Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Bab 39


__ADS_3

Mau sekeras apapun Tamara berusaha menguatkan hatinya untuk tidak merasa sakit. Namun, itu semua hanya sia-sia saja. Ia hanya insan biasa yang bisa merasa cemburu di saat sang suami harus bisa berbagi cinta pada madunya.


Membuat mata Tamara tiba-tiba saja terasa sangat panas dan tidak lama butiran bening membasahi pipinya.


"Ayolah Ara, jangan menjadi wanita yang egois. Karena Liana juga adalah istri Mas Demian, itu artinya Liana madumu," ucap Tamara pada dirinya sendiri dan kini wanita itu mulai terdengar terisak. "Tuhan, kenapa harus sesakit ini?" Tamara memegang da danya yang terasa sangat sakit. "Kenapa ini semua harus terjadi padaku? Kenapa?" Saat wanita itu terus saja berbicara pada dirinya sendiri tiba-tiba saja selimut yang menutupi tubuhnya merosot ke bawah. Dan tak lama Tamara langsung saja berteriak histeris saat melihat dirinya tidak menggunakan sehelai benang.


"Apa ini? Kenapa aku bisa berte lajang? Apa yang sebenarnya sudah terjadi padaku?!" Tamara langsung saja bangun dan berniat ingin pergi ke kamar mandi.


Namun, rasa nyeri di bawah sana semakin menjadi-jadi di saat dirinya tadi bergerak. "Aakhh ...," ringis Tamara karena nyeri itu semakin terasa. "Aku rasa ini semua ada yang tidak beras," gumam Tamara pelan sambil menggigit kecil bibirnya. Sambil mencoba untuk mengingat apa yang sudah terjadi padanya.

__ADS_1


Tapi sayang, seribu kali sayang. Meskipun Tamara terus saja memaksa memori otaknya untuk mengingat semua. Namun, yang teringat di memori otaknya hanya Liana dan juga Demian.


"Tidak! Jangan ingat itu saja otak. Tolong ingat tentang apa yang terjadi tadi malam padaku. Biar aku bisa tahu apa penyebab mahkotaku terasa sangat sakit dan nyeri," ucap Tamara yang sekarang malah menjambak rambutnya sendiri. "Ayolah otak ingat apa yang sudah terjadi padaku tadi malam," sambung Tamara yang terlihat sudah mulai berputus asa sebab. Ia benar-benar tidak akan mampu mengingat semuanya. "Dasar otak bodoh! Tidak bisakah kau mengingatnya sedikit saja untukku? Biar aku bisa mengetahui semuanya." Saking kesalnya wanita itu sampai mengatai dirinya bodoh.


***


Saat Liana melihat Demian masih saja terlelap, wanita hamil itu segera turun dari atas ranjang. Sebab tujuannya saat ini adalah kamar mandi karena Liana ingin menghubungi Axel. Hanya untuk memastikan apakah laki-laki ba ji ngan itu sudah berhasil menanam benih di rahim Tamara.


Dan tidak membutuhkan waktu lama wanita hamil itu sekarang sudah berada di dalam kamar mandi. Liana jug

__ADS_1


langsung saja menghubungi ayah dari bayi yang dikandung.


Hanya terdengar tiga kali suara tanda terhubung. Dan pada saat itu juga, suara serak Axel mulai terdengar dari seberang telepon.


"Hm, ada apa?" tanya Axel yang saat ini nyawanya pasti belum terkumpul sempurna. "Katakan Liana, kau jangan ganggu jam istirahatku masih pagi-pagi buta seperti ini!" ketus laki-laki itu.


"Heh brengsek! Aku cuma mau menanyakan apakah tadi malam kau sudah berhasil?" Liana yang merasa geram langsung saja bertanya pada Axel.


Axel yang mendengar itu langsung saja menjawab, "S*alan, bukankah kau malah membiarkan Demian keluar dan laki-laki itu me mu kuliku, sehingga aku babak belur. Serta membuat rencanaku gagal total!" desis Axel.

__ADS_1


"Apa?!" Liana yang kaget spontan saja berteriak.


__ADS_2