Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Bara Marah


__ADS_3

Setelah mengantar Tamara ke toko, kini Bara terlihat mengacak-ngacak rambutnya sendiri serta mengumpat dan mengeluarkan kata-kata yang kotor hanya untuk mencaci-maki dirinya sendiri dengan apa yang ia lakukan pada Tamara akan membawa kabar buruk serta bahagia bagi laki-laki itu.


"Akkh, s*al! Ini semua gara-gara Axel, kalau saja laki-laki brengsek itu tidak memasukkan obat perang sang pada minuman Ara. Pasti ini semua tidak akan pernah terjadi," kata Bara yang terlihat sangat marah. "Pokoknya aku harus memberikan laki-laki itu pelajaran!" geram Bara dengan nafas yang terdengar memburu saking marah dan kesalnya laki-laki itu saat ini.


Tidak berselang lama tiba-tiba saja ponsel Bara berdering menandakan bahwa ada panggilan yang masuk. Tanpa menunggu waktu yang lama laki-laki itu terlihat mengangkat panggilan telepon itu dengan segera.


"Ada apa, Her?" tanya Bara sambil memperlambat laju mobilnya. Karena seperti biasa di kota Jakarta tepatnya di ibukota pasti dilanda kemacetan seperti yang dialami oleh Bara saat ini.


"Anda sedang ada dimana Tuan? Karena tadi saya ke rumah utama tapi Anda sudah tidak ada di sana."


"Aku dijalan Her, dan apa ada hal lain lagi yang akan kamu tanyakan padaku? Sebelum aku memutuskan sambungan telepon ini?" Di tengah hatinya yang sedang gelisah Bara berusaha untuk tenang. Mengingat siang ini laki-laki itu ada meeting.


"Hm, anu Tuan ...." Hero terdengar menjeda kalimatnya sebab laki-laki itu takut kalau saja Bara akan marah padanya. Karena mendengar suara berat Bara dapat dipastikan kalau mood tuannya itu pasti sedang berantakan.


"Her, jika kamu ngomong masih setengah-setengah. Mending kamu tidak usah menghubungiku, jika hanya untuk membuat mood ku hancur berantakan," kata Bara yang sekarang merasa kesal pada tangan kanannya itu. "Sudah ya, jika tidak ada yang penting aku akan menutup panggilan ini, Her."

__ADS_1


"Tuan tunggu dulu," sahut Hero yang menahan Bara supaya tidak memutuskan panggilan telepon itu.


"Katan dengan cepat Hero, jangan malah ngomong setengah-setengah. Bukankah kau juga sudah tahu sendiri aku paling anti kalau disuruh menunggu kalimatmu yang tidak jelas itu," timpal Bara yang mulai merasa kesal sendiri.


"Meeting akan dimulai 20 menit lagi Tuan, ternyata kemarin saya salah menulis jadwal meeting untuk Ada." Sesaat setelah mengatakan itu Hero langsung saja menjauhkan ponsel itu karena laki-laki itu tahu kalau pasti sebentar lagi suara bas milik Bara akan mulai terdengar. Membuat Hero harus waspada sebelum gendang telinga laki-laki itu pecah di buat tuannya sendiri.


"Kau memang kurang ajar Her! Bisa bisanya kau baru bilang sekarang!" teriak Bara persis seperti apa yang dibayangkan oleh Hero. "Jangan mentang-mentang kau asisten kepercayaanku serta kesayanganku jadi kau mau seenak jidat malah mengatakan ini semua padaku. Awas saja kau Hero!" Bara sekarang terdengar marah-marah tidak jelas.


"Maafkan saya Tuan, karena saya mengaku kalau saya salah. Jadi, bagimana bisakah Anda datang dalam sisa waktu yang tadi saya sebutkan?"


"Jadi, bagaimana Tuan?"


"Terserah kau saja Hero, karena ini semua adalah salahmu!" jawab Bara ketus dan kemudian memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak.


"Kadang membuat moodku baik, dan kadang begini. Dasar kau Hero!"

__ADS_1


***


"Bagaimana apa meetingnya berjalan dengan lancar?" tanya Bara saat laki-laki itu baru saja tiba di perusahaannya.


"Maaf Tuan, karena meetingnya tidak berjalan sesuai dengan apa yang Anda mau karena salah satu klien kita ada yang tidak setuju dengan produk yang akan kita keluarkan pada bulan yang akan datang ini Tuan," jawab Hero. Sambil mundur beberapa langkah karena entah mengapa ia merasa aura Bara saat ini sangatlah berbeda.


"Kau memang tidak becus!" gerutu Bara yang kemudian terlihat melempar beberapa tumpukan berkas yang ada di atas mejanya sendiri. "Kau sudah salah memberikanku jadwal meeting sekarang kau malah membawakanku kabar yang tidak mengenakkan di hati."


"Apa Tuan Bara sedang datang bulan? Sehingga dari tadi siang dia marah-marah terus sampai sekarang?" batin Hero.


"Jangan membicarakanku di dalam benakmu Hero, jika kau tidak mau aku pecat!" ketus Bara yang sekarang malah meninju tembok hingga punggung tangan laki-laki itu terlihat mengeluarkan darah.


"Astaga Tuan, Apa yang Anda lakukan?" Hero terlihat panik. "Kenapa Anda malah meninju tembok? Jika Anda kesal pada saya, tinju serta pu kul saya saja. Jangan malah menyakiti diri Anda seperti ini Tuan."


"Kau memang tidak becus! Dan kau juga salah satu manusia yang hari ini membuat mood-ku berantakan!" desis Bara.

__ADS_1


__ADS_2