
Haii selamat siang
Maaf telah lama membuat kalian menunggu
Salam rindu dari Fatih dan Ibra
Selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sabtu pagi yang cerah dan menghangatkan jiwa. Merupakan hari libur Ibra dan Fatih. Tidak terasa kandungan Fatih sudah memasuki usia lima bulan. Perutnya sudah mulai terlihat. Kehamilan saat ini adalah sebuah keberuntungan baginya, karena bisa mengandung tanpa tekanan. Kesehatan jiwa Fatih dan Ibra pun brangsur membaik. Mereka tetap kontrol ke Dokter dan dosis obat pun sudah mulai diturunkan. Rasa percaya diri mereka kembali naik.
Tuk.
Fatih meletakkan sebuah nampan berisi air teh manis dan beberapa gorengan yang ia buat sendiri di meja depan halaman rumah.
"Mas..." Panggil Fatih. Membuat Ibra yang sedang sibuk menyirami tanaman pun menoleh.
"Iya sayang, simpan saja disana." Jawab Ibra. Ia kembali sibuk dengan beberapa tanaman kesukaannya.
Setiap minggu jika tidak ada acara berpergian, Ibra akan sibuk dihalaman, untuk bercocok tanam. Menggunting daun-daun yang kering. Lelaki itu sangat mencintai lingkungan.
Fatih kembali ke dalam rumah untuk mengambil kotak tenun nya. Ia menenun switter untuk bayi perempuan yang sepakat mereka berikan nama dengan sebutan Fara. Beruntunglah Ibra bisa merasakan mempunyai anak perempuan, mengingat sebelumnya ia hanya mendapatkan dua anak laki-laki dari Jihan.
__ADS_1
Melihat istrinya sedang duduk dan menenun, Ibra pun menyudahi aktivitasnya di halaman. Mencuci tangannya dan kembali melangkah menuju istrinya. Namun sebelum langkah itu sampai, ia lebih dulu menoleh ketika ada suara yang memanggil dari pintu gerbang.
"Udah aku aja yang kesana." Ucap Ibra kepada Fatih yang mau bangkit berdiri untuk menghampiri orang yang terus mengucapkan salam dari luar gerbang.
"Assalammualaikum, Pak. Maaf apa benar ini rumahnya Ibu Fatih?"
"Waalaikumsallam, iya betul. Ada apa ya?"
"Ini ada paket untuk Ibu Fatih, Pak." Petugas pengirim paket menyodorkan sebuah godie bag yang tertutup rapat.
"Tanda tangan disini ya, Pak."
Ibra pun mengikuti perintah si petugas pengirim paket.
"Baik Pak, terima kasih."
Ibra mengangguk dan membiarkan lelaki itu pergi berlalu. Kedua matanya pun mengerjap. "Duh lupa nanya nama pengirimnya siapa." Ibra terus membolak-balik kan godie bag untuk mencari siapakah pengirimnya.
"Gak ada nama pengirimnya, aneh nih." Kening Ibra berkerut-kerut.
Ia masih memegangi godie bag untuk istrinya yang entah dari mana dan siapa. Ia menghela nafasnya sebelum akhirnya kembali melangkah.
"Siapa tadi Mas?" Tanya Fatih tidak sabar. "Lalu itu?" Matanya terus menatap godie bag yang tengah digenggam oleh suaminya.
"Kata tukang pos tadi, ini kado buat kamu katanya. Apa kamu pesan barang online?" Tanya Ibra sambil menyerahkan godie bag tersebut.
Fatih menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku mana pernah beli barang online, terus dari siapa ya?" Ia semakin penasaran untuk cepat membuka kado tersebut.
"Wah baju, Mas.." Fatih mengeluarkan sebuah baju berwarna pink dan kuning.
"Baju hamil, duh warnanya kesukaan aku semua nih." Ucapnya senang. Beda hal dengan Ibra, lelaki itu terlihat menukik kan alis matanya, ia masih menerka-nerka siapa pengirim baju ini.
"Mas ada kertas pengirim nya.." Fatih mengambil kertas itu yang diletakkan dibawah baju tersebut.
Sehat selalu ya Fatih dan calon bayi. Fahmi.
"Fahmi, Mas. Yang mengirimnya.." Ucap Fatih pelan.
Ibra mengangguk dan hanya membiarkannya saja. Ia pun kembali duduk disebelah Fatih dan meminum air tehnya.
"Mas?"
__ADS_1
"Hemm, ya.." Jawab Ibra sambil memasukan gorengan kedalam mulutnya.
Fatih menatap wajah suaminya dalam-dalam. "Kamu marah ya, Mas?"
Ibra tertawa kecil. "Kok marah, marah untuk apa memang?
"Untuk ini!" Fatih menepuk baju yang tengah ia pegang.
Ibra hanya tersenyum. "Kamu nya suka gak sama baju itu?"
"Suka sih, lumayan bagus."
"Ya udah, aku juga suka!"
"Hemm??" Kini Fatih yang berlagak keberatan. "Kok kamu gak cemburu, Mas? Ini Fahmi loh yang kirim, mantan suami aku, gak apa-apa, Mas??" Tanya nya lagi untuk memastikan perasaan suaminya.
"Kalau ditanya cemburu, ya aku sih cemburu. Tapi kan pemberian itu suatu rezeki yang gak bisa di tolak. Semoga aja memang niat dia baik, gak ada unsur apapun."
Begitu bijaksananya Ibrahim. Walau ia pernah direndahkan dan diancam oleh Fahmi. Ia tetap menghargai lelaki itu dengan sangat baik.
"Untuk menjaga perasan kamu, baju ini akan aku berikan kepada ibu hamil yang lain. Aku gak mungkin kan pakai baju pemberian dari pria lain---" Gumam Fatih. "Fahmi pun pasti akan mengerti maksud aku!"
"Mas coba deh pegang perut aku, lihat nih Fara lagi nendang-nendang..."
Ibra pun menurunkan kepalanya untuk didekatkan ke perut istrinya.
"Fat, aku bisa dengar detakkannya dari dalam." Ia mendongakkan wajahnya ke arah istrinya lagi. Fatih tersenyum dan mengelus punggung Ibra.
"Assalammualaikum Fara, ini Ayah, Nak..."
"Waallaikumsallam, Ayah.." Fatih menjawab dan mewakili sang anak.
"Sehat terus ya Fara, Ayah dan Bunda gak sabar ingin ketemu kamu, Nak." Ucap Ibra sambil mengelus-elus dan mencium perut Fatih.
"Iya Ayah, Fara juga rindu ingin melihat Ayah dan Bunda!" Fatih menjawabnya lagi. Membuat Ibra tertawa dan menegap kan dirinya kembali, ia mencium pipi dan bibir istrinya.
"Makasih ya Bunda, udah mau jaga Fara untuk Ayah."
Begitu membahagiakan suasana rumah tangga Ibra dan Fatih. Bebas dari kekerasan, keributan dan kebisingan. Yang ada hanyalah kelembutan, kehangatan dan rasa aman. Fatih dan Ibra terus belajar untuk bisa memahami, saling jujur, terbuka dalam segala kondisi apapun. Tentu masalah rumah tangga yang pernah mereka alami dulu, sudah cukup memberikan pelajaran berharga.
Namun sepertinya kebahagiaan Ibra dan Fatih kali ini sangat membuat geram dua orang yang tengah menatap mereka dari jauh.
"Shit !" Salah satu dari mereka berdecak kesal. Entah apa yang akan mereka perbuat terhadap Fatih dan juga Ibra.
__ADS_1
*****