuk makan malam dimeja makan. Ia sudah menyiapkan beberapa masakan disana.


Sebenarnya Fatih tidak terlalu hebat dalam hal masak-memasak namun karena nalurinya sebagai istri terus berbuih dan ingin membuat suaminya bahagia. Maka dari itu selama ia menikah dengan Ibra, ia lebih sering mencari-cari resep masakan entah di buku masakan, internet dan youtube.


"Ayo Mas, duduk."


Suara hangat sang istri menyambut kedatangan Ibra yang baru saja keluar dari kamar dan masih menggunakan baju koko serta sarungnya.


Ibra terlihat gagah, sungguh!


Ia menghampiri istrinya yang tengah menuangkan nasi di piring. Memeluk Fatih dari belakang, menciumi ceruk leher istrinya tiada henti.


"Mas...."


"Hemmm??"


"Ayo makan dulu yuk!"


"Ayah mau makan Bunda aja sekarang..." Ia menghembuskan nafasnya perlahan di telinga sang istri. Membuat Fatih membidikkan bahunya.


"Geli, Mas---"


"Ayo duduk! Kita makan malam."


"Memang siapa yang bilang kita mau makan siang?" Ibra menggoda.


"Adeuhhh, Mas!" Fatih berdecak.

__ADS_1


"I---ya Bunda, ayo kita makan." Ibra kemudian menarik kursi untuk duduk disana.


Kedua matanya tergugah ketika melihat semua masakan sudah tersaji dengan lezat di meja.


"Kamu hebat sekarang, sudah lancar masakanya---" Ibra memuji Fatih. Seketika wajah sang istri memerah bagai tomat, ia terkekeh.


"Aku sengaja masakin kamu semur daging. Makanan kesukaan kamu, et! Tapi jangan puji dulu, sebelum kamu cobain rasanya Mas."


"Sekalipun yang kamu masak kurang matang, aku pasti akan tetap memakannya. Aku akan selalu berusaha untuk menghormati istri yang sudah bersusah payah untuk masak."


Kedua mata Fatih membulat, ia sedikit meringis.


"Memang pernah Mas, aku masak makanan yang kurang matang?"


Ibra mengangguk sambil tersenyum.


"Waduh, kenapa kamu nggak bilang?" Fatih mengerjap, ia bergeliat dilengan Ibra. Karena merasa malu.


"Nanti kamu nangis, terus nggak mau masak lagi. Banyak cewek-cewek yang kaya gitu kan?"


Wajah Fatih mencebik. "Waktu itu aku lagi masak apa sih Mas?"


"T----tunggu, Mas!" Fatih menyeka tangan Ibra yang akan meraih daging tersebut.


"Coba sini aku cek dulu, nanti kamu mati lagi makan daging yang belum matang,"


"...Aku nggak mau loh jadi janda dua kali, mana lagi hamil muda begini, Ck!"


Ibra tertawa mendengar ucapan istrinya, tidak pernah menyangka dalam hidupnya akan menikahi wanita yang umurnya masih terlalu muda dari nya. Walau Fatih muda, tapi pemikirannya sangatlah dewasa dari Jihan.


Bahkan selama delapan tahun menikah dengan Jihan, ia tidak pernah menuangkan nasi ke piring saya. Sering membiarkan saya pergi kerja dalam keadaan perut kosong dan tidak pernah ada makan malam hangat antara kami dan anak-anak.


Memang Fatih adalah obat dari segala luka yang ada di dalam tubuh saya


"Alhamdulillah nih Mas, aku berhasil masak dagingnya sampai empuk dan matang, ayo coba Mas."


"....Baiklah Bunda, akan Ayah makan!"


"Mas? Mau apa kamu??" Fatih memundurkan wajahnya tak kalah Ibra mulai mendekati bibirnya.


"Katanya suruh makan?"

__ADS_1


"Iya maksud aku makan itu!" Fatih mengarahkan telunjuknya untuk menunjuk daging semur yang ada di mangkuk.


"Nggak ah! Aku mau makan daging yang masih ada di mulutmu kamu aja Fat! Kayaknya lebih enak kalau pakai bibir aku, untuk mengambilnya---" Ibra berdecis geli.


"Sssst! Jorok ih Mas, masa dari mulut aku sih!"


"Loh kenapa jorok? Kita udah satu badan kayak gini, masa kamu masih bilang jorok?"


"Malu ih nanti dede bayi nya dengar--"


"...Masih terlalu kecil Fat, dia nggak akan dengar. Oh iya besok kita ke kontrol ya, biar kamu minum obat penguat kandungan!"


"Tapi Mas, aku----?" Suara Fatih terdengar riskan. Tidak dipungkiri memang, keguguran yang sempat ia alami menjadi puing trauma yang mendalam.


"Ada aku, kan kita udah janji mau sembuh sama-sama." Ibra menciumi pipi Fatih berkali-kali.


Sebegini cintanya Mas Ibra kepadaku, sungguh berbeda dengan Fahmi. Fahmi akan melemparkan masakan ku ke lantai jika aku lupa memasukan garam kedalam makanannya.


"Kenapa melamun?" Tanya Ibra


"Eh, enggak Mas! Ayo cepat makan, Mas. Nanti nasi mu dingin!"


"Bawaan bayi kayanya, aku jadi pengen terus nempel sama kamu sayang---Nanti malam masih boleh kan?" Ibra mencium kembali pipi istrinya.


"Mas...."


".....IBRA!"


Kedua mata Ibra dan Fatih saling menatap dan saling mengerutkan dahi untuk menjadi beberapa lipatan. Suara siapakah yang hadir ditengah-tengah kemeseraan mereka saat ini.


Fatih dan Ibra pun menoleh dengan cepat ke sumber suara.


Betapa bahagia diri Ibra mendapati Kakak dan Ibu nya yang sudah berada diambang pintu rumahnya.


*****


Ada next part ya, semoga aja direview nya nggak lama


Like dan komen ya guyss


🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2