
Inilah yang ditunggu-tunggu oleh pasangan pengantin baru seperti Bara, dimana laki-laki itu tepat di siang ini akan membelah semangka bersama Tamara.
"Bar, sepertinya malam nanti aku belum siap." Tamara menunduk malu saat ia mengatakan itu pada sang suami. "Maafkan aku, karena nanti malam sepertinya aku memang benar-benar belum siap, tidak apa-apa 'kan, Bar?" tanya wanita itu yang terus saja menunduk saat ini.
"Tidak apa-apa, kapan pun kamu siap pasti aku akan terima itu," jawab Bara tenang, meskipun saat ini laki-laki itu merasa sedikit kecewa ketika ia mendengar kalimat Tamara yang belum siap melayani dirinya nanti malam.
"Jangan katakan apapun pada Mama," ucap Tamata tiba-tiba yang takut jika saja Bara akan memberitahu Tami tentang dirinya yang belum siap. "Bukan apa-apa Bar, tapi aku takut Mama akan berpikiran buruk padaku. Aku mohon ya, nanti jangan kasih tahu Mama."
Bara tersenyum. "Ara, aku tidak akan mungkin mengatakannya, karena aku tahu, mana yang harus aku ceritakan dan mana saja yang cukup aku simpan di dalam benakku." Bara yang dari tadi duduk di pinggir ranjang dengan Tamara terlihat berdiri dari duduknya. "Kalau begitu aku mau mandi dulu, setelah aku mandi baru kamu." Pada akhirnya Bara memilih untuk pergi mandi saja, karena sejujurnya saat ini kelapa bawahnya malah berdeyut nyeri. Mengingat adik kecilnya justru dari tadi terus saja meronta-ronta ingin keluar dari sarangnya. Hanya karena pikiran liar Bara yang tiba-tiba mengingat bagimana tubuh mulus milik Tamara.
"Bar," panggil Tamara saat melihat laki-laki itu malah akan masuk ke dalam kamar mandi.
"Hm, ada apa?"
"Apa kamu bisa bantu aku untuk membuka resletingku," jawab wanita itu yang sekarang meminta bantuan pada suaminya untuk di bukaan resletingnya, karena Tamara tidak akan mungkin meminta bantuan pada sang ibu. Mengingat kalau saat ini pasti Tami sedang sangat sibuk mengurus semuanya.
"Resletingmu di sebelah mana?" Sekarang giliran Bara yang terdengar bertanya pada sang istri.
Tamara terlihat langsung saja menunjuk punggungnya sendiri. "Disini Bar, dipunggungku ada resleting yang pastinya tidak bisa aku buka sendiri." Tamara sekarang ikut berdiri. "Sini, bantu aku sebentar saja karena aku sudah sangat gerah," sambung Tamara.
"Baik, aku akan segera membantumu." Bara langsung saja mendekati istrinya lagi.
Tamara mengangguk patuh, sambil menunggu Bara yang akan benar-benar membantunya untuk membuka resleting pada kebaya yang wanita itu kenakan saat ini.
Beberapa menit kemudian tepat ketika Bara sudah membuka resleting itu dengan cara menutup mata, tiba-tiba saja Tami malah masuk ke kamar pengantin itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Astaga, kalian berdua mau ngapain? Padahal ini belum laut malam lho. Masa kalian mau anu di siang-siang bolong begini." Tami terkekeh-kekeh.
__ADS_1
"Mama, ini tidak seperti yang Mama bayangkan serta pikirkan," kata Tamara yang kaget bukan main ketika melihat sang ibu.
"Ah, tidak apa-apa namanya juga pengantin baru, silahkan di lanjutkan, karena Mama cuma mau ngantar kado hadiah dari teman-teman Mama. Ayo kalian lanjutkan saja buat cucu yang banyak buat Mama," seloroh Tami sebelum wanita paruh baya itu menutup pintu itu lagi, dan perasaan yang sangat bahagia, karena ia pikir anak serta menantunya itu akan membuatkannya cucu di siang-siang seperti ini.
"Ish, Mama jadi salah paham," gumam Tamara pelan. Namun, Bara malah mendengarnya.
"Tidak apa-apa mama salah paham, itu justru bagus," celetuk Bara yang kali ini benar-benar akan masuk ke dalam kamar mandi.
"Bagus apaan, Mama sebentar lagi pasti akan heboh bercerita diluar sana," timpal Tamara. "Ini sih, gara-gara kamu yang tidak mengunci pintu kamar ini."
Bara yang tidak mau disalahkan langsung saja berlari masuk ke kamar mandi.
***
Selesai mandi Bara terlihat ingin keluar dari kamar itu. Namun, tiba-tiba saja suara Tamara terdengar memanggilnya membuat laki-laki itu menoleh.
"Apa ada lagi yang harus aku bantu?" tanya laki-laki itu yang malah berpikiran kalau Tamara saat ini sedang membutuhkan bantuannya lagi.
"Tidak ada, aku cuma mau memberitahu padamu kalau mungkin saja aku tidak bisa ikut duduk di plaminan bersamamu, karena kakiku sangat sakit. Jika di gunakan untuk berjalan dan berdiri terus."
"Istirahatlah, nanti aku beritahu mama."
"Satu lagi Bar."
"Hm ...."
"Aku lapar, apa bisa suruh pekerja di villa ini untuk membawakan aku makan siang?"
__ADS_1
Bara mengangguk kecil. "Baik, apa ada lagi?"
"Sudah itu saja, terima kasih karena mau di suruh-suruh olehku." Ada rasa tidak enak dihati Tamara. Namun, apa yang saat ini wanita itu lakukan adalah salah satu cara untuk mengetes Bara, apakah laki-laki itu akan mau menuruti apa yang tadi ia perintahkan atau malah sebaliknya. Akan tetapi laki-laki itu malah mau begitu saja tanpa protes pada Tamara.
"Apa tidak sekalian aku cari tukang urut untukmu?"
"Tidak usah Bara, karena aku rasa itu tidak perlu." Tamara menolak kalau Bara mau mencari tukang urut untuk dirinya.
Bara lagi-lagi terlihat mengangguk sebelum laki-laki itu pergi dari sana.
***
Melihat rambut Bara yang basah keluar dari kamar itu, membuat Hero malah berdemen sambil mengulum senyum simpul.
"Ehem, sepertinya Tuan terlihat sangat bahagia sekali. Apa jangan-jangan Anda sudah mendapatkan jatah untuk yang nanti malam?" pertanyaan Hero berhasil membuat Bara malah menatap tangan kanannya itu tajam. "Apa tebakan saya benar, Tuan?"
"Jangan ngomong sembarangan, aku tidak melakukan apapun, Her!" ketus Bara yang tidak suka Hero menanyakan hal itu disaat orang-orang masih sangat ramai seperti saat ini. "Awas, kamu minggir jangan halangi jalanku." Bara tiba-tiba saja merasa kesal dengan tatapan Hero yang di matanya sangat menjengkelkan itu.
"Cerita sedikit Tuan, siapa tahu dengan Anda cerita ke saya ... saya ini akan langsung kawin hari ini juga." Hero, laki-laki yang mula-mula tidak pernah berani menggoda Bara malah mengatakan itu, karena Hero merada sekarang tidak ada hal lagi yang harus laki-laki itu takutkan pada diri Bara.
"Her, mulai lancang kamu ya!" Bara memelototi Hero.
"Bukan saya lancang Tuan, tapi Andai saja saya saat ini sangat penasaran, maka dari itu Anda harus segera memberitahu saya supaya rasa penasaran saya itu akan langsung hilang."
Bara melihat sekelilingnya sebelum laki-laki itu berbisik di telingga Hero yang berkata, "Rasanya sangat enak, jika kamu tidak percaya coba saja menikah supaya kamu bisa membuktikannya sendiri kalimatku ini."
Hero yang sebenarnya tadi hanya berniat bercanda dengan Bara malah laki-laki itu sendiri yang sekarang malah terjebak dengan kalimatnya sendiri. Sehingga membuat pikiran laki-laki itu malah menerawang jauh ke depan sana.
__ADS_1
"Menikahlah Her, karena rasanya sangat nikmat," seloroh Bara sebelum laki-laki itu pergi dari sana.