Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Hanya Untuk Membantu


__ADS_3

Meski ditampar Bara tetap diam saja, justru ia sekarang terlihat malah berjongkok sambil memunguti kotak susu yang berserakan di atas lantai tanpa mengucapkan sepatah kata. Karena laki-laki itu merasa bahwa dirinya memang sangat egois menyuruh wanita yang sudah bersuami untuk mempertahankan anak yang nyata-nyata adalah darah dagingnya sendiri.


"Pergi kau dari sini, Bara!" Tamara tidak henti-hentinya terdengar mengusir laki-laki itu. "Pergi ...!" seru Tamara sehingga urat-urat pada leher wanita itu terlihat sangat jelas. "Pergi! Sebelum Mas Demian kembali."


Bara terlihat kembali berdiri setelah membereskan apa yang tadi berserakan di lantai dengan cara ia masukkan ke dalam kresek lagi. Dan laki-laki itu tetap diam saja disana, malah sekarang ia terlihat seperti patung yang diam saja dengan tatapan mata yang sayu.


"Pergi Bara, jangan membuatku memanggil petugas keamanan," ucap Tamara dengan suara yang sedikit mulai terdengar rendah. Tidak seperti yang tadi terkesan keras, karena wanita itu berpikir bahwa dengan cara berbicara seperti itu pada Bara. Maka laki-laki itu mau mendengarnya dan segera pergi dari sana.


Namun, apa yang diharapkan kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Lihatlah sekarang Bara bukannya pergi kini laki-laki itu terlihat malah kembali mendekat ke arah Tamara, sambil menunjukkan ekspresi wajah yang sangat datar.


"Ambil Ara, sebelum aku memberitahu Demian."


Tenggorokan Tamara rasanya seperti tercekat, karena ia tidak pernah menyangka akan berada di situasi dan posisi seperti saat ini.


"Aku hanya ingin kamu mengambilnya Ara, tidak lebih dari kata itu. Karena aku ingin menjadi Ayah yang baik untuk calon bayi itu. Tolong mengertilah, untuk kali ini saja aku mohon ...."


"Apa kau tidak berpikir dulu sebelum bicara? Oleh sebab itu, kau mau menuangkan bensin di api kecil yang menyala." Tamara terlihat mundur beberapa langkah di saat Bara malah semakin mendekat ke arahnya. Sehingga sekarang mereka terlihat hanya berjarak beberapa senti saja.


"Aku akan bertanggung jawab. Jadi, kamu tidak usah mengkhawatirkan masalah ini. Bila perlu, aku sendiri yang akan memintamu langsung pada Demian."


Tamara rasanya ingin sekali melenyapkan laki-laki yang berdiri di depannya saat ini, karena wanita itu merasa kalau otak Bara sepertinya sudah rusak. Sehingga laki-laki itu bisa bicara seperti itu tanpa memikirkan sebab dan akibatnya nanti seperti apa.


"Cukup Bara, ini semua hanya sebuah kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Karena ini semua akan merugikan dua belah pihak bahkan tiga. Keluargamu, Mas Demian, dan tentu juga keluargaku." Tamara berharap supaya Bara mengerti dengan apa yang ia maksud ini. "Lebih baik seperti kataku yang tadi, kau per–"


"Sayang ...." Suara Demian yang baru saja datang membuat kalimat Tamara langsung saja terputus.

__ADS_1


"Mas Demian." Tamara langsung saja berlari ke arah sang suami. Karena ia hanya ingin berjaga-jaga jika Bara nantinya akan mengatakan kebenarannya. Maka wanita itu sudah akan siap dengan kalimat pembelaan.


"Kenapa tidak kamu suruh Bara masuk, Sayang dan menunggu Mas di dalam saja?"


"Apa?!" Tamara begitu kaget mendengar kalimat yang keluar dari mulut sang suami. Karena ia tidak pernah menyangka kalau Demian malah menyuruhnya untuk mengizinkan Bara masuk ke dalam apartemen itu. Di saat dirinya sendiri dari tadi berusaha mengusir laki-laki yang egois itu.


"Maaf Sayang, Mas tadi sengaja menyuruh Bara datang kesini. Hanya untuk membantu Mas mengerjakan beberapa lembar dokumen yang belum tentu Mas bisa kerjakan sendiri. Oleh karena itu Mas meminta bantuan pada Bara, dan kebetulan saja Bara yang baik hati ini mau membantu Mas dengan suka rela," kata Demian menjelaskannya pada Tamara. "Sekarang ayo Bar, kita masuk. Kamu juga Sayang, ayo kita masuk," ajak Demian sambil memegang tangan sang istri dan laki-laki itu juga terlihat merangkul Bara.


***


Pu kul 02.29, Bara terlihat merentangkan tangannya. Sambil menggerakkan pinggulnya kekiri dan kekanan, dan rupanya laki-laki itu masih saja berada di apartemen Demian di saat sudah dini hari.


"Pegel?"


"Sayang, kenapa bangun?" tanya Demian yang tidak sadar bahwa kalimat pertanyaannya itu malah membuat senyum di bibir Bara memudar.


"Mas, tadi aku merasa sangat haus dan langsung saja terbangun. Kemudian setelah aku terbangun malah tidak bisa tidur lagi, makanya aku langsung kesini." Tamara berbohong, karena justru wanita itu tidak bisa tidur. Gara-gara dirinya takut jika saja Bara akan benar-benar memberitahu sang suami.


"Sana tidur lagi gih, karena ini baru saja pu kul dua lewat dua puluh sembilan menit," kata Demian yang menyuruh sang istri untuk tidur.


"Aku tidak ngantuk Mas, dan bagaimana kalau aku buatkan kopi saja?"


Demian menggeleng tanda tidak setuju karena sebentar lagi pekerjaannya akan segera selesai. Membuat laki-laki itu merasa bahwa dirinya tidak perlu minum kopi.


"Tidak usah Sayang, karena pekerjaan Mas sebentar lagi akan selesai. Dan terima kasih sudah menawarkan kopi."

__ADS_1


Sedangkan Bara hanya pura-pura fokus untuk melihat berkas-berkas yang tadi sudah ia kerjakan. Dan juga laki-laki itu terlihat mencuri-curi pandang pada wanita yang saat ini sedang hamil itu.


"Tapi mungkin saja Bara mau ngopi, coba kamu tanya sama dia, Sayang." Demian rupanya sama sekali belum curiga dengan apa yang telah terjadi. Oleh sebab itu ia terlihat biasa-biasa saja.


Tamara yang mendengar itu hanya bisa mengangguk sambil menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.


"Kak Bara, apa mau di bikinin kopi?" tanya Tamara sambil berusaha untuk terlihat tenang di saat detak jantung wanita iru tidak beraturan.


"Tidak usah, dan terima kasih," jawab Bara singkat padat dan jelas. "Karena sebentar lagi aku akan pulang," sambung laki-laki itu lagi.


***


Beberapa saat kemudian akhirnya Bara sudah selesai membantu Demian membuat laki-laki itu mulai terlihat berdiri.


"Kalau begitu, aku pamit mau pulang dulu Dem. Dan nanti kalau kamu butuh bantuanku jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku, karena jika aku tidak sibuk pasti aku akan bersedia membantumu dalam hal apapun itu," ucap Bara dengan bersungguh-sungguh.


"Kamu emang kakak sepupu paling baik Bar, pokoknya kamu paling begini." Demian mengangkat dua jempolnya.


"Kita keluarga, jadi seharusnya emang begitu kita saling bantu satu sama lain," timpal Bara. "Oh ya, hampir saja aku lupa tadi kresek yang warna putih itu mana, ya?" Sekarang Bara malah menanyakan tentang kresek putih yang ia bawa.


"Yang berisi sekotak susu bubuk ibu hamil?" Demian malah terdengar bertanya balik.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2