
"Sekarang lepaskan aku dan bebaskan Mas Demian, karena di dalam rahimku ini sudah tidak ada bayimu lagi," ucap Tamara tanpa mau melirik Bara yang baru saja masuk. "Jadi, sudah tidak ada alasan lagi bagimu untuk menjadikan aku tawanan," sambung Tamara.
"Tidak Ara, jika kamu aku bebaskan maka mereka akan tahu kalau kamu ini masih hidup, dan kemungkinan besar mereka malah akan mengincarmu lagi." Bara menolak untuk membebaskan Tamara meskipun di dalam rahim wanita itu sudah tidak ada lagi darah dagingnya.
"Sekarang alasan apalagi yang ingin kau gunakan untuk menahanku supaya tetap berada di sisimu? Dan jangan pikirkan tentang mereka yang terpenting kau bebaskan saja aku!"
"Alasannya kamu telah membuat bayiku meninggal dan itu artinya kamu harus tetap bersamaku Ara, karena sekarang juga status kamu seorang janda. Jadi, tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi di saat kamu janda dan aku laki-laki single." Bara tanpa memikirkan apapun malah mengatakan itu semua pada wanita itu. "Dan aku akan tetap memikirkan keselamatanmu, di saat orang-orang jahat dan serakah itu mau menyakitimu, Ara."
"Dasar gila!" geram Tamara.
"Ara aku tidak peduli kamu menganggapku gila, yang terpenting sudah sangat jelas, kamu akan tetap berada di sisiku, untuk Demian aku sudah mengirimnya pergi jauh dari sini, dan bukti yang Tante Tami katakan itu akan aku perlihatkan padamu jika nanti keadaanmu sudah kembali pulih," sambung Bara.
"Tidakkah kamu merasa kasihan sedikitpun padaku?"
"Justru aku merasa sangat kasihan padamu Ara, maka dari itu aku nekat melakukan ini semua demi menyelamatkanmu dari orang-orang jahat itu," jawab Bara.
Tamara menggeleng dengan sangat kuat. "Di sini kau lah penjahatnya Bara, bukan Mas Demian apalagi Papaku dan ibu Kinanti." Rupanya Tamara masih saja tidak percaya dengan apa yang sudah Tami katakan padanya beberapa jam yang lalu. "Kau dan wanita itu penjahatnya, dimana kalian telah tega memisahkan aku dengan suamiku serta keluargaku juga."
__ADS_1
"Ralat, mungkin mksudmu mantan suamimu," timpal Bara mengingatkan wanita itu.
"Tidak, Mas Demian tetap suamiku mau sampai kapanpun itu. Aku ingatkan sekali lagi bahwa Mas Demian itu akan tetap menjadi suamiku dan aku tidak peduli meskipun dia mau menyingkirkan aku dari muka bumi ini."
"Kamu sangat keras kepala Ara, sudah nyata-nyata kamu mendengar semua kebenarannya tapi kamu masih saja tetap memilih laki-laki mandul itu!" desis Bara yang sedikit merasa kesal dengan kalimat Tamara.
"Bukan urusanmu!" ketus Tamara "Mau aku memilih dia sebagai laki-laki satu-satunya di dalam hidupku, intinya itu tetap bukan urusanmu dan dirimu tidak berhak ikut-ikutan menjelekkan Mas Demian di depanku. Karena justru itu yang membuatku menjadi merasa muak padamu!"
"Kapan kamu akan sadar Ara? Biar kamu bisa melihat siapa yang tulus dan modus." Bara sepertinya sudah mulai putus asa dalam hal mengingatkan wanita itu. "Sepertinya kamu harus melihat rekaman video itu, supaya kamu percaya dengan kalimat Tante Tami dan juga apa yang telah aku katakan tadi."
"Baiklah Ara, sepertinya kamu membutuhkan waktu supaya bisa paham dengan semua ini. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja biar keadaan kamu cepat pulih setelah hal buruk yang menimpamu." Bara kemudian terlihat mengusap wajahnya dengan sangat kasar. Sebab laki-laki itu merasa bahwa dirinya tidak bisa meyakinkan Tamara tentang kebenaran itu.
"Arsiy, akan menemanimu di sini. Jadi, kamu tidak usah takut." Setelah mengatakan itu Bara benar-benar pergi dari ruangan itu. Membawa hati yang terasa nyeri karena Tamara tidak bisa mempercayai dirinya semudah itu.
***
"Nyonya makan sedikit saja, supaya perut Anda tidak kosong. Karena Anda tidak mau makan dari tadi siang," kata Arsiy yang sekarang ini sedang membujuk Tamara untuk makan. "Dua sendok saja Nyonya, supaya penyakit magh Anda tidak kambuh."
__ADS_1
"Aku tidak lapar Arsiy!" bentak Tamara yang kemudian membuang semangkuk bubur yang di pegang oleh asistennya itu. "Harus berapa kali aku katakan, bahwa aku ini tidak lapar!"
Arsiy kaget bukan main karena baru kali ini gadis itu melihat Tamara yang marah malah membuang semangkuk bubur itu, sehingga membuat bubur itu berserakan di lantai dan dengan mangkuk yang sudah pecah.
"Nyonya, Hero sudah membuat bubur ini bersusah payah. Tapi kenapa Anda malah membuangnya?"
"Untung tidak kamu saja yang aku buang dari lantai lima ini Arsiy, sudah bagus aku hanya membuang semangkuk bubur yang berisi racun itu."
"Racun? Dimana racun itu, Nyonya?"
"Bubur yang ingin kamu berikan itu," jawab Tamara singkat.
"Astaga, apa sejelek dan seburuk itu pkiran Anda terhadap diri ini Nyonya?" Arsiy tidak pernah menyangka kalau Tamara bisa berpikiran begitu buruk padanya. Sehingga membuat gadis itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu anak buah Bara, dan tentu saja kamu sama liciknya dengan Tuanmu itu." Tamara menimpali Arsiy yang sekarang terlihat berjongkok karena gadis itu sedang memungut pecahan mangkuk itu.
"Nyonya di dalam bubur ini tidak ada secuil pun racun seperti yang Anda sebutkan tadi, sungguh otak Anda benar-benar sudah di penuhi dengan pikiran jelek," ucap Arsiy pelan.
__ADS_1