Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Tahu Dari Mulut Orang lain


__ADS_3

"Mas Demian, kenapa dia ada di sini? Dan apa jangan-jangan dia tadi mendengar percakapanku dengan Dokter Tasya?" tanya Tamara pada dirinya sendiri di dalam benaknya, di saat wanita itu saat ini benar-benar merasa khawatir jika saja Demian akan tahu bahwa dirinya tengah berbadan dua.


Membuat wajah Tamara yang tadi sempat ceria kini malah menjadi pucat pasi, ditambah keringat dingin mulai membanjiri pelipis serta telapak tangan wanita itu.


"Sayang, bayi siapa yang kalian bahas?" Demian terdengar bertanya sekali lagi pada sang istri. Dan terlihat kini laki-laki itu langsung saja memeluk pinggang Tamara di saat sekarang posisinya sudah berada tepat di sebelah wanita yang masih saja diam seribu bahasa itu.


"Dem, Nyonya Ara ini istri kamu?" tanya Tasya yang tidak percaya ternyata Tamara adalah istri dari teman kuliahnya dulu. Membuat wanita itu membuka mulutnya dengan sangat lebar saking kagetnya.


"Tasya, lama tidak berjumpa akhirnya kamu menjadi dokter juga. Selamat ya, teman seperjuangan," ucap Demian yang malah mengabaikan pertanyaan Tasya.


"Jawab aku dulu, apa Nyonya Ara ini istri kamu, Dem?"


Demian dengan berdiri tegak sambil semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang sang istri menjawab pertanyaan dokter itu.


"Iya, Tasya ini Ara, dia adalah satu-satunya wanita yang mampu meluluhkan hatiku." Dengan penuh rasa banga Demian menjawab seperti itu.


"Serius?"


"Dua rius Tasya, bagimana apa menurutmu kami berdua terlihat sangat ini cocok?"


Tasya yang di tanya malah mengembangkan senyum simpul. "Kalian sangat-sangat cocok, dan aku tidak pernah menyangka kalau Nyonya Ara ini adalah istri kamu. Apakah ini yang dikatakan sebuah kebetulan?"


"Kebetulan? Maksud kamu apa Tasya?"


"Iya kebetulan saja, karena Nyonya Ara ini adalah salah satu pasi–"

__ADS_1


"Dokter Tasya tidak ada pasien hari ini?" Tamara dengan cepat memotong kalimat Tasya karena wanita itu takut, jika saja dokter itu malah akan mengatakan semuanya pada Demian. "Mungkin Dokter dan Mas Demian bisa ngobrol kalau Dokter Tasya tidak sedang sibuk," sambung Tamara.


"Ah, saya tidak sedang sibuk Nyonya Ara, karena saya kesini sama seperti Anda yang sedang menjenguk kerabat saya yang sedang di rawat di sini. Dan juga untuk hari ini saya kebetulan sedang libur Nyonya." Senyum pada bibir Tasya sama sekali tidak pernah memudar, karena dokter itu merasa senang jika sahabatnya Demian pasti akan merasa bahagia. Jika ia memberitahunya kalau Tamara sedang hamil.


Sedangkan Tamara yang merasa jika semuanya akan terungkap pada hari ini juga hanya bisa pasrah. Karena wanita itu tidak akan mungkin bisa menghalangi Tasya agar tidak memberitahu Demian. Membuat Tamara saat ini hanya bisa berdoa di dalam benaknya saja, dan menyerahkan segalanya pada sang pemilik alam semesta ini.


"Aku sampai lupa, tadi maksudmu bayi siapa, Tasya?" Rupanya Demian masih mengingat tentang apa yang dibicarakan oleh Tamara dan Tasya tadi.


Tasya bukannya menjawab senyum dokter itu semakin mengambang sambil meraih tangan Demian untuk bersalaman dan berkata, "Selamat Dem, karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah, karena saat ini Nyonya Ara sedang hamil."


Duar!!


Detik itu juga wajah ceria Demian langsung saja berubah dengan sangat drastis saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut temannya itu.


"Apa maksud kamu, Tasya?" Demian menatap Tasya dengan mimik wajah yang sangat serius.


"Tuhan, aku pasrahkan semuanya pada-MU, karena aku hanya manusia biasa yang tidak akan mungkin bisa merubah setiap garis kehidupan. Dan aku juga tidak akan bisa memaksakan kehidupanku seperti apa yang aku mau," gumam Tamara membatin.


Karena saat ini wanita itu benar-benar merasa pasrah dengan apa yang akan terjadi pada hubungan rumah tangganya dengan sang suami. Di saat Demian akan tahu tentang kebenarannya detik ini juga.


"Rupanya Nyonya Ara belum memberitahu kamu tentang kabar yang sangat bahagia ini, Dem." Tasya kembali lagi menarik tangannya saat ia merasa telapak tangan laki-laki itu gemetaran. "Begini lho, Dem. Tepat satu minggu yang lalu Nyonya Ara datang ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri." Dan mulialah dokter kandungan itu terdengar menceritakan semuanya pada Demian dengan perasaan yang begitu sangat bahagia.


Beda halnya dengan Tamara yang merasa bahwa hubungannya dengan Demian pasti akan segera berakhir. Karena mana mungkin ada laki-laki yang mau menerima wanita yang sedang hamil seperti Tamara. Apalagi wanita itu hamil di saat sang suami mandul. Sungguh Tamara merasa bahwa garis kehidupannya di muka bumi ini sangat membuatnya merasa bahwa dirinya lebih baik tidak dilahirkan saja jika ia tahu kehidupanya malah akan begini.


***

__ADS_1


Crang!!


Sebuah vas bunga melayang tepat di hadapan wanita yang saat ini keadaan badannya gemetaran dengan sangat hebat.


"Sejak kapan kamu mengkhianati Mas, Ara? Sejak kapan?" Demian lagi-lagi terlihat mengambil vas bunga dan memecahkannya langsung. "Jawab Mas, Ara jangan hanya diam saja!" bentak Demian sehingga suara laki-laki itu menggema di ruang tamu rumahnya itu.


"Mas, i-ini se-semua tidak ... se-seperti yang Mas pikirkan." Tamara terbata-bata saat ia mengatakan itu pada Demian.


"Beginikah balasanmu pada Mas? Dan inikah yang kamu sebut bisa menerima semua kekurangan Mas? Tapi nyatanya apa? Kamu malah mencari kehangatan pada laki-laki lain sampai kamu bisa hamil, Ara."


Seorang Demian untuk yang pertama kalinya mengeluarkan air mata. Hanya karena ia tahu sang istri saat ini sedang mengandung benih laki-laki lain.


"Kenapa kamu bisa setega ini pada Mas, Apa? Kenapa?" Suara laki-laki itu bergetar. Karena ia tidak sanggup menerima kenyataan pahit ini. Di saat wanita yang sangat ia cintai dan bahkan wanita yang sangat Demian sayangi kini wanita itu telah membuatnya sangat kecewa dengan fakta yang ia tahu dari mulut teman kuliahnya itu.


"Mas, aku bisa jelaskan semuanya, ini bukan salahku melainkan sal–"


"Cukup Ara, kenapa kamu tidak bilang saja dari awal kalau kamu itu tidak bisa hidup dengan laki-laki mandul sepertiku? Bukan malah diam-diam di belakangku main dengan laki-laki lain sampai kamu hamil begini. Sungguh Mas sangat merasa kecewa padamu." Demian hanya bisa menahan rasa kesal, kecewa dan marahnya di dalam hatinya saja.


Karena laki-laki itu tidak akan mungkin bisa melampiaskan amarahnya pada Tamara, wanita yang selama ini selalu membuat hari-harinya menjadi lebih berwarna.


"Mas, aku mohon ... dengarkan penjelasanku dulu. Jangan malah mengambil kesimpulan sendiri, supaya Mas tidak salah paham pada diriku ini." Meski merasa takut Tamara akan terus mencoba untuk mulai bicara dari hati ke hati bersama laki-laki yang kini terlihat penampilannya sangat berantakan dan acak-acakan itu.


"Mas tahu dari mulut orang lain, itu yang semakin membuat Mas merasa bahwa kamu memang berniat menyembunyikan ini semua dari Mas, Ara!" teriak Demian.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2