
"Wah salut gue sama lo, Tom. Bisa nyetak anak banyak, hahahaha." Ibra tertawa menatap Tomi yang juga ikut tertawa.
"Oh iya, Bra." Tomi mengakhiri gelak tawanya. "Gue kesini selain untuk bersilahturahmi, ada juga kepentingan yang lain dan berkaitan sama lo."
Dua bola mata Ibra mengerjap, daun telinganya pun dipertajam untuk mendengar ucapan Tomi agar lebih jelas. "Kepentingan apa, Tom?"
"Gue kasian aja liat saham Facorp sedikit anjlok di pasar modal. Gue kesini mau menawarkan perusahaan lo untuk menaruh modal di perusahaan England."
"England?" Ibra mengulangi.
"Iya, di sana lagi berkembang pesat. Kantor gue aja menaruh setengah saham perusahaan hanya tiga bulan, sudah langsung balik modal serta keuntungannya. Apa lo enggak mau untuk menaruh saham di sana? Apalagi keadaan perusahaan lo lagi kaya gini kan?"
"Mencari investor untuk melindungi perusahaan yang sedang membutuhkan banyak dana, terlalu riskan dan sulit, Bra. Lebih baik kita yang menaruh saham, agar bisa berkembang, Ini peluang buat perusaan lo. Selagi ada kesempatan, kenapa enggak?"
Netra gelap Ibra terus saja menatap Tomi yang sedang fokus menjelaskan berbagai cara untuk membantunya keluar dari masalah. Tomi sangat pandai dalam bercakap-cakap untuk menawarkan bantuan palsu kepada Ibrahim.
"Lo juga bisa buat istri dan keluarga lo bangga, dan bisa menujukkan ke beberapa perusahaan yang sudah menarik sahamnya, bahwa lo mampu untuk bisa berdiri di kaki sendiri.
Tentu ucapan Tomi membuat kepercayaan diri Ibra membuih hebat. Lelaki itu senang karena mendapat secerca harapan untuk mengembalikan perusahaan seperti semula. Dibayangkan wajah istrinya yang pasti akan senang dan bangga.
"Oke, Tom. Gue setuju, tolong kenalin gue sama perusahaan itu."
Tomi mengusap bahu sahabatnya lagi. "Pasti Bra, nanti gue atur pertemuan kita bersama dia. Pokoknya gue akan selalu memantau dan menemani lo." ucapnya sambil melepas senyuman.
"Makasih banyak, Tom. Mungkin lo adalah penyelamat yang dikirim untuk membantu gue."
"Hemm...apa mau sekarang aja gue pertemukan sama beliau? Pak Arta namanya, salah satu kepercayaan di perusahaan itu."
__ADS_1
"Baik, Tom. Antar gue kesana."
Tomi hanya mengangguk dengan senyuman sarkas. Entah mengapa ia menjadi semudah ini untuk mau menghancurkan dan ingin membalas dendam, dengan hal yang sama sekali tidak dilakukan apa-apa oleh Ibra.
Dua hari sebelum kedatangannya kesini menemui Ibra. Fahmi lebih dulu menemui Tomi di kediamannya. Sebelumnya Fahmi sudah mengawasi tentang Kasih, mencari tahu tentang bagaimana hubungannya dengan Ibra di masa lalu. Akhirnya ia mendapatkan Tomi, dan mulai membuat perjanjian untuk bersama-sama ingin menghancurkan Ibra dengan alasan sakit hati.
Fahmi memfitnah Ibra kepada Tomi, dengan penjelasan yang sama seperti kepada Kasih. Tomi pun merasa geram dan murka. Ia begitu kasian melihat Fahmi yang begitu saja terpuruk karena ulah Ibra. Ia pun teringat bagaimana hancurnya ia dulu, ketika Kasih memilih meninggalkan dirinya hanya untuk seorang Ibra.
"Tolong bantu saya untuk meraih istri saya kembali." pinta Fahmi memohon kepada Tomi.
Tomi pun mengangguk dan menerima tawaran itu, ditambah lagi Fahmi menjanjikan sebuah rumah kepada Tomi. Tentu laki-laki itu senang bukan main. Ia hanya melaksanakan tugas untuk membuat hancur sahabatnya dan setelah itu, ia akan mendapatkan rumah untuk tempatnya bernaung bersama Kasih beserta calon anak-anak mereka. Begitu bahagianya Tomi untuk menjalankan misinya bersama Fahmi.
****
"Assalammualaikum..." Mama Tari mengucap salam sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah kediaman orang tuanya Ibra.
"Tidak ada orang sepertinya, ya sudah kalau begitu aku pulang saja. Nanti aku akan kembali lagi." Mama Tari seketika memutar tubuhnya untuk kembali masuk kedalam mobil. Rasa penasarannya sejak kemarin sudah mendidih di ubun-ubun. Ia butuh penjelasan.
"Tari.." ada suara dari arah sumber lain yang membuat wanita itu menoleh ketika namanya dipanggil.
Wajahnya berbinar karena bahagia, ia melihat Ibu Hanum yang baru saja turun dari dalam mobil Kak Intan.
Mama Tari pun berlari sedikit untuk menerjang tubuh sahabatnya sekaligus besannya dengan dekapan hangat. Mereka saling memeluk dalam pejaman mata.
"Kamu kemana aja, Han. Aku udah berhari-hari teleponin kamu, tapi nomor kamu sulit dihubungi." tanya Mama Tari ketika melepas pelukan itu.
"Ponselku rusak, Tar. Tapi sudah benar baru saja, niatnya ingin menghubungimu juga. Tapi aku lupa, maklumlah aku sudah tua, Tar." jawab Ibu Hanum terpaksa berbohong.
__ADS_1
Kak Intan yang masih berada di kursi kemudi hanya terdiam dan memperhatikan mereka yang saling melepas rindu.
"Semoga saja Mamanya Fatih tidak akan pernah mengetahui asal muasal jatidiri Niken. Aku tidak bisa membayangkan jika Ibu Tari akan marah besar kepada Ibu, dan mungkin bisa mengancam pernikahan Ibra dan Fatih."
"Ayo kita masuk kedalam, aku ingin berbincang lama denganmu, Tar." titah Ibu Hanum sambil merangkul sahabatnya untuk melangkah masuk lagi kedalam rumah. Ibu Hanum menoleh untuk mencari manik mata Kak Intan yang juga tengah menatapnya. Memberi kode bahwa Kak Intan mulai memasuki mobilnya ke halaman parkir.
****
Tanpa fikir panjang, tanpa memberitahu dulu keputusan yang ia ambil kepada istrinya. Ibra dengan pemikiran sendiri, memutuskan untuk mengeluarkan sejumlah uang dari perusahaan untuk memberikan saham di perusahaan yang sudah di tawarkan oleh Tomi. Yang mana kenyataannya, perusahaan itu adalah anak cabang dari perusahaan Fahmi. Tentu Ibra tidak akan mengetahui hal itu.
Salah satu karyawan dari perusahaan Fahmi pun diminta berbohong untuk bisa berakting didepan Ibra. Agar lelaki itu percaya bahwa Tomi tidak berbohong dengan ucapannya.
Lani pun menjadi saksi dengan kebohongan yang dibuat oleh Fahmi. Ia diikut sertakan oleh Ibra untuk menemani dirinya mendatangi perusahaan yang akan memberi mereka keuntungan banyak. Adakalanya kita bisa berfikir tidak irasional, ketika keadaan sudah mendesak, seperti yang dialami oleh Ibra sekarang. Lani awalnya curiga, ia seperti tidak percaya dengan Fahmi atau beberapa orang yang sekarang tengah melakukan perbincangan fokus dengan Ibrahim.
"Tolong Lan, hubungi akuntan perusahaan kita untuk mengurus dananya." Titah Ibra kepada Lani. Lani hanya bisa mengangguk dan mengikuti semua perintah Ibra.
Senyum sumringah tercetak jelas diwajah Tomi dan beberapa orang-orang berjas hitam itu. Mereka menyunggingkan senyum tanda keberhasilan. Dan Fahmi tengah tertawa kencang di mejanya, ia tidak akan menyangka Ibra bisa dibodohi dengan gampang.
"Hancurlah kamu, sehancur-hancur nya, Ibrahim Attar!" kepalan tangan Fahmi dihentak kan di meja kerjanya ketika masih menonton rekaman cctv yang sedang berlangsung merekam kegiatan Ibra dengan orang-orang suruhannya.
Mungkin saat ini Fahmi menang, namun ia lupa bahwa doa orang teraniaya, akan langsung dikabulkan oleh Allah SWT.
Bukannya jika ingin hidup senang harus melewati banyak rintangan dahulu? Sabarlah Ibra, berjuanglah sekali lagi untuk menghempaskan Fahmi selama-lamanya dari hidup kalian.
****
Like dan komennya jangan lupa ya, nanti kalau udah tamat, pada sedih nyariin hehehe❤️
__ADS_1