
"Hah? Lo mau nikah malam ini?" seruan nyaring terdengar dari seberang sana. Tomi tersentak, begitu kagetnya ia mendengar Ibra akan menikahi Fatih malam ini juga.
"Iya, Tom. Dan tolong lo urus pernikahan gue ya." jawab Ibra dengan mudahnya. Lelaki itu masih berdiri disekitar taman Rumah Sakit dengan ponsel yang masih bertengger di daun telinganya.
"Semendadak ini, Bra? Lo lupa masih ada besok? Atau mungkin lusa?" jauh di sana, Tomi sedang memijit-mijit pangkal dahinya. Ia memang senang ketika mendengar Ibra akan menikah lagi dengan Fatih, tapi bisakah untuk dipersiapkan dulu, tidak terburu-buru seperti ini?
Sesekali Ibra menoleh ke arah pintu kamar perawatan Ibunya. Ia masih mencemaskan dua wanita itu, Ibu Hanum dan Fatih. Terlebih Fatih yang tadi sempat jatuh pingsan karena histeris dengan keputusan Ibra. Sebisa mungkin Kak Intan dan Kak Ira terus membujuk Fatih sampai wanita itu mau menerima pernikahan itu kembali.
"Gue udah nggak mau, uji nyali lagi, Tom! Cukup empat tahun dia udah ninggalin gue! Sekarang dia udah mau, gue takutnya Fatih akan berubah fikiran lagi! Lo tau kan, Fatih itu kerasa kepala banget."
Tomi hening sebentar, ia tetap mendengarkan penjelasan Ibrahim.
"Lo tolong siapin acara akad nikahnya aja dulu, Tom."
"Bra, lo nih kan mau nikah bukan mau lomba lari, terlalu buru-buru. Emang ada penghulu yang mau dateng malem-malem?"
Ibra memutar bola matanya kesana kemari. Ia membenarkan perkataan Tomi, acara akad nikah kali ini memang begitu mendadak.
Malam ini pula!
Benarkah tidak ada hari lain? Menunggu dua hari lagi pun sepertinya tidak ada masalah. Tomi terdiam, menunggu reaksi Ibra dengan penuturannya. Baru kali ini selama menjadi sahabatnya, ia melihat Ibra seperti anak kecil, yang jika meminta apapun harus cepat dilaksanakan.
"Lo juga kan harus beli mahar, sewa kebaya, emang lo mau wajah Fatih polos gitu aja tanpa make up?" serentetan kebawelan Tomi terdengar di sambungan telepon. Membuat Ibra kembali hening dan mengangguk-anggukan kepala. Tapi sepertinya, alasan Tomi tidak begitu saja diterima oleh Ibra. Lelaki itu tetap bersikukuh untuk menikahi Fatih malam ini juga.
Baru saja Tomi ingin berucap, Ibra sudah menyelak.
"Gue maunya tetap malam ini, Tom! Gimana pun caranya, lo harus siapin! Minta bantuan Kasih juga."
Diseberang sana Tomi kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lo bucin banget sih, Bra! Perasaan dulu sama Jihan nggak sebegini nya deh." gelak tawa Tomi terdengar setelahnya. Membuat lelaki berlesung pipit itu begitu manis dua kali lipat dari biasanya.
Tentu berbeda! Ibra bagai melepas perak dan kembali mendapatkan berlian. Begitulah perumpamaan antara Jihan dengan Fatih. Fatih adalah wanita yang sempurna bagi Ibrahim.
"Lo udah nggak tahan banget emang?" sambung Tomi terkekeh.
Ibra menoleh ke kanan, ke kiri serta ke belakang. Memastikan kalau tidak ada orang yang mendengar ucapannya sebentar lagi.
"Iya Tom. Selain gue nggak mau kehilangan dia lagi, gue juga udah nggak tahan ... Mau nyium Fatih, Tom." jawab Ibra polos.
Dan tak lama kemudian, gelak tawa mereka terdengar saling bersautan.
"Ya udah demi lo deh gue berjuang buat nyiapin pernikahan kalian nanti malam. Biar lo nggak lumutan lagi sepanjang malam."
"Makasih banyak, Tom. Maafin gue kalau bikin lo pusing. Et tapi kan, lo gue bayar emang buat pusing, Tom. Hahahaha."
__ADS_1
"Kan lo gaji gue buat pusing sama kerjaan, nyet!"
"Ya udah kali ini aja bantuin. Nanti gue kasih lo bonus, gimana?"
"Nggak usah, Bra. Gue tetap kok akan bantuin lo! Hitung-hitung sebagai dasar dari permintaan maaf gue, karena kebodohan gue waktu itu, bikin lo harus nikah dua kali sama Fatih."
"Udah nggak usah dibahas lagi. Yang penting sekarang gue udah senang, karena nanti malam gue bisa peluk Fatih lagi, Tom! Gue bisa terus sama-sama dia lagi." suara Ibra terdengar begitu bahagia, wajahnya berbinar dengan senyuman yang begitu lepas, membuat Tomi ikut bahagia melihat Ibra kembali mendapatkan kehidupan yang semestinya. Memang Fatih lah tempat bernaung sesungguhnya untuk Ibra.
*****
Selepas shalat Isya. Semua terlihat berkumpul di kamar perawatan Ibu Hanum. Ibra dan Fatih akan melangsungkan akad nikah di hadapan Ibu nya yang tengah berbaring. Semua pun berkumpul, tak terkecuali Dias serta Om Fadil, Kakak dari Papa Faris ikut datang untuk menjadi wali nikah Fatih saat ini.
Berikan tepuk tangan meriah untuk Tomi yang berhasil membujuk Bapak Penghulu untuk malam-malam datang ke Rumah Sakit agar bisa menikahkan sepasang insan yang akan kembali rujuk.
Terlihat Kasih sedang merias wajah Fatih dengan penuh kehati-hatian. Membuat wanita itu lebih cantik dua kali lipat. Senyumannya mengembang sempurna, gairah hidup Fatih kembali bersinar.
Sepertinya ia sudah menyerah dengan batin yang selalu membelenggunya untuk menjauh dari Ibra. Ia yakin sekarang kalau Ibra memang jodohnya, cinta sejatinya.
Maka dari itu Semesta mengizinkan mereka kembali untuk mengucap janji suci yang kedua kalinya, di malam ini.
"Nervous ya, Fat?" tanya Kasih menggoda.
"Iya, Sih. Aku nervous lagi." jawab Fatih disertai anggukan.
"Bunda, mau susu." Fara terlihat merengek sambil menarik-narik Gamis putih sang Bunda.
Kini mereka sedang berada disalah satu kamar rawat inap yang kosong, kebetulan pasien yang menempatinya sudah pulang dari siang. Jadi Ibra bisa menyewanya untuk Fatih serta keluarganya untuk berdandan dan bersiap-siap sampai akad nikah berlangsung.
"Masya Allah, cantik banget Fatih." ada suara Kak Intan yang juga mengekor di belakang Kak Ira.
Kedua Kakak perempuan Ibra tidak henti-hentinya mengucap syukur, untuk kebahagiaan Ibra kali ini. Karena mereka tahu setelah ini Ibra dan Fatih akan hidup bahagia. Namun bagaimana dengan Niken?
Kak Ira sudah mengultimatum anaknya, untuk tidak mendekati keluarga Om nya lagi. Dan Niken hanya menurut, walau jauh dari relung hati Fatih, ia sedang mencoba berdamai untuk memaafkan Niken.
Semoga saja seperti itu!
Fatih mengulas senyum, membuat pipi nya yang sudah di taburi bedak dan ditimpa oleh bubuk blush on begitu saja bersemu merah. Wanita itu malu di puji-puji seperti itu. Walaupun ia pernah menikah dengan Ibra, entah mengapa pernikahan yang kedua ini membuat jantungnya lebih berdegup dibandingkan dulu. Mungkin karena ada cinta yang hadir dan sedang merekah sekarang.
Kak Eko, suaminya Kak Intan muncul diambang pintu.
"Sudah siap, Fat? Penghulunya sudah datang."
Terlihat dikamar Ibu Hanum, sudah berkumpul Bapak penghulu dan Om Fadil
di meja akad yang sudah disiapkan. Mereka tinggal memanggil Fatih untuk menemani Ibra, ketika akan melangsungkan Ijab Qabul.
__ADS_1
"Doakan Ibra ya, Bu." Ibra duduk ditepi ranjang sambil mencium tangan Ibunya, meminta restu dan iringan doa agar ia lancar ketika mengucap ijab qabul yang kedua kalinya untuk Fatih.
"Iya, Nak. Insya Allah, kamu bisa." jawab Ibu Hanum yang keadaanya semakin membaik. Saat ini ia sudah terlepas dari sungkup oksigen. Benar memang, kebahagiaan Ibra lah yang membuat dirinya sembuh dengan cepat.
Ibra beringsut untuk mencium kening Ibu Hanum, lalu memejam kedua matanya, karena ia tengah mendoakan sang Ibu untuk kembali sehat dalam hatinya.
Setelah meminta restu kepada Ibunda, Ibra pun bangkit dari ranjang dan melangkah menuju meja akad. Ia pun duduk di sana berhadapan dengan Bapak penghulu. Dari ambang pintu datanglah Fara yang sedang menangis dalam gendongan Kak Ira.
"Sini, Nak!" Ibra meraih Fara dari gendongan Kak Ira. Tak lama kemudian datang Kak Intan dengan susu botol ditangannya. Memberikan susu itu kepada Fara yang masih menangis.
Sesekali Tomi mengelus bahu Ibra yang mulai tegang. Fara pun masih bergeliat di tubuh Ayahnya sambil minum susu di botol kesayangannya. Anak itu sesekali memainkan kancing baju koko berwarna putih bersih yang sedang dipakai oleh Ibra, warnanya begitu senada dengan gamis yang saat ini tengah dipakai oleh Fatih. Dengan kopiah berwarna putih menutup rambutnya, membuat Ibra semakin gagah maksimal.
"Ayo sini sama om dulu ya.." ajak Tomi meraih Fara untuk ia gendong.
Namun tidak biasanya Fara sedikit rewel dan tidak mau terlepas dari sang Ayah. Anak itu sempat menangis ketika sempat dijauhkan dari Bunda nya yang sedang dirias. Dan sekarang dipaksa untuk menjauh lagi dari sang Ayah. Sejatinya Fara belum mengerti bahwa malam ini adalah malam indah untuk orang tuanya kembali bersatu dalam menjalani mahligai rumah tangga yang sempat terputus karena suatu keadaan yang menyakitkan empat tahun yang lalu.
Ibra hanya mengelus lembut rambut Fara, lalu mencium anak itu sesaat kemudian membawa anak itu untuk masuk kedalam dekapan Tomi. Fara pun menangis dan menjulurkan tangan kepada Ayahnya. Namun Ibra yang sudah gugup sedari tadi hanya membiarkan Fara menangis dan meronta-ronta. Ia harus fokus dengan bacaan Ijab qabul yang sebentar lagi akan ia ucapkan.
Suasana begitu syahdu, tak kala langkah kaki Fatih sudah muncul diambang pintu. Membuat semua mata yang ada di dalam menoleh ke arahnya.
"Masya Allah ... Cantik sekali." puji Ibra menatap lurus wajah wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya kembali. Semua mata memandang menatap penuh takjub melihat kecantikan Fatih. Wanita itu berjalan diapit oleh Kasih dan Dias.
Memakai gamis panjang berwarna putih dengan sedikit baluran mutiara yang melingkar indah di bagian pinggang, dan pernikahan kali ini terlihat sangat berbeda, karena Fatih memakai hijab segitiga putih untuk menutup rambut indahnya.
Membuat Ibra tak urung-urung menurunkan tatapannya dari Fatih. Mulutnya menganga, terlihat bola matanya bersinar-sinar memantulkan cahaya kebahagiaan. Ada air mata yang menetes karena rasa haru yang tidak kuat untuk ia bendung.
"Seperti mimpi, bisa menikahimu lagi, wahai Khumairah-ku ..." ucap Ibra dalam hatinya. Jiwanya begitu meledak-ledak karena sulutan api kebahagiaan.
Ia menangkap senyuman Fatih yang begitu merekah untuknya. Fara yang sedari tadi menangis, kini mendadak hening. Ia hanya menatap lurus kearah Bundanya yang baru saja menduduki kursi disebelah Ibra.
Apa yang akan orang tuanya lakukan di meja itu, fikir Fara. Mengapa harus duduk bersebelahan dan ditatap oleh banyak orang.
Terdengar deruan napas Fatih dan Ibra begitu saja menyatu dengan kasar. Mereka masih saja tegang, walau sudah melakukan pernikahan sebelumnya, apalagi masih dengan orang yang sama. Harusnya rasa gugup sudah mulai bisa dikendalikan. Nyatanya sama saja, semua itu tidak membuat mereka lolos dari rasa kekhawatiran. Rasa tegang dan gugup tetap saja menyertai mereka.
"Mah, Pah. Semoga di Surga sana, kalian merestui Fatih untuk kembali menikah dengan Mas Ibrahim, bisa hidup bertiga selamanya tanpa terpisah lagi." doa Fatih dalam hatinya. Membayangkan wajah kedua orangtuanya yang mungkin saja sedang tersenyum bahagia diatas sana.
Walau jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih gelisah dengan penyakitnya yang mungkin tidak akan sembuh dalam waktu cepat, atau mungkin saja penyakit itu dapat membawa Fatih ke alam yang dapat mempertemukan ia dengan Mama Tari dan Papa Faris.
"Sudah bisa dimulai?" tanya Bapak Penghulu. Sontak suara itu membangunkan Fatih dari lamunannya. Ia kembali tegap menatap lurus jabatan tangan antara Ibrahim dengan Om Fadil yang sedang melayang di udara.
Ibu Hanum terus berdzikir, untuk mendoakan kelancaran pernikahan mereka yang sebentar lagi akan berlangsung. Sejatinya jodoh pasti bertemu kepada pemilik aslinya. Mau kemanapun berlari, mau kemanapun menjauh, kalau memang Ibra adalah tempat bernaung untuk Fatih. Fatih pasti akan kembali pulang kedalam dekapan Ibrahim.
Sungguh skenario Semesta yang paling membahagiakan, dapat menyatukan Ibra dan Fatih dalam dua kali pernikahan.
****
__ADS_1
Nah, udah tiga episode untuk hari ini ya. Aku sambung lagi besok, bbye❤️😘. Kasih rasa cinta kalian buat aku ya, udah tau kan harus ngapain😘😘🤗