
Kehilangan sosok cinta pertama dalam hidupnya secara mendadak seperti ini membuat seorang Tamara malah terlihat seperti orang yang mentalnya sedang terganggu, karena sekarang wanita itu terlihat malah menyuruh sang ayah yang sudah tidak bernyawa lagi untuk bangun dari tidur panjangnya.
"Papa bangun, jangan tinggalkan aku!" Tamara histeris sambil terus saja menggoyangkan tubuh kaku Herdi. "Papa, aku mohon bangunlah jangan pergi." Tamara tidak peduli meskipun beberapa perawat dan Demian menghentikannya supaya tidak menggoyangkan tubuh Herdi.
"Sayang, biarkan papa pergi dengan tenang," bisik Demian sambil memeluk tubuh wanita itu dari belakang berharap Tamara menjadi lebih tenang.
Namun, apa daya Tamara yang malam ini merasa sangat hancur dengan kenyataan pahit yang harus wanita itu terima. Sehingga membuatnya malah terlihat menyiku perut Demian beberapa kali karena ia tidak mau dihalangai untuk saat ini.
"Akh," ringis Demian yang tiba-tiba saja melepaskan pelukannya dari tubuh Tamara. Sambil memilih untuk mundur saja karena ia merasa wanita itu saat ini benar-benar sedang berada dalam lingkaran kehancuran. "Menangislah Ara, jika itu yang membuatmu tenang." Demian lalu terlihat melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Tamara yang sekarang mulai terlihat malah memeluk tubuh Herdi sambil mengucapkan kalimat yang sama hingga berulang-ulang kali.
"Pa, aku mohon Papa ba–" Belum selesai kalimatnya, Tamara sudah terlebih dahulu pingsan karena ia disuntik menggunakan obat bius. Rupanya tadi sebelum Demian keluar laki-laki itu meminta salah satu perawat yang ada disana menyuntik Tamara dengan obat bius tersebut.
"Tuan, istri Anda sudah kami suntik dengan obat bius," kata salah satu perawat yang ada di sana yang sekarang terdengar memberitahu Demian saat posisi laki-laki itu sedang ada di luar ruangan itu.
__ADS_1
"Apa kamu bisa bantu saya untuk membawanya ke mobil?"
"Bisa Tuan, apa Nyonya ini akan ikut dengan mobil kami atau Anda?" tanya balik perawat itu.
"Mobil kalian saja, karena saya ada urusan." Demian lalu terlihat kembali fokus menatap layar benda pipihnya. Sebab saat ini laki-laki itu sedang menghubungi Kinanti karena Demian merasa bahwa wanita paruh baya itu juga harus tahu tentang semua ini.
"Kalau begitu apa boleh kami bawa sekarang?"
Demian merespon dengan anggukan kecil karena saat ini ia masih sibuk menghubungi nomor Kinanti yang saat ini tidak kunjung aktif, sehingga membuatnya merasa bahwa ada sesuatu hal yang tidak beres.
Di kediaman Kinanti sekarang terlihat ibu dan anak itu malah meminum sebotol anggur merah, demi merayakan tentang tersingkirnya Herdi karena itu artinya yang saat ini harus fokus mereka singkirkan giliran Tamara.
"Rayakan malam kemenangan ini Liana, karena sebentar lagi kita akan kaya raya," ucap wanita paruh baya yang saat ini terlihat menggerakkan badan kekiri dan kekanan. "Pokoknya malam ini kita bersenang-senang sampai pagi karena satu penghalang kita sudah tersingkirkan dari muka bumi ini." Sekarang Kinanti malah tertawa terbahak-bahak karena kini wanita itu benar-benar telah menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ibu memang luar biasa, pokoknya Ibu adalah wanita yang sangat aku sayangi dan andai saja, Ibu mengatakan rencana Ibu ini lebih awal pasti putrimu ini tidak akan pernah salah paham dengan semua yang telah terjadi selama ini," kata Liana yang malah menyesali perbuatannya serta tingkah lakunya yang dulu pada Kinanti.
"Sayang, tidak boleh putri Ibu ini malah akan menjadi menderita dan sengsara. Oleh sebab itu, wanita paruh baya ini rela berakting selama belasan tahun itu semua tentu saja demi kamu, demi putri Ibu satu-satunya yang sangat Ibu sayangi lebih dari Ibu menyayangi diri Ibu sendiri."
Saking senangnya setelah mendengarkan semua cerita Kinanti, Liana malah memeluk tubuh wanita paruh baya itu dengan sangat erat.
"Pokoknya Ibu akan melakukan yang terbaik untukmu Liana, sehingga siapapun itu tidak boleh menyaingi putri Ibu ini." Kinanti mengelus lembut punggung Liana. "Berkat kesabaran Ibu selama ini, pada akhirnya apa yang Ibu inginkan akan terwujud juga. Setelah penantian yang teramat panjang. Namun, ya ... sedikit tidak semuanya akan terbayar lunas dalam waktu dekat ini."
Liana sampai tidak menyangka kalau Kinanti rupanya selama ini adalah cerminan dirinya sendiri. Dimana Kinanti sangatlah licik dan jahat.
"Kamu harus merubah penampilanmu, jika tanda tangan Ara sudah didapatkan oleh Demian. Apa kamu paham putri yang sangat Ibu sayangi?"
"Tentu saja Bu, karena aku ini adalah sang pewaris yang sesungguhnya." Dengan penuh percaya diri Liana malah mengatakan dirinya sebagai sang pewaris.
__ADS_1
Kinanti hanya bisa mengangguk dengan perasaan yang sangat senang, karena ia tidak menyangka kalau waktu yang wanita paruh baya itu tunggu-tunggu pada akhirnya datang juga.