Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Selamanya Tetap Kamu!


__ADS_3

Ibu harus melakukan cuci darah secepatnya. Karenya penyakit ginjal Ibu sudah masuk kedalam kategori kronis.


Fatih masih terdiam di sandaran ranjang sambil menatap cahaya matahari yang mulai masuk kedalam tirai tipis di kamar perawatannya. Sejenak kedua matanya mengerjap, karena terbayang-bayang dengan ucapan Dokter Spesialis Urologi satu jam lalu, ketika memeriksa dirinya di kamar ini. Mau tidak mau, Fatih harus tetap dirawat di Rumah Sakit untuk beberapa hari.


"Bunda ..."


Fatih menoleh ketika suaminya yang baru masuk ke dalam kamar memanggil dirinya. Lelaki itu datang dengan membawakan sejumlah kantung belanjaan untuk keperluan Fatih selama menginap di sini.


"Ayah, boleh nggak, kalau Bunda dirawat dirumah aja?" tanya Fatih. Ibra pun menarik kursi untuk duduk disebelah ranjang istrinya.


"Jangan Bun, di sini dulu aja ya. Ayah pasti akan selalu nemenin Bunda di sini." Ibra meraih tangan istrinya untuk ia genggam. Ia tahu kalau istrinya sedang cemas.


"Tapi bagaimana dengan Fara?"


Tidak ada satu pun orang tua yang bisa begitu saja mudah meninggalkan sang anak, jika mereka dalam keadaan seperti ini. Apalagi Fara adalah anak yang mudah sekali menangis, jika sang Bunda meninggalkan ia dalam waktu lama. Pernah suatu hari, Fatih tidak berangkat bekerja karena Fara begitu rewel dan terus menangis tidak mau ditinggal. Ia menangis sepanjang hari sampai termuntah-muntah.


Ibra hening sebentar lalu berujar kembali. "Terpaksa Fara akan Ayah bawa kesini, tapi kalau malam saja, biar tidak terlalu lama di Rumah Sakit, Bun."


Fatih pun mengangguk dan setuju. Tidak ada pilihan lain selain memilih jalan seperti itu.


"Ya, baiklah." jawab Fatih, lalu ia memilih untuk memejamkan kedua matanya kembali.


"Bunda .."


"Hemm..?" Fatih kembali membuka matanya lalu mengelus lembut pipi suaminya.


"Iya, Yah, kenapa?" tanya nya dengan mimik wajah yang lemah.


Ibra beringsut untuk memeluk perut istrinya. Meletakan kepalanya di sana.


"Kamu kenapa, Mas? Ngantuk?" tanya Fatih. Sejatinya ia tahu, jika Ibra sedang dalam keadaan bersalah. Salah, karena Fatih mengetahui kalau Kiran telah memeluk dirinya barusan.


"Bunda marah sama Ayah?" tanya Ibra sedikit mendongakkan wajahnya untuk menatap Fatih.


Fatih tertawa kecil. "Marah?" ia mengulangi ucapan Ibra.


"Bunda pasti kesal dengan kejadian Ayah bersama Kiran barusan." Ibra merebahkan kepalanya lagi di pusaran perut istrinya.

__ADS_1


"Oh jadi itu yang namanya Kiran?" Ibra mengerutkan kening ketika ia merasa nada suara Fatih terdengar biasa saja, tidak kaget atau kesal sama sekali.


Ibra kembali mendongakkan wajahnya, lalu menatap tegap wajah istrinya.


"Demi Tuhan, aku tidak---"


Cup.


Ibra seketika terdiam ketika Fatih mengecup bibirnya. Kornea mata Ibra begitu saja membeliak tidak karuan.


"Bun?"


Fatih tersenyum manis.


"Ayah nggak usah khawatir, Bunda udah dengar semua percakapan kalian dari awal sampai akhir. Dan Bunda agak males aja denger kalimat yang membuat kamu begitu percaya diri----Bundanya Fara tidak pernah membuang saya dari hatinya, emm...pede banget sih!" Fatih tertawa pelan sambil kembali mengecup kening suaminya yang masih melongo tidak percaya.


"Jadi Bunda dengar semuanya? Alhamdulillah---" ucap Ibra penuh syukur. Ia tidak perlu lagi menerima amukan dari Fatih tentang kesalah fahaman ini.


Fatih mengangguk.


"Karena Ayah tau, Bunda masih mencintai Ayah selama ini. Tapi kamu tuh terlalu jual mahal, Fat! Jahat banget buat aku menduda selama empat tahun seperti itu!" Ibra mendengus malas.


"Eh tapi untuk adegan peluknya, Bunda agak sedikit marah ya. Bagaimanapun, itu tidak boleh!"


"Maaf, Bun. Ayah terlalu kaget, entah kenapa Ayah mengerti perasaanya ketika sedang sakit untuk dipaksa melupakan. Seperti dulu Ayah dengan Bunda."


"Sst! Udah!" Fatih menggelengkan kepala sambil menaruh dua jari didepan katupan bibir Ibra agar lelaki itu terdiam.


"Jangan ingat yang dulu, Yah. Sudah lupakan saja!" pinta Fatih. Ibra meraih tangan Fatih dan menciumnya berkali-kali.


"Tapi sepertinya Kiran wanita yang baik ya, dia juga cantik. Apakah dia suka dengan anak kecil?"


Deg.


Entah mengapa mendengar istrinya berbicara seperti ini, membuat dada Ibra kembali bergetar. Lelaki itu bingung, harusnya Fatih marah, mengapa malah memuji wanita itu.


"Apakah dia masih bisa menunggu kamu, Mas?"

__ADS_1


"Maksudnya?" Ibra menatap legam bola mata Fatih yang sedang menatapnya lurus.


"Sepertinya ia cocok, untuk menjadi Ibu Sambungnya Fara."


Seketika itu pula, Ibra melepas genggaman tangan mereka. Begitu kagetnya ia, mendapatkan kalimat seperti itu keluar dari bibir Fatih.


"Dia mencintaimu dengan segala kekuranganmu, Mas. Mungkin aku akan pergi dengan tenang, jika memberikan kamu dan Fara kepada orang yang tepat."


Sejatinya Fatih tahu dengan keadaan dirinya yang sulit untuk bertahan dari penyakit ini. Sudah lama sekali ia tahu, bahwa penyakitnya ini tidak hanya bisa diobati dengan hanya terapi cuci darah biasa.


Tapi ia harus mendapatkan donor ginjal segera mungkin, dan Ibra tidak tahu akan hal itu. Bersyukurlah Dokter tidak sempat membicarakan masalah donor ginjal kepada Ibrahim. Ia tahu menjalani terapi cuci darah, tidak akan ada pengaruhnya.


Ada belingan kaca yang terlihat samar-samar di dalam kelopak mata Ibrahim. Lelaki itu sepertinya ingin menangis menahan pilu.


"Kamu istriku, selamanya tetap kamu! Tidak ada yang mampu menggantikan posisi kamu di hati kami!"


Fatih terdiam dan menyeka air mata yang mulai menetes dari sudut mata suaminya. Mengelus lembut pipi Ibra dan menciumnya.


"Aku ingin kamu bahagia, Mas." bisiknya.


"Tapi aku bahagia jika sama kamu!" Ibra tetap bersikukuh. "Pokoknya kamu harus cepat melakukan terapi cuci darah itu! Kalau bisa, dimulai di hari ini aja, gimana?" pinta Ibra penuh harap.


Fatih menggelengkan kepala. "Sesuai perintah Dokter aja ya, Mas." Fatih kembali mengingatkan kalau jadwal cuci darah akan dilakukan setelah ia keluar dari rawat inap.


"Kamu tenang sayang, kamu pasti sembuh!" Ibra menatap Fatih penuh harap dan doa. "Aku akan selalu nemenin kamu, kamu harus pulih ya, buat kami berdua."


Hati istri mana yang tidak akan terenyuh, jika sang suami begitu mengiba kesembuhan untuk dirinya.


"Apakah betul aku akan sembuh tanpa donoran ginjal?" lirih Fatih dalam hatinya. Jika saja Ibra tahu, ia pasti langsung melesat ke hadapan Dokter, untuk memberikan Ginjal yang ia punya untuk Fatih. Tentu Fatih tidak mau mengorbankan suaminya dalam hal ini, karena ia sudah tau Ibra pasti akan melakukan hal itu.


"Peluk aku, Mas. Aku rindu di peluk sama kamu." Fatih merentangkan tangannya untuk menerima pelukan dari Ibra. Lelaki itu pun beringsut untuk memeluk istrinya. Sungguh romantis, memeluk istri yang sedang sakit dengan segala semangat dan doa yang tidak henti-henti keluar dari bibir Ibrahim.


"Selamanya, Bun sama Ayah. Jangan pernah pergi lagi." ucap Ibra parau, sambil mengelus lembut punggung istrinya, membenamkan kepalanya di perpotongan leher Fatih. Wanita itu merasa ada air bening yang terasa hangat membasahi lehernya.


Ada Ibra yang tengah menangis memeluk istrinya.


****

__ADS_1


Kalau kalian pengen Fatih sembuh, like dan komennya yaa❤️❤️


__ADS_2