Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Kebahagiaan


__ADS_3

Selamat baca ya guyss


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


"Mama..?" Seru Fatih ketika melihat Mama Tari sedang menghampirinya.


"Kalian ngapain disini? Fatih sakit? Atau Ibra yang sakit?" Tanya Mama Tari.


"Nggak ada yang sakit kok Mah." Jawab Fatih dan Ibra bersamaan sambil mencium punggung tangan Mama Tari secara bergantian.


"Terus kenapa ada disini?"


"Ini Mah..." Ibra mengusap perut Fatih seraya memberi kode kebahagiaan.


"Masya allah, maksudnya?" Wajah Mama Tari seketika berbinar.


"Iya Mah." Fatih mengangguk seraya membenarkan dugaan sang Mama.


"Kami hamil, Nak? Cucu Mama? Ya allah Alhamdulillah---" Mama memeluk Fatih, menghujani wajah putrinya dengan kecupan senang darinya.


"Mama nggak nyangka, secepat ini kalian sudah diberikan kepercayaan sama Allah, selamat ya Ibra--"


"Makasi ya Mah." Timpal Ibra.


"Baru jalan empat minggu Mah." Fatih menyodorkan foto usg bayinya kepada Mama.


"Bahagia banget hati Mama, benarkan sayang. Awan gelap pasti akan segera pergi dari hidup kamu. Kayak tadi Mama nggak sengaja melihat Fahmi keluar dari poli Jiwa. Berarti betul memang anak itu psikopat! Untung saja Ibra waras ya, tidak seperti dia!"


Ucapan sang Mama. Membuat Fatih dan Ibra tertegun. Mereka terlihat hening dan malas untuk membahas. Sebenarnya bukan tentang Fahmi nya. Tapi mereka merasa sesak, karena merasa tidak ada bedanya dengan Fahmi.


Mereka sama-sama mengidap gangguan mental walau dalam porsi yang berbeda. Selama ini Mama Tari dan Ibu Hanum tidak mengetahui jika Fatih dan Ibra sering minum obat dan konsultasi ke Dr Spesialis Kejiwaan.


Melihat kedua anaknya hanya senyum tipis seperti tidak tertarik Mama Tari pun mengubah ucapannya.


"Oh ya udah deh, Mama juga males tuh bahas si Fahmi. Biarin aja dia ke laut, di telan sama hiu juga gak masalah!" Mama Tari memberikan senyuman menawan kepada anak dan menantunya.


"Terus Mama lagi ngapain disini?" Tanya Fatih.


"Mama tadi abis jenguk teman SMA Mama. Abis operasi katanya, harusnya Mama kesini sama Ibu kamu, Bra!" Mama Tari beralih ke arah menantunya. Kedua mata Ibra mengerjap tiba-tiba.


"Tapi Ibu kamu tuh udah lama nggak ngasih kabar ke Mama. Nomornya gak aktif terus, dihubungin nggak bisa. Ibu kamu sehat kan, Nak?" Tanya Mama Tari lagi.


Sebelum Ibra membuka suara dengan cepat Fatih yang menyahut.

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat-sehat aja kok, Mah. Kalau kata Kak Intan sih Hape nya Ibu rusak, ya kan, Mas?" Fatih menoleh dan memainkan bola matanya.


"Iya Mah, benar. Hape nya lagi diservice..."


"Oh gitu toh masalahnya. Mama fikir ada masalah apa, tapi syukur deh kalau Ibu kamu sehat-sehat aja."


Ibra memberikan senyum manis namun tipis. Entah mengapa setiap melihat wajah Mama mertuanya, fikirannya kembali kepada masalah Niken. Bagaimana sikap Mama Tari jika mereka semua sudah membohonginya.


"Oh iya Fat. Besok malam menginap dirumah ya. Biar weekend dirumah, Mama sama Papa kangen sama kamu dan Ibra. Udah lama kan kamu nggak pulang kerumah. Boleh kan, Bra?"


Fatih menoleh ke arah suaminya menunggu ijin darinya.


"Iya Mah boleh kok."


"Nah gitu dong...hai cucu eyang." Mama Tari kembali fokus mengelus-elus kembali perut Fatih.


"Semoga aja Mama dan Ibu nggak akan pernah bertemu lagi!" Gumam Fatih dalam hatinya.


****


Setelah berlalu dari rumah sakit dan Mama Tari kembali pulang kerumah. Kini, Fatih dan Ibra sudah berada di parkiran rumah makan Betawi. Kebetulan Ibra bilang kalau saat ini ia sedang makan soto daging khas Betawi.


Rumah makan ini adalah favorit Ibra dari semenjak kecil. Karena Ibu dan Bapak selalu mengajaknya makan kesini. Banyak terparkir mobil mewah disini.


Terlihat beberapa orang penting pun berlalu lalang pergi dan datang untuk menyantap kenikmatan dari berbagai makanan yang di sajikan disini.


Mereka pun turun dari dalam mobil. Saling bergandengan dan merangkul satu sama lain.


"FATIH!!" Panggil Karin.


Fatih dan Ibra pun menoleh ke sumber suara ketika langkah kaki mereka baru saja memasuki pintu utama rumah makan.


"Lo yang kemana aja, Fat. Selama abis nikah sama Fahmi, lo menghilang gitu aja kayak hantu!" Sungut Karin.


Karin adalah sahabat dekat Fatih dan Niken di bangku kuliah dulu. Karin pun tahu apa yang terjadi antara Niken dan Fatih. Namun setelah Fatih menikah dengan Fahmi, akses Fatih dengannya begitu saja terputus. Saking cemburunya Fahmi, untuk melihat istrinya bersahabat dengan teman wanita saja ia tidak mengizinkan.


Fatih hanya tersenyum tipis ketika Karin menyinggung nama lelaki iblis itu. Sesungguhnya Karin tidak tahu jika sahabatnya ini sudah bercerai.


"Oh ya, Rin. Perkenalkan ini suami gue..." Kedua mata Karin langsung terperangah ketika Fatih memperkenalkan Ibra sebagai suaminya.


"Hah?? SUAMI?" Celos Karin tidak percaya. "Kok, bisa Fat??"


Kedua bola matanya terus menatap Ibra dari atas kepala sampai kebawah, bukan hanya kagum karena gagah, tapi ia kaget mengapa Fatih bisa menyebutkan lelaki yang lebih tua dari mereka disebut dengan panggilan suami.


"Saya Ibra.."


"..Karin Pak..eh Mas..eh kak, aduh maaf!" Tiba-tiba lidah Karin seperti keseleo. Membuat Fatih sedikit tersinggung dengan sapaan itu.


"Mas aja, Rin!" Fatih memutuskan dengan cepat. Ibra hanya tersenyum.


"Terserah panggil apa aja boleh, Ibra aja juga boleh---"


"Mas??" Seru Fatih.


"Ma--maaf Mas Ibra. Lidah aku suka gini, hehehe." Karin menahan rasa tidak enaknya. Ia masih butuh penjelasan tentang Ibra dari Fatih.


"Ya udah Mas, kamu cari tempat dulu aja ya. Nanti aku nyusul!"

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu. Aku duluan, ayo Rin---" Ibra pun berlalu dan Karin hanya mengangguk menatap kepergiannya.


Dengan cepat ia menarik lengan Fatih untuk duduk dimeja yang kosong.


"WHAT? MISUA? Lo kewong lagi kok nggak bilang sih, Fat?" Karin berdecak.


"SUAMI, Rin!"


"I---ya itu maksud gue!"


"Lo udah pisah sama si gila? UPS!" Karin langsung menutup kedua mulutnya.


"Gila? Lo dah tau dia kelainan?" Kedua mata Fatih membulat menatap fokus.


"Nebak aja sih, emang bener gila kan? Suami apaan, ngelarang istrinya untuk ga boleh datang ke nikahan sahabatnya!"


"...Maaf Karin, please! Gue nyesel banget karena udah nurut kata-kata Fahmi waktu itu. Gue jadi nggak bisa datang ke nikahan lo." Ucap Fatih dengan wajah sendu.


"Ya gak apa-apa gue ngerti kok, dari pada lo dipukulin sama laki lo yang nggak waras itu!"


Fatih membuang nafasnya pelan.


"Tapi gue bersyukur sekarang, mungkin jalan hidup gue harus gini dulu, Rin! Gue harus nikah sama lelaki yang salah baru mendapatkan yang benar-benar baik..."


"Mas Ibra ya?"


Fatih mengangguk. "Gimana ceritanya sih elo bisa nikah sama dia? Eh tapi nih, maaf ya Fat. Kayaknya suami lo udah berumur ya? Gue kaya ngeliat ada sedikit uban dihelaian rambutnya, hahahah.."


"Sialann lo, hahahaha. Nanti deh gue cat rambutnya---" Fatih ikut tertawa terbahak-bahak. "Itu uban karena dia orang cerdas, Rin!" Fatih mengelak dan membela suaminya.


"Tapi emang sih, usia kita tu bedanya jauh banget, 13 tahun. Kita berdua dijodohin sama Mama kita masing-masing. Awalanya juga kita sama-sama canggung, nggak kenal satu sama lain. Tapi akhirnya seiring waktu Allah kasih kita cinta." Wajah Fatih merona, terlihat sekali ia sedang jatuh cinta.


"Maaf juga gak ngasih tau lo dengan kejadian gue sama Fahmi dan pernikahan gue sama Mas Ibra, you know lah gue waktu itu depresi berat!"


"Cieh, bahagia banget sih muka lo pas lagi ngmongin dia? Iya Fat gak apa-apa kok gue ngerti posisi lo! Sekarang gue udah lega, lo dapetin Mas Ibra. Keliatannya, Mas Ibra juga dewasa banget ya. Orangnya ramah, sopan dan berkarisma. Gue selalu doain semoga aja dia jadi suami yang baik ya buat lo---"


"Aamiin Rin, dan juga jadi Ayah yang baik buat anak gue." Fatih tersenyum sambil mengelus perutnya.


"Lo hamil Fat, serius??"


"Iya---" Balas Fatih bahagia.


"Hebat ih, gue aja yang udah lebih dulu nikah dari lo belum juga dikasih anak." Ucap Karin dengan nada sedikit sedih.


"Ini bonus dari Allah karena gue udah bisa ngelewatin ujiannya kemarin. Lo gak tau kan gimana waktu dulu, gue keguguran karena perut gue di injak sama Fahmi?"


"Brengsek ya tuh cowok gila! Bajingann banget deh!!" Karin murka.


"...Iya udah nanti gue ceritain panjang kali lebar tentang si Fahmi dan tentang perjalanan cinta gue sama Mas Ibra. Tapi nggak sekarang ya, Rin. Soalnya kisah rumah tangga gue kalau dibicarain tuh, nggak akan cukup satu sampai dua jam!"


"Adeuhh, kaya novel kali ah, berepisode-episode. Hahahah."


Gelak tawa Fatih begitu saja membuncang. Ia kembali mendapatkan hidupnya, sahabatnya dan tetap bersama dengan orang-orang yang dicintainya. Ibrahim tidak pernah melarang keinginan istrinya untuk melakukan hal apapun.


Karena baginya kebahagiaan Fatih juga kebahagiaannya begitupun kesakitan Fatih juga kesakitan nya. Begitulah sepasang suami istri harus bisa membantu memikul beban salah satu darinya.


Fatih dan Ibra, berbahagialah ❤️❤️

__ADS_1


****


Like dan komen ya guyss


__ADS_2