Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Dimas menarik rambut Tamara karena wanita itu terus saja memberontak pada saat laki-laki itu menghempaskan tubuh Tamara yang sekarang sedikit berisi.


"Ayolah jangan munafik! Kau juga pasti menginginkan ini," ucap Dimas yang terlihat sudah mulai membuka kancing bajunya satu per satu. "Cukup nikmati saja, jangan melawan karena ini akan terasa sangat nikmat," tambah laki-laki bertato itu.


"Tidak! Jangan lakukan ini padaku!" Tamara benar-benar tidak peduli meskipun suaranya sudah serak. Ia terus saja berteriak supaya Dimas tidak melakukan apapun pada dirinya. "Aku mohon jangan ...."


"Nikmati, dan tutup mulutmu wahai wanita yang terlihat sangat menyedihkan." Kini Dimas terlihat akan membuka celananya.


Namun, tidak lama tiba-tiba saja preman yang memakai topeng itu malah di tarik dari belakang lalu ia juga di hempaskan ke lantai dengan sangat kasar.


"Kau ba ji ngan! Dasar brengsek!" seru seseorang yang berdiri dengan sangat gagah di sana dengan nafas yang memburu. "Berani sekali kau ingin menyentuhnya, dasar bedebah!" Laki-laki itu terlihat sangat marah dengan mata yang memerah kini ia berjalan ke arah Dimas yang mencoba untuk bangun setelah tubuh pereman itu di hempaskan


"Siapa kau? Berani sekali menggangguku. Dan sepertinya kau sudah bosan hidup, cuih!" ucap Dimas ketus sambil meludah ke sembarang arah. Karena laki-laki itu memandang Bara dengan remah. "Sini kau maju, dasar pecundang!"


Mendengar itu Bara langsung saja menggulung lengan kemejanya, namun sebelum itu Bara sempat menutupi tubuh Tamara yang hanya tinggal penutup dua benda kenyalnya saja, yang melekat pada tubuh wanita hamil yang saat ini tubuhnya gemetaran dengan sangat hebat.


"Bara." Lirih Tamara memanggil laki-laki yang tadi sore ia marahi hingga laki-laki itu Tamara usir.


"Timo! Timo ...," panggil Dimas yang sekarang malah terdengar memanggil temannya. Dan tanpa ia tahu Timo sudah Bara ikat di luar kamar itu menggunakan tali.


Karena tadi saat Dimas masih sibuk membuka bajunya, Bara dengan sangat hati-hati dan tanpa mengeluarkan suara malah menghajar Timo habis-habisan. Sehingga pereman itu juga sekarang tidak sadarkan diri dan Bara menggunakan kesempatan itu untuk mengikatnya.


"Mau menyerah, atau kau mau bernasib sama seperti temanmu?" Bara masih sempat-sempatnya memberikan pilihan pada Dimas.


Dimas yang di berikan pilihan malah tertawa terbahak-bahak, karena laki-laki ba ji ngan itu merasa sangat lucu dengan kalimat Bara.


"Sehebat apa kau? Sehingga menyuruhku menyerah, sorry aku tidak selemah tem–"


Bara yang sudah merasa darahnya sudah mendidih dan kemarahannya sudah naik ke ubun-ubun dengan gerakan cepat menendang Dimas sehingga lagi-lagi bunuh preman itu terpental ke tembok.


"Rupanya kau mau ini, baiklah akan aku turuti." Bara dengan sangat gagahnya mendekat ke arah Dimas yang sekarang ini sedang menahan sakit di bagian punggungnya bekas benturan keras pada tembok itu tadi.


"Maju kau laki-laki pengecut!" geram Dimas yang merasa kesal karena Bara yang tiba-tiba datang dan malah menggagalkan rencananya untuk bercocok tanam dengan Tamara. "Maju kau!" seru Dimas yang tidak tahu bahwa tandingannya bukanlah laki-laki yang saat ini sedang ia tantang.


Seulas senyum tipis terbit dari bibir Bara, karena entah mengapa saat ia mendengar kalimat Dimas, Bara mendengarnya seperti sebuah lelucon yang sangat menggelikan di indra pendengarannya.


"Kau dasar preman s*alan!" Sesaat setelah mengatakan itu Bara berlari dan langsung saja melayangkan bogem mentah pada Dimas tanpa aba-aba. Membuat pereman itu sampai mundur beberapa langkah. "Maju kau! Jangan cuma modal suara keras saja." Bara kembali lagi terlihat menendang perut Dimas. "Sok keras padahal kemampuanmu nol besar." Bara terkekeh sambil memu kul preman itu dengan sangat brutal dan sepertinya laki-laki itu tidak memberikan Dimas untuk melawan. Dapat di lihat kalau Bara terus sana men*ndang tubuh Dimas yang saat ini sudah tergeletak di lantai.


"Hei, bedebah! Bangun kau!" Bara menarik leher baju Dimas yang saat ini wajah laki-laki itu sudah berlumuran darah. "Curut kecil sepertimu bukanlah tandinganku, sekarang rasakan ini!" Kali ini Bara menggunakan kakinya untuk menginjak tongkat sakti milik Dimas. "Rasakan ini, ba ji ngan!"

__ADS_1


Dimas terlihat meringis, karena memang benar apa yang dikatakan oleh Bara tadi bahwa dirinya bukanlah tandingan laki-laki itu. Membuat Dimas hanya bisa diam sambil merasakan sakit di sekujur tubuhnya di tambah wajahnya yang sudah babak belur dan hidungnya mengeluarkan darah serta sudut bibirnya yang terlihat robek.


"Bangun kau! Jangan modal bac*t!" Saking marahnya Bara lagi dan lagi terlihat memu kul Dimas tanpa mau memberikannya ampun, meski preman itu sudah tergeletak tak berdaya di atas lantai yang dingin. "Bangun!" Suara Bara terdengar menggema pada kamar itu.


Sedangkan Tamara yang melihat itu semua merasa ia harus menghentikan Bara, karena wanita itu tidak mau jika Bara malah akan melenyapkan preman itu.


"Ba-Bara sudah," kata Tamara terbata-bata dan setelah tadi wanita itu lama terdiam. Karena sungguh melihat itu semua tubuh wanita itu malah terasa semakin lemas. Ditambah ia melihat keadaan Dimas yang di ha jar habis-habisan oleh Bara membuatnya menjadi bergidik ngeri. "He-hentikan Bara, dia sudah tidak berdaya," sambung Tamara.


"Aku akan memanggil polisi, dan akan membawa Liana ke rumah sakit. Kamu tunggu saja Demian sebentar lagi pasti dia akan pulang." Setelah mengatakan itu Bara menyerat tubuh Dimas keluar dari kamar itu, sambil terlihat menghubungi seseorang dari gawainya.


Sedangkan Tamara yang melihat serta mendengarnya, ia hanya bisa diam saja. Karena untuk saat ini sepertinya wanita itu merasa sangat shock ditambah tubuhnya masih terasa sangat lemas. Dan untuk sekedar menanyakan keadaan sang adik tiri lidah wanita itu seolah kelu.


"Ya Tuhan, tolong selamatkan Liana. Karena aku tidak mau jika bayi yang ada di dalam perutnya kenapa-kenapa," gumam Tamara lirih saat melihat punggung Bara sudah menghilang di balik pintu.


***


Demian yang baru saja sampai di rumahnya begitu sangat kaget di saat ia melihat ada beberapa polisi yang sedang berdiri di teras rumah.


"Ara," gumamnya pelan dan laki-laki itu terlihat langsung saja berlari masuk ke dalam rumahnya tanpa ada niat menyapa para polisi itu. Karena saat ini yang harus ia pastikan bahwa keadaan sang istri baik-baik saja.


Demian juga tidak menghiraukan saat polisi itu memanggilnya beberapa kali. Hanya untuk dimintai keterangannya karena rupanya laki-laki itu tetap memilih untuk terus saja berlari.


"Mas, Mas Demian ...."


Pada saat itu juga Demian langsung saja menoleh dan melihat Tamara yang saat ini sedang duduk di atas sofa ruang tamu. Dengan tubuh yang masih saja dibungkus oleh selimut tebal.


"Ara, Sayang," panggilnya dengan suara pelan. Ia kemudian terlihat langsung saja mendekat ke arah sang istri.


Dan begitu juga dengan Tamara, wanita itu langsung saja beranjak dari duduknya dan memeluk tubuh Demian yang mendekat ke arahnya.


"Mas, kita harus pergi ke rumah sakit," ucap Tamara dengan suara yang bergetar karena saat ini wanita itu sedang menangis.


"Tenang Sayang, ayo kita duduk lagi." Demian langsung saja bisa bernafas dengan sangat lega saat ia melihat wanitanya tidak apa-apa. "Duduk dulu, dan ceritakan pada Mas, apa sebenarnya yang telah terjadi."


Tamara menggeleng dengan sangat kuat. "Mas, Liana ada di rumah sakit sekarang. Lebih baik kita pergi ke sana saja. Dan nanti aku akan menceritakan semuanya di sana." Sungguh saat ini Tamara benar-benar mengkhawatirkan keadaan Liana. Membuat wanita itu memilih untuk mengajak sang suami pergi ke rumah sakit.


"Liana, kenapa anak itu?"


"Mas, nanti aku ceritakan disana. Lebih baik sekarang ayo kita pergi saja," jawab Liana sambil mendorong pelan tubuh suaminya itu supaya mau melangkahkan kaki. "Ayo Mas, jangan diam saja."

__ADS_1


Demian mau tidak mau harus menuruti apa yang Tamara inginkan. Sehingga membuat laki-laki itu dengan cepat mengangguk dan langsung saja melangkahkan kakinya.


"Kita harus cepat, Mas. Karena jika sesuatu hal yang buruk terjadi pada Liana maka itu semua salahku." Terdengar sekarang Tamara malah menyalahkan dirinya sendiri.


"Sayang, tidak ada yang salah dalam hal ini," timpal Demian sambil memeluk erat pinggang sang istri. "Kita kesana, biar Mas tahu kronologinya seperti apa."


***


Setiba di rumah sakit, Tamara malah melihat pemandangan dimana Liana sedang berteriak histeris. Karena rupanya bayi yang ada di dalam perut adik tirinya itu dikabarkan sudah tidak bergerak lagi dan itu menandakan bahwa bayi yang tidak berdosa itu sudah tidak bernyawa lagi.


"Mas." Lirih Tamara sambil memegang tangan sang suami dengan sangat erat.


"Tanang Sayang." Demian mengelus lembut punggung Tamara. "Ayo, kita masuk saja ke dalam," ajak Demian.


Tamara menggeleng karena rasa bersalah kini mulai tumbuh di dalam benaknya. "Tidak Mas, ini semua gara-gara aku. Andai saja aku mengizinkan Liana masuk waktu itu pasti kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi." Tamara menatap ke arah ruangan Liana dengan sudut mata yang mulai berair. "Ini salahku, Mas."


Saat Tamara masih saja terus menyalahkan dirinya sendiri, tiba-tiba saja Kinanti dan Herdi datang dengan raut wajah yang tidak kalah paniknya.


"Tamara, bagaimana keadaan adikmu?" Herdi bertanya saat melihat Tamara sudah mulai menangis.


"Papa, Li-Liana ...." Sungguh Tamara tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.


"Mas, aku mau melihat Liana dulu," kata Kinanti yang malah masuk terlebih dahulu hanya untuk melihat keadaan sang putri. "Ara, ibu masuk dulu kamu sekarang ceritakan semuanya pada Papamu." Tatapan Kinanti begitu datar pada anak tirinya itu dan ini untuk yang pertama kalinya wanita paruh baya itu menatap Tamara seperti itu.


"Mas," panggil Tamara saat ia merasa ada yang sedikit berbeda dengan tatapan ibu tirinya.


"Tenang Sayang, Mas yakin semua akan baik-baik saja. Sekarang kamu sama papa dulu di sini, karena Mas mau berbicara dulu dengan Bara."


"Bara?"


"Iya, laki-laki yang menolong kamu itu, Sayang. Namanya Bara, dia adalah kakak sepupu Mas."


Tidak bisa di pungkiri Tamara sangat kaget saat mendengar itu semua, karena ia tidak pernah menyangka kalau rupanya dunia ini memang sempit.


"Tidak mungkin," gumam Tamara membantin sambil berusaha mengontrol detak jantungnya yang mulai berdetak dengan sangat kencang.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2