
Malam menjelang saat Tamara memejamkan mata, tiba-tiba saja ia mendengar ada suara ribut-ribut di luar ruangannya. Sehingga membuat wanita itu dengan sangat terpaksa membuka mata.
"Dini hari, tapi kenapa ada orang yang ribut-ribut? Apa mereka tidak tahu kalau mereka sedang ribut itu di rumah sakit?" Sambil bangun dari tidurnya Tamara mencoba untuk mengenali suara orang-orang yang sedang membuat suara kegaduhan itu.
"Itu seperti suara ...." Tamara menjeda kalimatnya hanya untuk mendengar suara yang samar-samar itu. Dan pada detik berikutnya wajah wanita itu langsung saja berhias senyum.
"Itu suara Mas Demian. Iya, tidak salah lagi." Dengan perasaan yang bercampur aduk Tamara segera turun dari atas bed kemudian tanpa ada rasa takut sedikitpun Tamara malah mencabut selang infus yang ada di tangannya.
"Itu Mas Demian, aku harus menemuinya dan aku akan mengajaknya untuk pergi jauh dari sini," kata Tamara yang tidak menyadari kalau Arsiy, gadis itu sudah tidak ada lagi di ruangan itu.
Tamara lalu dengan semangat 45 menuju pintu karena ia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Demian, laki-laki yang selalu saja memenuhi relung hati wanita itu.
Namun, saat Tamara akan sampai di pintu tiba-tiba terdengar suara tembakan yang suaranya sangatlah nyaring, membuat Tamara sempat terdiam beberapa saat sebelum wanita itu kembali lagi melangkahkan kakinya.
Dan tepat saat wanita itu memengang gagang pintu, pintu ruangannya itu malah terbuka terlih dahulu dari arah luar membuat Tamara langsung saja tercengang. Karena wanita itu kaget bukan main saat melihat pemandangan yang ada di luar ruangannya itu.
__ADS_1
"Sayang," panggil Demian dengan tangan yang sudah berlumuran dengan darah. "Ayo kita pergi dari sini, sebelum anak buah bedebah ini datang."
Tubuh Tamara seketika berubah menjadi kaku, saat Demian menyentuh tangan wanita itu.
"Sayang, ayo kita harus pergi dari sini sebel–"
"Ka-kamu bu-bukan Mas Demian," potong Tamara dengan suara yang terbata-bata. Karena wanita itu tahu bahwa sang suami tidak akan tega membu nuh seekor semut saja. Tapi lihatlah sekarang dengan gagah dan beraninya Demian memegang pisau dan senjata api yang sama-sama berlumuran darah pada tangan laki-laki itu.
Sehingga membuat Tamara langsung saja merasa aneh dengan perubahan Demian yang sangat drastis. Bukan cuma itu Tamara juga menepis tangan Demian.
"Sayang ini Mas, ayo ikut dengan Mas dan nanti akan Mas ceritakan bagaimana diri ini bisa sembuh seperti sekarang ini." Demian berusaha terus meraih tangan Tamara.
"Ikut Mas dan kita akan bicara nanti di dalam mobil."
"Disini, sekarang sebenarnya siapa yang jahat?" tanya Tamara dengan tubuh yang mulai gemetaran hebat. Sebab tadi ia bisa melihat kalau di luar ruangan itu sudah menjadi seperti tempat pem ban taian.
__ADS_1
Bagimana tidak Tamara melihat banyak sekali mayat dan juga genangan d4rah yang hampir saja menutupi keramik rumah sakit yang berwarna putih itu.
"Pertanyaan macam apa itu, Sayang? Jelas saja di sini Mas lah yang baik, dan mereka yang jahat. Apa kamu lupa bagimana Bara membuat Mas lumpuh?"
"Mas Demian tidak akan setega i–" Kalimat Tamara terputus saat sebuah jarum suntik menancap dengan sempurna di lengan wanita itu.
"Kamu harus ikut dengan Mas," kata Demian yang masih bisa Tamara dengar sebelum mata wanita itu tertutup dengan sempurna.
Karena jarum suntik yang tadi Demian tancapkan pada Tamara sepertinya cairan itu berisi obat tidur sehingga membuat Tamara langsung saja tidak sadarkan diri.
"Aku harus segera membawa Ara pergi jauh dari sini," gumam Demian pelan.
Akan tetapi, saat ia akan mengangkat tubuh wanita itu terdengar suara cempreng Arsiy yang ingin menghentikan laki-laki itu.
"Hei! Bau kau bawa kemana Nyonya Tamara?!"
__ADS_1
"S*al! Datang darimana lagi bocah ingusan ini. Kenapa ada saja yang harus menghalangiku." Demian membatin.
"Jangan coba-coba membawa Nyonya Ara pergi!" teriak Arsiy sebelum sebuah peluru mengenai kaki gadis itu. Sehingga membuat Arsiy langsung saja terjatuh sambil meringis kesakitan.