Dua Kali Menikah

Dua Kali Menikah
Keanehan Ibra


__ADS_3

Selamat baca ya guyss


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


Fatih akhirnya mengakhiri pertemuan rindunya dengan Karin. Dua wanita itu sepakat akan bertemu lagi dilain waktu. Fatih pun melangkah mencari sosok suaminya yang memilih tempat ala lesehan di pojok dalam. Karena didalam adalah area tanpa asap rokok. Dengan senyum bahagia penuh cinta ia pun menghampiri Ibra.


"Mas?"


Ibra mendongakkan wajahnya dan menghentikan permainan jari-jari manisnya di layar ponsel. "Ayo sini sayang, duduk!" Ibra menepuk bagian di sisi sebelahnya. Fatih pun beringsut untuk duduk disana.


"Kamu udah pesan, Mas?"


"Belum sayang, aku nunggu kamu dulu." Ibra tersenyum. "Maaf ya Mas, aku buat kamu jadi makin lapar..."


"Nggak apa-apa, kan tadi lagi ada teman kamu. Ayo sekarang pilih, mau makan apa?" Ibra menyuruh Fatih membuka daftar menu makanan.


Bahkan dia rela nunggu aku ngobrol dulu sama Karin, walau disaat perut dia udah lapar. Coba kalau Fahmi, dia pasti udah usir Karin sejak tadi.


"Kamu kenapa? Kok melamun?"


Fatih mengerjap. "Nggak, Mas. Oh iya tadi kamu mau makan apa?"


"Aku soto daging aja, Fat. Nggak tau kenapa lagi mau itu."


"Aku ikan bakar aja deh, Mas. Aku nggak terlalu suka sama daging!"


Ibra mengangguk dan melambaikan tangan kepada pelayan. Ia pun memberikan list menu yang ingin mereka pesan. Fatih meraih ponselnya dan berfoto selfie dengan Ibra. Ibra awalnya canggung dan kurang suka jika berfoto-foto seperti itu apalagi di tempat ramai. Namun karena istrinya tengah hamil dan usia Fatih yang masih muda, tentu hal seperti ini sudah dianggap bisa oleh istrinya. Mau tidak mau Ibra harus menurut.

__ADS_1


"Mas senyum, ini foto selfie. Bukan mau foto KTP, ayo ulangi lagi..." Fatih menginstruksikan cara Ibra tersenyum kedepan kamera. Sebenarnya Ibra merasa malu, karena dirinya sedari tadi sudah diperhatikan oleh banyak orang. "Fat udah ya, nanti lagi dirumah. Kamu udah mengambil banyak pose kok." Ucap Ibra hati-hati takut jika membuat hati Fatih tersinggung.


"Iih Mas, ayo lagi yuk---" Fatih tetap dalam keinginannya. Ia tetap memaksa Ibra berpose sampai makanan mereka sudah tersaji semua dimeja.


Ibra hanya bisa tersenyum getir melihat kelakuan istrinya.


"Bawaan bayi kayaknya, nih." Gumam Ibra dalam hatinya.


Lalu dengan kecepatan kilat menerpa, rasa mual kembali datang ketika aroma soto daging itu menyengat menusuk hidungnya.


Howe howe


Ibra bergeliat mual, ia ingin muntah seketika namun masih bisa ia tahan.


"Mas, kamu kenapa?"


"Singkirin soto nya, Fat! Aku nggak tahan sama bau nya---"


Fatih mendekatkan hidungnya untuk mencium aroma soto. "Wanginya enak begini, kenapa kamu mau muntah, Mas?" Tanya Fatih heran.


"Aku udah nggak kepengen lagi, Fat. Kamu aja yang makan sotonya ya.."


Seketika ucapan Ibra membuat istrinya mengerutkan kening. "Aneh deh kamu, Mas. Kan awalnya kamu kepengen banget makan soto daging ini. Kok sekarang malah berubah fikiran?"


"Kamu kok kaya orang ngidam ya, Mas? Yang jelas-jelas hamil kan aku, bukan kamu."


"Ah masa sih sayang? Tapi bener deh, aku mual sama baunya."


"Hemmm..." Ibra melirik ikan bakar pesanan Fatih. "Tapi kayaknya ikan bakar nila kamu, menggugah selera ya sayang..."


Fatih membelalakkan kedua matanya. "NGGAK! Kamu tuh aneh deh, Mas. Kamu kan alergi sama ikan---Kamu lupa??"


"I--ya sih sayang, tapinya..." Kulit kerongkongan Ibra terlihat naik turun, kedua matanya tak surut dari pandangan menu makanan itu. Ia mencoba kembali bernegosiasi kepada istrinya.


"Gak apa-apa kali sayang, kalau makan dikit aja?" Ibra meringis senyum nakal ke arah istrinya.


"Tapi nanti kamu gatal-gatal, Mas!"


"Nggak kok, aku yakin deh." Ibra mencolek dagu istrinya. Tentu tatapan manja seperti ini membuat Fatih tidak tega jika harus membiarkan Ibra terus merengek.


Akhirnya mereka pun makan makanan yang tidak sesuai dengan selera hati mereka. Fatih terpaksa memakan soto daging tersebut, karena sepertinya Ibra lupa dengan permintaanya yang hanya ingin mencicipi ikan itu sedikit, nyatanya dihabiskan semua olehnya tanpa sisa. Bahkan ia ingin memesan kembali, namun Fatih melarang.


"Udah Mas jangan, cukup satu aja! Tadi kamu bilangnya hanya mau cicipi aja, kan? Nanti alergi kamu kumat Mas..." Fatih merintih.

__ADS_1


Sungguh makan siang yang tidak begitu nikmat untuk Fatih. Ia terpaksa memakan makanan yang tidak pernah ia sukai. Bisa saja ia mengganti makanan tersebut, namun ia merasa mubadzir dan takut dibilang tidak bisa menghargai orang yang sudah memasaknya.


"Aneh nih Mas Ibra, kayak beneran lagi ngidam?" Gumam Fatih. "Padahal sampai sekarang aja, aku belum kepengen ina-itu, huft.." Fatih terus saja melihati wajah suaminya yang masih bersemangat menghabiskan sisa makanannya di piring.


****


Malam ini, pukul 19:00 wib.


Fatih dan Ibra sudah tiba dirumah Mama dan Papanya. Menuruti keinginan sang Mama untuk menginap sampai week end selesai. Papa Faris terlihat terus mendekap sang anak semata wayangnya. Ia begitu bahagia karena mendengar Fatih kembali mengandung.


"Gitu deh, Bra. Kalau Bapak sama anak udah ketemu. Kita cuman jadi obat nyamuk---" Sindir Mama Tari, menoleh ke arah Ibra yang duduk bersebelahan dengannya di sofa bundar.


"Jangan iri dong, Mah. Mama kan tiap hari juga dipeluk sama Papa." Ucap Fatih manja ia tetap berada di dekapan sang Papa.


"Iya Mah, Papa kangen banget sama Fatih." Papa Faris tak henti-henti mencium pucuk rambut anaknya.


Ibra hanya tersenyum melihat keakraban istri dan Papa mertuanya. Walau jauh dari hal itu, Ibra selalu berfikir, apa ia Papa Faris yang sebegini baik dan bijaksananya bisa berselingkuh dengan Niken, keponakan kandung yang begitu ia manjakan.


Terkadang hatinya sebagai paman selalu teringat bagaimana hati dan perasaan Niken sekarang. Tapi tetap saja sekarang, Fatih lah yang utama untuknya.


Namun, tak berapa la kemudian. Rasa ingin muntah kembali datang menerpa Ibra. Seketika ia bangkit dari duduknya dan berlari menuju toilet. Tingkah Ibra membuat semua tertegun, Fatih pun dengan cepat beranjak untuk mengikuti suaminya ke toilet.


Memijit-mijit tengkuk leher Ibra agar suaminya bisa memuntahkan cairan yang terus saja menggelitik perutnya.


"Kok aneh ya Mas, nggak ada muntahannya? Hanya cairan bening aja?" Tanya Fatih.


Howe howe


Ibra kembali memuntahkan cairan itu sampai tubuhnya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Kepalanya terasa pusing dan tubuhnya begitu saja lemas dan lemah.


"Kita ke Dokter aja ya, Mas?"


Ibra menggeleng sambil menangkup air untuk membersihkan sisa-sisa muntahan dari mulutnya. Fatih pun mengambil tisu untuk mengelap keringat diwajah suaminya. Kembali menggandeng tangan Ibra untuk keluar dari toilet.


"Kamu sakit, Bra?" Entah mengapa pertanyaan Mama dan Papa bisa berbarengan seperti itu.


"Nggak tau Mah, Pah. Dari siang memang aneh. Tiba-tiba aja ingin mual dan muntah terus."


"Mama telepon Dias aja ya, suruh kesini biar periksa Ibra..."


"Iya Mah, boleh."


****

__ADS_1


__ADS_2