
Sebuah sedan mewah terhenti disekitar lapangan futsal, di komplek perumahan Ibrahim jaman dulu. Di sana ada penjual baso aci kesukaan istrinya. Tidak masalah baginya jika pulang kerja harus menepi di tempat ini dulu, walau Ibra harus memutar arah sebanyak dua kali menuju rumahnya sesaat lagi.
Walau jas kantor sudah ia lepas, namun kegagahan dibalik kemeja polos berwarna biru muda yang masih bertengger di tubuhnya berhasil membuat para emak-emak yang sedang bergosip, menyuapi anak dan juga sedang antri membeli baso aci, ter-silau akan ketampanan Ibrahim. Salah satu dari mereka ada yang tersenyum karena mengenal Ibra. Ibra tetap menghormati mereka walau sekarang kehidupannya sedang berada di atas puncak keberhasilan.
Setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya pesanan Ibra pun jadi. Ia memesan empat porsi sekaligus. Karena ia tahu, dirumah tidak hanya ada istrinya seorang, melainkan ada beberapa art juga yang harus dibelikan. Sungguh Ibra, begitu baik kepada sesama.
Ia kembali menjalankan deru mesin kereta besi untuk membawa dirinya melesat menuju rumah. Ibra selalu rindu dengan istri dan anaknya. Seletih apapun Ibra ketika sehabis pulang dari kantor, jika sudah melihat senyuman Fatih dan Fara, saat itu pula rasa capeknya menghilang bagai hembusan angin yang berseliweran di udara.
"Assalammualaikum sayang, aku pulang." seru Ibra seraya mendongak ke arah kamar yang ada di lantai dua, agar istrinya mendengar. Ibra meletakan bungkusan makanan yang baru ia beli tadi di meja makan.
"Silahkan dimakan, mumpung masih panas." Ibra mempersilahkan Bu Dasih dan Bu Inah untuk menyatap makanan yang ia bawa.
"Makasih ya, Tuan." jawab mereka bersamaan. Ibra pun mengangguk dan melangkah menaiki anak tangga menuju kamar. Karena sudah beberapa kali ia memanggil namun sang istri atau pun Fara tidak menjawab salam dan sapa nya.
"Assalammualaikum anak ayah." ucap Ibra mengulangi salamnya, ia mendapati Fara yang tengah asik bermain masak-masakan di pusaran ranjang.
"Ayah." seru Fara senang. Seperti biasa, anak itu akan mencium tangan Ibra dan memeluknya. Ibra yang selalu membiasakan Fara bersikap seperti itu ketika ia baru saja pulang bekerja.
"Wangi banget nih anak Ayah." Ibra terus menghujani wajah Fara dengan kecupan, dan Fara seperti biasa akan meronta untuk dilepaskan. Fatih dianggap Ibra pintar dalam mengurus Fara. Anak itu semakin gendut, kulitnya putih, mulus dan bersih. Ibra selalu mendapatkan Fara dalam keadaan wangi setiap ia sudah sampai dirumah.
Ibra menyeret manik matanya ke arah pintu kamar mandi. Terdengar suara alunan lagu yang sedang didendangkan oleh sang istri didalam. Fatih tengah membersihkan diri didalam sana. Ibra pun bangkit dari ranjang dan membiarkan Fara kembali dengan mainannya. Melepas sepatu, kaos kaki, dasi yang masih melekat erat di kerah nya dan gesper yang mengalung kencang di pinggangnya. Sambil membuka kancing kemejanya, ia masuk ke dalam kamar mandi.
Fatih yang masih menghadap ke dinding, membiarkan tubuhnya basah karena siraman air shower terus saja bernyanyi. Mengusap perut buncitnya dengan sabun. Ibra tersenyum ketika mendapati Fatih tanpa busana.
__ADS_1
Lalu
"Ah." Fatih sedikit berteriak, karena ia kaget setengah mati. Ada tangan nakal tiba-tiba melolong dibawah lengannya untuk menangkup dua bagian lunak yang menjuntai bebas ke arah perut.
"Mandi bareng yuk, Bunda mandiin Ayah." goda Ibra nakal, sambil menyesap leher Fatih yang harum akan sabun.
Seketika Fatih merinding, jangankan diperlakukan seperti itu. Ibra yang hanya tidak sengaja mencolek bokongnya saja, Fatih sudah merinding dan hasratnya pun terpancing.
Ibra tetap memerass dua gundukan itu secara bergantian. Lalu membalikan tubuh Fatih dan melumatt habis pangkal buah mahoni yang makin terlihat sintal dan kencang.
"Eum, Mas." Fatih memejam kedua matanya dan menyandarkan kepalanya di dinding. Ia mencengkram kedua bahu suaminya. Ibra terus saja menyesap, menjilatt serta sedikit menggigit. Membuat Fatih bergelinjang.
Setelah puas bermain-main di daerah sana. Ia pun turun untuk mencium perut Fatih yang sudah besar. Ada raut senang yang akhirnya tampak. Wajah bahagia yang begitu saja hilang selama tujuh bulan terakhir karena terbelenggu dengan perasaan takut kehilangan Fatih dan calon bayi tersebut, kini sudah menghilang, karena ia tahu sebentar lagi Fatih akan sembuh. Ia sudah mendapatkan donor ginjal untuk istri tercintanya.
Kini mereka sama-sama sudah tanpa busana. "Mas, kunci pintunya. Nanti Fara masuk."
"Udah dong, hal itu tidak akan terlupakan." Ibra berdecak geli dan Fatih hanya mencebik karena malu. Dan mereka pun akhirnya melakukan pelepasan hasrat di kamar mandi.
*****
"Bun, tolong ponselku." titah Ibra ketika kedua matanya masih menatap fokus layar laptop yang ia letakan diatas pangkuan nya. Terlihat mereka sudah berkumpul diatas ranjang, menunggu kedua mata yang belum mau menutup karena rasa kantuk belum juga menjamah mereka.
Ada Fara yang sedang asik menonton televisi di tengah-tengah tubuh orang tuanya. Fatih pun bangkit untuk beranjak turun dari ranjang. Ia melangkah menuju sofa untuk mengambil tas kerja suaminya. Mencari benda pipi hitam yang di minta oleh Ibra.
__ADS_1
Namun, kedua matanya begitu saja membeliak. Ketika tidak sengaja jari tangannya mendapatkan beberapa kaplet obat dari dalam tas tersebut. Ia termenung sebentar, membolak-balikan bungkus kaplet seraya mencari tahu obat apakah yang sedang ia genggam.
"Bun.." panggil Ibra lagi tanpa mendongak, ia rasa istrinya sudah lama berdiri di sana.
Deg.
Kedua mata Fatih melotot begitu saja, saat ia sudah ingat obat apa yang saat ini tengah ia genggam. Walau Fatih sudah lama tidak berurusan dengan obat itu lagi, tapi sejatinya ia hafal. Karena obat itu lah yang pernah ia konsumsi dulu.
"AYAH!"
Pandangan Ibra seketika terhenti dari layar laptop, ia pun mendongak menatap Fatih yang masih berdiri didekat sofa. Mengapa suara Fatih seperti sedang marah? Fikir Ibra.
"Kamu masih konsumsi obat-obatan ini?!" kelakar Fatih dengan segala ketidak percayaannya. Mereka pun saling bersitatap dalam jarak beberapa meter. Wajah Fatih memerah karena sudah dibohongi dan raut Ibra memucat karena diketahui oleh istrinya. Fara yang sedang asik menonton dan sekilas tertawa karena lucu, kini berubah. Ia menatap takut sang Bunda yang tengah berkata nyaring kepada sang Ayah.
"Kamu bohongin aku, Mas?"
Lalu
Sebelum Ibra bangkit turun dari ranjang untuk menenangkan istrinya, ia kembali terperanjat ketika Fatih tanpa sengaja menatap suatu benda yang terpasang aneh di atas lemari. Mengapa tidak pernah terlihat selama berbulan-bulan ia di sini. Letaknya memang tersembunyi, ada disekitaran tumpukan barang yang sudah di atur sedemikian rupa oleh Ibrahim.
"Kamera?" desah Fatih.
*****
__ADS_1
Like dan Komennya guyss, sebentar lagi tamat nih hehe, jadi cedih mau lepas Mas Ibrahim❤️😭