Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Kalau aku rindu, bagaimana?


__ADS_3

"England adalah salah satu anak perusahaan milik Fahmi. Dan kamu dengan gampangnya menyerahkan saham kita kepadanya!"


Jag.


Ibra seperti ingin mati saja sekarang. Dengusan napasnya mulai mengalir kasar. Ia menatap wajah istrinya dengan genangan air mata kekalahan.


"Ya Allah, kok bisa ..." desahnya pelan. Lelaki tampan ini menundukkan kepalanya kebawah, dadanya terasa sesak dan berat. Ia pun mendongak dengan air mata yang sudah menetes, menatap istrinya yang juga masih menangis.


"Aku bingung sekarang, Mas." ucap Fatih menatap ke arah lain.


"Percaya sama aku sayang, aku enggak tau kalau England itu milik dia. Ayah teledor, Bun." Ibra menggenggam tangan istrinya, namun dengan cepat Fatih menariknya. Ia menggeser jarak untuk jauh dari suaminya. Ibra kembali mendekatkan jarak dan merengkuh Fatih kembali.


"Sayang, jangan begini. Kamu harus dukung aku, Fat!" ucap Ibra lirih. Fatih menoleh dengan mata yang sudah memerah, kelopak matanya sudah membengkak hebat.


"Aku selalu dukung kamu, Mas!" Fatih menusuk dada Ibra dengan jari telunjuknya, menatap wajah suaminya yang basah karena air mata. "Bahkan aku mau memaafkan kamu dan kembali rujuk, aku menerima kamu dan Niken ada diantara kehidupan kita! Dan sekarang dengan bodohnya kamu melepas Facorp dan membuat Papaku stroke, Papa lumpuh, Mas! Aku harus dukung kamu kayak apa lagi, hah?" Fatih bersungut benci menatap suaminya. Tidak dipungkiri wanita hamil ini kecewa. Ia ada di posisi sulit, mengapa semua masalah harus terbongkar dalam waktu bersamaan.


"Dukung aku untuk menjelaskan semua ini kepada Mama dan Papa. Aku yakin mereka mau mengerti, sayang."


Fatih melepas tangan Ibra dari pinggangnya. Ia ingin beranjak berdiri namun tangannya ditarik lagi oleh Ibra. Fatih kembali duduk dengan wajah tidak mau menatap suaminya. "Boleh marah, tapi jangan pergi!" titah Ibra. Lelaki itu kembali mengunci tubuh istrinya.


"Kenapa sih, Mas. Ibu kamu harus melepas janjinya dari aku? Aku yang udah sekuat tenaga untuk menutupi semua ini, lalu dibongkar cuma-cuma oleh Ibu kamu, Mas." Fatih lirih. "Kamu lihat kan tadi bagaimana sikap Mama? Dia aja nyuruh kita bercerai, Mas!" Fatih menatap legam bola mata Ibra yang masih saja terus berair.


Ibra menggelengkan kepala. "Enggak, Fat. Aku enggak mau! Bagaimanapun caranya, aku akan perjuangkan kamu! Semua ini masih bisa dibicarakan baik-baik." pintanya amat memohon.


Fatih hanya diam, ia kembali membuang wajahnya ke sembarang arah. Kakinya terasa lunglai, tubuhnya lemas dan kepalanya terasa pusing.


"Sayang..." Ibra meraih dagu istrinya, agar Fatih kembali menatapnya. "Ijinkan aku melihat Papa, aku ingin menjelaskan duduk perkaranya."

__ADS_1


"Jangan, Mas. Nanti Papa shock lagi kalau lihat kamu! Kamu mau Papaku mati?"


"Ya Allah, ya nggak sayang. Kok kamu ngomongnya kayak gitu." jawab Ibra dengan suara mengiba.


"Papaku butuh waktu dan begitu pun aku, Mas!"


"Maksudnya, gimana, Bun?"


Fatih menyeka air matanya, ia menatap ke atas, dan mengatur ritme napas nya agar bisa tertata dengan baik. Keputusan terbaik sudah mulai ada di benaknya.


"Aku mau urus Papa, Mas. Tolong kamu pulang sekarang!" titah Fatih dengan nada yang sudah mulai berbeda.


"Kamu usir aku, Bun?" Ibra melebarkan kedua matanya.


"Hanya karena masalah ini?" sambung Ibra.


Ucapan Fatih membuat Ibra tersentak hebat. Ibra seperti baru tersadar kalau dirinya memang sedang dalam posisi sulit.


"Kamu pulang aja, Mas. Jangan dulu temui aku, aku masih mau di sini. Untuk menjaga Papa!"


Ibra masih melamun bingung. Lidahnya tercekat, tatapan seketika kosong. Mengapa angin kehancuran harus kembali menerpa dirinya lagi.


Fatih pun melepaskan tangan Ibra begitu saja menjuntai ke bawah. Ia tahu suaminya terpukul dengan perkataannya. Tapi mau bagaimana lagi, nyawa orang tuanya yang lebih penting sekarang. Apalagi Fahmi sedang mencari cara lagi untuk merebut semua saham dari Facorp. Sudah dipastikan Fatih akan jatuh bangkrut setelah ini. Hancurlah ia, sehancur-hancur nya.


"Jangan dulu datang kesini, Mas. Tunggu saja kabar selanjutnya dari aku." Fatih bangkit berdiri, lalu ia mulai melangkah dengan gontai sambil membawa perutnya yang sudah membesar. Ibra pun menoleh menatap punggung istrinya.


"Kalau aku rindu kamu, bagaimana, Bun?"

__ADS_1


Mendengar ucapan itu membuat Fatih menghentikan langkahnya. Ia menangis kembali. Begitu lirih perasaannya. Sejatinya ia yang akan lebih rindu suaminya.


"Mungkin aku akan gila lagi, Mas, setelah ini." desah Fatih dalam hatinya.


Buru-buru ia membuka suara karena mendengar kembali derap sepatu Ibra yang ingin mendekatinya lagi, Fatih menyeka air matanya dan memutar tubuhnya. Ia memberi isyarat dengan jarinya agar Ibra jangan mendekat. Seketika lelaki itu pun terhenti di tempatnya. Yang hanya berjarak satu meter dengan Fatih.


"Aku butuh waktu, Mas. Untuk menenangkan hati orang tuaku. Mencari jalan terbaik untuk rumah tangga kita. Insya Allah aku dan Fara akan baik-baik saja. Doakan kami, jangan datang dulu sebelum aku ijinkan, Mas."


"Fat ..." Ibra mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa tidak ada cara lain, Fat? Mengapa harus seperti ini?"


"Apa kamu ingin langsung bercerai dari aku, Mas?" Fatih dengan amat menyesal mengucap kata-kata yang paling ia benci. Namun ia tidak ada pilihan selain menggertak suaminya agar mau menurut.


"Jangan, Bun. Aku enggak mau pisah. Ingat kamu sedang mengandung Fara. Anak kita!" pinta Ibra amat memohon. Lelaki itu menatap sendu wajah istrinya.


"Ya udah kalau gitu, turuti permintaan aku, Mas! Jangan datang dulu menemui aku di sini, apalagi menemui Papa dan Mama."


Ibra dengan seberat hati, hanya bisa mengangguk getir. Dari pada ia harus bercerai, lebih baik diam dulu menunggu apa yang sudah menjadi keputusan istrinya. Selain itu ia akan mencari Tomi untuk meminta pertanggung jawaban. Walaupun dengan gampangnya nanti, Tomi akan memberikan jawaban klise yang mudah dipercaya lagi oleh Ibra.


"Pulang lah, Mas. Doakan Papa ..."


Hembusan napas penyesalan saling beradu diantara mereka. Tatapan sedih saling bersautan, meminta Ibra untuk tidak datang dulu menemuinya sungguh amat sulit untuk Fatih. Sama halnya dengan Ibra, ia akan menyimpan luka berhari-hari ketika berpisah dengan istrinya yang entah sampai kapan.


"Haruskah pernikahan kita menjadi seperti ini, Bunda..." Ibra menatap punggung Fatih yang mulai berlalu meninggalkan dirinya. Lelaki itu menggelosor kan tubuhnya di atas lantai. Menangkup wajah dengan kedua tangannya. Mengapa sesakit ini, fikir nya.


****


Setelah ini, kalian bisa putuskan untuk mau terus baca apa enggak. Karena episode setelah ini berat banget. Aku udah kasih warning sekarang, biar kalian yang agak seram dan takut bacanya, lebih baik ditabung aja dulu.

__ADS_1


Sehat selalu yaa❤️


__ADS_2