
"Ini semua gara-gara Mama!" teriak Demian membentak Renata, karena laki-laki itu tidak melihat Tamara dan Bara lagi disana. Sehingga membuat laki-laki itu sekarang malah memarahi wanita paruh baya itu.
"Mian, jangan ganggu Ara lagi, biarkan dia bahagia dengan laki-laki pilihannya sendiri. Lagipula kamu juga sudah bahagia bersama Liana dan kamu sudah mendapatkan apa yang selama ini kamu mau serta inginkan." Renata tahu kalau saat ini pasti Demian sudah mulai menyesali apa yang laki-laki itu selama ini lakukan pada Tamara. Namun, Renata masih saja tidak mau mengatakan itu semua pada putranya. "Berbahagialah dengan wanita pilihanmu itu Demian, dan jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Ibarat kata nasi kalau sudah menjadi bubur maka tidak akan mungkin bisa menjadi beras lagi. Coba kamu renungkan dan pikirkan setiap kalimat yang kamu dengar dari mulut Mama ini, Demian," kata Renata panjang lebar saat wanita paruh baya itu berbicara pada putranya.
"Cukup, jangan bicara apapun lagi Ma, karena aku sudah tidak mau mendengar apa yang akan Mama katakan. Padahal Mama tahu sendiri kalau aku melakukan ini semua demi perusahaan almarhum Papa supaya tidak bangkrut. Tapi apa Mama selalu saja menyalahkan aku." Demian memang benar bahwa dirinya melakukan itu semua demi perusahaan sang ayah. Namun, yang laki-laki itu lakukan sangat salah.
"Cara kamu itu salah Demian, andai saja kamu mengatakan yang sejujurnya pada Ara maka dia pasti akan bersedia membantumu. Bukan malah dengan cara menjijikan seperti apa yang Kinanti ajarkan untukmu," ucap Renata sebelum wanita itu pergi meninggalkan putraya yang masih saja terlihat kebingungan disana, karena laki-laki itu terlihat terus saja celingak-celinguk sedang mencari Tamara.
"Nanti cari aku, jika Mama butuh. Kalau sekarang mungkin Mama belum membutuhkan aku." Demian malah mengatakan itu pada ibu kandungnya sendiri. Laki-laki itu juga sama sekali tidak menghalangi Renata untuk pergi karena Demian sedikit takut jika Kinanti tahu kalau Renata sudah keluar dari rumah sakit jiwa, maka dapat dipastikan kalau wanita paruh baya yang licik itu pasti akan berusaha mencelakai Renata. Sehingga membuat Demian merasa kalau lebih baik sang ibu pergi saja daripada harus berurusan dengan anak buah Kinanti.
"Kamu yang akan membutuhkan Mama, Demian bukan Mama yang membutuhkanmu, ingat dan simpan kata-kata Mama ini!" seru Renata saat ia sudah masuk ke dalam taxi yang tadi wanita itu tumpangi hanya untuk mengikuti Demian, karena wanita itu penasaran ketika melihat putranya itu yang keluar dari rumah Kinanti dengan raut wajah yang tidak enak dipandang. Sehingga membuat Renata berinisiatif untuk membuntuti sang putra.
***
Demian terlihat pulang ke rumah Kinanti dengan penampilan acak-acakan serta bau minuman alkohol yang begitu sangat menyengat. Membuat Liana yang dari tadi sudah menunggu laki-laki itu pulang malah terlihat berdecak pinggang di depan pintu kamar mereka.
__ADS_1
"Darimana saja kamu, Mas, sehingga jam segini kamu baru pulang?" tanya Liana meskipun saat ini wanita itu sudah tahu kalau pasti Demian sudah pergi ke mini bar yang ada di dekat kantor laki-laki itu. "Mas, aku tanya Mas sudah pergi ke mana–"
"Minggir Liana, aku sangat lelah dan capek," potong Demian cepat sambil mendorong wanita itu pelan. "Minggir, dan biarkan aku malam ini istirahat jangan malah mau kamu ganggu terus!" ketus Demian yang terlihat berjalan terhuyung-huyung.
"Apa kamu mabuk lagi, Mas?" Liana menarik jas yang Demian kenakan.
"Bukan urusanmu, Liana, minggir!" Sekarang Demian malah mendorong Liana kasar. Sehingga hampir saja membuat wanita itu jatuh jika saja Liana tidak berpegangan pada baju laki-laki itu. "Awas Liana, jika kau tidak tahu apa arti kalimat minggir." Kini suara laki-laki itu terdengar serak dan berat.
"Mas bilang mau ke kantor karena ada meeting, tapi kenapa Mas malah pergi ke tempat terkutuk itu? Kenapa, Mas bisa jawab aku sekarang?"
"Apa bersenang-senang dengan je la ng di bar, itu yang Mas kira meeting? Dasar laki-laki hidung belang!" Liana yang kesal malah mendorong suaminya itu sekuat tenaga, sehingga Demian yang saat ini sedang dalam keadaan setengah sadar malah tersungkur sehingga kening laki-laki itu terbentur kaki ranjang di kamar mereka itu. "Mas!" pakik Liana saat melihat kening laki-laki itu malah mengeluarkan darah, karena mungkin saja itu gara-gara kaki ranjang itu.
Sedangkan Demian terlihat langsung saja tergeletak di lantai karena laki-laki itu malah menjadi tidak sadarkan diri membuat Liana langsung saja panik.
***
__ADS_1
"Kamu apakan suamimu, Liana?" tanya Kinanti saat melihat kening Demian sudah di balut dengan perban.
"Aku sengaja mendorongnya," jawab Liana tanpa harus berbohong. "Lagian, dia sudah punya istri masih saja suka main ke bar. Aku 'kan, jadi tidak bisa terima semua itu," sambung Liana yang saat ini duduk di pinggir ranjang. Sambil beberapa kali melihat Demian karena laki-laki itu saat ini masih tidak sadarkan diri.
"Lain kali jangan seperti itu, apa kamu ini tidak takut kalau nanti dia malah akan berpaling ke lain hati. Jika kamu terus-terusan begini?" Kinanti saat ini sedang berusaha untuk mengingatkan sang putri, karena Kinanti tahu laki-laki seperti Demian pasti akan sangat mudah ditaklukkan hanya bermodal dengan pa ha dan da da.
"Maka dari itu Bu, aku sangat marah karena aku takut kupu-kupu malam yang bekerja di bar itu malah akan merayu serta mengganggu suamiku." Bibir Liana maju beberapa santi saat wanita itu menjawab sang ibu. "Pokoknya aku mulai sekarang aku ini harus ikut kemanapun Mas Demian pergi, karena aku tidak mau hal serupa seperti ini malah akan terulang lagi. Pokoknya tidak boleh."
Kinanti menghela nafas. "Terserah kamu saja Liana, yang terpenting kamu harus tetap ingat kalau Demian ini sekarang adalah suamimu, suami yang harus mencari nafkah buat kamu. Masa iya, selama lima bulan ini Ibu saja yang menanggung semuanya mulai dari tagihan listrik bahkan kalau kamu shoping Ibu yang harus membayarnya."
"Sejak kapan Ibu mulai hitung-hitungan begini denganku?" tanya Liana pada sang ibu.
Kinanti yang ditanya langsung menggeleng kuat. "Bukan Ibu perhitungan, tapi alangkah baiknya kalau uang Demian juga kamu pakai jangan pakai uang Ibu saja. Semoga kamu sampai sini paham Liana."
Liana malah menatap Kianti dengan tatapan yang tidak suka, ketika ia mendengar itu. "Justru Ibu itu harus berterima kasih pada Mas Demian, karena jika tidak ada Mas Demian pasti Ibu tidak akan memiliki harta yang berlimpah ruah seperti sekarang ini," ucap Liana. "Intinya Ibu jangan lupa daratan!" ketus Liana yang tidak suka Kinanti malah akan perhitungan dengan dirinya dan Demian.
__ADS_1