
Setelah pulang dari Rumah Sakit, Ibra mengajak Fatih dan Fara untuk masuk ke salah satu restoran lesehan yang ada disekitaran pantai Sawarna. Makan bertiga dengan nyaman tentu tidak pernah terbayangkan di benak Ibra atau pun Fatih. Empat tahun mereka terpisah dalam jarak dan waktu, kini Semesta seperti sedang memberi kesempatan kedua untuk mereka kembali menikmati kebersamaan, walau tidak lagi dalam garis pernikahan.
Sesekali Ibra beradu pandang dengan Fatih. Namun Fatih akan tetap menyudahinya dan memilih menatap ke arah yang lain. Fatih merasa minder, ia tidak percaya diri. Fatih merasa dirinya tidak secantik dulu, dibandingkan Ibra, lelaki itu terlihat semakin gagah. Malah tidak jarang tamu yang berkunjung untuk makan di restoran ini, menangkap Ibra dalam tatapan penuh damba.
Fatih merasa risih juga cemburu, dan Ibra suka akan hal itu.
"Kamu masih seperti Fatih-ku yang dulu, si pecemburu." Ibra mengulas senyum tipis di wajahnya. Baginya Fatih tetaplah rumah berpulang untuk menanggalkan segala hasrat dan cinta yang ada dalam dirinya.
"Jangan langsung ditelan, Nak. Dikunyah dulu!" ucap Fatih kepada Fara ketika menyuapi nasi dengan sekumpulan jarinya.
"Ayah enda emam?" tanya Fara, membuat manik mata Fatih menoleh ke arah lelaki itu.
Ibra terkesiap ketika ketahuan sedang menatap Fatih dengan tatapan cinta. Lelaki itu kembali menurunkan tatapannya ke arah makanan yang sudah dingin didepannya. Pura-pura mengambil sendok dan memasukan sedikit nasi kedalam mulutnya.
"Ini Ayah makan, Nak." jawab Ibra. Fatih hanya mendengus pelan, ia kembali menyuapi Fara sampai makanannya habis.
Drrt drrt drrt
Ibra meletakan sendok di piring ketika ia ingin meraih ponsel yang bergetar di kantung bajunya.
Ia menatap layar ponsel dan menemukan nama Tomi di sana.
"Fat aku ijin dulu angkat telepon." Fatih mengangguk tanpa menoleh, ia masih fokus menyuapi Fara.
Ibra melangkah beberapa meter untuk menjauh dari restoran. Angin pantai dan sinar matahari yang mulai naik mulai membuat ia memicingkan kedua matanya.
"Iya, Tom. Gimana hasilnya?"
"Fahmi sudah berhasil ditangkap oleh Aparat Kepolisian, Bra."
Ada senyuman puas yang mengalir di wajah Ibrahim. "Setidaknya bukan tangan kita langsung yang menjebloskan lelaki itu ke penjara." jawab Ibra di sambungan telepon.
"Dia berhasil masuk ke perangkap kita." imbuh Tomi diseberang sana dengan gelak tawa.
"Pastikan semua sahamnya kembali lagi ke Facorp, tanpa terkecuali. Jangan sisakan sedikit pun untuk dia!" titah Ibra.
"Beres, Bra. Lo pulang sore ini ke Jakarta, kan?"
Ibra termenung sebentar lalu menoleh ke arah Fatih dan Fara yang masih ada didalam restoran.
"Lo handel dulu kerjaan gue ya, Tom. Minta bantuan Kasih kalau perlu. Gue mau di sini dulu, Fatih sakit." wajah Ibra kembali sendu setiap mengingat hal itu.
__ADS_1
"Hah? Sakit apaan, Bra? Lo butuh apa di sana, biar gue kirim sekarang!"
"Nanti deh gue ceritain kalau udah di Jakarta. Tolong lo carikan Dokter Spesialis Urologi terbaik berserta fasilitas Rumah Sakitnya, Tom. Secepatnya gue akan bawa Fatih kesana."
"Emang lo udah baikan sama Fatih?"
Tentu pertanyaan Tomi, membuat Ibra terdiam sejenak sebelum ia memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka.
"Nanti gue telepon lagi ya, Tom. Intinya lo handel dulu deh kerjaan gue."
"Insya Allah, Bra. Siap!"
Tut.
Sambungan telepon mereka pun terputus. Dulu setelah kejadian di tipu oleh Fahmi, Ibra mulai mencari Tomi dan mulai membuat perhitungan dengannya. Disaat itu Kasih dan Tomi baru tahu hal yang sebenarnya, kalau mereka hanya diperalat oleh Fahmi untuk menjatuhkan Ibra.
Membuat lelaki itu merugi sampai terpuruk, dibenci oleh mertua dan diceraikan oleh istri ketika anak baru berusia tiga bulan, bahkan Ibra tidak diperbolehkan Fatih ketika sedang mengejan Fara di kamar bersalin. Ibra harus kembali stress dan hancur. Fatih pun sama, apa yang ia miliki begitu saja hangus tanpa tersisa.
Tomi bersimpuh di kaki Ibra, untuk memohon maaf. Tomi dan Kasih pun pernah beberapa kali mengunjungi Fatih, untuk kembali menerima Ibra. Namun wanita itu menolak. Ya begitulah Ibrahim, ia masih mempunyai sudut hati yang bersih, ia mau memaafkan dan menerima Tomi kembali menjadi sahabatnya, karena ia tahu Tomi hanya diperalat oleh Fahmi, dan mulai saat itu Tomi mau membantu Ibra untuk kembali bangkit menata hidup dan kembali berbisnis. Tomi pun sudah menikah dengan Kasih, bahkan sudah diberikan anak kembar sekaligus.
Ngomong-ngomong soal Facorp. Ibra mengatur siasat untuk menarik saham dari Fahmi, ia ingin lelaki keparat itu memberikan hak yang semestinya, dimiliki oleh Fatih. Selama beberapa tahun ini, Ibra mulai merintis lagi Facorp. Ia akan memberikannya kepada Fatih, ketika perusahaan itu sudah cukup untuk dilepas. Ibra hanya ingin membayar kesalahannya, yang jujur bukan dirinya yang melakukan.
****
"Aku ingin di sini bersama kalian, boleh kan?"
Fatih tidak menjawab, ia lebih memilih berlalu membawa Fara untuk masuk ke dalam rumah. Ibra dengan cepat mengekor dari belakang, mengikuti langkah Fatih sampai ke kamar.
"Ayah..." suara gumaman Fara terhenti ketika tubuh mungilnya dibaringkan oleh sang Bunda di pertengahan ranjang. Menyelimuti tubuh anak itu dengan selimut bermotif princess ana.
Fatih memutar bola matanya ke arah Ibra, menatap sekilas lalu berlalu meninggalkannya untuk pergi menuju pintu utama. "Ayo pulang!" Fatih menjulurkan tangannya ke arah luar, mempersilahkan Ibra untuk angkat kaki dari rumahnya.
"Aku mau di sini dulu, Fat. Aku mau jaga kamu." jawab Ibra dengan desisan memohon. Lelaki itu masih memilih untuk berdiri diambang pintu kamar.
Mereka saling menatap dalam jarak, dua-duanya merindu. Matahari yang mau tenggelam pun tahu akan hal itu.
Fatih menggelengkan kepala. "Ayo, Mas. Pulanglah, tubuhku masih belum kuat untuk berdebat denganmu!" ucap Fatih tegas. Ia sedikit meringis karena rasa sakit diperutnya masih saja terasa.
"Euh.." desah napas Fatih sambil memegang perutnya.
Ibra dengan langkah seribu, menghampiri Fatih dan membawanya untuk duduk di sofa.
__ADS_1
"Sakit lagi ya? Ikut aku ke Jakarta, Fat. Aku ingin mengobatimu di sana!"
Fatih melepaskan tangan Ibra dari tangannya. "Jangan begini, Mas. Kita bukan muhrim." Fatih menggeser duduknya, sehingga mereka berdua menjadi berjarak.
"Maka dari itu, ayo kita menikah lagi, Fat. Aku masih mencintai kamu." ucap Ibra, ia terus meyakinkan Fatih dengan segenap ketulusan cintanya.
"Aku udah capek nikah, Mas. Sudah dua kali aku nikah, dan semua berantakan!" Fatih menyeka air mata yang muncul kembali.
Ibra beringsut untuk mendekati lagi Fatih. Ingin mendekap, tapi Fatih menolak. "Mas tolong jangan kayak gini! Kamu itu dulu adalah lelaki yang sopan, Mas!" Fatih mendelikan matanya.
"Aku memang banyak berubah, semenjak kamu pergi ninggalin aku. Buat jiwa aku kosong melompong. Buat aku tersiksa malam-malam tanpa kamu disamping aku! Buat aku jauh dari Fara, bahkan disaat kamu sakit, kamu juga tetap usir aku!" Ibra terus mengeluarkan unek-uneknya yang ia rasakan kepada Fatih selam empat tahun ini.
Fatih hanya menatap lurus kedepan, ia tidak mau menatap Ibra.
"Aku udah nggak pantas buat kamu, Mas! Masih banyak wanita yang sejajar dengan kamu..."
Jawaban Fatih begitu menusuk kalbu Ibrahim. Susah sekali untuk mendapatkan hatinya kembali.
"Lagi pula sudah empat tahun kita bercerai, pasti sudah ada beberapa wanita yang pernah mengisi relung hatimu." Fatih kembali menerka.
Ya, memang banyak wanita yang berlalu lalang masuk kedalam kehidupan Ibrahim selama empat tahun terakhir, walau Ibra hanya menganggap mereka seperti angin yang berlalu. di dasar hatinya masih menginginkan cinta sejatinya kembali yaitu, Fatih Medina.
Merasa Ibra hanya diam, membuat Fatih berfikir bahwa ucapannya adalah benar. Dan Ibra susah untuk menjawab dengan jujur.
"Benar kan apa kata ku? Kamu sudah punya calon?" tanya Fatih kembali. Membuat Ibra memberanikan diri untuk menggelengkan kepala.
"Demi Tuhan, tidak ada, Fat!" Ibra menjawabnya dengan pasti. Kembali menggenggam tangan Fatih yang sangat kurus. "Aku masih mengharapkanmu kembali." sambung Ibra dengan kehangatan yang tidak pernah berubah. Membuat Fatih memejam kedua mata, seperti terhanyut akan perhatian yang Ibra berikan.
Fatih kembali tersadar, dan melepas genggaman tangan itu.
"Itu tidak mungkin terjadi, Mas. Aku juga sudah memberikan banyak luka di keluargamu. Aku sudah menyakiti orang yang berharga di kehidupan mereka. Aku menjadikanmu bahan pelampiasan kekesalan orang tuaku!" Fatih menjeda ucapannya, rasa sakit diperutnya muncul dan terasa kembali, ia mencoba mengatur napasnya untuk kembali bebas.
"Sudahlah, Mas. Mungkin tali perjodohan kita sudah terhenti. Kamu nggak perlu repot-repot ingin kembali hanya karena kasian dengan penyakitku. Insya Allah, aku masih bisa menanggungnya sendiri, seperti dalam setahun terakhir ini."
"Kalau begitu bunuh saja aku, Fat! Kalau kamu masih tidak percaya dengan ketulusan hatiku untuk kamu!"
Fatih kembali menatap manik mata Ibrahim, mencari sinar kepalsuan namun sialnya tidak ia temukan. Malah hanya ada semburat keterpurukan yang pernah ia oleskan dengan sengaja di sana. Fatih merasa tidak pantas, untuk kembali ke pada Ibra disaat dirinya sudah tidak berguna lagi.
*****
Ayo mana nih suaranya yang seneng aku bawain dua episode di hari ini??
__ADS_1
Aku baik kan? Bayar aku dong dengan Like dan Komen dari kalian, jangan lupa ya, maacih. Semoga sehat selalu❤️