Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Dua Ancaman Sekaligus


__ADS_3

Selamat baca ya guyss


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


Terlihat pemandangan lucu tengah hadir di meja makan. Papa Faris dan Mama Tari dipaksa bangun oleh anak dan menantunya untuk menemani mereka makan bubur dini hari. Lebih tepatnya menemani sang menantu yang tengah mengidam.


Sambil menarik kursi dan mendudukinya, Papa Faris terlihat masih mengantuk dan menguap.


"Ini kita mau sahur apa gimana?" Tanya Papa Faris sambil tertawa kecil. Ia tertegun melihat empat buah bubur ayam dengan kompilasi lengkap bertahta disetiap mangkuk.


"Nggak apa-apa, mau sahur tiap hari juga. Buat cucu mah gak masalah, Pah---" Mama Tari berucap senang. Ia ingin memberikan rasa bahagia kepada putrinya.


"Bingung sih ya kalau cowok yang ngidam, bisa aneh begini keinginannya. Pagi-pagi buta udah sahur bubur ayam...." Papa Faris kembali membuat mereka tertawa.


Entah mengapa anak yang tengah dikandung putrinya senang sekali membuat semua orang terperanjat dan susah.


Hahahahaha.


Walau dengan mata yang masih sedikit mengantuk, kedua orang tua itu terus berusaha melahap habis bubur ayam mereka. Namun berbeda hal dengan Ibra, lelaki itu terus menatap besannya dengan wajah gembira. Ia tidak memakan makanannya, karena ia sudah tidak mau dengan bubur ayam tersebut.


"Tuh kan Mas, buburnya nggak dimakan lagi!" Fatih berdecak sebal. Mengingat bagaimana perjuangan mereka ketika mengelilingi jalanan yang masih gelap dan berhawa dingin untuk mendapatkan semua bubur-bubur ayam itu.


"Nggak kepengen lagi sayang, gak apa-apa lah. Kan ada Papa ini yang bisa habiskan punya ku, ya kan Pah?" Ibra beralih menatap Papa mertuanya yang masih mengunyah bubur tersebut lalu tersedak. Sontak membuat Mama Tari kaget.

__ADS_1


"Makanya makan tuh dikunyah dong Pah, langsung ditelan aja sih---emang Papa tuh bayi apa??" Ucap Mama Tari sambil menyodorkan air minum ke arah mulut suaminya.


Perasaan dulu Tari ngidam gak gini-gini amat ya? Ya mungkin cobaannya gini dulu kali karena mau jadi Opa.


Batin Papa Faris terus menggema. Ia tidak menyangka ke ngidaman anak-anaknya akan bermuara dan berimbas kepadanya.


"Besok tengah malam kamu ingin apa lagi, Nak?" Papa Faris meledek Ibra.


"Papa..." Mama Tari mendelikan mata nya. Lalu mengubah wajah galaknya menjadi lembut ketika menatap Ibra.


"Nggak apa-apa Nak, Ibra sama Fatih kalau lagi ingin apapun. Mama sama Papa siap kok. Yang penting cucu nggak ileran----Iya kan Pah??" Mama Tari menyenggol sikut suaminya seraya perintah untuk mengiyakan ucapannya.


"Oh iya dong, demi cucu apa si yang enggak..." Jawab Papa Faris dengan senyuman tipis yang dipaksakan karena takut diamuk oleh istrinya.


"Asal makanan yang dimakan masih makanan manusia aja." Sambung Papa Faris. Membuat Ibra dan Fatih kembali tertawa.


"Coba Bra sekali-kali kamu ngidam makan jangkrik, biar aja Papamu nih yang suruh makan. Biar terkuras tuh isi usus dan perutnya. Biar nggak kayak gini lagi perutnya..." Mama Tari menunjuk perut Papa Faris yang terlihat buncit.


"Perut buncit pada lelaki itu menandakan bahwa istrinya mampu membuat suaminya bahagia. Kaya kamu sayang..." Papa Faris kembali mengusap punggung istrinya. Membuat wajah istrinya memerah karena menahan malu.


"Ampun deh Mas, lihat deh Mama sama Papaku---Nggak kenal umur, hahahaa." Fatih mengajak suaminya untuk tertawa.


Sungguh pemandangan antara orang tua dan anak yang begitu bahagia.


****


Siang kembali datang menerpa, jika biasanya ia membawa panas menyengat namun hari ini berbeda. Siang kali ini terasa sangat sejuk di taman belakang rumah mereka. Terlihat Fatih masih bergeliat manja dilengan sang Papa, mereka bersama-sama membaca majalah kesukaan mereka di bangku taman. Lain hal dengan Mama Tari dan Ibra yang terduduk dibangku lain tengah asik melihati kemesraan Bapak dan Anak itu.


"Bra..." Panggilan Mama Tari membuat Ibra seketika menoleh.


"Ini..ayo makan!" Mama Tari memberikan potongan mangga yang baru saja ia kupas kepada Ibra. Ibra meraih dan langsung melahapnya.


"Oh iya Bra. Kamu tau soal Fahmi? Mantan suaminya Fatih?"


"Iya Mah, Ibra tau dan pernah bertemu."


Mama Tari menatap kedua bola mata menantunya dalam-dalam.


"Serius, Nak? Kapan?" Tanya nya menyelidik.

__ADS_1


Ibra menghela nafasnya panjang. Tentu jika membahas tentang Fahmi kembali. Hatinya belum sempurna sembuh.


"Waktu di Bali, Mah. Kebetulan Ibra lagi ada proyek disana." Ada jeda sedikit ketika Ibra menelan air minum untuk mendorong potongan mangga itu kedalam kerongkongannya.


"Ternyata pemegang saham terbesar di kantor Ibra, Fahmi yang punya. Lalu ia mengancam akan---"


"Mengancam??" Selak Mama Tari cepat.


Ibra mengangguk dan akhirnya kembali menjelaskan.


"Dia bilang Ibra harus lepasin Fatih, Mah. Kalau enggak---"


Lagi dan lagi Mama Tari memotong pembicaraan Ibra. "Kalau enggak, kenapa?" Tanyanya cemas.


"Ia akan buat Ibra kehilangan karir di kantor!"


"Hhh..." Nafas kasar terhembus kan begitu saja dari bibir Mama Tari.


"Oh pantas! Benarkan dugaan Mama, kalau waktu itu si Bima. Om nya si Fahmi, menyuruh Fatih untuk kembali sama keponakannya. Ia memelas dan memohon kepada istri kamu. Dan sempat mengancam untuk mencabut beberapa saham dari perusahaan kita."


Deg.


Jantung Ibra kembali bergemuruh. Entah mengapa penjelasan pahit itu tidak ia dengar langsung dari bibir istrinya. Fatih menyembunyikan ini semua darinya. Terlebih lagi selama ini ia membiarkan Fatih untuk melawan sendiri ancaman tersebut. Sungguh Fahmi membuat ia geram dan murka.


"Tapi kamu tenang aja ya, Bra. Mama dan Papa akan selalu dukung kamu. Yang penting kamu bisa selalu buat bahagia anak Mama.."


"Apapun yang terjadi jangan dipendam sendiri. Bicarakan sama Mama dan Papa. Biar kami bisa membantu kalian!"


"Dan ingat satu hal pesan Mama. Ini memang sedikit ancaman untuk Ibra, Mama nggak akan segan-segan pisahkan kalian. Kalau Ibra mendatangkan wanita lain di kehidupan rumah tanggamu bersama Fatih! Mama nggak akan tinggal diam, Mama akan melakukan hal yang sama. Seperti Mama berhasil memisahkan Fatih dari Fahmi! Mengerti kan, Nak?"


Ibra mengangguk samar dan menarik sudut bibirnya keatas untuk memberikan senyuman tipis.


"Iya Mah, Ibra faham. Sebisa mungkin aku akan menjaga kepercayaan Mama..."


Entah lah hari ini Ibra seperti mendapatkan dua ledakan bom atom secara bersamaan. Masalah Fahmi yang mengancam Fatih dan ancaman dari ibu mertuanya. Walaupun memang Ibra tidak berselingkuh dan ia tidak harus takut dengan ancaman itu.


Namun entah mengapa, perkara soal Niken kembali membelenggunya. Ia takut Mama Tari akan marah jika mengetahui tentang jati diri Niken yang sebenarnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2