Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Permintaan Fatih kepada Ibu Mertua


__ADS_3

Lanjutan nya ya guysss


🖤🖤🖤


.


.


.


.


.


"Asslammualaikum, Nak."


"Ntan, lihatlah adikmu. Begitu romantis dengan istrinya." Ibu Hanum menoleh ke arah Intan, dimana Intan pun merasa senang jika kebahagiaan Ibra telah kembali.


"Waalaikumsallam---"


Ibra bangkit dengan langkah cepat. Wajahnya terlihat kaget karena mendapati Ibu nya sedang terduduk dikursi roda.


"Bu..." Ibra meraih tangan sang ibu untuk menyalaminya. Serta memeluk nya dengan rasa rindu yang amat dalam. Fatih pun melakukan hal yang sama, ia memeluk Ibu Hanum dengan erat.


Sungguh pemandangan yang tidak terduga dari Intan dan juga Ibu Hanum. Garis senyum bahagia mengalir indah tak kala memang betul bahwa rumah tangga Ibra dan Fatih terlihat baik-baik saja.


Tentu mereka tidak tahu, bagaimana perjalanan rumah tangga ini bisa kembali hangat dan tentram. Mereka tidak akan menyangka bahwa Ibra harus bersikeras menggagalkan rencana perceraian yang di vonis Fatih untuknya.


"Bapak nggak ikut Bu?"


"Kamu kan tau Bapak ada LBP, beliau susah kalau jalan jauh-jauh Dek." Intan berdalih.


Padahal ini hanya alasan saja agar Ibra tidak merasa curiga. Tentu saja kedatangannya kesini bersama Ibu, tidak diketahui Bapak.


Bapak pasti akan melarang, karena ia merasa Ibra tidak mau diganggu dulu. Tapi rasa rindu dari seorang ibu tidak akan bisa bertahan lama.


"Ibu sakit? Apakah mau ke Dokter?" Tanya Ibra dan diiringi anggukan kepala oleh Fatih.


"Ayo kita masuk dulu ke dalam!"


Ibra mendorong kursi roda Ibu nya untuk masuk sampai ke ruang tamu. Intan dan Fatih duduk bersebelahan.

__ADS_1


"Ibu terkena stroke ringan Dek, setelah mengetahui kejadian Niken tempo lalu---"


"Ya Allah Bu, kenapa tidak mengabari Ibra?"


"...Intan! Jangan dibahas!" Ujar ibu. Perkataan Intan sontak membuat Fatih melongo dan merasa bersalah.


"Maafkan Fatih ya Bu, waktu itu Fatih tidak bisa menjaga emosi." Jawabnya sendu.


"Nggak apa-apa, Fat! Niken memang perlu diberikan pelajaran. Walau dia keponakanku, tapi aku mengecam perbuatannya yang tidak berahlak!" Sambung Intan dengan wajah yang masih terlihat kesal.


"Intan! Sudah!" Ibu Hanum mendesah. "Disini ibu yang akan bicara. Kamu cukup diam dan dengarkan saja..."


Intan memiringkan sudut bibirnya. "Ya Bu---"


Ibu Hanum mengubah posisinya untuk menoleh ke arah Fatih, memandangi wajah cantik menantunya, mengelus pipinya dan menggenggam tangan Fatih.


"Nak..."


"...Iya Bu." Fatih membalas dengan lembut.


Ibra yang duduk di single sofa, terus mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh ibunya.


"Jika Ibu menjadi kamu, tentu ibu akan melakukan hal yang sama, tapi sekarang sudah ada Ibra Nak. Dia adalah suamimu, penanggung jawab hidupmu. Demi Ibra mau kah kamu memaafkan cucu ibu?"


"...Bu?" Ibra menyelak. Fatih menoleh kepada Ibra. "Nggak apa-apa Mas, biarkan Ibu selesaikan bicaranya dulu!"


Fatih kembali membawa arah matanya untuk menatap Ibu mertuanya.


"Mau kan, Nak? Demi Ibra sayang--"


"Ibra adalah anak yang selalu berbakti, sayang terhadap anak dan istri. Ibra adalah anak lelaki satu-satunya. Sedari dulu Ibu selalu ingin menjodohkannya dengan anak teman ibu. Yaitu Kamu, Fatih.


"Tetapi karena mengingat usia kalian berbeda belasan tahun. Kami merasa itu semua tidak mungkin terjadi, namun nyatanya kalian berjodoh. Allah mempertemukan kalian kembali dalam mahligai rumah tangga---"


"Entah apa yang terjadi sekarang jika Mamamu tau, kalau cucu Ibu yang sudah menjadi duri dalam rumah tangganya. Selama ini Mamamu selalu menceritakan kesedihannya tentang Papamu. Tapi Ibu tidak tahu, jika wanita yang ia benci adalah cucu ibu sendiri!"


"Bu...." Ucap Fatih lalu menghela nafasnya sebentar, air mata itu menetes kembali tak kala ia mengingat kejadian terdahulu yang menimpa psikis Mamanya.


"Melihat Niken tidur seranjang dengan Papa membuat hati dan jiwaku terguncang Bu. Sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudara tega menusukku aku dan Mama dari belakang."


"...Sekuat mungkin aku menutupi semua itu dari Mama, dan memisahkan Niken dari Papa. Namun tetap saja Mama tau, dan dia merasa telah ditusuk dari belakang oleh aku dan juga Papa!"

__ADS_1


"Selama setahun Mama tidak berbicara dengan Fatih dan juga Papa. Mama depresi dan hampir masuk Rumah Sakit Jiwa. Tetapi beruntunglah akhirnya Mama bisa melewati masa-masa sulit itu dan mau menerima kami kembali!"


"Karena Niken, hubungan keluarga kami hancur tercerai berai. Jadi kalau Ibu meminta ku untuk memaafkan Niken. Maaf Bu, Fatih belum bisa. Hati Fatih masih sesak dan sakit!"


"Tapi Ibu tenang, sebisa Fatih akan terus mempertahankan rumah tangga ini bersama Mas Ibra, walau Fatih nggak tau apa reaksi Mama jika mengetahui hal ini di keluarga kita."


"Doakan kami ya Bu dan doakan cucu ibu ini---" Fatih meraih tangan Ibu Hanum untuk mengelus perutnya.


"Masya Allah, kamu hamil Nak?"


"...Kamu hamil, Dek?"


Suara bahagia antara Ibu dan Intan saling bertubrukan. Memang betul kata pepatah, setelah ada kegersangan pasti ada kesejukan.


"Iya Bu, baru aja di tes sore. Ternyata hasilnya positif." Sambung Ibra.


"Kan benar kalian memang berjodoh, Ya Allah Ibu sangat bersyukur!"


Ibu Hanum lalu memeluk Fatih kembali, menciumi menantunya amat dalam. Sebelumnya ia tidak pernah melakukan ini dengan Jihan.


Karena Jihan adalah wanita sombong yang sangat angkuh tidak bisa menghargai keberadaan dirinya sebagai mertua.


"Tapi Bu, ada satu hal yang ingin Fatih minta dari Ibu."


Ibu Hanum melepaskan pelukannya dan memandang fokus wajah menantunya. "Hal apa Nak? Demi Ibra, akan ibu lakukan---"


"Yang pertama Fatih mau, jangan pernah munculkan Niken lagi dihadapan Fatih dan Mas Ibra. Yang kedua, ibu jangan lagi berhubungan dengan Mama, menghilanglah dari kehidupan Mama, Bu!"


"Ini bertujuan untuk menghilangkan jejak tentang Niken. Fatih takut jika Ibu terus bersahabat dengan Mama, Mama bisa mengendus keberadaan Niken. Apakah bisa Bu?"


Ibu Hanum terperangah dengan keinginan menantunya. Seketika lidahnya keluh dan tercekat. Ada banyak kerutan di dahinya.


Entah apa yang ingin ia jawab setelah ini. Mengingat persahabatan yang mereka jalin sudah terlaksana dari mereka duduk dibangku SMA. Ibu Hanum lebih dulu menikah dibandingkan Mama Tari.


Maka dari itu usia anak mereka pun terpaut jauh. Mama Tari selalu membantu Ibu Hanum ketika mengalami kesusahan, pernah meminjamkan modal usaha kepada Ibu Hanum, ketika sang suami di PHK dari tempat kerjanya.


Sungguh ironi hidup mereka. Namun nasi sudah menjadi bubur, kesalahan Niken tidak akan begitu saja terhapus. Wanita itu lupa jika kesalahannya telah membuat dampak berkepanjangan.


****


Ayooo guyss jangan lupa tinggalin jejak jempolnya yaa

__ADS_1


__ADS_2