
Satu minggu berlalu. Ibu Hanum sudah kembali pulang kerumah lebih dulu dua hari dibandingkan Fatih. Padahal Fatih sudah merasa baikan dari tiga hari yang lalu, tapi Ibra menahan istrinya untuk tetap di Rumah Sakit, sampai keadaannya benar-benar pulih.
Dan selama satu minggu pernikahan mereka, Ibra belum mendapatkan haknya dari Fatih. Ia tetap sabar menunggu sampai istrinya sehat. Padahal setiap malam Fatih selalu menawarkan dirinya. Tapi Ibra tidak tega dengan keadaan fisik Fatih yang masih lemah.
Ibra terlihat sedang mendorong kursi roda yang di duduki Fatih menuju poli Hemodialisa bersama seorang Perawat yang bertugas untuk mengantar mereka. Sebelum Fatih pulang keruamah, ia diminta Dokter untuk menjalani cuci darah lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan, dan Fatih sudah bersedia untuk melakukan cuci darah lagi dan menjalani setiap rangkaian proses pemeriksaan sebelum ia benar-benar menjalani proses cuci darah.
Setiap malam Ibra akan bangun untuk menunaikan shalat malam. Ia berdoa sambil menangis, menengadahkan kedua tangannya untuk mendoakan kesembuhan sang istri. Ia yakin dengan doa dan usaha, Fatih pasti akan sembuh.
"Tunggu sebentar ya, Bu, Pak." Perawat meminta mereka untuk menunggu dulu di ruang transit sebelum masuk ke ruang Hemodialisa.
Seketika itu pula Ibra sedikit menjengit kaget, ia menatap para pasien yang sedang terbaring diranjang dengan darah mereka yang mengalir di sebuah selang untuk dimasukan ke dalam tabung pencucian disebuah pintu kaca transparan.
Ada yang meringis sakit, ada yang sedang muntah dan ada yang biasa saja. Efek samping tergantung dari setiap kondisi pasien masing-masing.
Ibra mengelus bahu istrinya. "Sabar ya, Bun. Ada Ayah ..."
Fatih mendongak menatap wajah suaminya, ia tersenyum dan mengangguk.
"Silahkan, Bu." Perawat kembali dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam ruangan Hemodialisa. Diarahkannya Fatih untuk berbaring diranjang paling pojok. Ibra mengangkat tubuh Fatih dari kursi roda untuk dibaringkan ke ranjang pasien, dan setelah itu Perawat mulai menyiapkan perlengkapan yang akan dipakai oleh Fatih.
Wajah pucat itu terus meringis ketika beberapa jarum sudah menancap di pembuluh darahnya. Satu jarum untuk mengalirkan darah ke tabung, dan satu jarum lagi untuk mengembalikan darah dari mesin menuju tubuh. Proses pencucian darah berkisar dalam kurun waktu 2,5 - 4,5 jam.
Dan
Byrrr
Kedua mata Ibra melotot, ketika aliran darah merah pekat mengalir deras dari tubuh Fatih didalam sebuah selang yang akan bermuara disebuah mesin untuk di cuci.
"Kalau mau muntah, sudah ada plastik di sini ya Bu..." perawat terus menginstruksi kepada Fatih dan juga Ibra, tentang efek-efek apa yang akan dirasakan oleh tubuh itu.
Perawat pun akhirnya berlalu setelah Fatih dan Ibra menganggukan kepalanya. Ibra menarik kursi untuk duduk disebelah ranjang Fatih, menatap mesin yang sedang mengumpulkan darah istrinya di sana.
"Cuci darah itu seperti obat, jadi seseorang dengan ginjal ginjal, ibaratnya seperti knalpot yang mesinnya rusak. Bahan berbahaya nggak bisa keluar, karena itu mengeluarkannya harus dengan cara cuci darah, Mas."
Ibra mengangguk-angguk sambil terus menggenggam tangan istrinya. Ia menatap selang panjang yang menempel di tangan Fatih.
"Prosesnya lama, Yah. Sebaiknya Bunda ditinggal saja, Bunda bisa sendirian di sini. Ayah berangkat ke kantor aja." pinta istrinya.
Ibra menggelengkan kepala. Walau Tomi sudah berkali-kali menghubunginya, mengingatkan Ibra untuk masuk dulu ke kantor, karena ada beberapa rapat dengan para klien penting, dan terpaksa Ibra absen, meminta Tomi yang menggantikan dirinya.
"Ayah akan tetap di sini, temenin Bunda!"
Baru saja berjalan setengah jam, terlihat tubuh Fatih sudah bereaksi. Wanita itu menggigil. Ibra dengan sigap menyelimuti istrinya.
"Sabar, Bunda. Sabar." bisik Ibra terus menguatkan istrinya. Fatih mengangguk dengan bibir bergetar.
__ADS_1
"Andaikan keadaan bisa dibalik, aku rela jika harus menggantikan posisimu di ranjang ini." suara hati Ibra menangis.
Sebisanya Ibra menenangkan Fatih, mulai mengusap-usap dengan lembut, menciumnya. Memijat beberapa bagian tubuhnya, menawarkan makan, minum, apapun yang sekiranya membuat istrinya nyaman akan ia lakukan, dan Fatih hanya menggelengkan kepala dan konsentrasi untuk menahan rasa sakit yang mulai datang menerpa tubuhnya.
"Mas ... Sakit." desahnya parau.
"Iya sayangku, sabar ya." Ibra mengecup kening Fatih yang terasa amat dingin.
Tidak tega melihat Fatih seperti ini, Ia pun mulai menghampiri perawat untuk mengadukan apa yang dirasakan Fatih, namun perawat hanya bisa menjelaskan bahwa itu efek itu akan menghilang setelah proses cuci darah selesai. Ibra hanya bisa menghela napas panjang, menatap sedih Fatih yang masih meringkuk karena kedinginan.
"Semoga saja perjuanganmu untuk menyembuhkan ku, tidak akan sia-sia, Mas." lirih Fatih yang masih menatap Ibra sedang berbicara dengan salah satu Perawat yang sedang ada di mejanya.
****
Setelah selesai menjalani terapi cuci darah. Ibra memboyong Fatih untuk pulang dulu kerumah. Ibra sudah meminta tolong Kak Intan untuk mengantarkan Fara ke rumahnya.
Fatih masih melongo tidak percaya, kedua matanya dibiarkan terbuka tanpa kedipan sama sekali. Ia kaget bukan main, menatap rumah megah dengan dua lantai. Terlihat taman yang cukup asri dan terawat, banyak bunga-bunga kesukaan Fatih di sana. Ia sangat tahu Ibra pecinta tanaman. Taman indah itu, pasti Ibra sendiri yang mengurusnya.
"Ini rumah kamu, Mas?" tanyanya.
"Lebih tepatnya, rumah untuk kamu dan Fara." jawab Ibra.
"Apa ini tidak kebesaran, Mas?"
"Oh, Tuan sudah pulang toh, ini ..." Ibu Dasih, art dirumah Ibra. Ia terlihat keluar dari dalam rumah dengan celemek di dadanya. Memutar bola matanya untuk menerka wanita yang tengah berdiri disamping majikannya.
"Ini, Nyonya Fatih ya?" tebaknya dengan cepat.
"Iya, Bu. Kok tau?" jawab Fatih sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman. Karena Ibu Dasih sudah berumur, maka Fatih harus menghormatinya.
"Kan fotonya Nyonya, banyak dipajang di dinding rumah." jawab Ibu Dasih jujur.
"Oh, masa?" wajah Fatih seketika berbinar, lalu ia menatap Ibra dengan air mata yang sudah menggenang.
Ibra merekatkan tangannya di bahu sang istri. "Kamu baik sekali, Mas. Padahal aku sudah jahat sama kamu ..." lirihnya.
Tentu ucapan itu membuat Ibu Dasih menautkan alisnya. Wanita paru baya itu merasa aneh.
"Setiap hari juga kalau di meja makan, ngomonginnya tentang Bundanya Fara terus. Bilangnya kangen, tapi Nyonya sibuk terus ya di Banten?" Ibu Dasih menyerobot ucapan majikannya. Entah wanita ini merasa bahagia melihat Fatih akhirnya datang.
Fatih kembali menoleh menatap Ibu Dasih, ia seraya menangkap sesuatu yang janggal dari wanita paru bayah itu.
"Jadi Bu Dasih, enggak tau kalau saya dan Mas Ibra itu sebenarnya sudah---"
"Nanti lagi bicaranya ya, kamu istirahat dulu di kamar." Ibra menyelak ucapan Fatih. Lalu ia menoleh ke arah Bu Dasih. "Makanan sudah matang, Bu?"
__ADS_1
"Bentar lagi Tuan, kalau sudah matang semua. Akan Ibu kasih tau ya ke kamar."
"Baik, Bu. Makasih ya." ucap Ibra dan Fatih. Mereka pun melangkah masuk kedalam.
"Mas, kenapa?" bisiknya.
"Selama dua tahun Bu Dasih bekerja disini, ia tidak tahu kalau sejatinya Ayah itu sudah duda, Bun. Ia tidak tau kalau kita sudah bercerai." jawab Ibra.
"Jahat kamu bohongin orang, Mas." Fatih tertawa.
Ibra pun ikut tertawa.
Lagi dan lagi wajah Fatih tercengang. Menatap rumah Ibra yang begitu elegan. Masih ada beberapa barang yang pernah dibeli Fatih dulu di rumah lama, dan Ibra membawanya kembali ke rumah ini.
Baru ia melangkah di pertengahan anak tangga, langkah kakinya terhenti. Ia menatap sebuah figura foto di dinding. Foto pernikahan pertamanya dengan Ibra, beberapa tahun silam. Foto dengan senyum seadanya dari mereka berdua. Sama-sama baru mengenal karena dijodohkan, lalu menikah.
"Mungkin foto ini, akan diganti dengan foto pernikahan kedua kita, setelah selesai resepsi." Ibra tersenyum melihat istrinya mengusap-usap foto pernikahan mereka yang masih terawat dengan baik.
"Resepsi, Mas?" tanya Fatih menoleh.
"Untuk apa, Mas? Kan kita juga sudah menikah. Buang-buang uang aja." sambung Fatih lagi.
"Tapi kan dari pernikahan pertama sampai kedua, kita belum melakukan resepsi sayang. Aku ingin buat kamu jadi ratu sehari, seperti Jihan dulu."
Fatih menatap legam bola mata Ibra, ada kesungguhan cinta di sana.
"Kamu wanita berharga, sudah sepantasnya aku membuatmu bangga."
Samar-samar sudut bibir Fatih terangkat sempurna, ia tersenyum menatap suaminya. Mereka pun saling bertatap dalam cinta. Ibra yang melihat Fatih sudah sedikit segar serta wajah yang kembali merona. Tanpa menunggu lama, ia membenamkan bibirnya di bibir istrinya. Mereka kembali saling menyesap rasa bibir masing-masing di pertengahan anak tangga.
Fatih sudah memejam mata dan sedikit membuka bibirnya sebagai kode kalau Ibra boleh melanjutkan permainan bibir itu dengan adegan yang lebih menuntut. Ibra mengalungkan kedua tangan Fatih di lehernya, terus menyesap rasa manis bibir dan lidah sang istri didalam rongga mulutnya.
Mereka sangat merindu. Tidak perduli jika Bu Dasih yang masih repot di dapur akan melihat mereka seperti ini. Kedua tangan Ibra terus saja bergerak lembut, mengusap-usap punggung istrinya. Lelaki itu menikmati balasan gigitan lembut dari Fatih di bibirnya.
Hasrat sudah sama-sama mendidih, mengalir sampai ke dasar otak tertinggi. Dengan cepat Ibra melepas perpagutan itu dan menggendong istrinya dengan ala bridal style. Fatih tidak meronta sama sekali, malah ia kembali mengecup Ibra, membuat keduanya kembali terbakar dalam gelora asmara.
Mereka terus melangkah menuju kamar pengantin, yang sudah telat untuk di jamahi.
*****
Hahahaha, yang lagi pada tegang aku skip, hayo ngacung??? wkwkwkw.
Nanti malam lagi yaa, Insya Allah kalau aku nggak sibuk, aku akan kasih satu episode lagi. Udah tau kan harus ngapain, kalau aku mau kasih satu episode lagi? makanya jangan pelit sama aku ya, like dan komennya banyakin.
Maaciww guys❤️🤗
__ADS_1