
Brakk!!
Kinanti terlihat melempar beberapa berkas dokumen yang tadi wanita itu sempat dibaca, rupanya perusahaan yang dikelola oleh Demian malah akan dikabarkan bangkrut lagi. Sehingga membuat wanita paruh baya itu terlihat sangat marah sekali.
"Apa-apaan kamu Demian, kenapa kamu malah mempercayai orang lain untuk memimpin di perusahaanmu? Dasar bo doh! Apa kamu tidak pernah memikirkan sebab serta akibatnya? Oleh sebab itu kamu malah mengentengkan masalah perusahaanmu sendiri seperti ini?" Deretan pertanyaan Kinanti tidak satupun yang dijawab oleh Demian, karena saat ini laki-laki itu tahu bahwa dirinya memang bersalah dalam hal ini.
"Kamu memang tidak tahu diri dan tidak tau terima kasih!" Kinanti berdekap tangan dengan nafas yang naik turun, karena wanita paruh baya itu merasa kalau pasti sebentar lagi perusahaan Tami yang ia ambil alih pasti juga akan kena imbasnya, sebab perusahaan Demian hanya mendapat dana dari perusahaan Tami itu. "Pokoknya jika kamu bangkrut pasti perusahaan Tami yang Ibu ambil dengan susah payah akan ikut serta juga, dan jika itu sampai terjadi maka siap-siap kita akan jatuh miskin!"
"Tidak, aku tidak mau kita miskin." Liana yang rupanya ada disana dari tadi membuka suara. "Ibu, harus mencari cara supaya itu tidak terjadi ayolah Bu, cari cara aku mohon."
"Jangan memohon pada Ibu, memohon saja sama suamimu yang kelewatan pintarnya ini. Jangan malah hanya bisa menghabiskan uang Ibu saja untuk bersenang-senang di klub malam bersama wanita-wanita murahan itu!"
Iya, rupanya selama ini Demian malah lebih sering menghabiskan malamnya di klub malam bersama kupu-kupu malam, hanya karena laki-laki itu tidak pernah betah di rumah, yang pada akhirnya malah memutuskan untuk pergi mencari hiburan ke tempat yang akan membuat Demian malah akan menjadi kecanduan seperti saat ini.
"Bu, bisa tidak kalau Ibu ini jangan terus-terusan menyalahkan Mas Demian, karena aku tidak suka kalau suamiku ini terus disalahkan seperti ini," kata Liana yang sekarang malah membela sang suami.
"Bela saja terus suamimu Liana, dia sudah nyata-nyata bersalah tapi kamu masih saja membelanya. Apalagi kalau dia benar pasti kamu akan umumkan pakai toa!" ketus Kinanti yang malah tambah kesal dengan menantunya itu karena putrinya malah membelala Demin. "Pokoknya jika besok pagi kita mendapatkan kabar buruk, maka siap-siap kita akan menjadi gelandangan yang akan hidup susah!" Setelah mengatakan itu Kinanti langsung saja pergi begitu saja, dengan membawa rasa dongkol di hati wanita paruh baya itu.
"Mas, jangan dengarkan apa yang Ibu katakan, karena aku yakin kalau Mas ini pasti akan bisa mengatasi masalah yang ada di perusahaan aku yakin akan hal itu," ucap Liana yang terus saja menyemangati sang suami, karena Liana sudah sangat menyayangi laki-laki itu sehingga membuat wanita itu merasa, kalau tidak ada yang boleh menyalahkan suaminya untuk saat ini, meskipun itu ibu kandungnya sendiri Liana akan tetap tidak suka.
__ADS_1
"Aahhkkhh, ini semua gara-gara Andri s*alan itu!" Demian terlihat malah mengacak rambutnya sendiri, karena sekertaris yang laki-laki itu percayai malah membocorkan data rahasia perusahaannya.
Sehingga membuat Demian saat ini sedang dilanda kegelisahan karena laki-laki itu tidak mau kalau perusahaannya akan bangkrut lagi gara-gara masalah ini.
"Cari laki-laki pecundang itu dan hancurkan dia, Mas."
"Tidak semudah itu!" bentak Demian kesal.
***
"Lapor Tuan, sekarang perusahaan yang dikelola oleh Demian dikabarkan akan segera bangkrut," kata laki-laki yang sekarang terlihat sedang menghubungi Bara.
"Bagus, itu yang aku mau lanjutkan saja. Aku suka cara kerjamu, Andri," kata Bara yang merasa kalau dirinya sebentar lagi akan mampu membuat musuhnya itu jatuh-sejatuhnya, dan itu artinya dendam laki-laki itu pada Demian dan Kinanti akan segera dibayar tunai. "Kamu kirim saja semua data-data pribadinya padaku, setelah itu kamu tinggal lanjutkan saja misi yang pernah aku bahas denganmu pada waktu itu," sambung Bara dengan suasana hati yang senang.
"Buat saja mereka saling tuduh satu sama lain, karena aku mau melihat itu dan usahakan kamu jangan pernah muncul di hadapan Demian." Bara mengingatkan Andri, laki-laki suruhannya yang selama ini laki-laki itu disuruh bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Demian.
"Oke, saya sudah paham maksud Anda."
"Kalau kamu sudah paham, saya harap dalam dua minggu ke depan jangan hubungi aku dulu Andri, karena aku ini sekarang orangnya agak sedikit sibuk."
__ADS_1
"Ah, saya sampai lupa kalau Anda pengantin bar–" Kalimat Andri terputus karena Bara sendiri malah memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.
"Tuan Bara kebiasaan sering kali memutuskan sambungan telepon secara sepihak, padahal kalimat saya belum selesai," gumam Andri pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, karena ini bukan yang pertama kalinya Bara memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Sebab bisa dikatakan setiap Andri menghubungi Bara pasti tuannya itu saja yang akan memutuskan telepon tanpa ada kata permisi terlebih dahulu.
***
Ketika malam menjelang, Bara tampak malu-malu ketika laki-laki itu ingin tidur di sebelah Tamara yang saat ini terlihat sudah terlebih dahulu tidur di ranjang pengantin mereka.
"Ara, apa boleh aku tidur diatas ranjang bersamamu?"
Mendengar itu Tamara yang dari tadi hanya pura-pura memejamkan mata mengangguk pelan. "Tidur saja, ini juga kan, kamarmu." Tamara menjawab dengan suara yang wanita itu buat seserak mungkin supaya Bara percaya kalau dirinya memang benar-benar tadi sedang tertidur.
"Tapi, kalau kamu keberatan aku akan tidur di kamar sebelah saja." Bara yang merasa kalau Tamara pasti belum mau tidur sekamar juga dengan dirinya, pada akhirnya mengatakan kalau dirinya mau tidur di kamar sebelah.
Tamara langsung saja membuka mata. "Kita sudah menikah tadi pagi Bara, lalu kenapa kamu malah mau tidur di kamar sebelah? Apa kamu mau membuat Mama dan yang lain bertanya-tanya, tentang pengantin baru yang tidurnya terpisah?"
"Bukan begitu Ara, tapi ...."
"Tapi apa, tapi supaya mereka menyalahkanku?" Tamara segera bangun dari tidurnya hanya untuk melihat sang suami. "Jawab aku, jangan malah diam saja. Apa jangan-jangan juga, kamu menikahiku hanya karena kasihan?" Tamara malah terdengar bicara serta bertanya kemana-mana pada Bara.
__ADS_1
"Lho, kenapa pembahasanmu malah sampai kesana, Ara?" tanya Demian balik pada Tamara.
"Sudahlah, aku malas bicara sama kamu Bar!" ketus Tamara yang sekarang kembali berbaring dan segera membelakangi laki-laki yang tadi pagi sudah sah menjadi suaminya itu. "Dasar laki-laki plin plan," gerutu Tamara yang sekarang masih saja membelakangi Bara.