
Mau bagaimanapun Ibu Hanum pernah menjadi Ibu mertuanya, sahabat Mamanya dan lebih utama ia adalah Neneknya Fara. Wanita yang belum pernah sama sekali melihat Fara atau menyentuhnya lebih dekat.
Beberapa jam yang lalu Kak Intan menghubungi Ibra, katanya Ibu Hanum mengalami serangan jantung. Sebelum ia jatuh dan tidak sadarkan diri. Ia sempat menyebut nama Fara dan Fatih. Kak Intan meminta Ibra untuk membawa mereka, takut-takut itu merupakan permintaan Ibu Hanum untuk yang terakhir kalinya.
Tanpa harus di rayu dulu, Fatih begitu saja mengiyakan. Ia sudah pernah berdosa, ketika dulu Almarhum Bapak Ibra meninggal, Fatih tidak datang bersama Fara. Karena pada saat itu Mama Tari masih hidup dan tidak mengizinkan sang anak untuk melihat mertuanya di titik garis terkahir kehidupan.
Ibra masih fokus menyetir, kedua matanya menatap lurus jalan tol yang sekarang sedang ia lewati. Ada air bening yang begitu menetes dari sudut mata Ibra. Dan Fatih pun menangkap pandangan itu.
"Mas ..." sapa nya. Sambil mengusap air mata yang tengah jatuh. Ibra terkesiap ketika melihat Fatih sedikit mendekat untuk menghapus air matanya dari samping.
"Sejak kapan kamu pakai kaca mata, Mas?" tanya Fatih.
"Aku pakai kaca mata jika hanya menyetir aja, Fat. Biar pandanganku semakin jelas." jawab Ibra tetap memberikan senyum.
Fatih mengangguk dan menyudahi usapan nya di pipi halus Ibrahim. Alangkah senang hati Ibra, Fatih sudah tidak dingin seperti saat mereka bertengkar tadi.
"Sudah banyak yang tidak aku tau tentang kamu ya, Mas." ucapnya mengulas senyum.
Fatih kembali duduk tegap di kursinya. Sesekali ia menatap spion untuk memperhatikan Fara yang sedang bermain dengan para bonekanya di kursi belakang.
"Hanya perubahan fisikku saja, tapi hatiku tetap sama, Fat."
Membuat Fatih menghela napasnya, ia tidak ingin Ibra kembali membahas-bahas tentang keinginan yang ingin rujuk dengannya.
"Kenapa Ibu bisa kambuh, Mas?" Fatih mengalihkan pertanyaan. Wajah Ibra pun redup, ketika perangkapnya tidak terbalas. Ia tahu kalau Fatih hanya menghindarinya.
"Mungkin dia kangen sama kamu dan Fara."
Fatih kembali terdiam, seteguk salivanya ia telan jauh-jauh kedalam kerongkongannya. Seraya ia menjadi orang yang bersalah, karena sudah menjadi beban berkepanjangan di hati Ibu Hanum.
"Ayah ..." suara nyaring Fara memanggil dari belakang.
Fatih menoleh ke belakang dan Ibra menjawab namun hanya menatap anaknya lewat kaca spion.
"Barbie nya usak! Faya mau boneca agih ya, Yah." Faradisa si anak montok berkulit putih, berambut keriting yang wajahnya sangat mirip dengan Ibra. Fara dan Ibra seperti halnya duplikat kunci. Mereka berdua terlalu mirip, sifat merekapun hampir sama.
__ADS_1
"Fara ..."
Seketika itu pula Fara terdiam, karna mendengar Bunda menyerukan namanya. Ia tahu kalau sang Bunda tidak suka dengan keinginannya.
Ibra tertawa dan terus memperhatikan anak semata wayangnya di spion.
"Nanti abis tengok nenek, kita beli boneka lagi ya, Nak." ajak Ibra membuat wajah Fara seketika berbinar.
"Nggak apa-apa, Fat. Aku bekerja dari pagi sampai malam, memang hanya untuk kalian berdua."
Fatih hanya mengulas senyum tipis, setipis permukaan kulit yang begitu gersang tanpa nutrisi. Fatih memilih untuk menyandarkan kepala dan memejam kedua matanya. Fatih memang gampang tertidur jika suka bersandar di kursi mobil.
"Bunda, tidul ya, Yah?" Fara mendekat untuk membangunkan Bundanya. Dan Ibra pun melarang.
"Jangan Fara, kasian Bundanya lagi tidur, Nak." Ibra menghalau tangan Fara ketika ingin menyentuh wajah sang Bunda.
Fara si anak penurut, hanya menganggukan kepala dan beringsut untuk duduk dipangkuan Ibrahim yang sedang menyetir. Memeluk dada sang Ayah, dan kemudian tidur di sana.
"Ya Allah, terimakasih. Sudah mengizinkan hambamu ini untuk kembali dekat dengan mereka." rintih Ibra, dengan air mata bahagia yang kembali turun membasahi permukaan pipinya.
Sungguh, selama empat tahun, Ibra hanya bisa menunggu keajaiban agar bisa dekat dengan Fatih dan Fara seperti sekarang. Ibra pun menarik tangan Fatih untuk ia genggam. Namun ternyata Fatih yang masih tertidur, tidak sadar kalau tubuhnya mulai di condong kan untuk mendekat ke arah Ibra.
"Bunda dan Anak kalau tidur tidak ada bedanya. Mendengkur semua..." Ibra tertawa.
Lalu membawa tubuh Fatih untuk masuk kedalam dekapannya juga. Tangan kirinya mengunci tubuh Fatih dan Fara, kini ia merubah menyetir dengan tekanan pelan karena hanya menggunakan satu tangan kanannya.
Ibra berkali-kali mencium pucuk rambut mantan istrinya.
"Aku pastikan, beberapa hari lagi, kita akan menjadi suami istri kembali, Fat!" decak Ibra pasti. Ia kembali fokus menyetir untuk menembus perjalanan panjang menuju Jakarta dengan wajah bersinar penuh semangat.
****
Fatih masih termangu, menatap kosong koridor Rumah Sakit dengan lamunannya.
"Kok bisa di sepanjang perjalanan aku tidur sambil memeluk, Mas Ibra?" tanyanya pada hati.
__ADS_1
Ia begitu kaget, ketika Ibra membangunkannya yang tidak sengaja tertidur selama diperjalanan, sesaat mereka sudah sampai di Rumah Sakit. Kemudian fikiran nya buyar, ketika Ibra menggenggam jari-jarinya. Merapatkan telapak tangan mereka untuk menjadi satu kembali ketika langkah kaki mereka masih menelusuri lantai yang sama, menuju ruangan yang ingin mereka datangi.
Fatih menoleh ke bawah, kearah tangan mereka yang saling menggenggam, lalu bola matanya ia alihkan untuk diseret menatap wajah Ibra dari samping yang sedang menggendong Fara.
"Kok jantung aku berdebar kayak gini ya?" tanyanya lagi. Dan bodohnya ia tidak menangkap wajah Ibra yang tengah tertawa sekilas melihat kegugupan Fatih.
"Sama, Fat. Jantung saya seakan mau copot, saking senangnya karena bisa genggam tangan kamu lagi." batin Ibra yang mengatakannya.
Sepertinya telepati batin diantara mereka masih berfungsi dengan baik. Cinta sejati masih erat berada dihati mereka masing-masing.
Setelah lama melangkah menyusuri koridor Rumah Sakit. Sampailah langkah kaki mereka tepat berada di depan pintu ruang ICU. Namun Ibra tidak menemukan keluarganya di sini.
"Sus, maaf. Apa benar Ibu Hanum sedang ada didalam?" tanya Ibra kepada perawat yang tidak sengaja baru keluar dari ruang ICU.
"Oh Pasien Ny. Hanum ya? Baru saja dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, Pak. Sekitar tiga puluh menit lalu diruang Mussa."
"Baik, Sus. Terimakasih banyak." jawab Ibra dan Fatih bersamaan.
Wajah Ibra terlihat bahagia, tak kala Ibundanya sudah melewati masa kritis. Ia sempat khawatir dengan keadaan Ibunya. Tak jarang fikiran jelek suka ikut menelusup di kepalanya. Karena mereka terlalu lama diperjalanan, jalan tol yang begitu padat. Karena ada kecelakaan mobil yang menjadi konflik utamanya.
Ibra kembali menggandeng tangan Fatih, untuk menuju ruang perawatan dimana Ibunya tengah berbaring sekarang. Fatih kembali merasa gugup, ia akan bertemu keluarga Ibra kembali setelah empat tahun lamanya. Perasaan malu yang diliputi rasa bersalah, masih saja bertahta di kepalanya tanpa mau menghilang.
"Kamu sakit lagi, Fat?" tanya Ibra yang seketika menghentikan langkahnya.
"Hah? Kenapa, Mas?" Fatih yang sedang tidak begitu merespon, kemudian mengulang pertanyaan Ibrahim.
"Ini tangan kamu dingin sekali." Jawab Ibra. Ia membawa arah mata Fatih ke arah gandengan tangan mereka.
Fatih ingin melepas namun Ibra menahan. "Jangan dilepas, Fat! Biar Ibuku senang melihat kita seperti ini."
Lagi-lagi karena mendengar nama Ibu Hanum yang disebut membuat Fatih tidak bisa mengelak. Entah mengapa kekuatan yang sejak dulu ia gunakan untuk bisa menolak Ibra. Saat ini begitu saja pupus, terbawa angin entah kemana.
"Ada yang aneh sama aku?" tanya Fatih bingung.
Ia tidak tahu saja, jika saat ini Semesta mulai membolak-balikkan hatinya untuk mau membuka diri kembali menerima kehadiran Ibrahim. Allah tahu sosok yang tepat untuk menemani Fatih ketika melawan penyakitnya yang mulai menjalar dengan hebatnya, yaitu hanya sosok Ibrahim Attar yang tidak bisa tergantikan oleh siapapun.
__ADS_1
****
Like dan Komennya ya guys❤️