Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Tanda Tangan


__ADS_3

Melihat tanda-tanda Tamara akan sadar, Demian terlihat segera menghampiri wanita yang sangat menyedihkan itu.


"Sayang, kamu sudah bangun, sekarang kita harus pergi ke pemakanan," kata Demian sambil menyerahkan sebuah kertas pada Tamara. "Tapi sebelum itu, Mas minta kamu tandatangani dulu surat ini sebelum kita berangkat kesana, karena ini sangat penting."


Tamara segera bangun dan menatap Demian dengan bingung, sebab di situasinya yang saat ini sedang berduka laki-laki itu malah meminta dirinya untuk tanda tangan. Sungguh Demian seperti manusia yang tidak punya perasaan sedikitpun. Meskipun wanita itu sudah lama bersamanya namun itu semua tidak menjadi tolak ukur laki-laki itu malah akan memperlakukan Tamara seperti saat ini.


Bukannya memenangkan Tamara tapi Demian malah mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini. Dimana laki-laki itu lebih mementingkan tandatangan Tamara dari apapun itu.


"Sayang, ayo tanda tangan dulu biar proses pemakaman papa berjalan dengan lancar, karena ini adalah surat persetujuan." Demian meraih telapak tangan Tamara sambil memberikan wanita itu bolpoin. "Tanda tangan disini saja." Laki-laki itu sekarang menunjukkan tempat Tamara harus tanda tangan.


"Mas, kenapa tidak ibu saja? Sebab ibu yang lebih berhak dariku." Tamara menatap Demian saat mengatakan itu karena wanita itu melihat tidak ada raut kesedihan sedikitpun di wajah laki-laki itu. Sehingga membuat Tamara bertanya-tanya di dalam benaknya sebab ia merasa kalau Demian agak sedikit berbeda.


"Ibu dan Liana masih pingsan. Jadi, Mas terpaksa meminta tanda tanganmu meskipun Mas tahu kamu saat ini sedang berduka, begituan sebaliknya Mas juga berduka atas kepergian papa Herdi secara mendadak." Demian lagi-lagi menyodorkan kertas yang tadi pada Tamara. "Tanda Tangan biar proses pemakaman papa berjalan lancar," kata Demian sekali lagi.


Tamara yang takut kalau penyakit pelupanya akan kambuh lagi sebelum pergi ke pemakaman, kini wanita itu terlihat tanpa membaca surat berkas itu terlebih dahulu langsung saja menanda tanganinya dan tidak ada keraguan sedikitpun didalam benak wanita itu.


"Yes, akhirnya semuanya sudah terwujud. Harta warisan Ara akan jatuh ke tanganku juga tangan ibu Kinanti," gumam Demian di dalam benaknya, yang kini bersorak kegirangan. The real semua bisa berubah kapan saja, dari yang tulus malah menjadi modus hanya demi harta.


"Sudah Mas." Kalimat Tamara membuat Demian yang sedang melamun karena sibuk menghitung harta warisan itu langsung saja terlonjak kaget. "Mas, ini aku sudah menanda tanganinya, sekarang ayo kita pergi ke pemakaman."


Demian mengangguk sambil berkata, "Ayo Sayang, mungkin saja ibu sudah sadar."

__ADS_1


Tamara baru saja akan turun dari ranjang itu. Namun, tiba-tiba saja suara Renata yang menangis tersedu-sedu membuat Tamara malah diam mematung.


"Ara jangan tandatangani surat itu, mama mohon jangan." Dengan air mata yang sudah membanjiri pipi keriput Renata, wanita paruh baya itu terdengar malah meminta Tamara untuk tidak menandatangani surat itu. "Kamu Demian, kenapa malah menjadi manusia rakus seperti ini? Kamu bukan putra yang Mama kenal." Renata sekarang menatap putranya.


"Mama," panggil Demian yang merasa panik, karena laki-laki itu takut jika saja Renata akan memberitahu Tamara semuanya. "Mama ngapain disini? Sekarang lebih baik Mama pergi saja jangan ganggu Ara." Demian dengan langkah lebar mendekati sang ibu.


"Ara, dengarkan mama, Demian dan ibu tiri kamu sebenarnya mereka ja–"


"Mama!" seru Demian setengah berteriak sehingga membuat kalimat wanita paruh baya itu terputus. "Pulang, jangan buat kekacauan disini, disaat kami semua sedang berduka."


"Demian, kamu sangat tega!" Renata menunjuk wajah Demian. "Rupanya cinta yang selama ini kamu berikan pada Tamara sama sekali tidak membuatmu menjadi merasa iba dan kasihan pada Ara, justru sebaliknya kamu malah akan tega merebut apa yang bukan menjadi milikmu."


Tamara hanya diam saja karena saat ini wanita itu sedang berusaha mengingat-ngingat siapa Renata. Sebab Tamara sudah satu bulan lamanya tidak pernah bertemu dengan wanita paruh baya itu. Sehingga membuat ingatan Tamara tentang Renata sangat minim bahkan mungkin saja wanita itu sudah lupa.


"Cukup Demian! Jangan jadikan Tamara seperti boneka." Pada saat Renata masih saja marah-marah dengan putranya tiba-tiba saja Kinanti datang sambil bertepuk tangan.


"Pemandangan yang sangat luar biasa, senang bertemu dengan Jeng Renata." Kinanti tersenyum menatap Renata. "Mari jika Anda ingin bicara dengan saya, kita bisa keruangan sebelah jangan mengganggu putri saya yang masih bersedih karena kepergian Mas Herdi." Setelah mengatakan itu Kinanti segera membawa Renata keluar dari kamar itu.


Sedangkan Renata yang di todong dengan senjata api pada perutnya hanya bisa pasrah, menurut untuk keluar dari sana karena wanita itu masih sayang dengan nyawanya di tambah Aploso, sang suami masih terbaring lemah di rumah sakit gara-gara penyakit jantung Aploso kambuh.


Tamara masih saja diam saja saat wanita itu menyaksikan itu semua, karena kini Tamara malah semakin bingung. "Mas apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Sayang, kita pergi ke pemakaman jangan pikirkan yang tadi karena Mama saat ini sama seperti kita pasti sedang berduka." Demian menjawab Tamata dengan kalimat yang mudah dipahami oleh wanita itu. "Mama akan ditayangkan oleh ibu Kinan, sekarang kamu tidak usah memikirkannya."


Dengan lugu dan bodohnya Tamara mengangguk patuh, saat Demian mengatakan itu semua.


***


Tanah yang basah karena gerimis menjadi saksi bisu bagaimana keadaan Tamara saat ini. Dimana wanita itu yang saat ini sedang menangis tanpa mengeluarkan suara.


"Papa, kenapa Papa sejahat ini padaku? Sehingga membiarkanku sendiri disini." Tamara berbicara sendiri di dalam benaknya sambil memeluk nisan sang ayah dengan sangat erat. "Kemana aku harus mengadu jika aku ada masalah?" sambung Tamara membatin.


"Sebaiknya bawa Ara pulang, karena sepertinya gerimis ini malah akan menjadi hujan yang sangat deras," bisik Kinanti menyenggol lengan Demian.


Demian mengangguk dan segera berjongkok di dekat Tamara, wanita yang nasibnya ada di tangan sang ibu tiri yang selama ini menggunakan topeng.


"Kita pulang ya, nanti kalau kamu tetap diam disini kamu bisa demam, karena gerimis ini." Demian berbicara lembut pada Tamara. "Ara, kita pulang," ajak Demian sekali lagi.


"Aku nanti belakangan saja." Lirih Tamara yang nampaknya masih sangat enggan meninggalkan makam sang ayah.


"Harus sama-sama, ibu Kinanti juga kasihan dia," kata Demian.


Tamara menggeleng kuat. "Tidak, jika Mas mau pulang, pulanglah bersama ibu karena aku benar-benar masih mau disini menemani Papa." Wanita itu rupanya benar-benar tidak mau pulang.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu Mas sama ibu pulang duluan." Demian lalu berdiri dan segera pergi dari sana.


__ADS_2