
Tamara mundur beberapa langkah saat Demian semakin mendekat ke arahnya, karena wanita itu takut jika saja sang suami malah mau menyakiti dirinya. Sebab kemarahan laki-laki itu dapat terlihat dengan sangat jelas dari raut wajah Demian yang merah padam.
"Mas, ayo kita bicarakan ini baik-baik supaya Mas tidak salah paham padaku," kata Tamara yang terus saja akan mencoba untuk menjelaskan semuanya pada Demian. Supaya laki-laki itu tidak salah paham lagi padanya.
"Siapa laki-laki itu, Ara?" tanya Demian tiba-tiba di sela-sela suaranya yang terdengar mulai sedikit pelan. Karena melihat tubuh sang istri yang gemetaran dan ditambah wanita itu sekarang mulai menangis, membuat Demian berusaha untuk menahan diri supaya dirinya tidak kehilangan kendali.
Tamara menjawab dengan cara menggeleng kuat, menandakan bahwa wanita itu tidak tahu laki-laki yang ditanyakan oleh sang suami. Sebab wanita itu tidak mau jika Demian akan membuat perhitungan dengan Bara, jika saja dirinya mengatakan yang sejujurnya pada Demian.
"Siapa laki-laki itu Ara? Katakan sebelum Mas menemukannya sendiri. Laki-laki yang sudah menitip benih di rahimmu. Karena jika Mas menemukannya maka dapat Mas pastikan si bedebah itu tidak akan Mas biarkan menghirup udara dengan bebas," ucap Demian yang mulai memikirkan sosok laki-laki yang membuat istrinya sampai bisa hamil. "Beritahu Mas, Ara, biar Mas bisa cari ba ji ngan itu. Meski sampai ke ujung dunia Mas akan tetap mencarinya."
"Mas, aku benar-benar tidak tahu siapa laki-laki itu. Jadi, aku mohon berhenti menanyakan tentang dia," timpal Tamara dengan air mata yang semakin deras mengalir, dan membasahi pipi putih mulus wanita itu. "Kita bisa gugurkan kandungan ini, supaya tidak ada yang tahu tentang aku yang sedang mengandung," sambung Tamara yang seolah-olah tidak memiliki hati nurani. Karena wanita itu malah tetap dengan pendiriannya yang malah mau menggugurkan darah dagingnya itu.
"Apa kamu mau menjadi pembunuh, Ara?" Demian tidak menyangka dengan kalimat yang Tamara tadi ucapkan.
"Bayi ini harus disingkirkan Mas, karena ini sebuah aib. Aib yang harus kita tutupi dengan cara aku harus menggugurkannya dengan cepat sebelum perutku ini mulai membesar," jawab Tamara dengan sangat yakin, dan ia berharap kalau Demian akan mau membantunya dalam hal ini. "Aku tidak peduli meski Mas Demian mengatakan kalau aku ini seorang pembunuh, karena bagiku yang terpenting aku harus segera menyingkirkan bayi ini. Demi kebaikan kita berdua, Mas."
"Jangan melakukan hal bo doh!" desis Demian yang tiba-tiba saja merasa kesal saat mendengar kalimat Tamara.
Karena meskipun Demian saat ini merasa sangat marah dan murka, tapi untuk melenyapkan bayi itu dengan cara di gugurkan sama sekali tidak pernah laki-laki itu pikirkan. Karema Demian merasa masih memiliki rasa prikemanusiaan.
__ADS_1
"Mas cuma ingin tahu siapa laki-laki itu, bukan malah mau melenyapkan bayi yang tidak memiliki dosa itu Ara, karena Mas ini masih memiliki hati nurani meskipun saat ini Mas malah mau melenyapkan, laki-laki bedebah yang telah menodai wanitaku."
"Mas, kita harus segera menggugurkan kandungan ini. Karena jika keluarga Mas tahu maka mereka pasti akan berpikir kalau aku ini wanita yang tidak tahu di–"
"Cukup Ara, jangan katakan apapun lagi. Karena Mas sangat kecewa padamu," potong Demian cepat. Karena tiba-tiba saja sebuah ide gila muncul di dalam otak laki-laki itu. "Mas akan menunggu sampai kamu mau memberitahu Mas, siapa ayah dari bayi itu." Sesaat setelah mengatakan itu Demian langsung saja pergi dari sana, karena laki-laki itu sepertinya mau menenangkan pikirannya dulu untuk saat ini.
"Mas, Mas Demian ...," panggil Tamara. "Mas mau kemana?" tanya wanita itu ketika melihat Demian sama sekali tidak menoleh dan terus saja berjalan meninggalkannya sendiri di kamar itu. "Mas Demian ...." Tamara lagi-lagi terdengar memanggil sang suami.
Akan tetapi, laki-laki yang dipanggil malah mempercepat langkah kakinya. Dan entah kemana tujuan Demian saat ini.
"Mas, maafkan aku!" seru Tamara setengah berteriak. "Mas Demian, aku benar-benar minta maaf ...." Kini Tamara terlihat langsung saja berlutut sambil menangis histeris. "Mas bukan maksudku mengkhianatimu, maafkan aku." Lirih wanita itu yang sekarang terlihat sangat menyedihkan. Dengan mata yang sudah hampir sembab dan dengan suaranya yang kini mulai serak.
***
Di sebuah rumah yang terlihat begitu megah dan sangat mewah ada seorang laki-laki yang sedang asik menikmati pemandangan dari balkon kamarnya.
Namun, detik berikutnya laki-laki itu malah di buat kaget dengan kedatangan sang asisten yang datang-datang malah membawakan kabar yang kurang menyenangkan untuk laki-laki yang bertubuh kekar itu.
"Maafkan saya, kalau malam ini malah akan membawakan Anda kabar yang kurang menyenangkan, Tuan," kata sang asisten dengan sedikit takut.
__ADS_1
"Kakatan saja, jangan malah membuatku menebak-nebak sendiri gara-gara mulutmu itu tidak lancar dalam memberitahuku suatu hal yang sangat penting," timpal laki-laki itu. "Ayo Her, katakan saja jangan malah diam saja!"
"Ba-baik Tuan, begini ... Tuan Demian sudah tahu tentang Nyonya Ara yang sedang hamil." Hero terbata-bata saat memberitahu Bara. Karena laki-laki itu takut jika tuannya itu akan marah-marah padanya.
Namun, diluar dugaan Hero ternyara Bara sama sekali tidak marah. Justru laki-laki itu terlihat mengulas senyum tipis.
"Baguslah, jika dia tahu itu artinya aku harus bersiap-siap untuk mendapatkan hati Ara." Bara dengan enteng dan santainya malah berkata seperti itu.
"Tapi Nyonya Ara tidak mau mengatakan yang sejujurnya Tuan, kalau Anda adalah ayah dari bayi yang dia kandung. Dan juga Nyonya Ara malah mau memilih untuk menggugurkan kandungannya," tutur Hero yang memang tugasnya hanya memantau Tamara dan Demian dari cctv tersembunyi yang ia pasang.
Oleh sebab itu, Hero pasti tahu apa saja yang terjadi di dalam rumah Demian, dan tentu saja itu semua atas perintah Bara.
"S*al! Ara memang benar-benar ingin membuat iblis dalam diri ini bangkit!" geram Bara yang terlihat mengeraskan rahangnya. "Ayo Her, antar aku ke rumah itu. Karena aku ingin berbicara empat mata dengan Ara."
"Tapi Tuan, tidak sebaiknya besok pagi saja karena ini sudah malam," kata Hero dengan suara pelan.
"Tidak bisa, aku harus menemui Ara malam ini juga. Dan jika kamu tidak mau mengantarku, aku bisa pergi sendiri." Bara menimpali.
...****************...
__ADS_1