Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Terluka


__ADS_3

Tamara terdiam saat mendengar itu semua, karena ia tidak pernah menyangka kalau Bara malah akan mengatakan itu semu pada dirinya.


"Kau mengancamku?" Dengan prasaan yang tidak menentu Tamara bertanya pada laki-laki yang sekarang terlihat menatapnya dengan tatapan datar.


"Jika itu menurutmu, maka saat ini aku benar-benar sedang mengancammu," jawab Bara yang sekarang membuang pisau pengupas buah itu ke bawah ranjang. "Ingat Ara, jika kamu ingin membunuh calon bayiku maka suamimu yang mandul itu akan lenyap di tanganku sendiri."


"Kau bukan malaikat, Bara!" pekik Tamara yang saat ini merasa bahwa Bara hanya menggertaknya saja, supaya dirinya menjadi takut dan mengurungkan niatnya untuk menggugurkan kandungannya.


"Aku memang bukan malaikat Ara, tapi aku ini memiliki kelebihan yang bisa mencabut nyawa orang yang aku mau. Kapanpun dan dimanapun, apa kamu paham?" Bara semakin terlihat mencengkram dagu wanita hamil itu. "Kamu tinggal lahirkan bayi ini untukku, setelah itu kamu bisa hidup dengan laki-laki mandul itu. Tanpa takut aku ini akan menggangumu lagi, apa kamu setuju?"


Tamara yang merasa dagunya saat ini sangat sakit dengan cepat menepis tangan Bara dengan sangat kasar.


"Tidak! Aku tidak setuju. Apa kau pikir aku akan merasa takut dengan kalimat ancamanmu itu? Kau sangat salah besar, Bara!"


Bara terkekeh karena laki-laki itu berpikir bahwa saat ini Tamara sedang meragukan dirinya.


"Ara, apa kamu lupa siapa aku ini?" tanya Bara yang saat ini terlihat berjalan memutari tubuh Tamara yang masih saja berdiri tegak. "Aku ini mantan narapidana, apa kamu sama sekali tidak mengingat itu semua?"


Tamara mengeleng dengan sangat kuat sambil menutup kupingnya, karena ingatan wanita itu tertuju pada saat dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dimana dulu Tamara hampir saja di lecehkan oleh kakak kelasnya namun, itu semua di gagalkan oleh Bara dengan cara laki-laki itu malah menghabisi kakak kelas Tamara dengan cara menikamnya beberapa kali menggunakan pisau tepat di jantung laki-laki yang ingin memperk*sa Tamara itu.

__ADS_1


"Tidak! Tidak ... tidak!" Tamara yang mengingat itu semua langsung saja tertunduk lemas di atas lantai yang malam ini terasa sangat dingin. "Tidak! Jangan ingatkan aku lagi tentang itu, jangan ingarakan aku lagi!" Tamara menutup kupingnya sambil terus saja menggeleng dengan sangat kuat.


"Ingat itu Ara, bagimana aku ini dengan sangat mudah melenyapkan nyawa laki-laki terkutuk itu di saat usiaku baru saja berusia 14 tahun, dan sekarang pasti aku akan lebih mudah melakukan itu pada suamimu. Apalagi aku ini adalah orang yang kebal dengan hukum. Jadi, dapat aku pastikan kalau aku ini bisa dengan sangat mudah menghapus jejak bahkan tidak akan meninggalkan secuilpun barang bukti. Jika aku ini akan benar-benar melenyapkan suami mandulmu itu," kata Bara panjang lebar.


"Stop! Jangan katakan apapun lagi. Karena aku tidak ingin mendengarnya."


"Kamu lah yang telah mengajarkanku menjadi seorang pembunuh pada waktu itu Ara. Jadi, aku harap saat ini kamu jangan pernah macam-macam denganku jika kamu mau kalau suamimu tetap hidup." Bara saat ini sedang menunjukkan sifat aslinya, karena selama ini sikap baiknya pada Ara hanya laki-laki itu lakukan untuk meluluhkan hati wanita itu.


Namun, apa daya rupanya Tamara sama sekali tidak bisa luluh membuat Bara merasa kalau dirinya mungkin hanya parlu menunjukkan sifat asli yang selama ini bersembunyi di baik wajah lugu, baik, dan sok polosnya itu.


"Jika kau berani menyentuh Mas Demian, maka aku akan mengakhiri hidupku sendiri. Camkan itu Bara," kata Tamara yang sekarang malah terdengar balik mengancam Bara. Karena rupanya wanita itu semakin yakin kalau rupanya laki-laki itu masih mencintainya sampai detik ini.


"Hentikan! Kau jangan semakin gila bedebah." Tamara menjauhkan dirinya dari Bara. Saat wanita itu merasa sangat risih tatkala Bara menc*um rambut panjang dan indahnya. "Kau juga jangan semakin kurang ajar, Bara! Ingat aku ini istri orang, jangan malah sesuka hati dan seenak jidatmu malah menci*um rambutku ini." Tamara terlihat mengangkat tangannya, karena wanita itu sepertinya mau menampar Bara. Sebab Tamara sudah kelewatan kesal dan marah dengan laki-laki yang bagi wanita itu sangat menyebalkan.


Namun, saat tangan mulus Tamara hampir saja menyentuh kulit wajah Bara, tiba-tiba saja tangan laki-laki itu malah memegang pergelangan tangan wanita itu.


"Jangan lakukan ini pada calon Ayah bayimu, Ara. Karena nanti kamu bisa saja menyesal." Bara lalu terlihat menurunkan tangan Tamara. "Aku harus pergi, karena sebantar lagi suami mandulmu akan pulang. Dan ingat jaga anak kita ini dengan baik-baik dan jangan macam-mac–"


"Brengsek!" potong seorang laki-laki yang baru saja masuk ke dalam kamar itu.

__ADS_1


Bughh, buughh ....


Dubrakkk!!


"Akhh ... s*alan!" umpat Bara yang malah jatuh tersungkur.


"Kau, dasar ba ji ngan ...!" Laki-laki itu malah mau memberikan Bara bogem mentah tapi tiba-tiba saja.


Sreett!


Satu sayan berhasil Bara tu sukkan pada lengan Demian yang ternyata baru saja datang. Karena Bara masah saat Demian malah langsung saja memeberikan dirinya dua bogem mentah dan langsung saja menendang perut laki-laki yang mimik wajahnya itu malah berubah menjadi joker.


"Mas Demian!" seru Tamara sambil menghampiri sang suami, yang sekarang terlihat laki-laki itu sedang memegang tangannya yang terluka. "Mas terluka," ucap wanita itu panik.


"Minggir Ara!" Demian malah menepis tangan Tamara. Karena saat ini laki-laki itu sepertinya ingin membuat perhitungan dengan Bara.


"Mas, kamu terluka."


"Kamu keluar saja dari sini, biar Mas bisa menghabisi laki-laki ba ji ngan ini." Demian terlihat berjalan ke arah Bara yang sekarang tersenyum ke arah dirinya. Dan sepertinya Bara saat ini sedang mengejek Demian.

__ADS_1


__ADS_2