Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Perdebatan Kecil


__ADS_3

"Kalau nggak malam ini ya besok pagi," jawab Tamara. Karena itu juga jawaban dari Demian sendiri. Saat tadi siang ia dan sang suami saling mengirim pesan, dan jujur saja jika tidak ada Demian di rumah itu rasa sakit hati Tamara tidak terasa.


Karena saat ia berduaan begini dengan Liana Tamara merasa seperti dulu ketika wanita itu belum menikah dengan Demian. Dimana ia dan Liana sudah terbiasa makan hingga apapun yang mereka lakukan selalu berdua..


Akan tetapi beda halnya jika Demian ada di sini maka Tamara akan merasa cemburu, meskipun Liana juga istri sah Demin dan juga dirinya selalu lebih di utaman. Namun, sangat munafik sekali jika wanita itu tidak merasa sakit hati.


"Kenapa Mas Demian tidak pernah menghubungiku?" tanya Liana lagi. "Dan juga kenapa cuma kak Ara saja yang selalu Mas Demian hubungi?"


"Aku tidak tahu soal itu Liana. Karena setiap kali aku tanya akan hal itu Mas Demian selalu bilang padaku, kalau dia sudah memberikanmu kabar serta menghubungimu. Dan aku tidak tahu, apakah itu benar atau tidaknya. Hanya kamu sendiri dan Mas Demian yang tahu."


Mendengar itu Liana melepas sendoknya. Dengan sangat kasar. "Mas Demian memang tidak pernah mau berlaku adil! Ini semua pasti gara-gara kakak!" ketus Liana dengan sorot mata yang sangat tajam saat menatap Tamara. "Kak Demian suami yang tidak adil!" gerutu Liana yang tiba-tiba saja moodnya sudah berubah saja. Padahal beberapa detik yang lalu ia dan Tamara masih mengobrol biasa saja. Tapi lihatlah sekarang wanita hamil itu malah kembali pada setelan pabriknya. "Intinya, Mas Demian akan tetap berlaku tidak adil padaku selama kak Ara masih menjadi istri Mas Demian." Sekarang Liana malah mengatakan itu semua. Dan ia tidak tahu saja kalau mood Tamara juga bisa saja berupah kapan saja.


"Cukup Liana! Di sini yang menjadi duri di dalam rumah ini kamu. Bukan aku tapi kenapa kamu selalu saja menyalahkan aku, seolah-olah aku itu adalah wanita yang merebut suaamimu, kenapa Liana? Apa kamu bisa menjelaskan semua ini padaku?"

__ADS_1


"Kakak memang salah, karena tidak pernah mau mengalah dengan adik kakak sendiri. Dan jangan merasa seperti wanita yang paling tersakiti. Karena sesungguhnya di sini akulah yang paling tersakiti. Sudah di buat hamil malah di abaikan, aku merasa seperti wanita yang bekerja sebagai kupu-kupu malam." Sudah salah bukannya mengalah. Liana malah sekarang terdengar menyamakan dirinya dengan wanita malam. "Datang pas Mas Demian hanya mau menikmati tubuh indah dan sexsi-ku ini saja. Tapi setelah itu aku malah terabikan seperti biasanya."


"Bicara saja Liana, karena aku harus tidur. Mengingat besok pagi aku harus pergi bekerja." Demi menjaga lisannya Tamara lagi-lagi memilih untuk mengalah saja. Karena ia merasa percuma berdebat dengan manusia egois sepergi Liana. Sebab ia yakin bahwa dirinya pasti tidak akan pernah menang. "Dan makan saja rendang itu, karena aku sudah selesai makan malam," sambung Tamara pergi begitu saja meninggalkan Liana yang pasti saat ini sedang menggeruru di salam benak.


"Kau memang menyebalkan Tamara! Disini kau yang harusnya pergi. Karena dua ratu di dalam satu rumah tidak ada gunanya." Liana membatin karena wanita hamil itu saat ini merasa sangat kesal dengan Tamara. "Pokoknya, aku harus bisa menyingkirkanmu dari kehidupan Mas Demian. Aku tidak peduli dengan cara apapun itu asal, wanita seperti Ara itu akan enyah dari kehidupanku dan juga kehidupan Mas Damian," sambung Liana membatin sambil mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


Dan rupanya darah pelakor yang di miliki oleh Kinanti mengalir dengan sangat sempurna di tubuh wanita yang sedang hamil itu.


"Kau merasa kesal pada calon ibu dari anak-anakku," kata Axel yang tiba-tiba saja datang dan entah itu dari mana.


"Kau juga sangat menyebalkan, tidak sadarkah kau akan hal itu, Liana?"


"Cuih, disini kau dan wanita pembawa s*al itu yang paling menyebalkan di bola mataku ini. Jadi, aku harap tutup mulutmu jika kau tidak mau kalau aku semakin marah karena kesal."

__ADS_1


Axel mengambil buah satu buah apel dari atas meja dan langsung saja memakannya. "Lama-lama kau mirip orang gila," celetuk Axel yang juga terlihat melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari sana.


"Manusia-manusia yang terkutuk dan menyebalkan!" geram Liana.


***


Sebuah tangan melingkar sempurna di perut Tamara, membuat wanita itu langsung saja terjaga. Karena Tamara sudah mengenal wangi farpum itu milik siapa. Membuat wanita itu tidak merasa takut. Sebab itu wangi farpum milik laki-laki yang saat ini sedang wanita itu rindukan.


Dan detik itu juga Tamara langsung saja berbalik dan meraba rahang milik sang suami.


"Kenapa bangun? Masih dini hari. Pejamkan matamu dan anggap ini semua hanya mimpi," ucap Demian berbisik di telinga sang istri. "Ayo Sayang, pejamkan matamu seperti kata Mas yang tadi."


"Mas Demian, kebiasaan tidak bilang-bilang kalau pulang," kata Tamara dengan suara seraknya. "Mas memang selalu saja memberikanku kejutan seperti ini. Dan untung saja aku tidak menjerit karena kaget."

__ADS_1


"Jika kamu menjerit maka Liana akan tahu kalau Mas pulang."


Tamara langsung saja menceritakan semuanya pada Demian, tentang dirinya dan Liana yang sempat berdebat. Bukan maksud Tamara mengadu pada laki-laki itu, andai saja saat ini wanita yang tangah mengandung itu juga ingin di dengar setiap keluh kesahnya. Karena ia merasa sudah sangat cukup diam selama ini dalam menghadapi sifat kekanak-kanakan madunya itu.


__ADS_2