Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Kamu Cantik Sekali Malam Ini.


__ADS_3

Haiii kesayangan, aku kembali


Selamat baca ya


🖤🖤🖤


.


.


.


.


.


.


.


.


Malam telah tiba. Fatih masih berada didapur untuk mencuci piring bekas makan malam mereka. Menata kembali perkakas dapur ketempat semula. Semenjak ada sosok wanita itu dirumah sontak saja keadaan rumah Ibra kembali menjadi hidup, rapih dan bersih. Karena kehamilan Fatih merupakan yang pertama lagi untuk Ibra, ia terus memperhatikan dan memanjakan istrinya.


Namun sepertinya malam ini berbeda. Hanya ada keheningan dari Ibra untuk Fatih dan dari Fatih untuk Ibra. Keduanya memang sedang dilanda kecemburuan akan perilaku masing-masing. Namun Ibra adalah lelaki dewasa yang bisa menjaga sikap untuk tidak membuat kecemburuannya menjadi petaka keributan bersama Fatih.


Dan bedanya dengan Fatih, wanita ini terlihat gelisah, merungut dan terus mendiami suaminya. Ia ingin Ibra bertanya mengapa dan ada apa dengan sikapnya sekarang. Namun lagi-lagi Ibra tidak peka, jika Fatih tengah merintih mencemburui dirinya.


Tuk.


Fatih meletakkan gelas berisi air putih di meja kerja Ibra. Lelaki itu masih terjaga menatap layar laptop dengan kedua tangan melipat di dada.


"Makasi ya sayang..." Ucapnya sambil mengelus tangan istrinya yang tidak menjawab dan kembali pergi merangkak ke atas kasur. Ibra sungguh tidak peka, jika istrinya saat ini tengah merajuk.


Fatih menarik selimut untuk menutup tubuhnya dari hawa dingin ac kamar. Ia tidur dengan posisi miring membelakangi Ibra. Walau begitu ia tetap tidak bisa tidur, ganjalan hatinya semakin meruah sepertinya ia butuh penjelasan segera dari Ibra mengenai siapa itu DESI.


Padahal yang ada di fikiran Ibra harusnya Fatih menjelaskan tentang sosok Fahmi yang ia lihat tadi siang bersamanya, namun karena ia tahu istrinya sangat mencintainya. Ia pun percaya jika Fatih tidak akan pernah dekat lagi dengan Fahmi.


Sesekali Fatih menoleh dan melihat Ibra masih fokus disana. "Kebangetan banget si Mas Ibra, dia bisa santai banget kayak gitu, sementara aku kaya cacing kepanasan kayak gini!"


Fatih bergumam sebal. Ia terlihat grasak-grusuk dibawah selimut. Kadang miring ke kanan lalu miring ke kiri. Mengusap layar handphone membuka aplikasi media sosial lalu tak lama menutupnya.


Ia pun kembali menoleh dan melihat suaminya masih dalam keadaan yang sama, Ibra masih fokus menatap layar laptopnya.


"Iihhhh! Sumpah demi apapun ya, aku gregetan tau gak sama kamu, Mas!!"


Fatih berdecak sebal, ia hanya bisa memaki didalam hati sambil menghentakkan kepalan tangan di atas bantal.


Tak beberapa lama kemudian Ibra yang sudah menguap beberapa kali memutuskan untuk mematikan laptop dan bangkit dari sana untuk melangkah menaiki kasur. Menemani istri nya yang sebenarnya tengah merajuk.


Sambil kembli menguap, ia masuk kedalam balutan selimut yang juga dipakai oleh istrinya. Posisi mereka sekarang saling memunggungi. Ibra tengah memeluk nyenyak guling kesayangannya.


Fatih menoleh kembali, ia hanya bisa menatap ceruk leher suaminya yang bersih. Ingin ia peluk lelaki itu namun gengsinya amat tinggi, mengingat saat ini ia tengah kesal dengan suaminya.


Tak.

__ADS_1


Satu kaki bagian kiri Fatih begitu saja membentang di paha Ibra. Fatih sengaja melakukannya dengan keras. Ibra pun sedikit mengerjitkan tubuhnya karena kaget dan juga karena sedikit linu. Bukan marah namun Ibra malah mengelus kaki istrinya.


Fatih kembali kesal, kali ini ia menari kaki nya untuk dibentangkan lagi di atas perut Ibra. Tetap saja Ibra tidak marah, ia tetap mengelus-elus kaki Fatih walau matanya sudah terpejam.


Karena geram yang tidak tertahan, Fatih pun menarik kakinya, ia bangkit dan duduk menyila di belakang tubuh Ibra.


"Masssss!!! Bangunnn!!" Fatih yang tidak tahan karena terus menahan rasa cemburu itu, akhirnya berseru. Ibra pun membuka kedua matanya cepat dan ikut bangkit untuk duduk seperti istrinya sekarang.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya nya dengan kedua mata yang terlihat masih menyipit karena kantuk.


"Jelasin siapa DESI?"


Apa? Tunggu! Bisa saja kan Fatih menyebut nama lain yang lebih menantang dan membawa unsur panas didalamnya? Kenapa harus Desi yang ia sebut? Desi yang hanya seorang bawahan Ibra, Damar dan Aldi. Desi yang selalu mereka bully dan menjadi bahan ledekan.


"Desi? Siapa Desi?" Ibra kembali bertanya. Seperti nya ia belum faham jika yang di maksud istrinya adalah Desi temannya dikantor.


"Kamu pikun apa gimana? Jelas-jelas tadi siang kamu sebut namanya! Makan kuenya, terus chat-an sama dia, masih nanya Desi yang mana????"


Fatih terus berdecak kesal. Nafas ibu hamil itu terlihat turun naik. Memendam cemburu yang teramat sangat.


Ibra mengerutkan keningnya, kelopak mata yang tadinya menyipit kini sudah kembali tajam menatap jelas wajah istrinya.


"Oh si Desi, bawahan ku dikantor. Kenapa memang?" Tanya Ibra masih dengan wajah polos. Benar-benar lelaki itu terus saja membuat Fatih jengkel karena ketidak pekaannya.


"Ada hubungan apa kamu sama dia, Mas? Kenapa bisa dia bawakan kamu banyak kue di kantor?"


Seketika kedua mata Ibra membulat dan melebar. Ia menatap lurus wajah istrinya.


"Hah? Gimana? Gimana? Hubungan? Bawakan kue?"


"Ya Allah Fat, kamu tuh salah faham sayang!" Ibra mencoba menjelaskan.


"Bohong...."


Fatih memalingkah wajahnya ke arah lain dan mendengus kesal. Ia tidak mau menatap suaminya. Tentu saja pemikiran yang begitu saja diciptakan tanpa pendalaman masalah yang matang.


Ibra dengan segala kelembutannya, meraih dagu istrinya untuk menatapnya kembali. "Kamu cemburu ya?"


Fatih hanya memiringkan bibirnya sekilas.


"Kamu kalau mau cemburu jangan ke si Desi. Aku malu dengarnya----" Ibra tertawa seketika itu pula bahunya mengguncang.


"Kok ketawa sih, aku tuh serius!" Decak istrinya.


"Desi tuh udah anak, Fat. Anak nya aja udah besar mau masuk kuliah sebentar lagi. Dia bawahan aku, Damar dan juga Aldi. Menyiapkan berbagai berkas-berkas pekerjaan kami, ikut jadi notulen kalau kita sedang rapat. Bahkan suka jadi bahan bully-an kita."


"Dia juga tau banget gimana terpuruknya aku sama Jihan dan anak-anak. Pokoknya aku, Damar, Aldi dan Desi itu jadi teman yang klop kalau di kantor. Kalau soal di bawain kita makanan, karena ketika berempat tuh suka sama cemilan. Nanti suka giliran, siapa yang bawa. Kadang Ayu istrinya Damar, kadang juga Tina istrinya Aldi..."


Lalu ia tertawa pelan. "Kalau aku sih nggak pernah bawa, ya mereka tau lah dulu gimana kondisi rumah tangga aku---" Ibra menjelaskan padat dan jelas. Tidak terlihat kebohongan didalamnya.


"Benar Mas? Hubungan kamu sama dia, hanya sebatas itu?"


"Ya betul, demi anak aku yang lagi ada disini." Ibra mengelus-elus perut Fatih.


Fatih pun mendekap Ibra, merebahkan kepalanya didada suaminya. "Jangan bohongin aku ya, Mas! Mau gimana sifat aku, pokoknya jangan!"

__ADS_1


"Iya dong, masa karena sikap kamu yang suka ngambek kaya gini, aku jadi berpaling. Ya, nggak lah." Ibra mengusap-usap punggung Fatih.


"Kamu cemburu ya?" Ibra kembali mengulang pertanyaan itu. Fatih mengangguk pelan.


"Cemburu itu kan berarti sayang ya?" Fatih mengangguk lagi.


Ibra pun tertawa dan mencium bibir istrinya. Sebelum ciuman itu menjadi lumatann panas, Fatih pun melepasnya dengan cepat.


"Kalau menurut kamu cemburu itu tanda sayang, kenapa kamu gak marah ketika melihat Fahmi tadi siang dikantor?? Kamu biasa aja tuh, gak marah? Gak cemburu??"


Ibra tertawa kecil. "Kamu nggak tau aja, aku nahan rasa itu sampai ubun-ubun aku kayak mau pecah!!"


"Ya kesal lah, cemburu udah pasti! Hanya aku nggak mau menjadikan itu sebuah masalah inti dalam rumah tangga kita, Fat---"


"Karena aku itu adalah cerminan kamu, kalau aku bisa menjadi suami yang jujur dan baik. Insya Allah istriku pasti bisa bercermin dari sikap ku yang seperti ini, jadi----Aku nggak perlu marah-marah. Aku tetap percaya sama kamu."


"So sweet banget sih, Mas. Tambah cinta deh aku sama kamu!" Fatih kembali memeluk Ibra.


Lalu ia kembali mendongak.


"Tapi intinya tuh, kamu cemburu kan sama Fahmi??"


Fatih tetap memaksa Ibra untuk mengakuinya. Ia tidak ingin merasa kalah dan malu sendirian.


"Iya, iya. Aku cemburu, aku nggak suka lihat kamu dekat sama dia atau sama lelaki lain. Ingat ya sayang, ketika ada lelaki yang datang dan menceritakan kisah rumah tangganya yang berantakan. Sudah pasti itu hanya taktik untuk bisa dekat dan menjalin hubungan terlarang. Mengerti kan maksudku?"


"Iya Ayah, bunda ngerti---" Fatih menatap cinta ke arah suaminya. Ibra selalu saja bisa meredam emosi istrinya dan mengembalikan namanya didalam hati Fatih.


"Terus kenapa kamu nggak tanya gimana Fahmi bisa ada dikantor??"


"Mau sih nanya, tapi jangan sekarang deh, besok aja. Nanti menghilangkan mood aku---" Ibra mengedipkan satu matanya.


"Ih genit, lagi kenapa tuh kamu??"


Ibra tertawa.


"Oh ya sayang, malam apa sekarang?"


"...Malam jumat, Mas." Jawabnya polos. Lalu seringai bak harimau kelaparan telah datang mengubah wajah Ibra yang menenangkan. ia terus menatap tubuh istrinya penuh hasrat.


"Aku mau ajak kamu cari pahala malam ini---"


Dengan cepat Ibra merebahkan tubuh istrinya dan melucuti pakaian Fatih. Seketika itu pula istrinya hanya tertawa dan tentu saja beberapa detik kemudian erangan serta rintihan nikmat terdengar syahdu dari mereka.


"Mas jangan lama-lama ya---"


"15 menit aja kok, janji deh!" Jawab Ibra meyakinkan.


Nyatanya Ibra berbohong, tanpa terasa ia sudah menghabiskan waktu dua jam untuk menikmati istrinya. Bagi Ibra, Fatih adalah candu asmara, pelepas dahaga dan membuat ia selalu awet muda.


"Kamu cantik sekali malam ini, Fat---" Bisiknya ditelinga sang istri, ketika ia masih menghentakkan tubuhnya di pusat kenikmatan.


Berbahagialah selalu untuk Ayah Ibra dan Bunda Fatih. Kalian harus selalu berjuang untuk sembuh bersama-sama❤️❤️❤️


*****

__ADS_1


__ADS_2