Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Masih Butuh Kamu!


__ADS_3

"Jika anda benar suaminya, mengapa tidak tahu riwayat penyakit istri anda selama satu tahun terakhir?"


Ibra tergelak. Pertanyaan Dokter begitu mengiris kalbunya.


"Kalau saja saya lebih memaksa kamu agar kita bisa kembali, mungkin kamu tidak akan sakit sampai separah ini." Ibra menangis dalam batinnya.


Ibra terdiam lama, ia hanya bisa melamun sambil menatap berkas rekam medik Fatih di meja. Melihat Ibra tidak menjawab, membuat Dokter menjadi tidak enak hati.


"Maaf ya, Pak. Kalau pertanyaan saya terlalu pribadi."


Ibra tersenyum. "Iya, Dok. Tidak apa-apa."


Dokter mengangguk dan kembali menjelaskan langkah apa yang selanjutnya harus Fatih ambil untuk terapinya. Ibra kembali mendengarkan, apapun ia tanyakan sampai ke hal terpahitnya.


"Baik, Dok. Saya akan membawanya ke Rumah Sakit yang lebih lengkap." jawab Ibra, lalu menoleh ke arah Fatih yang masih berbaring di ranjang.


Manik mata mereka pun bertemu. Sekat sepertinya sudah terputus kini yang keluar hanya kerinduan. Samar-samar Ibra memberikan senyumnya, namun Fatih menolak untuk menerimanya. Ia lebih memilih untuk menoleh ke arah yang lain.


Sakit? Sudah pasti! Tapi Ibra sudah berjanji akan berjuang mulai sekarang untuk mendapatkan Fatih kembali.


****


"Bunda ..." Fara mencoba memeluk Bundanya yang masih berbaring. Anak itu terlihat berjinjit, karena tinggi nya belum sampai melewati ranjang. Ibra membantu Fara untuk naik ke tepi, untuk memeluk Bundanya.


Air mata Fatih menetes ketika mengusap rambut Fara. Ibra memandang sendu Fatih, wanita itu terlihat lebih kurus, pucat dan tidak begitu segar. Senyumnya menghilang, selalu diganti dengan tangisan. Sudah ditinggal orang tua, suami dan kini harus pula merasakan sakit. Tapi ia harus tegar dan sabar, ada Fara yang masih membutuhkan tenaganya sampai ajal menjemput dirinya.


"Mau kemana, Fat?" tanya Ibra bersiap memapah tubuh Fatih yang ingin beranjak turun dari ranjang.


"Mau pulang, Mas." jawabnya dingin tanpa mau menatap Ibra lagi.


"Kata Dokter kamu harus rawat inap, Fat. Kondisi kamu sangat---"


"Sangat buruk, maksud kamu?" potong Fatih, nadanya masih datar tidak ada kehangatan sama sekali yang tercurah dibalik nadanya.


"Bukan kah kamu senang, Mas? Kalau aku cepat mati?" jawab Fatih menatap lurus hordeng yang menjadi sekat antara ranjangnya dengan ranjang pasien yang lain di ruang UGD.


Ibra yang masih berdiri disebelahnya langsung tercengang, menatap lurus wajah Fatih yang tertutup oleh helaian rambut.

__ADS_1


"Buang prasangka buruk kamu, Fat. Aku masih seperti dulu! Masih menginginkan kamu kembali!" suara Ibra terdengar seperti orang yang sedang tertekan.


"Harusnya kamu senang, Mas. Jika aku nggak ada, maka hak asuh Fara dengan leluasa bisa kamu ambil sepenuhnya!" Fatih mendongak menatap bola mata Ibra lebih dalam.


Ibra tetap sama seperti dulu, ia hanya bisa memberikan tatapan teduh yang dapat menyihir hati Fatih. Seketika Fatih membuang tatapannya ke sembarang arah lagi. Ia tidak mau terpancing dengan kebaikan Ibra.


"Fat, demi Tuhan ... Fikiran ku tidak sejahat itu!" Ibra mulai memegang lengan Fatih agar mau kembali menoleh ke arahnya.


Namun wanita itu memutuskan untuk melepas selang infus dan mencuatkan beberapa tetesan darah yang mengalir ke bawah. Fatih pun meringis karena rasanya sangat perih. Ia hanya ingin pulang kerumah sekarang.


"Fat, jangan!" Ibra meraih tangan Fatih yang masih mengalirkan darah.


"Bunda ..." seru Fara, anak itu terlihat takut ketika melihat darah mengalir dari punggung tangan sang Bunda.


"Lepasin, Mas!" Fatih menepis tangan Ibra untuk menjauh.


Kemudian Fatih meraih Fara untuk masuk kedalam gendongannya. Membawa anak itu pergi dan melangkah mendahului Ibra. Ia memaksa untuk pulang dari UGD sekarang juga kepada Suster dan Dokter Jaga. Dengan berat hati mereka pun mengizinkan. Berkali-kali Ibra memaksa agar Fatih di rawat, namun wanita itu menolak. Fatih malu, jika ia harus jujur kalau saat ini ia tidak mempunyai uang yang cukup untuk membayar biaya pengobatan serta perawatan, kalau ia mengiyakan untuk menginap di sini.


Setelah mendapatkan izin kepulangan, Fatih di minta untuk menyelesaikan administrasi dulu di kasir. Wanita itu terus berjalan membawa Fara, dan Ibra tetap bersikeras mengikutinya walau Fara sudah sejak tadi mengusir Ibra untuk pulang.


"Lebih baik kamu pulang, Mas!" Fatih menghentikan langkahnya sebelum ia sampai di loket administrasi.


"Mau apa sih, Mas? Antara kita itu udah selesai! Kamu hanya boleh tau tentang Fara, tapi tidak denganku!" Ibra hanya menatap wajah Fatih yang semakin pucat.


Ingin sekali menyeka keringat yang sedang berkumpul dikening wanita itu seperti dulu, namun sekarang sudah tidak mungkin lagi untuk dilakukan.


"Tapi kamu sakit, Fat..." Ibra kembali lirih, dadanya begitu sakit melihat Fatih dalam keadaan lunglai seperti ini.


"Dan kamu menyukainya, kan?"


"Ya Allah, kenapa kamu selalu berprasangka buruk sama aku, Fat? Apa nggak cukup penyiksaan yang aku terima selama ini?"


Fatih hanya menarik napasnya pelan dan ia bungkam. Fatih memilih kembali melanjutkan langkahnya untuk menyudahi perbincangan yang akan memunculkan keributan diantara mereka.


Sesampainya di depan loket pembayaran, wajah Fatih terasa tegang. Ia seperti meraba-raba kantung piyamanya. Dan bodohnya ia baru teringat kalau saat ini ia tidak membawa uang sepeserpun.


"Sudah, Fat. Biar aku saja yang bayar." ucap Ibra. Tidak ada sanggahan dari Fatih, karena memang wanita itu tidak bisa melakukan apapun, selain menerima paksa bantuan dari mantan suaminya.

__ADS_1


Selama ini uang yang dikirim oleh Ibra hanya ia pergunakan untuk keperluan Fara, dan sisa dari uang kiriman itu ia masukan kedalam tabungan Fara. Fatih tidak pernah mengambil sepeser uang pun dari sana untuk kehidupan pribadinya. Ia hanya bersandar dengan laba usaha perkebunan yang sekarang keuntungannya sedang menurun.


"Ny. Fatih Attar ya, Pak?"


Fatih semakin malu ketika petugas administrasi mencoba mengulang namanya kepada Ibra. Terlihat raut wajah Ibra begitu saja bersinar akan angin bahagia. Ia tahu pasti, wanita keras kepala itu pasti masih sangat mencintainya.


Fatih memilih duduk di kursi tunggu sambil terus menggendong Fara yang selalu bergeliat ingin turun dari dekapannya. Ia pun membiarkan Fara untuk berlari-larian disekitar lorong yang lumayan agak sepi. Wanita itu meneteskan air matanya lagi. Sedikit terisak dengan iringan bahu yang membuncang.


Seketika Fatih terdiam ketika menatap sehelai tissue berada dihadapannya sekarang. Fatih mendongak, menatap wajah Ibra yang sedang berdiri menatapnya balik. Air muka di wajah Fatih sudah penuh. Ia pun dengan terpaksa meraih tissue itu, dan Ibra dengan sukarela melepasnya. Ibra terlihat mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Fatih.


"Apa kamu mau minum, Fat?" tanya Ibra.


Fatih menggeleng sembari menjepit dua lubang hidungnya yang masih mengeluarkan cairan bening yang ia sapu kan didalam tissue.


"Jangan nangis, Fat. Kamu pasti sembuh!" Ibra terus memberi semangat.


Fatih menggelengkan kepalanya. Lalu ia meremas tissue itu dan mengepal nya. Ia kembali memberanikan diri untuk menatap Ibrahim.


"Mas?" panggilnya dengan tatapan layu, kini air matanya terlihat sudah mulai menyurut.


"Iya, Fat." jawab Ibra antusias. Mendengar nada suara Fatih sudah mulai hangat, membuat Ibra bergetar, ia seperti ingin langsung memeluk Fatih sekarang juga.


"Jika aku nggak ada, tolong jaga Fara dengan sebaik mungkin, Mas. Kalau kamu mau pilih Ibu sambung buat dia, tolong cari yang budi pekertinya baik, semoga putriku dapat di rawat dan di didik dengan baik pula." ucap Fatih pasrah, seakan ia sudah berfirasat dengan kepergiannya.


Deg.


Seketika jantung, paru, hati dan semua organ yang ada didalam tubuh Ibra seperti mendadak terhenti. Tulang belulangnya seakan melemah, ketika mendengar wanita yang amat ia cintai berucap, seolah-olah kematiannya sudah dekat.


"Bunda ..." seru Fara, ketika anak itu menghempaskan dirinya dipangkuan sang Bunda. Fatih hanya bisa mengelus sang anak yang tengah memeluk perutnya. Mencium pucuk rambut ikal milik Fara dengan tetesan air matanya.


"Jangan lari-lari, Nak. Nanti Fara capek." ucap Fatih begitu lembut kepada Fara. Ibra yang menatap mereka hanya bisa menahan sesak dalam luka lara yang belum berkesudahan. Ia masih tidak terima, jika Fatih harus meninggalkan dirinya lagi.


"Sudah cukup empat tahun kamu pergi menjauh dari ku, Fat! Tapi mulai detik ini, tidak akan aku biarkan kamu pergi lagi! Tidak akan lagi!" Batin Ibra menggema, tangannya mengepal seraya memulai janji kepada dirinya sendiri. Bahwa dengan tekad yang bulat, dirinya akan membawa Fatih kedalam kesembuhan.


"Kamu harus tetap hidup, Fat. Aku dan Fara, masih butuh kamu!"


****

__ADS_1


Pengen nangis, ah.💔


__ADS_2