Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Sifat Asli


__ADS_3

Bruk!


Tamara jatuh tepat di depan rumah tempatnya di besarkan, rupanya wanita itu memilih pulang kesana dari pada rumah Demian karena Tamara merasa disaat-saat seperti ini ia harus saling menguatkan dengan ibu serta adik tirinya. Mengingat mereka bertiga baru saja kehilangan sosok laki-laki yang sangat berjasa dan berarti dalam hidup mereka.


Namun, rupanya Tamara sangat salah besar. Dimana ia memilih keputusan yang salah karena di dalam rumah itu Tamara akan diperlihatkan watak asli dari ibu tiri yang selama ini selalu ia bela di depan ibu kandungnya sendiri, dan dari sinilah Tamara mulai menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Tami dan Bara adalah sebuah kebenaran. Meskipun Tamara hanya mengingat bagian Tami yang mengatakan kalau ibu tirinya itu orang jahat.


"Apa ini? Kenapa orang-orang ini berkumpul disini?" tanya Tamara di dalam benaknya saat ia melihat kerabat Kinanti sudah memenuhi ruangan itu.


Namun, detik berikutnya pertanyaan yang tadi sempat dilontarkan akhirnya terjawab juga saat wanita itu mendengar Demian mengucapkan ijab qobul dengan sangat lancar. Hingga suara sah terdengar di ruangan itu, membuat Tamara yang tadi sempat jatuh mencoba untuk bangun.


Akan tetapi, saat wanita itu sudah berhasil bangun, Tamara malah di hadang oleh Kinanti yang sengaja menghampiri wanita yang sangat menyedihkan itu.


"Ibu, kenapa Mas Demian menikah dengan Liana, tanpa meminta persetujuan dariku?" Tamara langsung saja bertanya seperti itu pada ibu tirinya.


"Itu tidak penting, sekarang kau angkat kaki saja dari rumah ini jangan ganggu kebahagiaan putriku," kata Kinanti setengah berbisik saat wanita paruh baya itu sudah sangat dekat dengan Tamara. "Karena apa yang aku inginkan selama ini sudah terwujud. Jadi, aku wanita tua ini sudah tidak membutuhkan dirimu lagi." Kinanti dengan teganya malah mendorong wanita yang lemah itu.


"Ibu, apa maksud ibu?" Tamara yang sekarang agak sedikit lemot, belum mengerti maksud Kinanti.

__ADS_1


"Pergi! Kau dan aku tidak ada hubungan apapun lagi." Kinanti mendorong Tamara lagi saat wanita paruh baya itu melihat Tamara masih saja kebingungan. "Semua sudah selesai, apa yang aku inginkan sudah terwujud. Kamu sekarang di rumah ini bukan sipa-sipa lagi, dan inilah sifat asliku dimana aku selama ini bersikap baik padamu hanya untuk menutupi semua kejahatanku. Tapi di hari yang sangat bahagia ini aku akan membongkar siapa aku yang sebenarnya."


"Ibu sedang bercanda 'kan?"


"Satpam, usir wanita ini dan jangan pernah biarkan dia menginjakkan kaki lagi di rumahku ini!" seru Kinanti memanggil satpam yang sedang berjaga disana. "Jangan biarkan dia merusak moment-moment bahagia putri semata wayangku," sambung Kinanti.


Tamara terdiam sejenak karena wanita itu merasa bahwa dirinya saat ini sedang bermimpi buruk. Sebab ia tidak pernah menyangka kalau ibu tirinya akan berubah menjadi jahat seperti ini padahal sang ayah baru saja selesai dimakamkan.


"Pergi Ara! Kau bukan keluargaku lagi karena kau hanya benalu, sudah cukup 15 tahun aku merawatmu hingga membesarkanmu, sekarang sudah waktunya kau membayar jasa-jasaku itu. Dengan cara menuruti permintaanku untuk pergi jauh dari kehidupanku serta kehidupan putriku."


"Tidak mungkin, ibu tidak akan mungkin mengatakan ini semua karena ibu Kinan yang aku kenal adalah wanita yang lemah lembut tidak begini." Tamara menggeleng kuat saat wanita itu belum sepenuhnya percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. "Ini pasti karena kepergian Papa sehingga membuat ibu menjadi berubah begini. Ibu katakan jika tebakanku ini benar, dan aku tidak keberatan kalau Mas Demian menikah dengan Liana." Dengan polosnya Tamara malah mengatakan itu pada wanita paruh baya itu.


Duarr!


Tamara langsung saja mematung dan bungkam tatkala Kinanti membawa-bawa harta warisan sehingga membuat wanita yang kadang lupa, kadang ingat itu langsung saja mundur beberapa langkah, karena ia tidak sanggup menerima kenyataan pahit yang di katakan tadi oleh wanita paruh baya yang sudah bersamanya selama 15 tahun itu.


"Sekarang semuanya sudah jelas, kau tinggal enyah dari sini, karena inilah watak serta karakterku yang sesungguhnya. Dimana aku ini manusia yang tidak munafik yang pastinya sangat ingin memiliki harta tanpa harus bersusah payah berjuang dari nol."

__ADS_1


"Ibu, katakan ini hanya mimpi," kata Tamara yang masih saja mengira ini semua hanya mimpi. "Bu, ini hanya mimpi, tidak mungkin ibu mengatakan ini semua padaku."


Kinanti lagi-lagi terlihat mendorong tubuh Tamara. Namun, kali ini wanita paruh baya itu mendorong Tamara sekuat tenaga sehingga menyebabkan wanita yang sangat lemah itu langsung saja terjatuh dan keningnya sempat terbentur meja yang ada di teras rumah itu, menyebabkan kening Tamara terluka.


Namun, Kinanti sama sekali tidak memperdulikan akan hal itu. Justru wanita paruh baya itu terlihat sangat senang menyaksikan itu semua, dan mungkin saja jika tidak banyak orang Kinanti sudah melenyapkan Tamara hari ini juga.


***


Jika Tamara sedang di perlihatkan sifat asli ibu tirinya beda halnya dengan Tami yang terus saja menangis saat menyaksikan itu semua dari rekaman video yang dikirim oleh anak buah Bara.


Iya, rupanya setelah menjalani berbagai terapi dan meminum beberapa obat herbal pada akhirnya penglihatan Tami kembali pulih seperti sedia kala.


"Sekarang Mas, kita harus membalas dendam pada wanita licik itu," kata Tami sambil menangis tersedu-sedu. "Bawa juga Ara kesini karena aku sudah tidak sanggup lagi menyaksikan ini semua, kasihan putriku yang malah mendapatkan perlakuan seperti itu."


"Tenang Ma, Bara dan Hero pasti akan membawa Ara kesini. Tapi untuk saat ini biarkan Ara melihat dengan jelas dulu siapa sebenarnya yang jahat." Burhan menenangkan Tami. "Mama lebih baik berdoa saja, supaya tidak ada hal buruk yang terjadi pada Ara karena Mas yakin Bara akan bisa membawa Ara tanpa paksaan datang ke sini."


Tami memeluk suaminya karena wanita itu merasa sakit hati saat melihat putrinya diperlakukan tidak baik oleh Kinanti. "Mas, minta Bara bawa Ara secepatnya kasihan putriku, pasti dia merasa sangat terluka saat ini." Tami terus saja menyuruh Burhan untuk meminta Bara membawa Tamara. "Mas, jangan diam saja lakukan sesuatu."

__ADS_1


Burhan memeluk Tami sambil betkata, "Ma, kita serahkan semuanya pada Bara, karena anak itu pasti lebih tahu. Kita disini hanya perlu menunggu kabar darinya."


Tami mengangguk tanda mengerti karena ia juga tahu tentang Bara yang tidak akan pernah mungkin membiarkan Ara diperlakukan terus seperti yang ada di rekaman video itu.


__ADS_2