Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Malam yang S*al Bagi Demian


__ADS_3

Di tengah perjalanan saat Demian mempercepat laju mobilnya, tiba-tiba saja terdengar suara ban mobil yang malah meledak membuat laki-laki itu langsung saja menginjak pedal rem secara mendadak.


"Ah s*al! Di saat istriku ada dalam bahaya. Ban mobil ini malah meledak, kurang ajar!" gerutu Demian yang kini terlihat kaluar dari dalam mobilnya hanya untuk sekedar melihat ban mobilnya. "K*parat! Di situasi genting seperti ini kau malah meledak." Demian yang kesal menendang ban mobil itu beberapa kali. "Sekarang bagimana ini? Mana tempat ini juga sangat sepi sekali," gumam Demian pelan sambil mengotak atik benda pipihnya karena ia saat ini mau memesan taxi online.


"Ya Tuhan, selamatkan istriku, jangan sampai ada hal yang buruk terjadi dengannya." Rasa gelisah semakin menggerogoti hati Demian. Karena di saat sang istri sedang membutuhkan pertolongannya ban mobilnya malah pecah di tengah jalan, yang sepertinya jalan itu sangat jarang di lalui oleh kendaraan. "S*al, sangat s*al! Taxi itu akan datang ke sini dua puluh menit lagi, dan apa kabar dengan istriku di rumah?" Laki-laki itu lagi-lagi melampiaskan kemarahannya pada mobilnya dengan cara menandang bannya. "Jika sesuatu terjadi dengan Ara, maka aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri," kata Demian yang sekarang terlihat masuk lagi ke dalam mobil karena laki-laki itu merasa bahwa ia harus menunggu taxi yang tadi ia pesan di dalam mobil saja.


"Ara, semoga saja tidak ada yang terjadi denganmu, dan semoga juga yang tadi itu kamu hanya mau mengerjai Mas saja." Demian mengatakan itu hanya untuk membuat hatinya sendiri menjadi lebih tenang. Meskipun firasatnya sudah mengatakan kalau sesuatau hal yang buruk sedang terjadi dengan sang istri.


"Tidak bisakah sopir taxi itu mengebut saja? Di saat pikiranku sedang kacau balu begini!" gerutu Demian yang tiba-tiba saja malah merasa kesal juga dengan sopir taxi online yang ia pesan. "Kenapa dia malah lama sekali?!" gigi Demian terdengar menggeletuk saking kesalnya, dan dengan raut wajahnya yang kini malah terlihat datar sambil menatap lurus ke depan sana.


"Kurang ajar! Sampai kapan aku akan menunggu taxi itu? Jika begini terus maka aku tidak akan mungkin bisa dengan cepat sampai ke rumah." Demian mendesis dan memu kul stir itu dengan kedua tangannya. "Ayolah sopir taxi s*alan, cepatlah datang!" Demian ingin sekali rasanya berteriak di tempat yang sangat sepi itu.

__ADS_1


Namun, laki-laki itu memilih untuk diam saja, sebab ia tidak tahu apakah tempat itu rawan begal ataupun rampok dan sejenisnya. Membuat Demian merasa bahwa malam ini adalah malam s*alnya bagi dirinya sendiri. "Aku pokoknya harus sampai di rumahku tepat waktu! Iya harus …!"


***


Sekarang terlihat Demian sudah duduk tenang di dalam taxi yang tadi ia pesan melalui online. Dan kini laki-laki itu terlihat malah semakin gelisah di saat lagi-lagi taxi itu mengerem dengan cara mendadak, sehingga membuat Demian malah terhuyung ke depan.


"Bapak ini magang atau gimana?!" bentak Demian yang kali ini kekesalannya sudah sampai di ubun-ubun. Bagimana tidak? Tadi sopir taxi itu sudah berhenti sebanyak dua kali hanya gara-gara sopir itu mau pipis. Dan sekarang sopir itu malah mengerem secara mendadak. "Jika Bapak tidak bisa menyetir dengan baik dan benar, tidak usah jadi sopir taxi!"


"Akh!" Demian mengacak-ngacak rambutnya sendiri dengan sangat kasar. "Malam apa ini? Kenapa aku sangat sial sekali?" Terlihat jelas rahang Demian mengeras saking kesalnya laki-laki itu. Ia juga terdengar mengumpat beberapa kali mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor.


"Sabar Tuan, karena setahu saya tidak ada yang namanya malam yang sial," kata sopir itu setengah berbisik. "Sebentar lagi pasti jalan akan kembali normal dan tidak akan ada kata macet la–"

__ADS_1


"Apa kau tahu istriku ada dalam bahaya, hah? Apa kau tahu itu?!" Demain menarik kerah baju sopir itu.


"Tu-tuan, maafkan saya. Karena saya tidak tahu kalau istri Anda ada dalam bahaya." Tubuh sopir itu gemetaran gara-gara bajunya di tarik oleh Demian.


"Ini ongkosmu! Lebih baik aku turun saja!" Sesaat setelah mengatakan itu Demian mendorong sopir itu dengan sangat kasar. "Lebih baik juga aku memilih untuk jalan kaki saja, dari pada harus terlambat menyelamatkan istriku." Demian lalu turun dari dalam taxi itu begitu saja. Tanpa memperdulikan sopir taxi itu memanggilnya berulang-ulang kali.


Sebab bagi Demian ia harus bisa segera sampai di rumahnya. Laki-laki itu juga merasa tidak masalah jika ia harus berjalan kaki meski letak rumahnya masih sangat jauh.


"Aku lebih baik jalan kaki saja, daripada harus menunggu di dalam taxi itu saja. Di saat aku tidak tahu bagimana keadaan Ara di rumah." Sambil terus berjalan bahkan sekarang Demian terlihat berlari, laki-laki itu terus saja berbicara pada dirinya sendiri. "Ara, Sayang, sabar. Mas akan segera sampai di rumah," ucap Demian lirih dan semakin mempercepat langkahnya untuk berlari di terotoar.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2