
"Maaf ya, Fat, malam-malam kayak gini gue telepon lo."
Fatih masih terduduk di kursi yang sejajar dengan pintu kamar. Ia mendengarkan suara Dias di sambungan telepon.
"Kayaknya rencana ke Bandung besok di cancel dulu ya, Fat. Soalnya gue tiba-tiba harus gantiin Andre buat jaga." ada helaan napas berat diseberang sana.
Dias, sepupu Fatih bertugas menjadi Dokter di Rumah Sakit swasta di Jakarta. Ia berencana akan membawa Fatih ke Bandung, mengenalkan Fatih dengan temannya yang juga sesama Dokter Spesialis Urologi. Dias sempat ingin menjodohkan Fatih dengan teman Dokternya itu. Namun Fatih menolak mentah-mentah.
"Nggak apa-apa, kok, Yas. Lagian juga kayaknya nggak sekarang ya, lo tau lah, uang gue belum cukup." jawab Fatih.
Sesekali ia menoleh ke luar untuk mengawasi Ibra yang sedang tertidur di sofa. Beberapa saat lalu, Fatih sempat memegang dahi Ibra yang terasa hangat sebelum ia membentangkan selimut di tubuh lelaki itu. Fatih sengaja duduk di kursi yang berada di dalam kamar, dekat pintu yang sengaja ia buka setengah, guna untuk mengawasi Ibra dan Fara sekaligus.
"Ya kali masih mikirin duit, ada gue ini, Fat." suara kesal terdengar dari sana.
Fatih tersenyum. "Gue udah banyak ribetin lo dari semenjak Papa sakit, uang lo aja belum bisa gue cicil, Yas, maaf ya.."
"Udah ah gue gak mau denger, bahasnya ginian mulu deh. Ya udah, nanti selesai urusan gue beres. Gue jemput lo, nanti baru kita ke Bandung."
"Iya udah, lo hati-hati ya, Yas. Salam buat Andre."
Tut.
Sambungan telepon antara Dias dan Fatih terputus. Fatih termenung sebentar sambil melihati Fara yang masih terlelap diatas kasur. Jauh dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin sembuh untuk Fara. Tapi entah mengapa harapan itu selalu pupus dan sirna, membuat ia menjadi hilang harapan.
Baru saja Fatih akan menoleh, ia sudah kembali mengusap dada sambil beristigfar.
"Astagfirullohaladzim, Mas!" seru Fatih ketika arah matanya baru saja ingin menoleh keluar lalu mendapati Ibra yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya.
"Kamu mau ngapain, Mas?"
Ibra hanya mematung diam, ia menatap lurus wajah Fatih sangat dalam. Seperti ada air mata yang ingin keluar namun tertahan. Sedikit mengepalkan tangan karena merasa sakit. Ia tidak akan menyangka kalau selama ini, mantan istrinya itu sedang sulit dalam hal keuangan.
Ibra menggelengkan kepala. "Aku mau ke toilet, toilet nya dimana?" tanya Ibra datar.
Fatih menghela napas karena ia masih kaget. Ia sempat berfikir, apa mungkin mantan suaminya ini mendengar percakapannya dengan Dias barusan.
"Ayo aku antar!" Fatih berjalan untuk mendahului Ibra, melangkah menuju toilet. Ibra pun mengikuti seperti anak balita.
"Ayo masuk." Fatih membuka pintu kamar mandi, mempersilahkan Ibra untuk masuk.
__ADS_1
"Tungguin, ya, Fat!" titah Ibra sebelum ia masuk kedalam dan menutup pintu. Membuat Fatih hanya mendesah aneh dengan kelakuan Ibra.
"Perasaan dulu, Mas Ibra nggak pernah manja kayak gini." celetuknya pelan.
Lalu Fatih terkejut mendengar suara Fara yang menangis di kamarnya. Anak itu seperti kaget karena tidak menemui sosok Bundanya di kamar.
"Bunda ... Bunda ... Bunda!"
Fatih dengan langkah cepat meninggalkan Ibra untuk berlari menuju kamar. Ia merangkak ke kasur dan memeluk Fara yang menangis. Fara langsung mendekap Bundanya.
"Sst! Anak solehah nya Bunda, ayo tidur lagi, Nak. Bunda di sini." ucap Fatih ikut berbaring disamping sang anak.
Dengan elusan lembut dari tangan Fatih, membuat Fara hening dan kembali memejam kedua matanya. Fara tertidur sambil memeluk Fatih.
"Solehah nya Bunda sama Ayah. Masa nangis terus kalau bangun tidur, Nak. Fara harus jadi anak yang berani, gimana nanti kalau Bunda nggak ada, Nak."
Suara Fatih yang lembut namun terdengar memilukan hati membuat Ibra menangis di ambang pintu kamar. Lelaki itu menatap punggung Fatih yang masih mendekap Fara di sana.
Air mata lelaki itu menetes lagi.
"Empat tahun berpisah denganmu saja membuat hatiku teriris dan terluka cukup lama, bagaimana nanti jika aku kehilanganmu seumur hidup? Apakah aku juga akan mati?" Ibra merintih. Kedua bahunya membuncang ketika ia mencoba untuk menahan isak tangis, agar tidak terdengar oleh Fatih.
Terdengar sekumpulan ayam-ayam tengah berkokok jauh dari halaman belakang rumahnya. Beriringan dengan suara adzan subuh yang sedang berkumandang, serta tangan Fara yang menggeliat di depan wajah Fatih, membuat wanita itu pun terbangun.
Lalu
Deg.
Jantung Fatih seketika mencelos, seperti ingin melompat jauh ke dasar samudera. Ada rasa kaget yang begitu saja datang ketika ia baru mengerjap perlahan kelopak matanya untuk terbuka. Ada hembusan napas dari belakang leher dan sebuah tangan melingkar diatas perutnya.
Sudah dipastikan siapakah kini yang berada dibelakang tubuh ringkihnya. Belum lagi ada tombak yang terasa berdenyut menyentuh bokong Fatih. Ia tahu itu adalah pusat tubuh Ibra yang selalu berkontraksi ketika pagi hari.
"Mas ..." sentak Fatih. Ia mencubit paha Ibra dengan kuku-kuku jarinya yang tajam. Ibra yang masih mengantuk hanya menggeliat pelan dan tertidur kembali.
"Bangun, Mas! Ngapain kamu tidur di sini!" Fatih menjauhkan dirinya sedikit kedepan. Ia tidak mau dirinya bersinggungan dengan milik Ibra yang terus saja berdenyut.
Tidak ada jawaban dari lawan bicaranya, Fatih memutuskan untuk memutar tubuhnya agar bertatapan dengan Ibra. Awalnya ia ingin membangunkan lelaki itu dengan makian, namun niat nya terurungkan. Entah mengapa menatap Ibra dalam posisi tidur. Membuat hati Fatih tenang. Perasaan takut akan meninggal, sepertinya terlupa sejenak dari kepalanya.
"Mas ... Ayo bangun! Sudah subuh, kamu harus shalat dan pulang." ucap Fatih mulai merubah nadanya menjadi lebih lembut. Fatih mulai menggoyangkan lengan Ibra, agar lelaki itu membuka matanya.
__ADS_1
Ibra yang sebenarnya sudah bangun, tetap memilih untuk menutup mata. Ia rindu dengan Fatih, rindu dibelai jika sedang di atas kasur. Ia tahu ini salah, berdua seranjang tanpa ikatan pernikahan. Tapi mau bagaimana lagi, ia sangat rindu Fatih. Rindu cintanya, bahkan cinta ini lebih besar bentuknya dibanding kepada Jihan dulu.
"Astagfirullohaladzim Ya Allah, Bu!" seru Bik Mirna ketika ia membuka pintu kamar majikannya. Menatap kaget ketika melihat Ayahnya Fara ikut tertidur bersama mereka.
Fatih kalang kabut, ia menghentak Ibra agar ikut terbangun. Lelaki itu sebenarnya tahu jika Bik Mirna berseru, namun bisa kah ia menarik lagi Fatih untuk kembali ia dekap?
Fatih bangkit untuk duduk, lalu disusul Ibra yang juga ikut bangkit sambil menguap.
"Bik, jangan salah faham. Ini, itu, em..anuu." Fatih sulit menjelaskan. Ia bingung alasan apa yang harus diceritakan.
"Saya yang memang mau tidur di sini, Bik." ucap Ibra santai. Ia kembali berbaring dan meletakan kepalanya di bantal.
"Ya, Bu, nggak apa-apa. Saya ke dapur dulu." Bik Mirna pun pamit dengan wajah tertohok, mimpi apa dia semalam, pagi-pagi buta ketika datang bekerja langsung disuguhkan adegan Ayahnya Fara sedang tertidur di sana.
"Ah, sakit, sayang " decak Ibra mengeluh, ia mengusap-usap pipinya. Ketika jambang rambutnya ditarik begitu saja oleh Fatih. Fatih yang mendengar sapaan itu pun tertegun, entah mengapa jiwanya seperti melayang-layang penuh kebahagiaan. Fatih masih mencintainya. Dan dalam sekejap, Fatih menepis rasa itu dan mengubahnya.
"Ayo cepat pulang!" sentak Fatih dengan nada marah.
"Masih ngantuk, sayang." Ibra kembali memejam kedua matanya.
"Ya pulang dulu, nanti lanjutin tidurnya dirumah, Mas!"
"Enggak kuat jalan, Fat. Badan aku masih lemes." suara Ibra terdengar parau yang dibuat-buat.
"Terserah kamu aja deh, mau ngapain. Pusing aku ngeladenin kamu!" Fatih kembali menarik jambang Ibra dan lagi-lagi lelaki itu meringis.
Fatih pun bangkit untuk turun dari ranjang, ingin ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sedangkan Ibra beringsut untuk mendekap Fara agar tidur memeluk dadanya. Ibra tersenyum senang sebelum kembali memejam kedua matanya, walau di sisi lain, ia masih merasa sedih dengan penyakit Fatih.
Namun ia juga merasa bahagia, karena dengan penyakit itu, membuat ia mempunyai celah untuk kembali dekat dengan mantan istrinya. Bayangkan saja bagaimana rasa ketersiksaan yang ia rasakan selama bertahun-tahun? Sudah empat tahun ia merindu, merindukan malam seperti ini. Malam dimana ia bisa tidur bersama Fara dan Fatih di ranjang yang sama. Ia berjanji akan membuat Fatih sembuh, dan kembali menikah dengannya.
Sungguh sangat menyayat hati, perjalanan rumah tangga Ibrahim Attar dengan Fatih Medina. Berjuang lah Ibra, selagi Fatih masih mampu untuk bertahan hidup.
"Mas ... Bangun! Ayo shalat subuh!" Fatih berteriak dari luar kamar.
"Eh, iya. Kirain masih tengah malam." Ibra pun melepas pelukan Fara dan beranjak turun untuk menyusul Fatih.
***
Like dan Komennya ya❤️
__ADS_1